
Skylova berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan. Otaknya sedikit di buat untuk berpikir. Namun, tetap tidak bisa. Maka dari itu, dia terus menatap Damian. Kali ini, tatapannya berubah menjadi tatapan tajam menusuk.
"Jangan menatapku seperti itu, Lova. Aku tak suka."
Skylova mengalihkan pandangannya. Dia berjalan melewati Damian dan menyenggol kasar bahu Damian.
"Kau jelek, kaya monyet," ucap Skylova sambil menoleh dan menjulurkan lidahnya kemudian pergi.
Damian hanya melongo. Baru kali ini, dia di ledek oleh seorang gadis. Matthew ingin sekali tertawa. Tingkah Skylova tak berubah sama sekali. Meski mereka sering bersaing, Mattew tak pernah membenci Skylova. Yang ada, dia malah kagum pada Skylova.
Damian menatap Mattew penuh tajam. Dia tahu kalau Mattew menyimpan rasa kagum pada Skylova.
"Tujuanmu adalah bekerja untukku. Jangan memikirkan yang lain," ucap Damian langsung pergi begitu saja.
----
Starlo sudah berada di paris. Setelah ke Belanda tak mendapatkan hasil. Dia langsung berangkat ke Paris. Starlo meminta tolong pada temannya untuk mencari keberadaan Damian. Dia langsung menuju lokasi, ketika alamat Damian sudah ditemukan.
Sekarang, Starlo berada di depan mansion besar. Mansion Corner adalah mansion yang sangat megah dan besar. Damian sengaja membuat mansion ini di tengah hutan. Agar, musuhnya tak dapat melacak keberadaanya.
Starlo masuk begitu saja. Dia menyelinap ke dalam mension tersebut. Starlo sangat ahli dalam penyamaran. Dia menyamar sebagai salah satu pengawal untuk mengelabuhi para pengawal Damian.
Starlo masuk mansion tanpa hambatan. Dia langsung mengirim pesan kepada seseorang.
Sementara itu, Baitu masih mencari keberadaan Skylova. Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Dia membuka ponsel tersebut. Baitu tersenyum ketika melihat isi pesan itu. Starlo ternyata bertindak cepat.
"Sandra!" teriak Baitu.
Sandra langsung menghampiri tuannya.
"Siapkan segalanya, kita ke Paris sekarang."
Sandra langsung pergi ketika mendapat perintah dari sang tuan. Dia akan menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan tuannya.
"Aku akan menjemputmu, sayang. Tunggulah aku." ucap Baitu sambil bersiap pergi.
-----
Skylova sangat lapar. Dia tersesat di dalam mensiom itu.
"Kau selalu seperti ini, Sky. Dasar lupa arah," gerutu Skylova.
Skylova mencium aroma makanan dari jauh. Dia menghampiri sumber aroma tersebut. Skylova berhenti di depan ruangan. Dia langsung masuk begitu saja. Skylova kaget ketika melihat banyak orang yang ada di sana. Dia berjalan perlahan dan mengambil beberapa makanan.
Skylova mencoba berbagai makanan disana. Para koki melihat Skylova dengan penuh keheranan. Namun, Skylova hanya diam saja. Baginya, mengisi perut adalah tujuan utama.
Salah satu pelayan menegur Skylova yang terlihat asik makan. Pelayan itu langsung merebut semua makanan yang ada di piring Skylova.
"Kau pelayan baru. Caramu sungguh tak terdidik sama sekali," ucap Salina
Salina adalah pelayan yang berkuasa di sana. Dia mengatur segala kebutuhan Mansion. Karena merasa berkuasa, dia selalu semena-mena. Dia mempunyai perasaan cinta terhadap Damian.
Semua koki hanya menunduk saja. Mereka tak mau melawan Salina. Skylova masih lapar. Dia menatap makanan yang ada di piring tersebut. Jika lapar, otak jeniusnya tak bisa berpikir jernih.
"Berikan itu pada Sky," ucap Skylova.
Salina meletakkan piring itu di meja sebelahnya. Dia menghampiri Skylova.
"Gadis tak tahu diri!" Salina melayangkan tangannya ke wajah Skylova. Namun, Skylova merunduk dan memukul perut Salina.
Salina langsung tersungkur ke tanah. Dia memegangi perutnya yang sakit. Skylova melewati Salina. Dia mengambil piring yang berisi makanan tadi. Kemudian dia duduk di kursi dekat meja.
"Emang enak…."
Para koki dan pelaya menahan tawa mereka. Bahkan ada yang kelepasan.
Damian mendengar suara tawa seseorang dari arah dapur. Dia langsung masuk dapur. Para koki dan pelayan langsung diam.
