
Mereka berdua duduk dalam diam di dalam mobil. Sandra ingin mencairkan suasana, tapi dia takut untuk memulainya. Mengingat tuannya tadi marah-marah sewaktu Nona Skylova menghilang.
Skylova memilih menatap Jendela mobil untuk melihat pemandangan luar. Rasa kantuk merayapi dirinya sampai tidak sadar dia tertidur.
Baitu melirik Skylova dan menghela nafas lembut. Gadisnya ternyata tertidur. Dia menaruh kepala Skylova di bahu dan mengelus rambut Skylova.
"Sandra, kau sudah mencari tahu keberadaan Damian di Belanda?"
"Saat ini saya sedang berusaha, Tuan. Saya masih kehilangan jejaknya."
Baitu mengepalkan tangan tanda emosi dan takut menjadi satu. Dia khawatir jika Skylova menghilang
"Kita kembali ke vila."
Sandra memutar arah. Semula tujuan mereka adalah resort dan sekarang adalah vila.
Sampai di vila, Baitu menggendong Skylova yang masih tertidur dan berjalan masuk ke dalam lalu menuju kamar pribadinya.
Baitu menaruh lembut tubuh Skylova dan kemudian pergi begitu saja. Skylova terbangun dari tidurnya. Dia tahu, pasti Baitu marah padanya. Dia kemudian berinisiatif kembali ke Vila Mahendra untuk menenangkan pikirannya.
Skylova melihat kearah balkon. Dia mengambil tali agar bisa turun kebawah. Setelah memasang tali dengan erat. Skylova turun perlahan.
"Huh, maaf Paman. Sky tak mau liat Paman marah pada Sky. Jadi, terpaksa Sky pulang dulu. Hais, kalau ada Bang Arlo. Pasti nggak kaya gini."
Skylova berlari menuju Vila Mahendra. Dia masuk dan mengunci pintunya rapat-rapat. Hari ini, dia pertama kali tidur sendirian di vila.
Skylova langsung naik ke kamar Starlo. Dia mau mengambil laptop dan juga ponsel cadangan milik Starlo. Kemudian dia keluar kamar dan masuk ke kamarnya.
"Sky penasaran dengan Damian Corner. Harus di selidiki nih...."
Skylova menyalakan laptop milik Starlo. Dia menggerakkan kesepuluh jarinya dengan lihai untuk meretas data pribadi Damian yang membuatnya terkejut.
"Astaga, pantas menyeramkan. Dia begitu kejam. Mafia kelas atas. Sky salah kenal dengannya."
Skylova terus mencari informasi. Dia menggali lebih dalam lagi data pribadi Damian. Dia melotot kaget melihat beberapa foto kebersamaan Baitu dan Damian. Bahkan ada foto dua gadis kembar yang tidak Skylova kenal.
Skylova langsung menutup laptopnya dan mengacak rambut tanda frustasi.
"Mereka pernah berteman.Tapi kenapa kok putus ya? Sky harus hati-hati nih...."
Skylova menaruh laptop itu di meja. Dia menguap dan melirik jam yang menunjukkan pukul sebelas malam. Dia tidur agar besok bisa segar kembali.
Sementara itu, Damian menatap foto Skylova. dan mengingat kejadian tadi. Kebersamaannya dengan Skylova membekas di dalam hatinya.
"Aku ingin memilikimu seutuhnya. Kau tak pantas untuk Baitu."
Damian berdiri menatap langit malam. Dia melihat langit di hiasi bintang dan bulan.
"Apa ini yang namanya langit? Luas dan indah. Banyak di taburi bintang dan bulan," gumam Damian.
Haiden tiba-tiba masuk kedalam ruangan Damian dengan tergesa-gesa.
"Maaf, Tuan. Saya mengganggu anda."
"Katakan."
"Data anda bocor, Tuan. Seseorang meretasnya."
Damian langsung menatap tajam Haiden dan langsung menggebrak meja dengan keras.
"Cari peretas itu. Bawa dia kehadapanku, Haiden!" teriak Damian menggema keseluruh ruangan.
Haiden hanya diam. Sebelum melapor dia sudah mencari keberadaan peretas itu.
"Kenapa tak kunjung kau cari?" teriak Damian lagi.
"Sekali lagi maaf, Tuan. Dia hacker yang hebat. Saya sudah melacaknya tapi tak ketemu."
Amarah Damian makin memuncak. Kalau data pribadinya bocor, hidup orang di dekatnya pasti akan bahaya.
"Kerahkan orang untuk mencari Angel. Kawal dia dari jauh jika kau sudah menemukannya. Aku tak ingin orang yang mengetahui identitasku itu, mengambil kesempatan untuk menghancurkanku," ucap Damian penuh emosi.
