Sky Love Me

Sky Love Me
episode 60



Baitu merasa lega setelah mendengar perkataan Vino. Dia semakin semangat menunggu Skylova bangun. 


"Aku akan selalu menunggumu, sayang," ucap Baitu sambil mengelus rambut Skylova. 


Tangan Skylova bergerak lagi. Dia merespon perkataan Baitu. 


"Berjuanglah, banyak yang orang yang menantimu. Termasuk Arlo. Dia merasa bersalah karena membuatmu seperti ini.


Air mata Skylova menetes. Dia bisa mendengar dengan baik. Tapi matanya tak bisa di buka. Bahkan mulutnya tak mampu mengucap kata.


Dalam alam bawah sadar Skylova, dia melihat semua dunia luar. Skylova juga sudah mengingat semua kejadian yang telah menimpanya dulu sebelum kecelakaan.


Di sanping Skylova ada seorang wanita cantik. Wanita itu mengaku Linda Sasendri.


"Waktumu kembali, Skylova. Sadarkan Damian. Ini permintaanku padamu. Damian sejatinya adalah pria baik," ucap Linda sambil menatap lembut. 


"Apa Sky bisa melakukannya?"


"Kau pasti bisa, aku yakin itu. Aku berharap padamu," ucap Linda sambil menghilang.


Seketika mata Skylova terbuka. Baitu langsung berdiri dan memeluk erat tubuh Skylova.


"Akhirnya, kau bangun juga sayang," ucap Baitu sambil meneteskan air mata.


Skylova menerima pelukan hangat Baitu. Dia rindu paman tampannya. Segalanya yang di miliki Baitu, membuat Skylova rindu. 


Mimipi yang panjang itu, membuat Skylova tahu. Siapa gadis yang ada di foto milik Damian? Dia berencana untuk mengunjungi makam Linda.


"Paman," ucap Skylova lirih.


Suara merdu Skylova yang sangat di nanti oleh Baitu membuatnya sejenak menikmati alunan suara itu.


"Kenapa paman diam?"


Baitu masih menikmati suara Skylova. 


"Nggak mungkinkan paman gila," gumam Skylova lirih


Baitu langsung sadar. Dia melepas pelukannya dari Skylova.


"Jangan bicara sembarang," ucap Baitu sambil mencium kening Skylova dengan lembut.


Skylova sangat senang menerima perilaku lembut Baitu. Dia menatap Baitu dan tersenyum kepadanya. 


"Paman, mana bang Arlo?" tanya Skylova.


Baitu menghela napas kasar. Dia tak mau bercerita tentang Starlo. Dia ingin Skylova sendiri yang melihat keadaan Starlo saat ini.


"Makanlah terlebih dahulu. Nanti, setelah makan. Kau bisa pergi ke kamar Arlo, sayang," ucap Baitu lembut.


Skylova menatap heran Baitu. Pasti, ada sesuatu yang terjadi pada Starlo. Starlo, tak pernah seperti ini sebelumnya. Starlo selalu ada buat Skylova.


"Baiklah. Tapi, paman harus menyuapi Sky."


"Dengan senang hati, sayang."


Rasa bahagia membuat Baitu melakukan apapun dengan sukarela. Dia tak pernah mau disuruh oleh siapapun. Tapi, di depan Skylova, dia mau mengikuti perintahnya. Bukan karena menjadi budak cinta. Melainkan, karena sayang dan cinta yang tulus. Baitu selalu kehilangan orang yang dekat dengannya. Dia tak mau hal itu terjadi. Maka dari itu, dia akan membuat Skylova selalu berada di dekatnya. 


Sementara itu, Starlo masih saja berkutat dengan mesin tanpa henti. Berkali-kali Vino menasehati Starlo. Tapi, Starlo hanya diam saja. Dia merasa bersalah karena membuat Skylova tak sadarkan diri selama dua hari.


Kondisi Starlo sangat memprihatinkan. Wajah kusut, bibir pucat, baju kusut dan rambut acak-acakan. Dia bahkan tak makan selama dua hari. Dia hanya minum saja untuk melepas rasa dahaganya. 


Starlo tak bisa menelan makanannya karena mengingat wajah pucat Skylova.  


"Apa kau akan tetap seperti ini?"


"Pergilah, aku tak butuh nasehatmu."


Vino mengacak rambutnya frustasi. Dia tak mengerti jalan pikiran orang jenius seperti Starlo. Kasih sayang Starlo kepada Skylova mampu membuatnya seperti ini. 


Starlo menatap pintu kamar dengan tersenyum. Vino merasa keheranan melihat Starlo yang tersenyum menatap pintu kamarnya.


"Kenapa kau tersenyum? Kau membuatku takut."


"Apa aku kelihatan mengenaskan?" tanya Strlo.


"Bukan lagi mengenaskan. Tapi, kau seperti orang gila."


