Sky Love Me

Sky Love Me
episode 40



Baitu masih memandangi dan mengelus pipi Skylova. Skylova salah tingkah dan kepanasan. Sepertinya dia harus mencuci muka.


"Paman, Sky tak bisa begini terus. Lihatlah, wajah Sky pasti sangat merah. Jika Paman berbuat manis seperti ini, gati Sky semakin meleleh, Paman," ucap Skylova jujur.


Dag


Dig


Dug


Bunyi jantung Baitu terdengar sampai terdengar oleh Skylova. Dia meraba jantungnya sendiri.


"Sepertinya, Paman harus ke rumah sakit. Sumpah, jantung Paman detaknya kenceng banget," ucap Skylova.


Boom


Baitu melotot kaget dan mundur satu langkah. Dia butuh waktu untuk menetralkan jantungnya.


Skylova menatap heran Baitu yang mundur kebelakang.


"Kenapa Paman mundur kebelakang?" tanya Skylova. "Hais... lebih baik Sky pergi aja. Paman aneh." Skylova melenggang pergi meninggalkan Baitu.


Baitu langsung mengejar Skylova. Dia menggeret tangan Skylova dan menuntunnya ke mobil.


"Paman, kita ke perusahaan ya? Mau ketemu Rama."


"Tidak!" teriak Baitu.


"Sky mau ketemu Rama."


Baitu menatap tajam Skylova dan menggendongnya seperti karung beras.


"Paman, turunin Sky! Cepat turunin!" Skylova meronta-ronta.


Baitu hanya diam dan berjalan menuju mobil.


"Hei, orang yang ada di sana! Sky mau di culik nih! Tolongin donk!" Skylova berteriak memanggil orang-orang.


Semua orang yang ada di sana hanya acuh. Mereka seperti tak melihat kejadian itu.


"Dasar menyebalkan." Skylova mengerucutkan bibirnya.


Bug


Baitu melempar Skylova ke dalam mobil dengan kasar sampai memekik kaget. Jangan-jangan paman tampan marah. Skylova memandang ke arah Baitu. Wajahnya tidak bisa di baca sedikit pun. Akhirnya, dia hanya pasrah saja duduk di kursi belakang.


Dengan gerakan kasar, Baitu membuka pintu mobilnya. Dia melirik Skylova dari arah kaca spion di depan dan langsung melajukan mobil dengan cepat.


Bang Arlo, tolongin Sky! Paman tampan kok jadi serem gini sih.


Setelah setengah jam menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai juga. Skylova bisa bernafas lega karena merasa tercekik satu mobil dengan Baitu. Mode marahnya sungguh menyeramkan. Kalau hanya di pelototi saja tidak masalah. Lah ini tidak ada ekspresi sama sekali.


Pokoknya Sky harus kabur.


Skylova sudah bersiap untuk membuka pintu mobil, tapi Baitu menahan tangannya.


Hais, ketangkep deh.


Skylova menepis tangan Baitu dan menunduk tak berani menatapnya. Baitu keluar mobil kemudian membuka pintu belakang mobil agar Skylova bisa keluar. Namun dia malah mudur kebelakang dan menggelengkan kepala.


Baitu menghela nafas kasar dan meraih tangan Skylova, tapi di tolak.


"Kesabaranku sudah habis, Lova," ucap Baitu dingin.


Skylova menatap Baitu yang masih menampilkan ekspresi wajah dingin.


"Kau menguji kesabaranku." Baitu menggeret paksa tangan Skylova menuju ke luar pintu.


Baitu terus saja menggeret paksa tangan Skylova sampai meringis kesakitan. Dia takut dan tak mau melawan. Ingin rasanya Skylova menangis memanggil Julio dan Monica


Sky benci Paman tampan. Sky mau pulang aja.


Mereka berdua menaiki tangga dan menuju ke kamar. Baitu tak menoleh sedikit pun. Rasa cemburu yang menyeruak di hatinya membuat dia tak sadar kalau menyakiti Skylova.


Baitu membuka pintu kamar tersebut. Kedua nya pun masuk. Skylova mendadak berhenti, otomatis Baitu juga berhenti. Baitu berbalik ke arah Skylova. Dia menatap Skylova yang menunduk.


