Take My Life

Take My Life
chapter 51



Nathalia benar benar bosan, sudah dua hari ini dia mengikuti Lauro. Pria itu selalu saja di kelilingi wanita cantik, pintar dan kaya.


Melihat Lauro saja membuatnya sesak nafas. Mungkin kata kata jika Lauro tak sebanding dengannya memang benar. Pria itu terlalu tinggi untuk kastanya yang hanya upik abu.


Jadi seperti biasa ia mengempaskan kekesalanya dengan berbelanja. Ia bosan dan muak, terlebih belum ada keluaran terbaru untuk fashion musim panas.


Itu menambah sekali lagi kekesalan Nathalia. Oke sepertinya kekesalan Nathalia tak hanya sampai di situ ketika bola mata birunya menangkap seseorang yang sangat ia kenal namun sangat tidak ingin ia temui.


Nathalia berbalik secepatnya ingin menghindari sosok yang terlihat.


"Tha"


Terlambat, karena suara itu sudah mengudara karena menyadari keberadaanya, sembari mendengus sebal Nathalia terus berjalan dengan menjauhi Ray. Siapa lagi jika bukan kakaknya.


Tapi langkah kaki Ray yang lebar sepertinya sekarang sudah bisa menyetarakan langkah mereka, saat pria itu telah berjalan di sampingnya.


"Kenapa menghindariku?"


Pertanyaan macam itu Ray?


Setelah menjadi penghianat dengan menceburkan Nathalia ke pelukan Lauro. Sekarang ia bertanya kenapa?


Untung Lauro baik! Jika tidak bagaimana nasib Nathalia saat ini.


"Maaf" ucap Ray pada akhirnya sembari menarik pergelangan Nathalia supaya Nathalia berhenti


Nathalia menghela nafas " ya"


"Kau sedang ada masalah?" Tanya Ray, karena tumbuh bersama membuatnya hapal. Nathalia akan belanja sebanyak ini jika terjadi sesuatu yang mengganggunya.


Tapi sepertinya peran Ray tak terlalu di butuhkan Nathalia sekarang. Biasanya Nathalia akan merengek kartu kredit dan tangan untuk membawakan belanjaan adiknya itu.


"Bukan urusanmu..." ucapan Nathalia membuat hati Ray tertohok keras. Bukan karena sikap Nathalia. Melainkan apakah adiknya tak bahagia setelah menikah? Lalu ia akan berlari pada kegiatan shoppingnya.


"Ceritakan padaku?"


"Kau siapa? Lepas" Nathalia menepis cekalan Ray bermaksud untuk pergi.


Ray mengambil seluruh tas belanjaan di tangan Nathalia. Yang di balas dengusan sebal tak suka dari Nathalia.


"Ayo tuan putri" ucap Ray berjalan mendahului Nathalia. Menyadari tak ada langkah yang mengikutinya Ray berhenti dan berbalik. Benar saja. Nathalia berdiri di tempatnya dengan memberi tatapan tajam pada Ray.


"Ayolah... dari pada kau marah marah lebih baik kau melanjutkan belanjaanmu, hamba siap menemani mu tuan putri" ucap Ray tersenyum tulus pada Nathalia.


Nathalia merindukan sikap Ray yang ini. Pria itu sabar dan tak akan marah marah jika ia merajuk. Tapi sikap yang Ray berikan dulu setelah kepergian Axelin benar benar menjengkelkan. Pria itu selalu marah marah dan menghakiminya sesuka hati. Padahal saat itu adalah hal yang paling rentan untuk piskolog Nathalia sendiri.


"Sebenarnya apa mau mu?" Ketus Nathalia berjalan lalu di ikutin oleh Ray, karena mustahil sikap seseorang berubah drastis tanpa sebab.


"Aku hanya merindukan adiku"


Nathalia berjalan menghiraukan Ray.


Rindu?


Adik?


Memang sejak kapan?


Ray mencintai Nathalia sebagai adiknya hanya sampai sebelum  Axelin menutup mata.


"Maafkan sikapku selama ini, bersabarlah sedikit lagi aku akan membawamu dari semua kubang neraka ini. Kau pantas bahagia tha"


"Maksudmu?" Tanya Nathalia


"Hmm... kau harus bahagia, dengan berbelanja sebanyak mungkin" ucap Ray untuk mengalihkan pembicaraan.


Nathalia masuk ke stand pakaian dan tas merek terkenal. Mereka duduk di sofa di tengah ruangan. Setelah sebelumnya Nathalia mengatakan pada salah satu pelayan apa yang ia inginkan.


"Kau bahagia?"


"Hmm" Nathalia mengangguk samar


"Apa Lauro baik padamu?"


