
Sky masih marah dengan Starlo. Selama perjalanan, Skylova hanya diam saja. Dia tak mau menanggapi Starlo yang dari tadi menangis bombay tak jelas karena Skylova tak meresponnya.
Sampai di Vila, Skylova langsung masuk kamar. Starlo memanggilnya. Namun, Skylova hanya diam. Julio yang melihat itu hanya geleng-geleng kepala. Dirinya tahu betul kalau Skylova dan Starlo sedang bertengkar.
"Bener deh... abang bikin mood Sky anjlok habis tak tersisa," gumam Skylova sambil merebahkan diri di kasur.
Hari ini sangat melelahkan.Tak ada ponsel, tak ada anak-anak kesayangannya.
"Huft... jadi bosen. Semua salah bang Arlo. Andai saja bang Arlo nggak ember. Pasti, Sky masih bisa tuh...main-main sama kesayangan Sky."
Tiba-tiba, Starlo masuk membawa laptop dan ponsel.
"Nih... abang pinjamin. Jangan ngambek lagi, dek."
"Yang bener, bang." Skylova langsung duduk di tepi ranjang.
Skylova yang tadinya Malas, kini jadi semangat empat puluh lima.
"Dek... kita jadi ke pantai, kan..." tanya Starlo.
"Nanti kalau paman tampan mau di ajak Sky kencan."
"Astaga... masih belum nyerah dek."
"Belumlah bang... tetep usaha terus. Tadi ya bang. Si tante badut datang ke kantor paman tampan."
"Siapa tante badut, dek? Jangan ganti nama orang sembarangan."
"Itu bang, Maura Lowie."
"What? Model terkenal itu? Kok bisa."
"Bisa lah bang. Wong dianya yang ada di foto sama paman tampan. Walaupun di blur, Sky masih bisa tuh... buat nongolin muka dia yang kaya badut itu." Skylova membuka ponsel milik Starlo.
"Nggak nyangka abang, dek."
"Memang kenapa bang?"
"Maura Lowie kan terkenal punya imeg bagus."
"Bagus dari mananya? Abang buta ya?"
"Udah ah... pusing bahas itu mulu. Mending adek mandi. Udah jam enam. Abang mau turun dulu." Starlo berdiri keluar menuju pintu
Skylova hanya mengangguk setuju. Sepeninggalan Starlo, Skylova melakukan rutinitas mandinya.
Di ruang tamu, ayah dan anak itu sedang duduk membahas sebuah proyek besar. Tak lama kemudian, ada tamu yang tak di undang.
"Tuan, ada tamu."
"Siapa?"
"Tuan Maheswari."
"Apa?"Jawab Julio dan Starlo
"Bawa masuk. Cepat! Jangan sampai Tuan Maheswari menunggu."
Satrio pun pergi untuk menjemput Baitu. Starlo dan Julio bingung. Apa yang membuat Tuan Maheswari datang? Bukankah masalah putrinya sudah selesai. Apa jangan-jangan putrinya membuat masalah lagi? Julio menatap Starlo. Dirinya meminta penjelasan. Karena tahu gelagat ayahnya, Starlo hanya mengedikkan bahunya.
Tidak lama kemudian, mereka melihat Baitu datang sendiri tanpa di dampingi oleh pengawalnya. Julio heran. Kenapa Baitu datang sendiri? Dimana pengawal setianya?
"Silahkan duduk, Tuan Maheswari."
"Langsung saja Tuan Mahendra. Saya ingin bertemu dengan Skylova."
Starlo dan Julio kaget. Kenapa Tuan Maheswari secara pribadi ingin bertemu dengan Skylova?
"Dimana dia sekarang?"
"Di kamar," jawab Starlo singkat.
Starlo menutup mulutnya yang lancang. Kenapa dia beri tahu keberadaan Skylova?
"Tolong, saya diantar ke kamarnya," titah Baitu.
Starlo dan Julio hanya melongo. Mereka tidak berani membantah Tuan Maheswari. Dengan berat hati, Julio meminta Starlo untuk mengantar Tuan Maheswari.
"Arlo, antar Tuan Maheswari ke kamar Lova," titah Julio
Starlo mengangguk. Dia langsung berdiri.
"Mari tuan. Ikuti saya."
Baitu pun mengikuti langkah Starlo. Langkahnya berhenti di kamar yang bertulis Dunia Sky.
Starlo mulai mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu kamar milik Skylova. Namun, dicegah oleh Baitu.
"Pergilah. Biar aku sendiri."
Dengan berat hati, Starlo melangkah pergi menuju kamarnya. Sampai di dalam kamar, dia gelisah sekali. Jangan-jangan, adik kesayangannya akan di apa-apain. Mengingat Baitu Maheswari orang yang sangat kejam.
Baitu membuka pintu kamar Sylova perlahan. Dia melihat Skylova sedang bercermin dan menyisir rambut panjangnya. Dia sudah bersiap tidur dengan piyama gambar beruangnya. Skylova bernyanyi tidak jelas. Namun, suaranya sangat merdu di dengar. Baitu sempat tersihir karena mendengar suara Skylova. Di depannya, Baitu melihat Skylova seperti bunga yang bermekaran. Gerakkan indah tangannya saat menyisir begitu lembut. Jantung Baitu pun berdetak sangat keras.
"Apa aku sakit jantung? kenapa bunyi jantungku keras sekali?" gumam Baitu.
