Take My Life

Take My Life
chapter 34



WARNING 17+ YANG GAK NYAMAN BISA SKIP, YANG KECIL JUGA SKIP YA 🤣🤣🤣🤣 JAN DEWASA SEBELUM WAKTUNYA DEK! KAKAK TAMPOL MAO 🤣


🏃‍♂️🏃‍♂️🏃‍♂️


Mobil sport yellow metalic itu terlihat sedang melaju dengan kecepatan tinggi membelah kota Granda, rintik hujan sedikit demi sedikit tapi pasti membasahi kaca mobil Evan.


Pria tampan dengan aura dingin tak peduli apa pun saat ini, yang ada di fikiranya ia harus segera sampai di apartemen Emily.


Tadi saat ia berada di party wedding Lauro, pria itu mngecek ponselnya, dan ada puluhan micall dan pesan suara dari Emily.


Gadis itu menangis!


Melihat Nathalia mengingatkan Evan dengan Evgania. Evan tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu. Seperti yang Evgania lakukan, okelah Evgania memang mengalami masalah berat. Tapi penantian yang berakhir dengan melepaskan orang yang ia cinta menikah dengan orang lain tentu membuat gadis itu terluka.


Seorang gadis adalah mahluk tuhan paling lembut hatinya.


"Cazzo!" Umpat Evan saat lagi-lagi gadis itu mereject telfonya. Dan itu membuat Evan makin menginjak pedal gasnya.


"Jika kau berani menyakiti dirimu sedikit saja, aku bersumpah akan membunuhmu saat ini juga!" Evan benar benar marah. Jika ini di komik sudah pasti banyak Aura hitam yang mengelilingi mobil itu.


Mobil mewah milik Evan berhenti tepat di depan tangga utama hotel, ia membuka pintu dan berlari seraya melemparkan kunci mobilnya pada valet hotel.


Tolong ia tak punya cukup waktu untuk beramah tamah, karena bisa saja adik sahabatnya saat ini berada di antara pintu dunia dan neraka!


What neraka?


Memangnya agama mana yang menghalalkan bunuh diri?! Tidak!


Evan memutar arah, ia berlari mencari tangga darurat hotel ini untuk menuju penthouse milik Emily, karena tak mungkin ia sabar mununggu lift.


Tapi baru tangga keempat dia menyerah tak sanggup, sungguh Evan tak ingin mati muda karena kelelahan. Bangunan ini terdiri dari lima puluh tiga lantai dan dia masi di lantai empat!. Evan keluar dari tangga darurat untuk melihat lift. Bersyukurlah pada penulis yang baik, ternyata saat ia kluar dari pintu tangga darurat hampir saja pintu lift itu tertutup.


Emily membuat Evan menghilangkan sisi tampanya saat ini, dan Emily harus membayar mahal itu. Lihat saja sekarang pria tampan itu berlari tanpa mempedulikan wibawanya sebagai salah satu penerus bilionaire, sekaligus berteriak pada manusia yang di dalam lift untuk menunggunya.


Sesampainya di dalam lift, Evan langsung memencet lantai limpa puluh dua berkali kali, sesekali berdehem untuk terlihat cool karena kelelahan berlari tadi. Tak peduli bagaimana Evan sekarang nyatanya tiga wanita di dalam lift tersenyum sembari mencuri pandang pada pria itu.


Sesampai di depan pintu penthouse Emily, Evan mengedor sesekali memencet bel seperti orang kerasukan.


"Emily...."


"Baby.... open the door, please..."


Bruk... bruk


"Baby..."


Shit Evan merasa sangat bodoh bukankah ia tahu password tempat ini. Evan membukanya lantas ia masuk dan berteriak untuk mencari gadisnya.


"Emily... dove sei tesoro!!!" Evan berlari menuju setiap penjuru ruangan dengan terus berteriak menanyakan di mana emily. Bisa di lihat bagaimana khawatir pria itu saat ini.



Evan berlari menaiki tangga untuk mencampai lantai 2 di penthouse ini.


"Shit sejak kapan tempat kumuh ini jadi seluas ini!!!"


