
Ternyata
Pintu putih itu tak terkunci, perlahan Lauro berjalan memasukin kamar mandi. Sayup sayup terdengar isakan seorang wanita dan itu membuat hati Lauro tertohok keras.
Karena nafsunya, ia membuat gadis ini menangis. Di sana, di dalam ruangan shower Nathalia duduk memeluk kedua lutunyanya
Bagaimana bisa Lauro menghadapi situasi ini? Biasanya banyak wanita dengan senang hati melebarkan kakinya untuk Lauro sentak dalam dalam tapi sekarang.
Pria yang terkenal bermain dengan bnyak perempuan ini seperti seorang pria hidung belang yang memaksanya wanita untuk melayaninya.
Isakan demi isakan yang muncul dari bibir Nathalia menyerbak bebas.
"maaf"
Satu kata itu yang mampu Lauro ucapkan, membuktikan bahwa ia benar-benar merasa bersalah. Lauro bertekuk lutut di depan Nathalia. Bahkan rasa malu akibat penolakan Nathalia barusan, tak menjadi masalah buatnya. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana membuat wanita ini tenang.
"Maafkan aku" ucap Nathalia terbata karena isakanya.
"Tidak, tenanglah... maafkan aku karena tak bisa menahan... Jangan takut" Lauro menyentuh tangan Nathalia yang bergetar sperti menahan ketakutan.
"Tidak, seharusnya aku yang minta maaf" ucap Nathalia mendongak, menatap wajah Lauro. Bahkan saat berjongkok saja Lauro tetap lebih tinggi darinya.
"Kemarilah!" Lauro menarik Nathalia untuk berdiri. Ia hanya ingin menenangkan tanpa bermaksud hal lain yang mungkin orang lain fikirkan karena tempat ini bukanlah tempat yang bagus untuk mengobrol santai.
"Bukankah aku tak berguna?" Nathalia mencoba berbicara dari isakanya.
"Tidak" Lauro menarik pelan tubuh Nathalia untuk masuk dalam dekapannya.
"Jika saja melupakan masa lalu yang kelam semudah membalikan telapak tangan, mungkin aku takan semenderita ini"
"Aku tahu" balas Lauro enteng seraya mengelus rambut panjang Nathalia.
"Jika saja dulu aku tak mengalami hal buruk, mungkin aku takan sulit menerima kedatanganmu" Nathalia tak bisa menahan segala beban yang ada di hatinya
"Aku mengerti"
"Kau terlalu baik untuk wanita sepertiku"
"Tidak"
"Aku ini gila L!!!"
"Tidak"
"a.. aku" Nathalia seperti kehabisan kata-kata untuk mengadu pada pria ini, dia selalu santai dengan segala keluhanya "dia selalu menghantuiku L"
"Aku tahu"
Nathalia terdiam, seolah sekarang segala bebanya telah tertumpah, ia berfikir pria ini akan marah seperti siapa pun dulu yang pernah ia ajak untuk bercerita. Mereka mengatakan masa lalu itu harus di lupakan karena tak ada yang abadi.
"Mungkin.... dari sekian banyak orang juga mengalami masa kelamnya, seperti kata ku kita memiliki jatah 'sakit'nya masing-masing mungkin dengan cara yang berbeda" kini Lauro mulai membuka suaranya.
"...." Nathalia tak tahu harus membalas ucapan Lauro.
"Bisa jadi, kau mengalami hal yang terberat. Itu karena kau kuat. Tuhan tak memberi hal berat di atas kemampuan manusia itu sendiri"
"Tapi aku tak kuat L" bantah Nathalia mendongak untuk melihat wajah Lauro, masi dalam dekapan Lauro.
Lauro tersenyum "Kau masi bisa berdiri saat ini, itu bukti bahwa kau kuat, kau bisa tersenyum itu tanda kau bisa"
Nathalia kembali membenamkan wajahnha dalam dada bidang suaminya "Waktu itu semua terasa sangat indah, sama seperti tadi... tapi... semuanya hancur seketika tanpa satu patah katapun"
Lauro menghela nafas pelan, lalu mencium puncak kepala Nathalia "Sebaik apa pun cara berpamitan, sebuah kepergian pasti akan berakhir menyakitkan"
Nathalia bungkam, mungkin saja jika Axelin pergi karena penghianatan, ia juga akan seperti ini. Tapi, Apakah adil untuk Axelin menjalani ini semua??