"Cih, menyebalkan. Aku akan makan itu nanti. Tapi, aku mau ke kamar mandi dulu," ucap Starlo beranjak dari duduknya dan langsung pergi ke kamar mandi.


Vino menggelengkan kepala. Dia hanya menatap Starlo dengan banyak pertanyaan di benaknya.


Cklik


Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Vino menoleh ke arah pintu. Dia langsung berdiri melihat Skylova yang telah masuk dalam kamar Starlo.


"Hai pria cantik. Dimana bang Arlo?"


Vino hanya diam membeku. Dia menatap Skylova tanpa berkedip. Vino meraba pipi dan mencubitnya.


Dia meringis kesakitan. Itu pertanda, Skylova di depannya adalah nyata. 


"Dasar aneh, mana bang Arlo?" tanya Skylova sekali lagi.


Vino hanya menunjukkan melalui gerakkan tangan. Gerakkan tangannya mengarah ke pintu kamar mandi. 


Skylova langsung menuju kamar mandi. Dia berdiri di depan pintu untuk melihat Starlo.


Starlo keluar kamar mandi dengan keadaan segar. Tiba-tiba saja, seseorang memeluknya. Starlo tahu, orang yang memeluknya adalah Skylova. 


"Bang Arlo, Sky kangen," ucap Skylova sambil memeluk Starlo.


"Abang juga kangen, dek."


Skylova melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah Starlo penuh selidik. Ada yang beda dengan Starlo. Badannya sedikit kurus. Bahkan ada lingkaran hitam di kelopak mata Starlo. 


Starlo berusaha menyembunyikan semuanya dari Skylova. Tapi, sepertinya tidak berhasill.


"Abang sakit?"


Starlo hanya menggeleng dan tersenyum. Dia tak mau membuat Skylova khawatir.


Skylova melirik makanan yang ada di depan meja. Makanan itu tak tersentuh sama sekali.


"Abang makan ya, Sky suapi."


Skylova menggandeng tangan Starlo dan menuntunnya menuju sofa yang ada di dekat pintu kamar.


Skylova kaget saat dia bersentuhan dengan tangan Starlo. Tangannya sangat panas. Skylova hanya diam saja. Nanti, setelah Starlo makan. Dia akan memaksa Starlo untuk diperiksa oleh Vino.


Skylova menyuapi Starlo dengan telaten. Tanpa Starlo sadari, air matanya menetes. Skylova pun berhenti menyuapi dan menghapus air mata Starlo. Dia meletakkan piring yang hampir habis isinya itu.


"Jangan menangis, bang." 


Air mata Starlo semakin banyak yang keluar. Walaupun tak ada suara tangisan. 


"Sky disini. Sky sudah sembuh. Abang tak perlu merasa bersalah. Karena abang adalah abang terbaik buat Sky," ucap Skylova sambil memeluk Starlo erat.


Starlo sedih dan juga bahagia melihat Skylova kembali. Seumur hidup, dia akan menyalahkan dirinya. Jika, Skylova tak kembali.


Vino hanya menatap interaksi keduanya. Dia tak pernah melihat hal ini sebelumnya.


"Pantas saja dia langsung pergi ke kamar mandi. Ternyata ini jawabannya. Ikatan batin yang kuat," batin Vino.


"Sekarang, abang istirahat dulu. Biar pria cantik yang memeriksa abang," ucap Skylova sambil melirik Vino.


Vino tersenyum dengan sedikit terpaksa. Kali ini dia akan membiarkan Skylova menyebut dua kata yang sangat dia benci.


Starlo mengangguk. Dia kemudian beranjak dari duduknya dengan sedikit sempoyongan. Belum sampai di tempat. Dia langsung pingsan. Dengan sigap, Skylova menangkapnya.


"Bantu Sky dong, berat nih…."


Vino langsung datang dan ikut membantu Skylova membawa Starlo menuju ranjangnya.


"Sky yakin, bang Arlo pasti nggak makan selama Sky pingsan."


"Benar, aku sudah menasehatinya berulang kali. Tapi, dia malah terus berkutat dengan mesin tak bernyawa itu," ucap Vino sambil memeriksa tubuh Starlo.


Vino memberikan suntikan pada tubuh Starlo. Dia menaruh obat tidur di dalam suntikan tersebut 


"Jika bang Arlo sadar, kau pasti di hajar."


Vino menatap Skylova yang duduk di samping kiri Starlo.


"Mana mungkin dihajar? Aku kan yang mengobatinya."


"Bang Arlo tak suka di suntik. Sky yakin, nanti setelah sadar. Kau akan di hajar.


Vino hanya diam saja. Di tak mau menjawab pertanyaan Skylova. Kalau dia di hajar oleh Starlo, dia akan diam saja. Lagi pula tugasnya adalah mengobati pasien. Dan Starlo adalah pasiennya sekarang.