Sky Love Me

Sky Love Me
episode 62



Vino sangat jengkel dengan Starlo karena berperilaku tidak sopan padanya.


"Dasar pasien tak sopan." Vino menyentil dahi Starlo.


Starlo semakin menatap tajam Vino yang tengah merapikan bajunya.


"Hais, pria cantik itu tak paham situasi," gumam Skylova.


Starlo mendengar perkataan Skylova. Dia tersenyum devil dan menatap Vino.


"Kau saja penyuka pria. Jangan pernah menyentuh tubuhku lagi."


Vino melotot saat mendengar perkataan Starlo. Dia pria sejati. Bukan penyuka pria.


"Hei, jangan bicara sembarangan. Aku masih suka sesuatu yang empuk di dalam diri wanita."


Skylova menggelengkan kepalanya. Vino terlalu mesum dan terus terang. Dia mengambil tali yang telah di siapkan untuk mengikat Vino.


Starlo menghampirinya dengan sedikit berlari. Dengan cepat, dia mengikat tubuh Vino.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" teriak Vino.


"Dek, ambil kotak yang ada di laci."


"Nggak mau, Bang," tolak Skylova.


Vino menggeleng memohon kepada Skylova. Supaya, dia tak menuruti kemauan Starlo.


"Ayolah, Dek…."


Starlo memasang wajah memelas. Agar, Skylova mau membantunya. Akhirnya, sang adik menuruti perintahnya untuk mengambil kotak hitam yang ada di laci.


Sedangkan Starlo, menyeret paksa Vino dan menaruhnya di ranjang dengan tengkurap. Dia mengikat kaki dengan sangat kencang. Vino berteriak dan bergerak tidak karuan.


"Setelah ini, kau tak akan berani menodai tubuhku yang sangat suci," ucap Starlo tersenyum devil.


Skylova bergidik ngeri. Dia tidak pernah melihat Starlo seperti itu. Ekspresi menyeramkan wajah itu adalah hal baru baginya. Bisa di bilang, ini adalah sisi lain dari sang jenius Starlo Mahendra.


Starlo mengambil kotak hitam itu dari tangan Skylova. Dia kemudian mengambil bulu angsa dan menggerakkan di telapak kaki Vino.


Vino tertawa sampai sedikit mengeluarkan air mata. Sedangkan Skylova menutup mulutnya dan bergidik ngeri. Tertawa seperti itu, pasti membuat perut sakit. Dia harus menolong Vino.


"Bang, berhenti dong…."


"Nggak akan," ucap Starlo sambil tersenyum devil.


Vino menyerah dan memohon ampun pada Starlo. Tapi, dia tetap melanjutkan kegiatannya.


"Bang, kasihan Vino."


"Jangan campuri urusanku," ucap Starlo sambil menatap tajam Skylova.


Deg


Skylova terkejut karena tidak pernah di tatap tajam oleh Starlo yang selalu bersikap lembut padanya. Karena merasa tidak dibutuhkan, dia langsung pergi meninggalkan Starlo dengan meneteskan air mata dan mengusapnya dengan kasar.


"Abang udah nggak sayang sama Sky," ucap Skylova sambil berlari menuju pintu kamar. 


Starlo menghentikan aktifitasnya. Dia membuang bulu angsa itu dengan kasar dan meninggalkan Vino yang telah pingsan karena kelelahan tertawa.


Skylova berjalan menuruni tangga dengan sedikit berlari. Baitu melihat Skylova yang mengusap air matanya.


Baitu langsung berdiri dan menghampiri Skylova.


"Ada apa, sayang?" ucap Baitu lembut.


"Bang Arlo, dia udah nggak sayang Sky, Paman. Dia benci Sky," ucap Skylova sambil memeluk Baitu.


Starlo berlari menuruni tangga dan langsung merebut Skylova dari pelukan Baitu dengan kasar. Dia memeluk erat adiknya.


Skylova menangis dengan sangat keras. Semua orang yang ada di sana melihatnya


"Pergi!" teriak Baitu kepada seluruh pengawalnya.


"Abang janji nggak akan lakuin itu lagi. Jangan menangis, Dek."


Starlo mengelus lembut kepala Skylova. Dia kemudian melepas pelukan dan menatapnya dengan tatapan sayu. Tiba-tiba, ponsel Skylova berbunyi. Baitu melihat siapa yang menghubungi ponsel itu. Dia langsung menyerahkannya kepada Skylova. 


Skylova langsung melotot saat tahu bahwa yang telah menghubunginya adalah sang mama.


Skylova menatap Starlo yang mengangguk memberi persetujuan untuk menerima panggilan itu.


"Halo."


"Halo. Ma."


"Lama sekali kau mengangkat ponselmu, Lova."


"Sky tadi masih di kamar mandi," jawab dusta Skylova.


"Bagaimana kabar kalian? Ponsel Arlo kenapa sulit di hubungi? Jangan berbuat aneh-aneh di sana."


"Iya Ma."


"Dengar Lova, jangan berbuat sesuatu di luar kemampuanmu. Mama punya firasat kau akan melakukan sesuatu."


Deg


Jantung Skylova seperti berhenti sementara. Monica terlalu peka mengenai kondisi dari dulu.


"Kenapa tak menjawab?"


"Mama jangan khawatir. Sky dan Bang Arlo baik-baik saja."


"Tadi malam, Mama bermimpi bertemu dengan wanita bernama Linda Sasendri. Mama sudah mencari tahu, siapa Linda Sasendri itu?" 


Deg


Monica ternyata juga memimpikan hal yang sama dengan Skylova yang tengah diam membatu. Starlo dan Baitu menatap heran. Starlo kemudian merebut ponsel itu. Dia mengaktifkan speaker ponsel agar bisa mendengar suara Monica.


"Tanyakan pada Tuan Maheswari. sepertinya, dia lebih tahu mengenai Linda Sasendri."


Deg


Baitu melotot kaget. Darimana Monica tahu mengenai Linda Sasendri? Dia menatap Skylova yang masih mematung.


"Mama tutup dulu. Salam sama Arlo. Jangan nakal, Lova."


Tut


Skylova berjalan gontai ke arah sofa. Dia duduk dengan lemas. Baitu dan starlo langsung menghampiri Skylova dan menatapnya untuk meminta penjelasan.


"Jangan menatap Sky seperti itu."


"Apa yang kau sembunyikan, Sayang?" tanya Baitu.


"Dek, beritahu Abang mengenai masalahmu," sambung Stralo.


Skylova menghela nafas panjang. Bukan saatnya mereka tahu perihal Linda Sasendri. Meski Baitu adalah orang yang terlibat.


Baitu menatap Skylova yang masih berkecamuk dengan pikiran mengenai Linda Sasendri. Baitu masih mengingat betul kebersamaan mereka bertiga. Masa di mana hanya ada persahabatan.


"Suatu saat nanti. Sky akan bertanya kepada Paman mengenai Linda. Tapi, tidak hari ini," ucap Skylova.


"Tidak ada yang istimewa antara aku dan Linda, Sayang." Baitu berusaha untuk menghilangkan kekhawatiran Skylova.


Starlo hanya mengamati percakapan yang tidak di mengerti sama sekali. Dia yakin, hal ini berhubungan dengan Damian.