
Sandra dan Skylova menuju perusahaan Maheswari. Dia ingin membuat kejutan dengan kedatangannya. Tidak lama kemudian, mereka sudah sampai.
"Ayo San! Cepetan dikit napa?" Skylova menggandeng lengan Sandra.
"Nona jangan seperti ini. Saya sangat malu." Sandra tersenyum canggung.
"Tak mencuri, kenapa harus malu?"
"Semua karyawan melihat kita, Nona." Ucap Sandra.
"Udahlah San, biarin aja. Sky nggak malu tuh... ayo masuk lift!"
Para karyawan melihat mereka dengan keheranan. Biasanya, Sandra akan memasang muka flat dingin dan cuek. Dan siapa yang bersama Sandra? Kenapa berpenampilan seperti itu?
Sky memakai jins dan kaos oblong putih lengan pendek. Sepatu sneaker menghiasi kakinya. Dia juga memakai wig pemberian Baitu.
"Kita sudah sampai. Nggak usah di ketuk, langsung masuk aja."
"Nanti tuan marah, Nona."
"Udah diam aja,"
Brak
Baitu berjingkat kaget dan Kosentrasinya hilang. Ingin dia mengumpat kepada orang yang masuk tidak sopan itu.
"Kalau masuk ketuk pintu dulu. Mau saya pecat!" teriak Baitu sambil mengamati berkasnya.
Sandra yang mendengar kata pecat mulai panas dingin. Dia tidak ingin di pecat. Skylova menatap wajah Sandra yang terlihat khawatir.
"Paman...."
Suara ini, Baitu pun mendongak kearah suara. Kenapa Skylova bisa muncul disini? Jantung oh jantung jangan maraton. Seperti mau lompat keluar. Dia mengeluarkan keringat dinginnya dan mengusap pelipis dengan tisu.
Skylova menghampirinya. Dia ingin membantu mengusap keringat yang ada di kening Baitu.
"Paman kok keringatan sih... kan berAC," tanya Skylova.
Baitu tidak punya alasan untuk menjawab pertanyaan Skylova. Kenapa jantung semakin cepat saja berlari. Sebisa mungkin dia segera menguasai tubuhnya.
"Kau mengagetkanku."
"Maaf, Sky salah." Skylova menundukkan kepala.
"Sandra, kau boleh keluar. Berikan berkas ini pada Brama di ruangan sebelah." Baitu menyodorkan berkas ke arah Sandra
Sandra mendekati Baitu dan mengambil berkas itu. Kemudian keluar ruangan.
Aku selamat, tak jadi di pecat. Syukurlah.
"Kenapa kau datang kesini?"
"Kangen Paman Tampan." Skylova duduk di depan meja kerja Baitu.
Ingin rasanya Baitu berteriak kegirangan. Di dalam batin nya sudah bersorak-sorak ria.
"Kau hanya menggangguku saja."
Mulut oh mulut. Kenapa lain di mulut lain di hati. Mulut Baitu berkhianat.
"Paman, Sky bantu ya mengurus berkasnya." Skylova memasang wajah manjanya.
"Gila... dia sangat imut. Aku tak bisa berpaling. Oh... Tidak! Pikiran Baitu berteriak keras.
"Kenapa Paman diam?" Skylova menata berkas yang sudah di tanda tangani Baitu.
"Ehem... setan pengganggu sepertimu ternyata berguna juga."
Skylova menatapnya dan memegang tangan Baitu.
"Paman, apa Sky cuma menyusahkan?" tanya Skylova polos.
Baitu melotot kaget. karena di pegang oleh Skylova. Hatinya berbunga-bunga menikmati sentuhan lembut itu.
"Paman Tampan, kok diam."
Baitu kaget dan bingung harus menjawab apa.
"Apa yang kau katakan tadi?"
"Lupakan, ayo selesaikan ini dan pulang! Kita makan bersama."
Baitu hanya mengangguk. Lagi pula, dia juga lelah karena pekerjaan hari ini sangat banyak.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Berkas-berkas itu sudah selesai.
"Paman, akhirnya selesai juga. Kita bisa pulang. Sky mau pulang dengan Paman."
"Kau bisa pulang dengan Sandra."
"Ayolah Paman. Ini keinginan Sky. Kan kita jarang semobil. Sandra biar pulang sama Brama," rengek Skylova.
Baitu langsung menghubungi Sandra.
"Halo, pulanglah bersama dengan Brama. Ikuti aku dan Skylova dari belakang."
Tut.
Skylova tersenyum kegirangan.
"Terimakasih, Paman Tampan. Paman memang yang terbaik. Paman memang kece." Skylova mengacungkan jempol.
Baitu sangat senang mendengar perkataan Skylova.
"Ayo... kita pulang!" teriak Skylova sambil memegang lengan Baitu.
Oh.. tuhan.. Sepertinya aku menyukai gadis ini. Dulu aku dengan Diana tidak seperti ini. Pertama kali aku merasakan hal ini. Skylova, kau sangat pintar menjungkir balikan hati ku.
--------
Kediaman Tommy Kyle
Sementara itu, Tommy sedang menghubungi seseorang. Di ruangan itu, ada Liza juga. Dia sangat senang ketika rencananya akan dilaksanakan.
"Halo."
........
"Kau yakin mereka akan pulang bersama."
.........
Tut
Tommy memutuskan sambungan sepihak.
"Aku sudah melakukan apa yang kau minta, kau bisa mengawasinya dari jauh."
