
Baitu mondar mandir di dalam ruangan kebesarannya. Dia sangat gelisah. Hatinya tidak tenang sedikit pun. Baru kali ini, dirinya mengalami hal seperti ini.
"Ini sangat menjengkelkan. Aku tak suka," gumam Baitu.
Sudah satu jam Sandra pergi ke Vila Maheswari. Kenapa lama sekali? Atau Sandra gagal membawa setan pengganggu itu. Mengingat kejadian di resort kemarin membuat Baitu merasa bersalah. Bukan maksudnya untuk berbicara kasar. Tidak lama kemudian, suara pintu di ketuk oleh seseorang. Baitu sangat berharap itu adalah Sandra.
Tok
Tok
"Masuk!" titah Baitu.
Dia menatap pintu itu sampai sang empu yang mengetuk muncul.
"Lama sekali kau, Sandra. Aku jamuran menunggu mu," ucap Baitu.
Sandra menatap tuannya penuh keheranan. Dia baru pergi satu jam. Dan itu waktu yang singkat. Tidak seperti biasanya. Kenapa tuan nya harus menunggu kedatangan nya? Sungguh di luar dugaan.
"Kenapa hanya bengong? Otak mu sudah kemasukan setan pengganggu itu, ya?" ucap Baitu.
Hais... bilang saja mau tanya tentang nona Skylova. Tuan cari alasan saja. Kenapa di buat ribet seperti ini sih?
Sandra mendekat untuk menepis jarak kedua nya.
"Maaf Tuan. Saya membuat Anda menunggu. Nona Skylova sudah berada di lantai bawah."
Baitu senyum secerah mentari. Skylova alias setan pengganggu itu akhirnya datang juga. Tanpa pikir panjang lagi, dia langsung menuju tempat Skylova berada.
Skylova sedang duduk di sofa. Dia sedang bermain dengan ponsel miliknya. Ralat bukan miliknya. Melainkan milik kakaknya. Skylova berniat meretas semua CCTV yang ada di Vila milik Maheswari. Dia harus masuk ke semua jaringan tanpa celah.
Skylova mengamati semua CCTV yang sudah bisa dia retas. Banyak sekali lorong dan ruangan yang ada di Vila itu. Skylova bergidik ngeri. Ruangan bawah tanah yang dia lihat seperti labirin. Sepertinya itu ruang rahasia.
Karena sedang asyik, Skylova tidak sadar jika Baitu sudah ada di depannya. Dia melihat apa yang telah di lakukan oleh Skylova.
"Apakah seru dan asyik?" tanya Baitu.
"Tentu saja. Lebih seru ini dari pada main game," jawab Skylova singkat.
Skylova masih tidak sadar dan terus menjawab pertanyaan dari Baitu.
"Kau tidak takut jika ketahuan," tanya Baitu lagi.
"Untuk apa takut. Lagi pula, Paman Tampan kalau marah bukan nya tambah jelek tapi tambah tampan. Bukan kah dia hebat bisa membuat ruangan seperti ini. Sungguh menakjubkan. Sky jadi tambah terpesona," ucap Skylova Panjang lebar.
Setan pengganggu ini sungguh berbahaya. Belum tinggal di sini sehari saja sudah bisa mengetahui seluk beluk Vila ini. Kali ini, Baitu harus ekstra hati-hati.
Tanpa pikir panjang lagi, Baitu merebut ponsel milik Skylova.
"Astaga... kenapa kau mengambil....?"
Skylova mendongak keatas. Seketika mulutnya diam. Dia menutup mulutnya dengan tangannya.
"He He He, Paman. Sejak kapan sudah di sini?" tanya Skylova tanpa dosa.
"Sejak kau asyik meretas CCTV di kediamanku," jawab Baitu.
Skylova tidak menyadari kedatangan Baitu. Dia hanya menggigit bibir tanda khawatir mengenai nasibnya. Yang jelas nasib ponsel nyajuga.
"Ponsel ini aku sita. Kau tak boleh memakainya selama tinggal di sini."
"Tapi Paman, Sky butuh ponsel itu. Lagi pula ponsel itu bukan milik Sky. Ponsel itu milik Bang Arlo," ucap Skylova.
Skylova menerimanya dengan senang hati. Dia segera memasuk kan ponselnya ke dalam tas.
"Terimakasih, Paman Tampan," ucap Skylova.