"kita semua menjalani takdir, sekeras apa pun jika bukan dia! itukan terjadi" jelas Lauro
"Kau harus tahu, banyak di luar sana bersusah payah untuk hidup tapi juga di timpa sebuah takdir buruk, kau berhak bahagia, gadisku berhak bahagia" lagi Lauro mencium puncak kepala Nathalia, untuk menyampaikan rasa sayangnya.
"L, bisakah aku jujur" Nathalia melepaskan pelukanya, mundur kebelakang hingga ia menyentuh tembok.
"Hmm..."
"Jangan seperti ini!"
Lauro sempat ingin mengapai tangan Nathalia, entah kenapa pelukan setelah menikah itu terasa sangat berbeda. Tapi Lauro menahan tanganya untuk tak melakukan kesalahan lagi.
Nathalia menyentuh lehernya untuk mengurangi segala kecanggungan, mungkin bisa di katakan hanya Lauro yang bisa mendengarkanya. Mungkin Nathalia benar benar bisa menyandarkan hidupnya padanya.
"Aku pernah berlari, menghindar menjauh darimu. Bukan karena kau buruk, hanya saja aku tak siap terluka"
"..." Lauro diam, seolah mempersilahkan Nathalia untuk segera menyemburkan segala kegelisahannya.
"Mengingat kau pasti akan pergi itu salah satu alasanku masi membangun benteng itu"
"...."
"Kesalahan terbesarku adalah, membiarkan tanganmu menuntunku kearah cahaya"
"..."
"Kita adalah hal yang tak mungkin bersatu, karena semuanya hanyalah kesalahan. Bisahkah kau pahami aku? Aku tak ingin terluka dan bisa di katakan aku tak ingin menyakitimu"
"..."
"Kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah" Nathalia menelan salivanya, bisa ia rasakan bahwa saat ini Lauro sedang menatapnya. Entah itu tatapan mematikan atau menjijikan yang jelas Nathalia hanya ingin semua rasa terlepas dengan aman tanpa menyakiti siapa pun.
Karena rasa itu sifatnya sementara. Waktu beberapa bulan ini pasti bisa ia menghapus semua kenangan bersama Lauro.
"Jika cintaku adalah kesalahan aku rela melakukan kesalahan itu seumur hidupku" ucap Lauro setenang yang ia bisa karena sepertinya Nathalia sudah selesai mengeluarkan isi hatinya.
"Jika rasaku adalah dosa yang menjijikan biarkan aku menjalaninya"
"Melindungimu adalah tujuan utamaku, aku belajar bahwa hidup terlalu singkat untuk menipu diri sendiri"
"Bohong jika aku tak punya kenangan yang merangkulku dengan keabadian, sama sepertimu. Takdir tak bisa di terka, jangan pernah menghalangi aku. Aku takan pernah melepaskamu"
"Jika kata-kata panjang lebarmu itu untuk menghentikanku mengapaimu, kau salah!"
"Aku takan berhenti, kita adalah rasa yang tepat di waktu yang salah?" Hmm lauro tersenyum geli memikirkan kalimat Nathalia barusan.
"Kita akan mencari waktu yang tepat untuk menjalin rasa itu, bukan malah melepaskan"
"Kita sudah menikah, kau dan aku adalah kita, maaf karena tadi..."
"aku janji itu takan pernah terjadi lagi"
"Aku menikahimu bukan untuk itu, aku mencintaimu, itu alasan utamaku... ini bukan hanya skedar perjodohan. Aku memang menginginkanmu sayang, untuk menjadi istriku"
"Menjadi sedikit egois itu baik"
"Hiduplah dengan baik, Tuhan memberikanmu hidup bukan untuk di hancurkan. Percayalah dia punya rahasia yang baik untuk ini semua"
Nathalia tak tahan lagi, Lauro benar -enar bisa menghancurkan pertahanan terakhirnya. Terlepas ia adalah playboy mematikan. Semua yang ia katakan adalah benar.
Bisakah Nathalia benar benar mengandalkan Lauro, Nathalia lancang menarik tengkuk Lauro kebawah, karena walaupun ia sudah berjinjit tak bisa menyamai tinggi Lauro. Pria ini mungkin duplikat tower. Karena tingginya sangat tidak sopan jika di bandingkan dengan Nathalia.
