Sky Love Me

Sky Love Me
episode 7



Raymon Kyle adalah salah satu patner Skylova. Raymon begitu mencintai Skylova. Dia berharap, Skylova tahu mengenai perasaanya. Raymon juga sama geniusnya dengan Skylova. Namun, Skylova lebih unggul.


Kini, mereka berdua sedang duduk bersama melepas rindu. Tiba-tiba, perut Skylova berbunyi.


"Kau belum makan dari tadi? tanya Raymon.


"Belum nih... laper. Makan yuk! Tapi, kau yang traktir." ajak Skylova.


"Nggak ah."


"Tega, nangis nih... kan kau baru di kasih uang sama tante badut itu."


"Siapa tante badut?


"Maura Lowei lah..."


"Sky, kau mengolok dia dengan sebutan tante badut? Ha Ha Ha."


"Iya... habis dandanannya tebal sekali. Kan kaya badut," jawab Skylova polos.


"Aku mau tidur."


"Ray, kau tega sekali. Sky laper... ayo ke kafe. Bisa pingsan nih... Sky." ucap Skylova sambil memegang tangan Raymon.


Raymon memang sengaja mengulur waktu untuk melihat aksi imut Skylova. Dia benar-benar membuat Raymon bertekuk lutut. Raymon sangat gemas kepada Skylova.


"Au... sakit!" Skylova mengelus pipi nya.


"Gemes sih...ya udah, ayuk!" Raymon berdiri dan berjalan keluar rumah.


Mereka berjalan keluar rumah. Raymon membuka pintu garasinya. Di sana ada mobil dan motor kesayangannya.


"Kita naik motor. Biar cepat."


"Mobil aja napa?"


"Enak naik motor, AC alami."


"Modus. Nanti biar Sky pengangan kan..."


"Siapa bilang modus?"


"Sky tahu, jalan pikiranmu Ray."


Jika kau tahu jalan pikiranku. Kenapa kau tak peka dengan perasaanku Sky? batin Raymon.


"Jadi, berangkat enggak nih... kok bengong aja, Ray." Skylova memegang bahu Raymon.


"Iya, naik." Raymon menyerahkan helm kepada Skylova.


Raymon sangat senang. Tanpa sadar, dia tersenyum. Jantungnya berdetak kencang. Skylova memeluknya dari belakang. Perjalanan kali ini membuat Raymon bahagia. Sampai tak terasa, mereka sudah sampai di kafe.


"Berhenti Ray, itu ada kafe."


Ckit


"Hati-hati dong, Ray!" Skylova memeluk erat Raymon.


Wajah Raymon memerah. Karena, kedua benda kenyal milik Skylova mendarat dengan sempurna mengenai punggung Raymon.


Skylova pun turun dari motor dan diikuti Raymon. Skylova segera duduk dan melihat daftar menu.


"Ayo cepet duduk. Lama amat. Sudah laper nih...."


" Iya bawel."


Tidak lama kemudian, pelayan datang menghampiri mereka. Pelayan perempuan itu terpesona dengan ketampanan Raymon. Badan tinggi seperti model, kulit putih seperti susu dan juga wajah nya sangat berkarismatik. Tidak heran, jika kaum hawa menatap tajam Raymon yang bak dewa Yunani itu. Sedangkan Skylova, hanya mengamati pelayan itu.


"Mbak, saya lapar. Mau pesan makanan, kok malah melongo kaya sapi ompong."


"Maaf mbak. Habis, masnya tampan," jawabnya jujur.


"Tuh Ray... katanya, kau sangat tampan."


Ray hanya mendengus kesal. Tanda tidaksuka.


"Pesan yang ini sama yang ini, mbak. Semuannya dobel."


"Iya mbak." Sambil tersenyum ke arah Raymon.


Namun, Raymon hanya diam dengan wajah dingin.


"Ada apa sih? Kenapa marah coba?"


"Cuma nggak mod doang."


"Udah, jangan ngambek. Nanti tak suapi."


"Yang bener."


"Tentu." Skylova mengedipkan sebelah mata nya.


Raymon berteriak kegirangan di dalam hati. Dia tersenyum puas sekali.


Tidak lama kemudian, makanan nya datang. Tanpa aba-aba, Skylova langsung memakannya dengan lahap. Sampai belepotan.


"Lihat, makanmu seperti anak kecil." Raymon mengelap sudut bibir Skylova.


"Biarin...udah ah... sini, Sky suapin.... a...a...a." Skylova menyodorkan sendok yang penuh makanan kearah mulut Raymon.


Semua orang yang berada di kafe itu menatap interaksi keduannya. Karena, mereka seperti pasangan yang sangat romantis.


