Sky Love Me

Sky Love Me
episode 61



Mansion Damian di Paris


Damian mengepalkam tangannya kuat. Emosinya memuncak. Apa yang di lakukan Haiden sangat keterlaluan? Mattew bergidik ngeri melihat aura yang keluar dalam diri Damian.


"Sialan, dia sudah melewati batas."


Damian meminta Mattew menyadap ponsel milik Haiden. Dia melihat isi pesan yang berhubungan dengan hilangnya Starlo dan Skylova. Bahkan, berbagai pembicaraan lewat ponsel pun Damian mengetahuinya.


Damian melempar semua benda yang ada di ruangan itu. Dia harus menghukum Haiden. 


Haiden masuk ke dalam ruang kerja Damian. Dia kaget melihat ruangan itu berantakan. Di samping itu, dia juga melihat Mattew yang sedang duduk diam tak berkutik.


"Kau sudah datang rupanya."


"Apa yang terjadi, tuan?"


Damian berbalik arah. Dia langsung memukul wajah Haiden dengan sangat keras. Sehingga, Haiden tersungkur ke lantai. Sudut bibir Haiden sampai mengeluarkan darah. Haiden langsung mengusap sudut bibirnya.


"Kau mulai mencampuri kehidupanku, Haiden. Ingat statusmu," ucap Damian penuh emosi.


"Saya hanya ingin yang terbaik buat anda, tuan."


"Cih! Yang tahu diriku, hanya aku seorang. Pergilah ke penjara bawah tanah. Renungi kesalahanmu," ucap Damian sambil memalingkan muka.


Haiden hanya pasrah saja. Dia harus menjalani hukumannya. Dia langsung berdiri dan pergi meninggalkan ruangan itu. 


Haiden masuk ke dalam sel. Di sana, Tommy sedang tertidur pulas. Haiden membangunkan Tommy. Namun, Tommy tak kunjung bangun.


"Jangan menggangguku. Aku mengantuk."


"Bangunlah, atau ku siram dengan air."


Tommy langsung bangun. Dia segera duduk menghadap Haiden.


"Kenapa wajahmu kusut?"


"Cih, kau tak perlu tahu."


Tommy melihat salah satu penjaga mengunci sel. Dia kemudian menatap Haiden penuh selidik.


Ha Ha Ha


Suara tawa Tommy menggema di seluruh ruangan. Dia sampai mengeluarkan air mata. 


"Kau pasti melakukan kesalahan. Aku paham betul siapa Damina."


Haiden hanya membuang muka. Dia tidak mau mengakui perkataan Tommy yang sejatinya adalah benar.


"Aku tahu, kalau Damian tertarik dengan Skylova."


"Kau sama saja. Dia gadis berbahaya, Tommy. Aku tak mau Tuan Damian terperangkap terlalu dalam."


"Hei, kau belum mengenalnya. Dia gadis ceria dan unik."


Haiden mendengus kasar. Percuma dia berbicara pada Tommy yang telah di buta kan oleh cinta. 


Haiden berpikir, bahwa Tommy tak mengenal Skylova sepenuhnya. Makannya, Tommy berpikir sederhana seperti itu.


Gadis seperti Skylova, dapat menjadi pengobat dan bumerang. Haiden, tidak mau tuannya mendapat bumerang dengan memiliki Skylova. Dia ingin Damian sadar, bahwa Skylova hanya akan menjadi benalu dalam hidup Damian.


Namun, Haiden tak menyangka. Kalau Damian lebih cepat mendapatkan informasi mengenai kegiatan yang di lakukan tanpa sepengetahuan Damian.


"Sepertinya, aku harus membuat Mattew menjadi pihakku," gumam Haiden lirih.


Vila Maheswari di Bali


Skylova menunggu Starlo sambil bermain game di ponselnya. Dia sesekali melirik Starlo. Baitu masuk ke kamar Starlo. Dia menghampiri Skylova.


"Sayang, kau masih di sini." 


Skylova menoleh dan tersenyum. Dia kemudian kembali melanjutkan bermain game.


Baitu merasa di acuhkan. Dia sangat kesal. Baitu langsung merebut ponsel milik Skylova.


"Paman, kembalikan ponsel Sky," ucap Skylova sambil berdiri.


Baitu memasukkan ponsel itu ke dalam sakunya. Skylova menatap kesal dan duduk dengan kasar. 


"Kau mengacuhkanku. Aku tak suka, sayang."