"Setelah sekian lama kau baru bertanya? Kau ingin menolongku atau menertawaiku hmmm?"


"Aku hanya khawatir padamu"


"Simpan kekhawatiranmu karena aku baik baik saja" ucap nathalia sembari memilih tas.


"Apa kegiatanmu sekarang?"


"Hmm maksudku kesibukanku? Masih keluar malam?


Oh iya... Nathalia sudah lama tak menampaki tempat gemerlap nan bahagia itu.


"Lagi lagi bukan urusamu Ray" ucap Nathalia ketus, ntahlah sepertinya susah sekali berbaik pada Ray. Ia benar benar kecewa saat ini. Ia lebih memilih tas tas di atas meja protebel yang di bawakan oleh pelayan tadi.


"Mungkin biru lebih baik" seru Ray


Nathalia awalnya memang tertarik pada biru, karena itu pilihan Ray jadi dia mengambil yang putih saja.


Setelah mengamati. Benar biru memang lebih baik. Tapi Nathalia tak mau mengambilnya, karena itu sama saja menghempaskan gengsi tinggi yang Nathalia miliki.


Ray merampas tas putih dan beralih memberikan yang biru. Begitu gemas melihat adiknya yang sedari tadi melirik warna biru.


"Aku ambil dua ini" ucap Nathalia. Walaupun ia tak suka dengan tas putih sepertinya ia harus mengambilnya juga. Tolong! Nathalia tak ingin berurusan lagi dengan kakanya. Toh dua tas ini belum mencapai harga satu dompet yang di pilihkan Sella. Malah sangat jauh.


Pelayan yang telah pergi membuat Ray buru buru membututinya. Nathalia mencekal untuk menghentikan pergerakan Ray.


"Kau mau apa?"


"Membayar belanjaammu"


"No... tak perlu, aku bisa membayarnya sendiri"


Mengabaikan perkataan Nathalia "aku yang membayarnya" ucap Ray pada pelayan itu. Lalu kembali menatap Nathalia dengan cengiranya.


"Kau..." memutar bola matanya malas, Nathalia begitu gemas pada Ray


"Dari pada marah marah lebih baik kau ucapkan terimakasih seperti biasa"


Never! Nathalia tak akan mengatakan itu. Memangnya siapa yang menyuruhnya untuk membayar.


Mereka terduduk sembari melihat apa lagi yang harus di bawa pulang. Nathalia bosan dan mengambil ponselnya.


"Kau masih tak ingin melanjutkan pendidikanmu?"


See.. kenapa semua orang menyuruhnya untuk sekolah? Kenapa semua orang berusaha mengatur hidupnya


Kenapa?!!!


Nathalia ingin bertanya tapi terlalu malas untuk memulai ucapan dengan Ray, terlalu memyakitkan jika mengingat sikap Ray dua tahun belakangan. Pria yang biasa memeluknya saat menangis kini tega menamparnya.


"Kau mungkin bisa mengambil desain fashion"


Mungkin bisa di coba, fikir Nathalia.


Dari pada menjawab ia lebih memilih membalas pesan Lauro, yang sekarang menanyakan keberadaanya.


Me: shopping dengan seorang pria tampan bak titisan dewa


"Aku ingat kau dulu suka mengambar pakaian yang kau inginkan"


Benar, Aku bisa membuat sesuatu gubrakan baru untuk fashion... pikir Nathalia menemukan ide untuk membuat Lauro bangga.


Seharusnya itu yang Nathalia ucapkan.  Tapi yang keluar di bibir manisnya adalah "kenapa di valencia? Merindukanku?


"Aku selalu merindukan adik kecilku" pertanyaan ketus Nathalia di jawab kekehan pelan oleh Ray. Dan tanganya naik untuk mengusap kepala adiknya.


Menepis tangan besar Ray yang mengusap kepalanya "berhenti mengeluarkan gombalanmu atau aku akan membunuhmu" acam Nathalia karena terlalu kesal.


Dan kekesalan Nathalia bertambah saat Lauro hanya membalas 'take care bebeh, have fun' dengan emot ketawa dan cium.


Tolong jelaskan suami mana yang sesenang Lauro saat istrinya mengatakan ia bersama pria lain?.


Benarkan L menyayangiku?


Kenapa hari ini semua orang terlalu menyebalkan.


"Tha... aku selalu menyangimu princes, bersabarlah sedikit lagi" ucap Ray yang telah berdiri dan pergi menuju kasir untuk belanjaan Nathalia.


Apa ini? Kenapa semuanya membuat Nathalia bingung. Sekarang ia merasakan bagai boneka yang di mainkan banyak orang.


Tbc


Yah tanganya kepeleset ini mencet publis mulu.. maap ya yang notifnya bunyi