Lauro membelalakan mata, bagaimana bisa wanita ini?
Setelah sebelumnya ia menolak, menangis, berlari, menjauh dan mengatakan segala hal penghentian hubungan panjang lebar. Sekarang dia malah.
Mencium?
Sehingga membuat Lauro membelalakan Matanya, bagaimana bisa? Lauro melepaskan pangutanya, menatap kedua mata Nathalia.
"Kau tak perlu memaksakanya, kita bisa mengenal lebih jauh perlahan"
"Kita masi banyak waktu sayang"
Tak ada jawaban, Nathalia menyentuh keran Shower lalu rintik air mulai membasahi mereka. Nathalia tak siap jika sesudah ini ia akan gundah lagi dan membuat jarak itu semakin renggang.
Sperti kata Lauro, bukankah takdir tak bisa terteka? Mungkin Nathalia harus berlajar lebih jujur pada diri sendiri, karena ia benar benar menginginkan Lauro.
Maaf Axelin.
Nathalia mundur lalu menurunkan tali dressnya, hingga dress ungu itu jatuh mengenaskan kelantai. Menjadi penghalang mereka hanyalah pakaian dalam ini.
Karena setelah membuka dressnya, Nathalia membantu Lauro membuka kaos putih LauroΒ yang tampak kebingungan dengan tingkah Nathalia yang berubah drastis.
Nathalia memeluk Lauro dengan mengalungkan tanganya di leher Lauro, ia mencium pria di depanya ini. Lauro sempat kewalahan dengan pertahanan. Bersyukur ada dinding kaca yang bisa menjadi penyangah mereka saat ini.
οΏΌ
"Kau yakin?"
Nathalia mengangguk. Ia sangat paham bahwa sikap binalnya saat ini akan ia sesali besok pagi, tapi bisakah kita lupakan itu sekarang.
"Aku takan berhenti setelah ini, walaupun kau yang memintanya" ancam Lauro.
Nathalia kembali mencium bibir Lauro sebagai jawaban ancaaman Lauro barusan.
Lauro melepaskan penutup terkahir dari Nathalia. Tangan bebas berjalan menyentuh gundukan itu.
Nathalia mengerang kenikmatan saat Lauro memainkan intinya.
"Ini yang pertama buatku, bisakah kita ..."
Lauro cukup terkejut, ia benar benar pria paling beruntung sekaligus berterima kasi pada pria itu,Axelin. Bagaimana bisa setelah menjalani hubungan begitu lama pria itu tak menyentuh gadis ini?
Dan Nathalia, bukankah ia adalah salah satu boykiller?
Lauro mungkin berfikir keras untuk ini.
Lauro mengangkat tubuh Nathalia untuk keluar menuju ranjang peraduan mereka, jangan lupakan jika oborolan lama itu terjadi dalam kamar mandi.
sekarang ruangan indah itu hanya di hiasi suara penuh cinta.
"Terimakasih sayang" Lauro mengecup dahi Nathalia lama, dengan penuh sayang.
Lalu pria itu mengambil tempat untuk berbaring di sebelah Nathalia dengan membawa wanita itu masuk kedalam dekapannya. Dan menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya. Mulai menutup mata merasakan kebahagiaan yang tak sepenuhnya ada. Menikmati status baru dan rasa baru... Lauro melupakan hal yang seharusnya dan berharap fokus membahagiakan wanita ini saja. Karena bisa jadi ini memang takdirnya atau hukum alam untuk dirinya.
Nathalia harus bahagia.
TBC
maaf harus di skip π
yang nnya siapa yang koma sabar ya.. ini ay mau bikin yang ringan2 dlu.. yang manis2 dlu. karena kalo tau itu siapa semua akan terasa berbeda π€£ nikmati saja alur tenang yang ay kasi.. tetap waspada karena bisa saja kamu jatuh karena terlena hiya2
btw thank buat readrs yg nyampein idenya πππ jdi pas baca komen ay bisa bikin yang enak π€£ bagi yang mau curhat sini atau punya ide π€£π ntr ay bikinin novelet ato novel storynya π€£ kalo masuk di ay ya π€£ jahat bgt sih ya ay..
gak kok... ay cuma mau bilang berbagilah supaya beban itu tak terasa terlalu berat...
kamu berhak berjalan kedepan dengan senyuman tanpa harus menangis menoleh kebelakang π