
Sandra menghampiri kakak beradik itu. Dia menatap tajam Starlo karena masih jengkel padanya. Tak ada rasa takut sama sekali. Yang ada hanya kejengkelan.
"Kau menakuti para pengawal tuanku, Starlo," ucap Sandra.
Menurut Starlo, suara Sandra sangat merdu. Tanpa sadar dia tersenyum.
Skylova memutar bola matanya jengah. Sepertinya sang kakak sedang jatuh cinta dengan Sandra.
"Bang, kalau suka bilang aja. Nggak usah di pendam. Pakek senyum-senyum nggak jelas. Kaya orang gila, Bang," bisik Skylova.
Starlo melotot dan menatap adiknya. Mulut Skylova perlu di jahit agar tidak sembarangan bicara.
"Dek, mulutmu di kontrol dikit napa?" ucap Starlo.
Sandra semakin mendekat kearah keduanya. Dia menepis jarak antara mereka.
"Tunggulah tuanku turun. Jangan pergi begitu saja."
"Sandra, Maaf ya. Sky nggak tahan nih...! Kayaknya Abang suka dengan Sandra."
Krik
Krik
Starlo mencubit tangan Skylova. Sedangkan Sandra sangat kaget dibuatnya. Para pengawal hanya menunduk pura-pura tak mendengar perkataan itu.
Beda dengan Brama yang melongo tanpa sadar. Sungguh tingkah Skylova sangat unik. Pantas saja Baitu sangat menaruh hati padanya.
"Au... Sakit bang. Keras amat nyubitnya."
"Abang malu, Dek. Muka abang mau di taruh di mana?"
"Taruh aja sana di tembok."
Para pengawal menahan tawa mereka ketika mendengar perkataan spontan itu. Skylova menatap tajam para pengawal.
"Tertawa saja yang keras. Ku pastikan kalian bisu. PERGI!" teriak Skylova menggema ke seluruh ruangan.
Brama kaget setengah mati. Skylova cepat sekali berubah dan tak bisa di tebak. Tipe orang seperti Skylova sulit untuk di dekati. Bagaimana cara dia untuk minta maaf kepada kedua saudara itu?
"Jadi, Sandra. Apa kau juga suka Bang Arlo?" tanya Skylova sambil tersenyum.
Sandra salah tingkah karena sangat malu. Dia menjawab pertanyaan Skylova.
"Dek, udah. Kita pergi dari sini," ucap Starlo.
Tiba-tiba, suara dari atas menggema.
"Kalian tidak akan pergi dari tempat ini tanpa seizinku," teriak Baitu.
Kedua saudara itu menoleh. Starlo menatap tajam Baitu. Sedangkan Skylova hanya diam saja karena masih bingung dengan keputusannya. Dia ingin marah dan menghajar Brama. Namun dia urungkan. Karena Brama sudah di hajar oleh Paman tampan.
Baitu menuruni tangga untuk berjalan ke arah mereka. Dia harus mencegah Starlo dan Skylova pergi.
"Duduklah! " Ayo kita bicarakan ini!" perintah Baitu.
Kedua saudara itu hanya diam saja. Brama dan Sandra sudah duduk.
"Lova, kau tak mau duduk, Sayang."
What...Ini bukan mimpi kan! Paman tampan jangan seperti itu dong! Sky nggak kuat nih...!
Starlo menghela napas lembut. Dia kemudian duduk di sofa dan menggeret Skylova untuk ikut duduk di sampingnya. Skylova hanya menurut. Nyawanya belum masuk ke tubuh ini sepenuh. Dia masih kesenangan mendengar perkataan Baitu
"Dek, fokus dong....!" Starlo menyenggol lengan Skylova
Skylova menoleh dan tersenyum. Dia salah tingkah. Skylova kemudian menatap Brama. Ada rasa tak suka dengan pria itu. Brama yang merasa di tatap pun menoleh ke arah sang penatap. Brama tahu pasti Skylova benci padanya.
"Brama, kau tak ingin mengatakan sesuatu," tanya Baitu.
Brama bingung harus memulainya dari mana. Dia tak tahu bagaimana cara dia meminta maaf kepada kedua saudara itu.
"Nggak usah minta maaf," sela Skylova. "Toh... yang dikatakannya bener semua. Sky kan yang selalu nempel sama Paman. Bagaikan parasit di hidup Paman," ucap Skylova.
Brama tambah bingung di buatnya. Skylova benar-benar orang yang sulit untuk di tebak.