Skylova hanya diam tidak menanggapi perkataan Baitu. Dia lebih memilih menatap Starlo.


Starlo menggerakkan tangannya. Dia mulai membuka matanya perlahan. Orang yang pertama dia lihat adalah Skylova.


"Abang menyusahkan adek."


Skylova menggeleng. Dia tidak meras d susahkan oleh Starlo. Skylova langsung memeluk erat tubuh Starlo yang masih tidur di ranjang.


"Abang jangan sakit lagi. Sky tak suka abang sakit." 


Starlo mengelus rambut Skylova dan menatap Baitu dengan tersenyum.


"Jika kau sakit, yang susah aku," sambung Baitu.


Skylova langsung duduk kembali. Dia menatap tajam Baitu.


"Ini bukan waktunya bercanda, paman,"ucap Skylova penuh penekanan.


Baitu menelan ludahnya kasar. Baru kali ini, dia melihat wajah Skylova yang serius.


"Sudahlah dek, abang nggak apa-apa," ucap Starlo sambil mengangkat tangan kanannya.


Starlo menatap tajam tangannya. Dia baru sadar kalau tangannya di infus.


"Tidak!" teriak Starlo menggema di seluruh ruangan.


Skylova menutup mulutnya. Dia tidak mau bersuara. Sedangkan Baitu, menahan tawanya. Dia langsung keluar dan tertawa di luar.


"Tubuh abang yang suci. Siapa yang merusaknya?" tanya Starlo.


Starlo menatap tajam Skylova. Skylova hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau menjawab pertanyaan Starlo.


Starlo langsung bangkit. Dia melepas infusnya dengan kasar. Starlo menghampiri Skylova dan menatap tajam sang adik tersebut.


"Jawab jujur, dek," ucap Starlo penuh penekanan.


"Yang jelas bukan Sky." 


Starlo bisa menebak siapa yang telah menodai tubuhnya yang sangat suci. Dia langsung keluar kamar. Belum sampai di pintu, Skylova langsung mencegahnya.


"Abang mau kemana? Abang baru aja bangun. Udah...istirahat lagi aja. Tuh, bibirnya masih pucat," bujuk Skylova sambil menunjuk bibir Starlo. 


Starlo langsung berbalik arah. Dia menuju ke meja dekat ranjangnya. Dia melihat wajahnya di ponsel. Starlo kaget melihat penampilannya. Dia langsung menjatuhkan ponselnya dan lari menuju kamar mandi.


"Sepertinya, abang udah balik seperti dulu lagi," gumam Skylova sambil tersenyum.


-----


Vino langsung datang menuju Vila Maheswari, ketika dia mendapat kabar dari Baitu bahwa Starlo sudah sadar.


"Kenapa kau duduk disini?" tanya Vino.


"Aku hanya ingin," ucap Baitu sambil melirik Vino.


Vino langsung ke atas. Dia akan memeriksa Starlo.


"Lebih baik kau berada di sini bersamaku." 


Vino berhenti, kemudian dia melanjutkan langkahnya.


"Aku sudah memperingatkanmu," gumam Baitu sambil menatap punggung Vino sampai menghilang.


Vino membuka kamar Starlo. Di sana, dia melihat Skylova yang sedang duduk di sofa. Skylova langsung mengjadang Vino agar keluar dari kamar.


"Keluarlah dari kamar ini, sebelum bang Arlo selesai mandi."


"Aku hanya ingin melihat pasienku."


Starlo membuka pintu kamar mandi. Dia langsung menatap tajam Vino yang tengah bicara dengan Skylova. Starlo langsung berlari menuju Vino dan berdiri di sanping Skylova.


"Terlambat," gumam Skylova.


Vino masih belum menyadarinya. Dia menatap Starlo dari atas sampai bawah. Namun, Starlo malah menatap tajam dirinya.


"Aku yakin. Kau yang telah merusak tubuh suciku dengan jarummu itu, Vin." 


"Kau butuh pertolongan. Jadi, aku menolongmu," jawab Vino acuh.


Starlo semakin mengepalkan tangannya kuat. Emosinya memuncak. Dia langsung menarik kerah baju Vino.


"Dengar, meski aku sekarat sekalipun. Jangan pernah kau merusak tubuhku ini. Aku tak sudi kau suntik dengan jarum dan obatmu yang membuat tubuhku terkontaminasi."


Vino menatap tajam Starlo. Dia melepas kerah yang telah di tarik oleh Starlo dengan kasar.