Sky Love Me

Sky Love Me
episode 33



Skylova masih tidur di atas ranjang empuknya karena malas untuk bangun. Padahal jam sudah menunjukkan pukul sembilan. Dengan gerakan perlahan, dia membuka mata.


Skylova menoleh ke kanan dan ke kiri. Seperti ada yang aneh di dalam kamarnya. Dia turun dan membuka lemari, semua kosong. Dia langsung lari dan berteriak menuruni tangga.


"Ma, Barang-barang Sky kemana? Kok hilang semua! " teriak Skylova.


Semua orang yang ada di sana menoleh ke arah Skylova.


"Barang-barang tercinta Sky kemana? Komputer dan semua perangkatnya. Jangan-jangan Mama jual, ya...," tebak Skylova. "Jangan di jual, Ma. Sky bisa bosan kalau nggak ada mereka. Terus baju Sky mana? Ma, Jawab dong... jangan diam aja." Celoteh Skylova panjang lebar.


Monica hanya menatap Skylova tanpa berkedip. Rambut acak-acakan, baju kusut. Pokoknya ciri khasnya orang bangun tidur. Bagaimana bisa Skylova tidak elegan sedikit pun? Kalau putrinya menikah nanti, apa dia akan tetap seperti ini? Memikirkannya saja membuat Monica pusing. Sepertinya sang putri harus masuk sekolah adat.


"Sayang, jika kau tak merubah sikapmu. Kau sekolah adat saja," ucap Monica.


Skylova menghampiri Monica dan berkata, "Jadi, Sky di buang nih...!"


Monica kaget karena Skylova berpikiran dangkal sekali. Mana otak jeniusnya itu?


Semua orang yang ada di ruang tamu tersenyum melihat Skylova yang tidak menyadari keberadaan Baitu.


"Ma, Sky jangan di buang ya...! Sky janji akan berubah." Skylova memelas dan bergelayut manja pada Monica


Starlo datang dan menyela drama konyol Skylova.


"Siapa yang mau buang kamu, Dek? Wong barang-barang kamu semua dibawa ke Bali," ucap Starlo santai.


Ding


Dong


Skylova langsung berdiri dan tersenyum canggung ke arah Monica.


"Kenapa mendadak, Bang? Kan Sky bisa siap-siap," ucap Skylova.


Skylova menatap Monica. Kenapa mama tak bilang kalau akan pindah? Monica hanya tersenyum kepada putrinya.


"Habisnya, kamu teriak-teriak dan ambil kesimpulan sendiri. Jadi, Mama hanya diam saja. Kamu dan Bang Arlo yang akan pergi ke Bali. Ayah dan Mama nanti menyusul. Soalnya, Ayah masih mengurusi proyek disini," jawab Monica.


Skylova tersenyum lega karena tidak di buang. Dia merasa aneh karena ada memperhatikannya dari tadi. Skylova langsung menoleh ke kanan.


Gocha


Baitu sudah duduk di sofa dengan berpakaian rapi. Skylova menatap dirinya dengan tatapan nanar. Penampilannya sungguh menyedihkan. Ingin sekali Skylova berteriak keras. Tapi mulutnya terkunci. Dia lari masuk ke dalam kamar begitu saja.


"Hei, jangan lari nanti jatuh!" teriak Starlo sambil tertawa.


"Huft, sungguh Sky sangat malu. Astaga... kenapa Sky tak menyadari kalau Paman tampan ada di sana? Kemana perginya otak Sky yang jenius itu? Kok jadi merasa bodoh gini sih!" Skylova menepuk jidat berkali-kali.


Skylova langsung masuk kamar mandi. Dia melakukan rutinitas paginya.


Sementara itu, di ruang tamu. Baitu duduk bersama Monica dan Starlo. Mereka menunggu Skylova.


"Saya harap, keputusan saya dan suami saya adalah keputusan terbaik bagi putri saya. Tuan Maheswari, tolong jaga putri saya," ucap Monica.


"Ma... Arlo juga di sisi Adek kok. Jadi, Mama tenang aja," sambung Starlo.