Skylova merasa dirinya ada yang memperhatikan. Tanpa pikir panjang, dia menoleh kesamping.
"Bener, ini paman tampan." Skylova berlari mencubit tangan Baitu.
Baitu tersentak kaget. Pikiran dan jiwanya yang sempat menghilang kini sudah jadi satu kembali.
"Beraninya kau melukai tubuhku?" Baitu menunjuk Skylova dengan jari telunjuknya.
"Yey... paman tampan. Sky nggak mimpi. Buktinya, paman bisa ngomong."
Baitu tidak mau menanggapi Skylova. Dia memilih duduk di sofa merah milik Skylova. Baitu mengamati kamar Skylova yang bernuansa biru. Dia mengedarkan semua pandangannya untuk meneliti ruangan itu.
"Ehem. Ini untukmu." Baitu menaruh paper bag di atas meja."
"Untukku." Skylova duduk di samping Baitu dan membuka isi paper bag tersebut."
Baitu kaget saat Skylova duduk dekat dengannya. Harum bau sabun menyeruak masuk ke hidung milik Baitu. Baitu memejamkan mata meresapi aroma tersebut.
"Yah... kok gaun sih."
"Memangnya kenapa? Itu tanda terimakasihku untukmu."
"Sky nggak suka paman. Ribet pakek itu," jawab Skylov malas.
"Kalau begitu, aku ambil lagi."
"Jangan... biar Sky pakek nanti." Skylova memegang paper bag dengan erat.
"Kau mau tidur? Ini masih sore."
"Seharusnya, tidak tidur. Karena ada yang mengingkari janji kencan, jadi Sky pilih tidur."
Baitu mati kutu. Dia memang berjanji pada Skylova untuk pergi kencan dengannya.
"Aku akan mengiyakan ajakanmu. Tapi, ada syaratnya."
"Apa itu?" tanya Skylova antusias.
"Jawab pertanyaanku."
"Kau tadi dengan siapa di kafe?"
"Kenapa paman tampan tanya itu? Cemburu."
"Hah! Cemburu. Dengan setan pengganggu sepertimu? Jangan mimpi," jawab Baitu cepat.
"Kalau nggak cemburu, ngapain nanya?"
Doeng
Benar juga. Kenapa dia tanya yang tidak penting begitu? Sebenarnya, dia bingung sendiri memahami dirinya yang sulit di mengerti.
"Namanya Raymon Kyle. Dia yang di bayar tante badut untuk membuat skandal dengan paman tampan."
Raymon Kyle. Pantas saja dia tidak bisa mencari informasi tentang dirinya. Dia tidak menyangka Raymon adalah salah satu keluarga Kyle. Sepertinya, Baitu harus memperingatkan Skylova untuk menjauhi Raymon Kyle itu.
"Jauhi dia."
"Kenapa? Sky sudah kenal lama dengannya."
"Ini perintah. Dan demi kebaikanmu."
"Sky bukan kekasih paman. Paman tak berhak mengatur Sky."
"Tapi, bukannya kau menyukaiku."
"Iya. Tapi, bukan berarti paman mengatur Sky. Karena, kita tak ada ikatan apa pun," jawab Skylova tegas.
Terkutu lah kau Baitu. Dia tidak bisa membantah. Berbicara kepada orang yang lebih pintar darinya memang sulit. Perkataannya, membuat orang tidak bisa menjawab atau pun mengelak.
Lebih baik, aku mengawasinya dari jauh. Supaya Lova aman, batin Baitu.
"Terserah kau saja. Aku tidak mau berdebat denganmu. Sekarang pakai baju itu. Kita keluar. Sesuai janjiku, aku mengajakmu kencan"
"Paman serius, Sky tak mimpi nih... astaga...," ucap sambil menghadap Baitu.
"Sudah sana! Pakai bajunya. Aku mau keluar. Jangan lama. Jika lama, batal." Baitu berdiri dan langsung menuju pintu.
"sepuluh menit pamanku, sayang." Skylova mendorong tubuh Baitu ke arah pintu.
Baitu pun keluar dari kamar Skylova. Dia menuruni tangga dengan sangat elegan. Di ruang tamu, sudah ada Julio yang menunggu Baitu. Sejujurnya, Julio sangat cemas kepada putrinya. Jika nanti Tuan Maheswari tak mengampuninya, bagaimana kalau dia meminta Skylova untuk pulang ke Solo. Pikirannya sudah jauh melayang kemana-mana. Lamunannya di bubarkan oleh Baitu.
Baitu sudah duduk di depan Julio.
"Aku akan mengajak putrimu keluar. Sebagai tanda terimakasihku karena dia telah menyelamatkan perusahaan ku."
Julio hanya menatap Baitu. Dia bingung harus bilang apa. Tadi, dia sempat mengikuti berita perihal skandal Baitu Maheswari. Tapi, dirinya tak menyangka. Jika putrinya yang telah berjasa membantu Perusahaan Maheswari.
"Saya akan mengijinkan, tuan."
"Bagus. Aku senang mendengarnya."
Tidak lama kemudian, Skylova turun dari tangga menggunakan dres yang di berikan Baitu. Sungguh dia sangat cantik dengan dres itu. Make up tipisnya membuat dirinya semakin mempesona. Tanpa sadar Baitu memujanya.
"Sungguh sangat cantik," gumam Baitu.