Baitu menghampiri Skylova dan mengangkat dagu Skylova. Dia terkejut karena Skylova menangis.


Sial, apa yang aku lakukakan?


"Jangan menangis, maafkan aku." Baitu memeluk erat Skylova.


Sebelum memeluk tubuh Skylova, Skylova mundur kebelakang.


"Jangan peluk Sky! Hiks Hiks. Sky nggak mau. Sky benci Paman. Paman menyakiti Sky," ucap Skylova sambil menangis.


Baitu menatap Skylova dengan penuh penyesalan karena berbuat kasar padanya. Dia meremas dada yang sakit sebab melihat gadisnya menangis


Skylova langsung berbalik arah dan menuju pintu keluar. Dia ingin pergi dari tempat itu Kalau Paman tampan tak menyukainya. Seharusnya bilang saja. Jangan bertindak kasar.


Baitu berteriak sambil mengejar Skylova. Semua pengawalnya menghadang Skylova. Skylova menghajar para pengawal itu.


Bug


Bug


Sandra yang mendengar ada keributan langsung menuju sumber suara. Dia kaget melihat Skylova menghajar para pengawal.


"Apa yang terjadi dengan Nona? Aku tak berani mendekat. Sepertinya, Nona sedang marah," gumam Sandra.


"Lova, hentikan!" teriak Baitu.


Skylova menoleh sekilas dan langsung pergi.


"Sandra, kita kejar Skylova!" titah Baitu.


Sandra langsung berlari menuju keluar, namun di luar sudah tak ada Skylova.


"Pasti dia tak jauh, ini semua salahku. Kita harus terus mencarinya."


Skylova berlari menelusuri jalan raya. Dia tak mau pulang ke Vila Mahendra.


----


Ruang Kerja Tommy


Tommy sudah menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Dia ingin segera pulang kerumah. Tubuh dan tenaganya terkuras habis. Semenjak Skylova meninggal, Tommy berubah. Dia tak lagi berkencan dengan banyak wanita dan melakukan want night stand.


Tommy berjalan keluar kantor dan masuk ke dalam mobil. Di tengah perjalanan, dia seperti melihat seseorang Skylova yang sedang duduk di pinggir jalan.


"Skylova," gumam Tommy. "Tidak, ini pasti mimpi." Tommy mencubit tangannya.


Tommy merasa kesakitan. Dia langsung berhenti dan keluar mobil untuk menghampiri gadis yang mirip dengan Skylova.


"Skylova," panggil Tommy tepat di samping Skylova.


Skylova mengangkat kepalanya. Dia mengernyitkan dahinya. Siapa pria di depannya? Apa dirinya mengenalnya?


"Apakah kau adalah Skylova?" tanya Tommy penasaran.


"Kakak siapa?"jawab Skylova.


Tommy mendengar suara lembut Skylova yang selalu terngiang di kepalanya. Gadis di depannya ini nyata. Dia adalah Skylova.


"Apakah benar kau Skylova Mahendra?" tanya Tommy lagi.


"Iya, kakak siapa sih...? Sok kenal sama Sky." ucap Skylova dengan acuh


Tommy bingung karena Skylova tak mengingatnya. Tapi ingat namanya sendiri. Atau jangan-jangan dia lupa ingatan.


"Ayo ikut aku, kita bicara. Pasti Ray senang melihat kau masih hidup," bujuk Tommy.


"Kakak mau culik Sky ya...? Kenapa bawa-bawa Ray? Ray siapa yang Kakak maksud?" tanya Skylova.


"Pikiranmu terlalu pendek, Lova. Aku kakaknya Raymon. Namaku Tommy Kyle." Tommy mengulurkan tangan kepada Skylova.


Tommy harus membuat kesan baik terhadap Skylova. Dia sangat senang melihatnya masih hidup. Ingin rasanya Tommy berteriak kegirangan dan memeluk gadis di depannya. Tapi mengingat Skylova masih belum menjadi miliknya, dia tak berani mengambil tindakan yang merugikan.