"Terimakasih, Tom."
"Pergilah." Tommy mengibaskan tangan agar Liza pergi.
Liza langsung pergi dari kediaman Tommy. Dia tidak sabar ingin melihat Sky terluka hari ini. Dengan perasaan senang menuju ke arah Kantor Maheswari.
Baitu dan Skylova berada di satu mobil. Semburat kebahagian muncul di keduanya.
"Paman, langit hari ini sangat cerah." Skylova melihat ke arah langit.
"Bukankah setiap hari selalu cerah."
"Paman tak pernah melihat langit ya? Kalau langit menangis, pasti hujan."
Baitu melirik kearah Skylova. Apa hati Skylova bersuasana buruk? kenapa berpikir seperti itu? Apa mungkin karena Julio Mahendra? Mendengarnya saja membuat kesal. Dia tidak akan membiarkan Skylova pergi jauh. Tiba-tiba Skylova berteriak.
"Paman, awas Ada mobil!"
Baitu kaget dan membanting setir ke kiri sambil menginjak rem. Tapi remnya blong.
"Sialan," gumam Baitu.
Brak
Mobil menabrak pohon. Skylova menutupi kepalanya agar tidak terbentur.
"Astaga... kenapa jadi seperti ini?"
"Kau tak apa-apa? Pasti ada yang memutuskan kabel rem mobil ini. Kita keluar sekarang. Kau keluarlah dulu!"
"Baik, Paman. Sky akan mencegat Brama dan Sandra."
Dari kejahuan Sandra melihat mobil Baitu menabrak pohon.
"Brama, sesuatu terjadi kepada tuan. Kita harus cepat.
Brama hanya mengangguk. Dari depan dia melihat Skylova melambaikan tangan. Namun, tiba-tiba ada mobil dari belakang yang mendahului mereka. Mobil itu menabrak Skylova.
Brak
Bug
Skylova terpental jauh dan jatuh. Kepalanya membentur keras aspal. Kaos nya yang semula putih berubah menjadi merah karena darah.
Baitu langsung keluar mobil. Dia berteriak keras menghampiri Skylova.
"Lova!" teriak Baitu sambil menghampiri Skylova.
Brama dan Sandra langsung berhenti dan berlari menghampiri Baitu.
"Tidak! Jangan seperti ini. Bangun! Kuperintah kan bangun!" teriak Baitu sambil memegang tubuh Skylova dan meneteskan air mata.
Sandra sangat kaget melihat kondisi Skylova yang bersimpah darah.
"Tuan, ayo kita bawa Nona ke rumah sakit," ucap Sandra.
Dengan sigap, Baitu membopong Skylova masuk ke dalam mobil.
"Sandra cepat! Brama, cari tahu siapa yang menabrak Lova?"
Baitu tidak akan membiarkan orang itu hidup dan harus membayar semuanya.
Selama perjalan, Baitu tidak henti-hentinya bergumam menyebut nama Skylova
"Kau harus bertahan. Kauu tak boleh meninggalkan ku tanpa seizin ku."
Darah Skylova terus mengalir keluar. Wajah dan tubuhnya semakin dingin dan pucat.
"Sandra, cepat! Kenapa lama sekai?"
Sandra mengemudi dengan cepat. Tidak lama kemudian mereka sampai di rumah sakit. Baitu berteriak memanggil dokter. Para perawat datang menghampiri dan meminta masuk ke IGD.
"Tuan, anda harus keluar. Kami akan melakukan pertolongan pertama pada pasien." Perintah salah satu dokter.
"Tidak! Aku akan di sini menunggunya."
"Tolong ikuti prosedur kami, Tuan Maheswari," ucap dokter tersebut.
Baitu tidak punya pilihan. Dia terpaksa keluar dari ruangan tersebut.
Sandra yang berada di luar sangat cemas. Padahal baru hari ini dekat dan berbicara dengan Skylova. Sekarang terbaring tidak berdaya. Dia melihat Baitu pergi keluar pintu dengan noda darah yang belum kering.
"Sandra, hubungi keluarga Mahendra." Baitu sempoyongan dan tubuhnya merosot kebawah.
"Tuan tidak apa-apa? Sebaiknya stirahat dulu."
"Aku akan menunggunya di sini," jawab Baitu lesu
"Saya akan menghubungi Tuan Mahendra."
Baitu hanya mengangguk. Tidak lama kemudian dokter itu keluar.
"Bagaimana keadaannya? katakan!"
"Ada pembekuan darah di kepala. Dia harus dioperasi. Tapi kemungkinan hidupnya kecil. Saya tidak bisa ambil keputusan sepihak. Saya butuh keluarganya untuk menyetujui operasi ini."
Deg
Jantung Baitu seperti berhenti berdetak. Skylova harus berjuang melawan maut. Tiba-tiba, salah satu perawat datang.
"Dokter, keadaan pasien memburuk. Kita harus melakukan operasi sekarang."
Baitu tanpa sadar meneteskan air mata. Skylova tidak boleh pergi begitu saja.
"Dok, lakukan yang terbaik. Aku ingin dia selamat."
"Saya akan berusaha keras, Tuan Maheswari. Berdoalah."
Dokter itu masuk. Dia dan perawat nya membawa tubuh pasien ke ruang operasi. Baitu menatap wajah Skylova yang semakin pucat.
"Lova, Bertahanlah," gumam Baitu sambil mengikuti ke ruang operasi.