
Skylova berjalan dengan cepat. Dia tidak ingin berlama-lama di Vila ini. Jujur saja, hatinya sangat sakit.
"Mama... Ayah... Apa Sky anak yang kurang ajar? Hiks...Hiks," tangis Skylova.
Ingin rasanya Skylova berlari ke Vila Mahendra. Tapi dia urungkan. Dia tidak mau sang ayah dan kakaknya melihat dia sedang menangis.
Skylova berdiri di depan pagar Vila Maheswari dengan mata yang sembab. Tidak lama kemudian, Raymon datang dengan mobil sport miliknya. Dia melihat Skylova dengan tampilan berbeda. Sejenak, dia terpesona. Namun, dia tepis dengan cepat.
Raymon mengamati Skylova. Dia mengernyitkan dahi tanda keheranan. Kenapa Skylova bisa ada di depan Vila Maheswari? Raymon pun memilih untuk turun dan menghampiri Skylova. Sepertinya, ada yang salah dengan Skylova.
Skylova melihat Raymon dari jauh segera memeluknya. Tangisnya tumpah seketika. Dia tidak bisa menahannya lagi. Raymon pun hanya bisa mengelus pundak Skylova.
Baitu keluar dari kediamannya. Dia ingin mengajak Skylova untuk pergi bersama. Namun niatnya dia urungkan. Karena melihat Skylova sedang berpelukan dengan Raymon.
Baitu membuka ponselnya. Dia ingin melihat kebersamaan mereka melalui CCTV. Di sana terlihat jelas bahwa Skylova menangis tersedu-sedu.
Melihat Skylova yang menangis membuat hati Baitu sesak sekali. Dadanya sakit seperti diremas. Dia ambruk dan memegang dadanya. Sandra yang melihat itu pun langsung mendekati Baitu.
"Tuan... Anda tidak apa-apa?"
"Sandra... kenapa sakit sekali? Jantungku seperti diremas ketika melihatnya menangis," jelas Baitu.
Huf! Kenapa bahas ini lagi sih...kalau cinta bilang saja. Jangan di buat susah.
"Tuan mungkin menyukai Nona Skylova."
"Kau mengada-ada, Sandra," elak Baitu.
"Kita berangkat ke kantor sekarang. Siapkan mobil." Baitu berdiri menetralkan perasaannya.
Sandra hanya mengangguk dan melakukan perintah Baitu.
--------
Raymon dan Skylova sudah berada di dalam mobil. Skylova hanya diam saja. Dia kemudian tersenyum.
"Kau bawa laptop kan, Ray? Sky pinjam dong...."
"Buat apa?" tanya Ray.
"Buat balas dendam sama Tante Rombeng. Dia yang buat Sky jadi nangis gini."
"Siapa lagi Tante Rombeng? Kau selalu beri julukan aneh-aneh kepada seseorang. Mereka punya nama, Sky."
"Ray, kau membelanya."
"Bukan maksudku membelanya, Sky. Tapi, sepertinya kurang baik jika kau berkata demikian kepada mereka," tutur Raymon.
Skylova hanya menunduk.
"Apa salah Sky mempertahankan orang yang Sky suka? Sky cuma berkata seperti itu. Tapi t
Tante itu membawa orang tua Sky. Sky tak terima, Ray," jelas Skylova.
"Mereka juga tak terima jika kau katai mereka, Sky," tutur Raymon.
"Pokoknya, pinjam laptopnya. Ray mah nggak ngerti perasaan Sky. Sky sakit hati, Ray."
Raymon hanya menghela napas halus. Dia paham betul kalau Skylova tipe orang yang sangat keras kepala. Di samping itu, umur Skylova yang masih sangat belia.
"Di jog depan. Ambilah!"
Skylova pun segera membuka jog depan. Dia melihat laptop mini milik Raymon. Dia sangat senang sekali.
Tanpa pikir panjang lagi, Skylova mulai mencari-cari skandal terlarang tentang Liza Dwoni. Skylova tersenyum puas. Dengan lihai, dia mendownload foto beserta video milik Liza Dwoni. Dan hasilnya?
Boom
Berita meroket tajam. Semua netizen berkomentar pedas. Skylova tersenyum penuh kesenangan.
Tidak hanya itu, dia juga meretas akun pribadi milik Liza Dwoni. Video-video itu pun tersebar dengan cepat. Perusahaan Desainer milik Liza turun pamor. Kini, perusahaan Desainernya terancam bangkrut.
Raymon hanya melirik sekilas Skylova yang sedang asyik dengan laptop miliknya.
"Kita akan kemana?"
"Kantor Maheswari," jawab Skylova cepat.
"Pantas saja kau berpakaian seperti ini. Kau terlihat berbeda dan cantik."
"Kau merayuku. Itu tak mempan Ray." Skylova mengembalikan laptop Ray di tempatnya.
"Hei, itu kenyataan." Raymon menghentikan mobilnya.
"Kenapa berhenti?
"Kita sudah sampai. Kau tak ingin keluar. Atau masih ingin bersamaku."
"Huh... jangan mimpi." Skylova membuka pintu.