Evan benar benar frustasi, biasanya tempat ini terasa sangat kecil dan sumpek. Entah kenapa ia merasa ruangan yang di dominasi warna coklat ini mendadak menjadi besar.


Kepanikan Evan bertambah saat ada beberapa tisu bekas bercak darah berserakan di atas lantai. Tubuh Evan bergetar, rasa takut menyergap meyelimuti tubuhnya tanpa permisi.


"Ba...baby" suara Evan begetar, matanya menatap pintu kamar Emily, sekilas sosok Evgania muncul di ingatanya.


Bagaimana gadis kecil itu berlumuran darah, sungguh! Evan tak siap jika harus melihat gadis itu meninggalkannya. Evan berhenti mengambil ponselnya di dalam saku, mencoba mencari pertolongan tapi ponselnya tanpa sengaja jatuh.


Lalu suara dari kamar Emily membuat Evan seperti mendapatkan lagi kewarasanya, secepat kedipan mata Evan berlari menuju kamar. Nihil ia tak menemukan siapa pun yang ad hanya


Lagi lagi tisu bekas bercak darah di depan toilet.


"Baby...." sesampainya Evan di depan pintu toilet, netra matanya menangkap sosok yang ia cari.



Seorang gadis berjalan lunglai dengan tangan tertutup tisu dan yang terpenting wajah itu terlihat lusuh,



Evan langsung menarik tubuh Emily untuk masuk dalam dekapanya, sunggu Evan tak ingin kehilangan gadis menyebalkan ini. Sudah cukup ia terpukul saat kehilangan Evgania dulu.


"Baby.... jangan tinggalkan aku" Evan mendekap Erat tubuh mungil Emily, dapat Emily rasakan tubuh pria ini bergetar ketakutan. Dia menangis seraya terus mencium pucak kepala Emily.


"Ev? Kau kenapa?"


"I'm so sorry baby, jangan pernah tinggalkan aku"


Evan sadar ini bukan saatnya untuk mendrama ria karena secepatnya ia harus membawa gadis ini kerumah sakit.


Evan mengangkat tubuh Emily dan membuat Emily terpekih bingung. Gadis itu memukul dada bidang Evan mencoba meminta untuk menurunkannya.


"Kau bodoh, hanya karena Lauro sialan itu kau sampai melukai dirimu" rahang Evan mengeras ia berjalan menuruni anak tanga. Syukurlah karena Emily model yang selalu memperhatikan berat badanya. Jadi pria itu seperti tak kesuliatan membawa tubuh Emily.


"Aku baik baik saja!"


" Kau fikir aku akan bunuh diri karena Lauro menikah dengan gadis sialan itu?"


" Aku bukan gadis bodoh Evan"


Evan seperti menulikan telinganya, tujuan utamanya adalah menyelamatkan gadis ini. Secepatnya ia harus kerumah sakit.


"Aku akan meninggalkanmu, jika kau tak mendengarkanku!" Ancam Emily, Emily tak yakin ini berhasil atau pun tidak. Karena biasanya pria dengan tinggi 189 ini biasanya tak pernah peduli padanya. Yang selalu Evan inginkan biasanya ia pergi dari hidupnya.


Tapi


Ajaibnya


Pria itu menatap Emily dengan tatapan mematikan, Evan memang tak suka dengan keberadaanya, tapi tatapan ini tak pernah pria itu tunjukan dan demi tuhan Emily cukup ketakutan sekarang


"Aku bersumpah akan membunuhmu jika kau sekarat!"


"Sikapmu sperti ini yang membuatku mau mati" bantah Emily


"Tolong jangan menjadi tolol, mati tak menyelesaikan apa pun"


"Oh ya? Siapa yang ingin mati dan siapa yang ingin membunuh tuan Evan stevano!" Sarkas Emily


"Kau ingin memotong nadi dan mati lalu menyusahkankukan?"


What!


"Turunkan aku berengsek!"


"Tanganku luka karena kuku ku patah, apa ada manusia mati karena kuku patah, gila!" Jelas Emily


Evan merasa ada sesuatu yang tak kasat mata memukul kepalanya. Benarkah?