Tanpa mereka sadari ada, sebuah mobil warna hitam yang mengamati kedua nya. Siapakah orang yang ada didalam mobil itu? Orang itu adalah Baitu. Baitu melihat kedekatan dua sejoli itu. Dia merasa hatinya sangat sakit. Di tusuk seribu jarum tidak kasat mata. Tangannya mengepal kuat. Sorot matanya sangat tajam. Dia benar-benar tak menyukai kedekatan mereka. Sandra yang melihat tuannya mulai menunjukkan kemarahannya hanya bisa memaki tidak jelas di hati.


Tuan sepertinya cemburu, tinggal bilang suka aja susah. Pakek gengsi segala lagi. Lihatlah seperti singa yang akan mengamuk. Seharusnya kalau gini di kandang aja. Biar nggak keluar. Pasti kerjaanku nanti bertambah deh. Aduh... Nona Skylova, jangan nyusain dong!


"Sandra."


"Ya tuan."


" Apa tuan tidak jadi ke Vila Mahendra."


"Apa matamu buta? Kau tidak lihat apa yang dia lakukan?"


"Aduh... salah ngomong kau San... Jadi kena kambing hitam kan... Hais gini amat."


"Baik tuan."


Mereka meninggalkan kafe itu. Namun, tidak dengan Baitu. Walaupun badannya meninggalkan tempat. Tapi, pikirannya melayang ke Skylova dan seorang pria yang tidak di kenalnya. Dalam benaknya, dia sangat penasaran dengan pria tadi.


Sampai di Vila miliknya, Baitu masuk le ruang kerjanya. Dia melempari semua barang yang ada di sana. Sandra hanya diam mematung tak berani menegur.


"Aduh... masih lama nggak sih. Udah kram kakiku."


"SANDRA!" teriak Baitu


"Kau cari siapa laki-laki sialan itu?"


"Baik tuan."


Akhirnya, Sandra terbebas dari amukan singa ganas. Dia sangatlah lega. Tapi, tidak bisa lega santai. Dirinya harus bekerja ekstra.


--------


Starlo melihat Skylova dari kejahuan. Dia berniat menghampiri Skylova. Lagian, dia juga penasaran siapa pria yang bersama adiknya.


Semua kaum hawa menatap Starlo dan berteriak histeris. Skylova dan Raymon pun menoleh ke arah pintu kafe. Ternyata,sang abang yang tengil telah datang.


"Wah, lagi kencan nih..." sapa Starlo.


"Abang ngapain di sini?Sky nggak kencan ya... jangan mengada-ada."


"Bang, lihat dandanan abang. Masak pakek jas, kakinya di pakein sandal jepit."


"Gerah dek. Lagian, abang nggak peduli." Starlo melirik Raymon dan duduk.


Starlo menatap tajam Raymon. Dia seperti ingin memakan Raymon hidup-hidup. Raymon yang merasa di tatap hanya menunduk saja.


"Angkat kepalamu," perintah Starlo


Raymon pun mengangkat kepalanya dan menatap Starlo perlahan.


"Ngapain sih bang? Sok garang. Dia Raymon. Teman Sky di Jerman."


"Ray, ini abang Sky. Yang pernah Sky ceritain."


Raymon hanya mengangguk dan tersenyum.


"Adek nggak cerita aneh-aneh kan..."


"Aneh apanya?"


"Tentang itu."


"Sedikit."


"Jangan bilang adek cerita itu."


"Iya hehe...Ray janji nggak akan bocorin kok."


"Apa jaminannya?"


"Jaminannya tuh... motor Ray mahal," jawab Skylova asal.


"Awas! jangan bocorin." Starlo menggerakkan tangan memotong leher.


"Iya kak. Tenang, aman kok."


"Ya udah. Pergi sana!"


"Abang usir Ray."


"Ini udah sore. Waktunya pulang, dek."


Karena merasa tidak dibutuhkan lagi, Raymon pergi pamit kepada keduanya dan menuju kasir untuk membayar.


"Yuk ...pulang."


"Siap master. Master sandal jepit." Skylova berlari menuju mobil dan meninggalkan Starlo.


Starlo hanya tersenyum saja melihat adiknya.


"Bang, kok nggak bisa di buka mobilnya."


"Ha Ha Ha. Salah mobil, dek."


Krik


Krik


"Salah mobil," beo Skylova.


"Udah. ayo sini...ngapain di situ? Mau masuk mobil orang? Nanti, di kira maling."


"Masak sih..." Skylova menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Astaga iya... mobilnya sama. Plat nomer beda."


"Sudah konek sekarang."


"Udah bang, untung tak ada orang. Mau di taruh di mana muka Sky, bang?"


"Noh...taruh di hutan"


"Abang nyebilin!" Skylova masuk mobil.


Starlo tertawa terbahak-bahak. Dia sangat suka menjahili Skylova Baginya, Skylova adalah dunianya.