Salina yang masih tersungkur menatap tuannya penuh memelas. Dia ingin gadis yang memukulnya di hukum.
Skylova hanya acuh, dia masih menikmati makanannya.
Damian mendekati Salina. Kemudian, dia melewati Salina dan menuju ke arah Skylova. Salina tak terima. Dia berdiri dan menghampiri tuannya.
"Tuan, gadis itu telah kurang ajar memukul perutku," ucap Salina.
Damian hanya acuh, dia tak berhenti sama sekali. Salina sangat kesal. Dia harus berbuat sesuatu.
"Tuan, perutku sangat sakit sekali." Salina mencari perhatian Damian. Dia memegang perutnya yang sedikit sakit.
"Kau sudah kenyang."
"Udah," ucap Skylova sambil beranjak dari kursi.
Skylova menghampiri Salina yang masih memegang perutnya. Dia menatap salina sambil menjulurkan lidahnya.
Salina mengepalkan tangannya kuat. Belum ada yang berani melawannya seperti ini. Gadis itu, harus diberi pelajaran.
Skylova pergi meninggalkan tempat itu, perutnya sudah kenyang. Namun, tiba-tiba dia diseret oleh seseorang. Skylova meronta-ronta. Dia ingin berteriak, tapi mulutnya di bekap.
"Dek, jangan gerak mulu," ucap Starlo.
Skylova bernafas lega. Dia berhenti meronta. Starlo pun melepaskan bekapannya.
"Bang Arlo, Sky rindu," ucap Skylova sambil berbalik arah dan memeluk Skylova.
Mereka saling berpelukan. Rasa rindu tak bertemu selama dua hari membuat keduanya di landa rindu.
"Dek, kita harus pergi dari tempat ini. Abang nggak mau adek kenapa-napa. Adek nggak luka kan?"
Skylova menggeleng. Dia tak terluka sama sekali. Starlo menghela napas lembut. Dia tenang, karena Damian tak berbuat jahat pada Skylova.
"Kita harus pergi."
"Kalian tak akan pergi kemanapun," sela Damian.
Damian datang bersama pengawalnya. Damian tahu, kalau Starlo datang ke mansionnya.
Skylova dan Starlo kaget. Skylova langsung memeluk tubuh Starlo dengan erat.
"Tenang dek, ada abang," ucap Starlo sambil mengelus pundak Skylova.
"Bagaimana kabarmu, Arlo?" sapa Damian.
"Kau bisa lihat sendiri. Seharusnya, kau tak mengusik kehidupanku."
Starlo menjawab dengan nada dingin. Damian hanya tersenyum.
"Aku tak mengusik kehidupanmu. Aku hanya mengusik calon pengantinku."
Skylova dan Starlo melotot kaget. Pikiran keduanya kemana-mana. Mereka menggelengkan kepalanya secara bersamaan.
"Apa yang kalian pikirkan benar?"
"Sky nggak mau. Sky nggak suka. Sky maunya sama paman tampan," ucap Skylova.
Damian mengepalkan tanganya kuat. Dia cemburu, karena Skylova memilih Baitu. Damian tahu, paman tampan yang di maksud Skylova adalah Baitu.
"Pisahkan mereka!" teriak Damian.
Kedua kakak beradik itu saling memandang satu sama lain. Keduanya mengangguk.
Para pengawal Damian langsung mendekat ke arah mereka. Skylova dan Starlo membuat kuda-kuda. Terjadilah perkelahian di antara mereka.
Bug
Bug
Bug
Starlo, memukul lawan dengan lihai. Mereka saling berkolaborasi satu sama lain. Damian menatap heran kedua adik kakak itu. Di samping jenius, mereka juga melatih fisik mereka. Skylova ahli meninju, karena dia selalu boxing. Sedangkan Starlo ahli silat. Dia ikut sanggar silat.
Keturunan Diningrat di haruskan bisa bela diri untuk melindungi diri. Berbagai jenis bela diri mereka kuasai.
Damian memikirkan cara untuk memisahkan mereka. Dia kemudian maju dan menghadang Skylova. Skylova memukul wajah Damian, tapi Damian menghindar..
"Kau tak akan bisa mengalahkanku, Lova."
"Sky tahu itu, Damian."
Skylova mulai melayangkan tangannya kembali. Dia menyentuh tangan Damian. Skylova mematikan aliran chi Damian, agar dia tak bisa bergerak. Tangannya lumpuh seketika.
"Apa yang kau lakukan padaku?"
"Itu hanya sementara."
Skylova mengajak Starlo pergi dari mansion Damian. Mereka keluar tanpa ada yang mengejar.