
Mansion Corner
Damian tidur dalam gelisah karena bermimpi bertemu dengan Linda. Dia membuka mata seketika dan langsung menuju foto besar milik Linda. Dia menghampiri dan merabanya.
"Kenapa kau datang padaku dan ingin memintaku melepaskan Baitu, Linda?" gumam Damian
Damian masih ingat betul memori tentang Linda yang menangis meraung saat Baitu memilih Diana Beltran.
"Aku akan menghancurkannya sampai tidak tersisa," ucap Damian dengan nada penuh emosi.
(Flashback)
Linda lari menelusuri setiap jalan untuk bertemu dengan Damian. Air mata mengalir deras sampai meleleh diantara kedua pipinya. Dia tidak peduli teriakan Baitu yang membuat semua orang menoleh padanya.
Sampai di rumah Damian, nafasnya terengah-engah. Jantungnya berdenyut nyeri. Perasaannya sangat sakit. Linda tidak kuasa menahan berat tubuhnya. Dia terduduk lemas sambil memanggil nama Damian
Damian membuka pintu dan kaget melihat kondisi Linda. Dia langsung menggendongnya masuk ke dalam kamar. Hatinya sangat sakit kala tahu bahwa Linda tak berdaya seperti ini. Emosinya naik. Urat tangan keluar. Wajah merah tak terbaca. Tangan mengepal. Hati memanas.
"Jangan kau marah padanya, Damian," ucap Linda lirih.
"Kenapa kau sangat mencintainya? Tinggalkan dia, menikahlah denganku, Linda?"
Linda tersenyum lembut, "Kau tahu, meski Baitu mencintai Diana. Aku tetap mencintainya. Cintaku tidak akan pernah mati, Damian."
Damian memegang tangan Linda dan menatapnya dengan perasaan sendu. Emosinya seketika menghilang melihat Linda tersenyum.
"Bagaimana denganku, Linda? Aku mencintaimu. Apakah tidak ada sedikit perasaanmu untukku?" tanya Damian.
"Cinta tidak bisa dipaksa, Damian. Apakah kau mau menikah denganku, tanpa ada cinta sedikitpun untukmu?"
Damian menghela nafas kasar. Dia ingin mendapatkan cinta dari Linda seutuhnya. Menurutnya, cinta bisa di pupuk. Asalkan terbiasa bersama.
"Kau pasti akan mencintaiku. Aku akan berusaha membuatmu melupakannya."
Linda hanya menunduk sambil mengeluarkan air mata. Cinta Damian sangat tulus padanya. Tapi, kenapa dia tidak bisa mencintai Damian?
Apakah aku harus menerima Damian? Hatiku sangat sakit sekali. Hanya Damian yang mau menerimaku. Sedangkan Baitu, dia memilih Diana. Tuhan… bantu aku menjawab semuanya.
Linda semakin kalut dengan pikiran yang ada di kepalanya. Dia masih ragu untuk menerima ajakan Damian.
Mungkin ini adalah jalan terbaik untukmu, Linda. Aku harus berusaha melepas Baitu dan belajar mencintai Damian.
"Baiklah. Aku terima kau menjadi suamiku, Damian."
Damian sangat senang mendengar hal itu karena harapannya terwujud untuk menikah dengan Linda.
"Terimakasih, aku sangat bahagia. Aku akan membuat kebahagian di dalam rumah tangga kita nanti."
Seminggu setelahnya, mereka menikah. Baitu datang bersama Diana. Linda terpaksa senyum untuk menyambut keduanya. Ada sedikit rasa bersalah pada wajah Baitu kepada Linda. Setiap kali Linda mengutarakan perasaannya, dia langsung menolak tegas. Apa lagi, sekarang ada Diana.
Pernikahan berjalan dengan lancar. Semburat kebahagian terletak jelas pada Damian. Namun, tidak dengan Linda. Dia menangis meraung di dalam kamar.
Damian menghampiri Linda dan memeluknya, "Jangan menangis, Sayang. Kita tunjukkan kepada dunia. Kalau kau dan aku adalah pasangan yang bahagia."
Tiba-tiba, Linda pingsan di pelukannya. Damian langsung membawa Linda ke rumah sakit. Dia berteriak histeris memanggil dokter.
"Tenangkan diri Anda, Tuan," ucap Haiden.
"Bagaimana aku bisa tenang? Aku sangat mencintainya, Haiden," ucap Damian penuh kecemasan.
Linda ditangani oleh beberapa dokter dan perawat terbaik. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Linda.
Tolong jangan ambil dia dariku, Tuhan….
Damian duduk dengan menunduk di depan ruang ICU. Salah satu dokter keluar dengan wajah yang tidak bisa di baca.
"Apa yang terjadi padanya?"