Lalu kekhawatiranya?


Tanpa aba2 Evan menjatuhkan tubuh Langsing Emily, syukurlah gadis itu jatuh di atas karpet empuk tapi ternyata masi terasa sakit.


Bagus Evan kau keterlaluan!


"Evan brengseeeeeeeeeeeeeeek!!!"


See... kau harus ingat bahwa Emily adalah gadis paling berisik di dunia, dan Evan adalah pria yang paling tinggi di dunia, bahkan dari segi Ego.


Evan duduk di sofa dengan tatapan menghadap kaca jendela, demi terompet tahun baru mungkin saat ini Evan benar benar malu.


Beberapa saat berlalu Emily masi berjalan dengan dress pendeknya dan sedikit menyentuh bokongnya yang sakit karena seseorang dengan sengaja menjatuhkan tubuhnya.



Evan seperti salah tingkah. Ia menyentuh telinganya saat melihat emily berjalan melewatinya dengan dua minuman soda berakohol yang ia bawakan.


"Ini" ucap Emily memberikan minuman itu. Evan menerimanya tapi tak berani memandang wajah gadis itu. Berkali kali ia berdehem untuk mencairkan suasana.


"Kau kenapa?" Tanya Emily cukup tak sabar.


"Hmm.. aku... mi..minum" ucap Evan gugup lalu membuka minuman kaleng lalu meneguknya.



"Aku tanya kau kenapa" ucap Emily dengan tatapan tak bersahabat dengan memiringkan kepalanya di sandaran sofa, membuktikan bahwa dia cukup lelah dan penasaran terhadap sikap pria di depanya ini.


"Kenapa kau tak datang?" Ucap Evan mengalihkan topik, bahkan ia sadar pertanyaan itu adalah pertanyaan terbodoh yang pernah ia fikirkan


"Tak ada, aku hanya menjaga hatiku untukkan terluka lebih dalam melihat Lauro menikahi gadis penipu itu"


"Hmmm" Evan tak berminat untuk melanjutkan, ini sudah cukup buatnya untuk membuat gadis ini tak menanyakan hal yang bahkan ia sendiri tak tahu.


"Hmm sekarang aku tanya kau kenapa"


Dan evan tak bisa menahan keterkejutanya saat Emily mendekat di depan wajahnya, itu adalah kebiasaan gadis ini. Mencari jawaban untuk membahasi dagaha kepenasaranya.


"Maaf" ucap Evan pelan sebelum tanganya naik lalu melaui pipi Emily untuk sampai di tengkuk gadis itu, Evan menarik pelan dan membawa gadis itu kesamping lalu menindihnya.


Evan mencium bibir Emily, bibir gadis yang menyebalkan ini. Yang selalu ia harapkan sejak dulu hanya saja gadis ini seperti tak pernah melihat seorang Evan stevano karena mata itu hanya di tutupi oleh Lauro.


"Ev... " Emily mencoba mendorong tubuh Evan, menujukam bahwa ini adalah suatu kesalahan.


"Maaf... sebentar saja" Evan menarik bibirnya lalu mencium lagi untuk melepaskan kerinduan. Menyesap lebih dalam untuk meminta suatu yang lebih.


Penolakan Emily di abaikan oeh Evan, Evan benar benar tak peduli. Yang ia inginkan hanya gadis itu menjadi milikinya.


Evan menatap Emily lekatlekat, dengan nafas yang saling menderu karena nafsu yang makin mengebu.


"Bisakah mulai sekarang kau hanya melihatku? Melihat seorang Evan stevano?!"


Itu bukan pertanyaan. Itu lebih tepatnya pernyataan.


Emily cukup shock, ia tak menyangka jika biasanya Evan selalu kasar, mengancam dan kali ini pria itu. Evan mencium pipi dan turun ke leher gadis itu.


TBC


hahahahahahahahahhahahahahaahahhaha


ayo komen 🤣


ay lagi nnton drakor 😭😭😭 smga rasa spainya g ilang karena kayanya berubah gitu ay lagi seneng ama dorama dan drakor 🤣🤣🤣 ganteng bgt g sih ni akang🤣