Terimakasih. Baitu yang mendengar kata terimakasih langsung sadar seketika. Dia melihat tangan kirinya seperti ada yang hilang. Dia kemudian duduk dan menatap Skylova.
"Ponselnya tidak kau ambil dariku kan?" tanya Baitu.
"Tidak. Paman yang memberikannya padaku."
Sumpah! Skylova memang benar setan pengganggu. Buktinya, tanpa sadar dia terhipnotis.
"Kau memang setan pengganggu." Baitu mengacak rambutnya frustasi.
Skylova hanya mengedikkan bahunya. Dia cuek saja. Kata-kata itu sudah berulang kali dia dengar.
Baitu berdiri. Dia memberi perintah pada Skylova untuk mengikutinya.
"Kenapa diam saja? Ikut aku!"
Skylova hanya menurut saja. Dia malas berdebat. Karena sudah mengantuk. Matanya sudah tak bisa di buat untuk kompromi.
Baitu menuju kamar pribadinya. Dia masuk dan duduk di sofa hitam miliknya. Skylova hanya pasrah mengikuti Baitu. Dia juga duduk di samping Baitu.
"Cepat ganti perbanku! Aku mau tidur."
Skylova menatap tangan Baitu. Dia melihat kotak P3K di atas meja. Langsung saja dia mengganti perban di tangan Baitu. Sambil menguap Skylova membalut dengan perlahan. Matanya sudah sangat redup. Dia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Baitu yang melihat tingkah Skylova hanya tersenyum saja. Tiba-tiba saja, Skylova ambruk ke kiri. Dirinya benar-benar tidak bisa menahan kantuk nya.
Dengan sigap, Baitu menahan pundak Skylova. Dia ingin memindahkan Skylova yang tertidur itu keatas ranjang king sizenya. Dengan hati-hati, dia memindahkan tas dari pundak Skylova. Dan menaruh Skylova di atas ranjang.
Baitu mengamati wajah Skylova ketika tidur. Wig Skylova pun di lepasnya. Dia ingin melihat tingkah Skylova saat tidur. Dan Baitu akan merekamnya.
Satu jam berlalu. Tidak ada perubahan dalam tidur nyenyak Skylova. Baitu lelah menunggu. Tanpa sadar, dia mengamati setiap inci wajah Skylova.
"Cantik," gumam nya lirih
Baitu mendekati wajah Skylova. Bau harum tubuh Skylova yang seperti bayi membangkitkan gairahnya.
"Sial...kenapa dengan mendekatinya saja membuat yang di bawah sana bereaksi. Padahal dengan Diana dulu aku tidak seperti ini," ucap lirih Baitu.
Masa bodoh dengan gejolak di hatinya. Dia ingin sekali mencium dan meluma* semua yang ada di dalam wajah Skylova. Terutama bibir ranum berwarna pink alami miliknya.
Cup
Tidak ada reaksi dari Skylova. Dia tetap pulas dalam tidurnya. Merasa Skylova masih dalam kondisi tidur, Baitu mulai berani mencium Skylova lagi. Kali ini bukan ciuman biasa. Melainkan lumatan.
Baitu menyesapi bibir manis Skylova. Lidah Baitu mulai bermain dan mengabsen setiap bibir Skylova. Skylova yang masih tidur bergerak gelisah. Baitu pun kaget. Dia langsung berhenti.
"Astaga... apa yang aku lakukan? Kenapa aku mencium nya? Apa aku mulai menyukainya? Ini tidak mungkin. Pasti ada yang salah dengan diriku. Setan pengganggu ini pasti sudah menghipnotisku. Agar aku menciumnya. Benar Baitu, dia yang salah," gumamnya panjang lebar.
Baitu masih menolak mengakui perasaannya. Dia tidak mungkin mencintai setan pengganggu yang berbeda jauh dengannya.
"Aku harus mencari teman kencan untuk memastikannya. Lagi pula, umurku sudah 38 tahun. Banyak model dan artis di luar sana yang mengantri padaku," ucap Baitu penuh percaya diri.
Besok, dia akan meminta Sandra untuk menghubungi Liza Dwoni. Lisa Dwoni adalah salah satu desainer terkenal di Bali. Dulu, Liza sempat menyatakan perasaannya kepada Baitu. Tapi Baitu menolaknya.
Sekarang dia harus tidur. Dengan sangat terpaksa dia tidur di sofa. Dia tidak mau tidur seranjang dengan setan penggangu yang sudah merusak pikirannya.