"Maafkan saya, Nyonya memiliki penyakit kanker darah. Sudah stadium tiga. Sepertinya, beliau menyembunyikannya dari Tuan."
Jeder
Damian lemas seketika. Dia menangis dalam diam. Dunia yang akan dia bangun runtuh begitu saja.
Haiden menghampiri Damian dan memapahnya untuk duduk. Hatinya sangat sakit melihat Damian seperti itu.
"Tuan, tenangkan diri Anda. Anda harus kuat."
"Aku tidak mau dia pergi, Haiden."
Dokter itu menghampiri Damian, "Nyonya sudah sadar. Anda boleh masuk, Tuan."
Damian langsung masuk kedalam ruangan itu. Dia mengusap kasar air mata dan berusaha tersenyum.
"Jangan bangkit! Berbaringlah…!" perintah Damian.
"Maafkan aku, Damian. Malam yang seharusnya indah, menjadi malam yang terkesan buruk."
Tangan Damian membelai rambut Linda, "Kenapa kau tidak jujur padaku, Linda?"
Linda hanya menunduk dan tidak mau menjawab pertanyaan Damian.
"Maafkan aku. Aku bertahan demi Loka, Damian. Selama Loka belum kembali. Aku akan tetap hidup. Jadi, jangan cemas."
Damian menahan air mata yang akan tumpah dan memeluk Linda.
"Berjanjilah… kau akan bertahan," ucap Damian sambil memeluk Linda dan meneteskan air matanya.
Aku akan mencari saudara kembarmu, Sayang. Jadi, kau harus berusaha untuk tetap hidup.
Beberapa bulan setelahnya, Damian berusaha mencari keberadaan Loka yang sedikit menemui titik terang. Kondisi Linda semakin memburuk. Baitu mendengar kalau Linda sakit. Dia datang untuk menjenguknya. Namun, dihalangi oleh Damian.
Linda duduk di kursi roda dan melihat indahnya pemandangan. Wajahnya sangat pucat, tubuhnya kurus. Dia memakai syal dan menatap langit.
*Meskipun aku tiada nanti. Tolong, kirim orang untuk mengobati hati mereka, Tuhan….
Kirimkan orang yang cerah seperti langit*.
Damian menghampiri Linda dan mencium pipi kirinya.
"Ayo kita masuk, Sayang!"
"Aku masih ingin menikmati indahnya pemandangan ini. Apakah dia datang lagi?" tanya Linda.
Damian menghela nafas kasar dan berkata, "Aku tidak akan membiarkan dia menemuimu, Sayang."
Linda menoleh dan tersenyum, "Apakah kau masih marah padanya?"
Damian menggelengkan kepalanya.
Aku sangat marah dan membencinya seumur hidup. Maaf, Linda. Aku berbohong padamu.
"Maafkanlah dia. Aku sudah memaafkannya. Dengarkan aku, Damian. Kalau aku tiada, jangan menaruh benci pada siapapun." Linda menyentuh tangan Damian.
"Kau tidak boleh berkata seperti itu. Aku melarangmu pergi, Linda."
"Tenanglah, Damian. Aku ingin bersandar di bahumu. Karena aku sangat lelah," pinta Linda.
Damian langsung menuntun kursi roda itu di dekat bangku taman. Dia duduk dan menaruh kepala Linda di bahunya.
"Aku sangat mencintaimu. Kau harus bertahan. Dan satu lagi, aku sudah menemukan jejak tentang Loka."
"Benarkah… aku sangat bahagia mendengarnya."
"Kau adalah segalanya, Linda. Hidupku tanpa dirimu akan mati. Jangan pergi meninggalkan aku."
Tidak ada jawaban dari Linda.
"Apakah kau sudah tidur?" tanya Damian sambil memegang tangan Linda.
Damian bangkit dan menatap Linda yang sedang memejamkan mata.
"Cepat sekali kau tidur, Linda?" Damian menggendong tubuh Linda.
Deg
Dia kaget saat tubuh Linda mulai dingin dan nafasnya tidak ada. Damian langsung merosot sambil menggendong tubuh Linda yang sudah tidak bernyawa. Dia menangis meraung memanggil nama Linda.
(Flashback End)
"Sampai akhirpun, kau masih mencintainya. Bahkan dalam mimpi, kau masih mau membelanya, Linda," gumam Damian sambil pergi meninggalkan foto itu.
Damian berjalan menelusuri lorong untuk menuju ke ruang bawah tanah. Dia menghampiri Haiden dan Tommy.
"Bangun!" Haiden."
Haiden langsung bangun dan menatap Damian.
"Keluar sekarang! Bawa Tommy! Kalian bebas."
"Apakah saya masih bisa bekerja dengan Anda, Tuan."
Damian hanya mengangguk dan pergi begitu saja. Dia harus mempersiapkan sesuatu yang membuat Baitu merasakan hal yang sama seperti dirinya.