Namun, sebelum benar-benar keluar dari mobil. Skylova menoleh ke arah Raymon.
"Terimakasih, Ray. Kau memang sahabat terbaik Sky." Skylova keluar mobil.
Raymon hanya tersenyum. Dia melihat kepergian Skylova sampai tubuhnya benar-benar menghilang.
"Kau tahu Sky. Aku ingin lebih dari sahabat," gumam Raymon.
-------
Baitu menunggu dengan gelisah. Kenapa setan pengganggu itu lama sekali? Sesekali dia melirik ke arah pintu. Tidak lama kemudian pintu di ketuk. Dia berharap bahwa itu adalah Skylova.
Tok
Tok
"Masuk!"
Sandra pun masuk ke ruangan Baitu.
"Kenapa harus kau yang datang, San?" tanya Baitu.
"Maaf Tuan. Tolong nyalakan televisinya. Ada berita penting."
"Sepenting apa sampai kau meminta ku untuk menyalakannya?" Baitu menyalakan televisi.
Baitu sangat kaget melihat berita itu. Acara televisi itu menyiarkan tentang Liza Dwoni. Banyak skandal tidak senono* dan juga foto-foto bugi* Liza dengan berbagai pria. Yang lebih parah lagi, Foto itu terpampang jelas wajah Liza. Namun tidak dengan sang pria. Wajah sang pria di tutupi sehingga tidak jelas wajahnya.
Skylova benar tidak main-main dengan perkataannya.
"Bagaiman keadaan Liza sekarang? Apa dia masih di Vila?" tanya Baitu.
"Nona Liza sudah pulang, Tuan. Dia sepertinya akan mengurung beberapa hari di kediamannya."
Tidak lama kemudian Skylova datang dengan senyum secerah matahari. Dia datang tanpa permisi. Bahkan dia langsung duduk di sofa. Baitu dan Sandra melihat nya dengan penuh keheranan.
Nona Skylova memang aneh bin ajaib. Tadi menangis tersedu-sedu. Sekarang senyam senyum tanpa ada beban. Perubahan mod yang cepat sekali.
Ada apa dengannya? Sebentar menangis sebentar tersenyum. Senyumnya sungguh manis, batin Baitu.
"Ada apa? Kenapa menatap Sky? Ada yang aneh?"
Keduanya menggeleng. Skylova semakin tersenyum.
"Sepertinya, kalian yang aneh. Perlu di cas biar bisa langsung berkicau seperti burung." Skylova tertawa setelah berkata demikian.
Sandra hanya bengong mematung. Tapi tidak dengan Baitu. Dia berdiri kembali ke meja kerjanya.
"Sandra... pergilah pantau pasar itu," titah Baitu.
Sandra mengangguk. Dia langsung pergi menuju pasar yang di maksud.
"Pasar apa paman? Jangan-jangan pasar gelap," ucap Skylova
Gadis di depannya sungguh pintar. Tebakan nya seratus persen benar.
"Jangan pikirkan itu. Kemarilah!" titah Baitu.
"Tidak mau. Sky lelah...."
"Kau menolakku. Ganti perbanku. Sandra sudah menyiapkan semuanya."
Mendengar hal itu, Skylova terpaksa mengikuti perintah Baitu. Dia membuka perban Baitu dengan hati-hati.
"Ini luk nya sudah kering. Tak usah dibalut lagi, Paman."
Tiba-tiba ponsel Skylova berbunyi.
"Halo Bang."
Skylova belum sempat mendengar jawaban panggilan dari Starlo. Karena ponselnya sudah di rebut oleh Baitu. Baitu membesarkan volume suara ponsel tersebut.
"Halo Dek, kok nggak ada jawaban sih...."
Baitu menatap Skylova tajam agar cepat menjawab suara Starlo.
"Kalau nggak di jawab. Abang VC ya...."
"Sky di sini, Bang."
"Kenapa jawabnya lama?"
"Sky sibuk, Bang."
"Dek... Kata ayah, Adek di suruh pulang sekarang. Abang di suruh jemput adek. Otomatis Abang nggak mau. Males ketemu perjaka tua yang garang kaya singa."
Baitu yang mendengar perkataan Starlo sangat jengkel. Dia langsung saja berbicara.
"Dasar tak sopan. Beraninya kau bilang aku perjaka tua," teriak Baitu menggema di seluruh ruangan.
Tut
Tut
Telpon pun terputus sepihak. Baitu semakin marah. Dia menatap tajam ke arah Skylova.
Bang Arlo nambah masalah Sky aja. Lihat tuh... Paman Tampan kaya nya marah. Tapi tak apalah. Yang penting tetap tampan mempesona, batin Skylova.
Skylova hanya berkedip-kedip membalas tatapan tajam Skylova.
"Wah... Paman Tampan semakin oke. Sky tambah terpesona." Skylova mengedipkan mata sebelah kanannya.
Seketika kemarahan Baitu menghilang. Dia ingin mencubit gemas pipi Skylova. Sungguh setan pengganggu dapat membolak balikkan hati Baitu.