Dia tak ingin keponakannya celaka karena dirinya. Meski Angel di kelilingi oleh Kaylo dan Baitu, Damian tak akan tenang kalau dia tidak turun tangan sendiri.
Haiden mengangguk dan langsung pergi meninggalkan Damian sendirian di ruangan pribadinya. Emosinya belum stabil. Damian berteriak dan melempari semua barang.
"Sial! Aku membutuhkan gadis itu. Skylova, dimana kau sekarang?"
Damian keluar ruangan. Dia harus bertemu gadis itu. Damian mencari keberadaan Haiden.
Haiden langsung lari menghampiri Damian.
"Apakah dia masih bersama Baitu?"
"Maksud anda, Nona Skylova."
"Siapa lagi kalau bukan dia?"
"Menurut kabar terbaru, Nona Skylova kabur dari kediaman Maheswari. Dia menuju ke vila keluarga Mahendra."
Damian tersenyum senang dan langsung bergegas menuju tempat keberadaan Skylova.
Sampai di Vila Mahendra, Damian langsung turun dari mobilnya dan menuju pintu utama. Namun pintunya terkunci.
"Sial! Pintunya terkunci."
Damian memutari Vila Mahendra. Dari bawah dia melihat jendela terbuka. Dia memanjat pohon dekat jendela.
"Ini sangat gila. Hanya karena ingin melihatnya. Aku melakukan hal ini. Seperti pencuri saja."
Damian sampai di balkon kamar. Dia masuk kamar itu dan melihat Skylova yang tengah tertidur pulas.
"Bayi polosku sedang tidur rupanya."
Damian menghampiri Skylova, kemudian dia duduk di samping kanan ranjang.
"Aku tak tahu, sihir apa yang kau berikan padaku dan pria kejam seperti mereka. Kau mampu membuat hatiku nyaman, Lova," gumam Damian lirih sambil mengelus surai hitam milik Skylova.
Skylova merasa terganggu sehingga pindah posisi miring ke kanan. Damian terkejut dan bangun seketika. Kemudian dia mengelus dadanya.
"Aku pikir dia terbangun."
Damian tak puas hanya bisa mengelus rambut Skylova. Dia mendekati ranjang dan merangkak ke samping kiri tubuh Skylova. Damian memeluk tubuh itu dan menghirup aromanya kuat-kuat.
Namun, tiba-tiba Damian mendengar langkah kaki seseorang. Dia langsung bangkit dan bersembunyi di bawah kolong meja.
"Sial! Mobilku."
Pintu kamar Skylova di buka pelan oleh seorang pria yang menghampiri Skylova.
"Dek, udah tidur ya...? Abang pulang nih...! Mobil di luar itu punya Adek," ucap Starlo sambil menggoyangkan tubuh Skylova.
Skylova tak bergeming sedikitpun dan malah menendang Starlo.
"Astaga, Dek. Di tanya malah nendang. Ya udah lah..., besuk saja aku tanya. Mingkin dia capek. Tumben dia nggak tidur di vila Baitu," ucap Starlo sambil pergi meninggalkan Skylova.
Damian bisa bernafas lega. Dia kemudian keluar dari persembunyiannya.
"Aku kira Baitu yang datang. Ternyata Starlo."
Damian menghampiri dan mengelus surai hitam milik Skylova lagi
"Udah deh, Bang...! Jangan nganggu Sky! Ngantuk nih...!" ucap Skylova sambil memegang tangan Damian.
Damian diam mematung dan tak bergerak sedikit pun. Jantungnya berdetak tak karuan. Keringat di pelipisnya mulai bermunculan.
"Tidurlah, mimpi yang indah," bisik Damian menirukan suara Starlo.
Skylova mengangguk dan melepaskan pegangannya dari tangan itu. Damian bernafas lega.
"Untung dia tidak membuka matanya. Badanku sampai basah semua. Astaga..., ini lebih menguras tenaga dari pada kerja," gumam Damian lirih.
Damian langsung pergi meninggalkan tempat itu. Kalau dia berlama-lama di sana, bisa jantungan. Dia keluar melalui jalur tadi. Dia ingin tertawa, jika mengingat tingkah konyolnya.
"Sungguh di luar duguan. Aku mau bersusah payah hanya untuk bertemu dengannya. Damian, kau sungguh konyol," ucap Damian sambil menatap jendela kamar Skylova.
Damian mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Haiden.
"Halo, Bawa beberapa orang kesini. Aku ingin mereka mendorong mobilku. Katakan pada mereka jangan membuat keributan."
Tut
Damian menutup ponsel sepihak. Dia bersandar di pohon sambil menatap langit dan sesekali melirik kamar Skylova.
"Hari ini adalah hari yang membahagiakan untukku," gumam Damian sambil tersenyum.