"Bang, Sky udah putusin. Hari ini kita kembali ke Solo saja. Masalah ingatan Sky nggak usah di gali. Sky udah nyaman hidup seperti ini," ucap Sky sambil menatap Baitu.
Baitu kaget mendengar hal itu. Dia tak mau Skylova kembali ke Solo.
"Lihat saja! Sky kerjain. Emang enak."
"Kalau itu sudah jadi keputusan, Adek. Abang setuju kok."
"Tidak," sela Baitu langsung berdiri dan menghampiri Skylova.
Baitu duduk disamping Skylova dan menggenggam tangan. Namun, Skylova hanya cuek saja. Dia lebih memilih menatap Brama yang sedang menunduk.
Hais, aku tak habis pikir. Sulit sekali membujuk Nona Skylova. Tuan benar-benar kalang kabut dibuatnya, batin Sandra.
"Sayang, jangan tinggalin aku. Aku janji akan turuti semua keinginanmu. Tapi, jangan kembali ke Solo."
Skylova menoleh ke arah paman Baitu dan menatap Brama. Brama sangat dilema. Sepertinya dia harus berani meminta maaf kepada Skylova. Akhirnya Brama angkat bicara.
"Maafkan saya atas perkataan saya yang kurang berkenan di hati Tuan Starlo dan Nona Skylova. Saya tidak bermaksud mengatakan itu. Saya hanya tidak mau tuan saya di perlakukan seperti itu," ucap Brama.
"Emangnya, Apa yang Sky lakuin?"
Starlo menatap tajam Brama. Apakah dirinya harus menjelaskan kejadian di rumah sakit? Brama benar-benar penambah masalah dalam hidupnya. Bagaimana kalau Skylova marah padanya.
Starlo menoleh ke arah adiknya. Sepertinya dia harus jujur kepada adiknya.
"Dek, Abang mau katakan sesuatu. Tapi adek jangan marah."
"Oke," jawab Skylova singkat.
"Waktu Adek di rumah sakit dan di nyatakan kritis. Abang pukul wajah dia." Starlo menunjuk Baitu.
Skylova tersenyum dan memegang kedua tangan kakaknya. Dia tahu Starlo sangat sayang padanya.
"Bang Arlo kan sayang sama Sky. Jadi wajar kalau lakuin itu."
Baitu mendengus kesal melihat kedekatan mereka. Jujur, Baitu sangat cemburu. Walaupun mereka ada ikatan saudara. Tapi bisa saja Starlo menyukai adiknya. Batinnya berteriak keras. Pikiran negatif pun menguasai dirinya.
"Oke, Sky akan maafin Brama. Tapi dengan syarat kita bertanding. Kalau Sky menang, Brama harus lakuin apa pun yang Sky minta. Kalau Sky kalah, Sky akan menuruti semua keinginan Brama."
"Tidak." Sela Baitu dan Starlo.
"Ini keputusan Sky. Kita tanding game terbaru milik SS Game. Gimana Brama?"
Baitu dan Starlo bernapas lega. Mereka pikir Skylova akan melakukan tindakan ekstrim yang membahayakan kondisi fisiknya. Ternyata tebakan mereka salah.
Brama tidak ada pilihan lain selain menuruti Skylova. Lagi pula hanya bermain game. Pasti dia menang.
Sebenarnya, Nona Skylova punya rencana apa sih! Kok sepertinya ada udang di balik batu, Batin Sandra.
-------
Sudah satu jam mereka menunggu di depan kamar milik Baitu. Keduanya terpaksa berada di luar pintu karena Skylova melarang mereka untuk masuk kedalam.
Baitu dan Starlo sangat penasaran. Kenapa mereka lama sekali? Mereka sampai menempelkan daun telinganya di pintu kamar tersebut.
"Astaga...! Konyol sekali mereka. Tuan kenapa jadi begini sih...."
"Beri aku ruang, Arlo. Aku juga ingin mendengar percakapan mereka," ucap Baitu.
"Pergi sana! Bukankah kau harus bekerja." Starlo menggeser tubuh Baitu.
Keduanya tak mau mengalah. Terjadi aksi dorong mendorong dengan menggunakan bahu. Sandra ingin tertawa. Dia tak pernah melihat pemandangan seperti ini sejak ikut dengan Baitu.
"Sialan kau, Arlo. Seharusnya kau yang minggir," ucap Baitu.
"Aku kakaknya, aku berhak berada di sini," jawab Starlo.
Mereka saling berhadapan dan bertatapan. Keduanya seperti mengibarkan bendera perang.
Hais... mulai lagi deh. Bikin pusing kepala aja. Nona Skylova dan Brama lama sekali.