Baitu menatap Monica penuh senyuman. Dia tahu pasti sebagai ibu berat rasanya mengambil keputusan ini.


"Saya akan berusaha keras, Nyonya Mahendra," ucap Baitu meyakinkan Monica.


Kring


Kring


"Halo."


........


"Kerja yang bagus, Sandra."


Tut


Tidak lama kemudian, Skylova turun. Seperti biasa dia menggunakan celana jins. Tapi atasannya bukan kaos melainkan kemeja lengan panjang. Dan ada yang beda darinya. Skylova tak lagi memakai wig. Melainkan menguncir rambutnya yang panjang.


Baitu sangat senang melihat perubahan Skylova. Walaupun hanya sedikit. Nanti perlahan-lahan Skylova pasti bisa berubah.


"Wah... Anak Mama cantik sekali," puji Monica.


"Bener tu, Dek. Coba Adek kaya gini dari dulu. Pasti cepet dapet pacar." Starlo sengaja memanasi Baitu.


Baitu langsung menatap tajam Starlo. Dia pacarnya Skylova. Apakah tidak kelihatan? Tunggu, ralat, dia calon suami Skylova.


Baitu terlalu percaya diri. Sejak kapan dia jadi calon suami Skylova? Dia hanya mendapat lampu hijau untuk mendekati Skylova. Sebelum semua syarat terpenuhi. Keluarga Mahendra tidak akan menyetujui pernikahan mereka. Artinya, Skylova masih bebas dan bisa mencari pasangan yang lebih muda darinya.


"Kita harus berangkat sekarang. Sandra sudah mengatur semua. Dan barang-barang kalian sudah sampai dengan aman," ucap Baitu.


"Sayang, jaga diri baik-baik di sana. Semoga ingatanmu cepat kembali. Nanti kalau pekerjaan Ayah sudah selesai. Mama pasti langsung kesana," ucap Monica sambil mengelus punggung Skylova.


Skylova melepaskan pelukannya dan mengangguk. Sedangkan Starlo hanya melihat interaksi anak dan ibu itu.


"Arlo, nanti kamu handel dan awasi pekerja di sana!" perintah Monica.


Starlo mengangguk tanda mengiyakan perintah Monica.


Mereka bertiga pamit ke pada Monica sambil menatapnya sampai mobil itu benar-benar menghilang.


-------


Vila Maheswari


Skylova mengamati setiap sudut vila karena tidak asing menurutnya.


"Kalian istirahatlah, pasti kalian sangat lelah," ucap Baitu sambil meninggalkan kakak beradik itu.


Skylova hanya diam dan memilih duduk di sofa. Kepalanya berdenyut nyeri. Pecahan-pecahan ingatan masa lalu mulai bermunculan.


Karena tak kuasa menahan rasa sakit yang amat sakit. Skylova akhirnya pingsan. Starlo yang semula memainkan ponsel langsung berdiri seketika dan menghampirinya.


"Dek Bangun! Jangan buat Abang panik gini." Starlo menepuk lembut pipi Skylova.


Skylova tak memberi respon sedikit pun. Starlo berteriak kepanikan sambil menggendong adiknya.


"Siapa pun yang ada disana? Antarkan saya kerumah sakit sekarang!" teriak Starlo.


Baitu langsung menghampiri sumber suara. Dia kaget melihat Starlo menggendong Skylova.


"Apa yang terjadi? Bawa dia ke kamar. Aku akan panggil dokter. Jangan panik, Arlo." ucap Baitu setenang mungkin.


"Kita kerumah sakit saja, di sana lebih lengkap. aku tak mau dia kenapa-napa?" Starlo menatap sendu adiknya.


Baitu mengacak rambutnya tanda frustasi. Dengan sigap dia mengambil alih tubuh Skylova dan menuju kamar.


"Sandra, hubungi Vino. Suruh dia datang dalam waktu lima belas menit." titah Baitu.


Sandra yang berdiri tak jauh dari sana langsung melakukan perintah Baitu


Starlo menatap Baitu dengan tatapan tajam. Skylova adalah adiknya. Maheswari tidak berhak bertindak melebihi batasan.


Starlo menghampiri Baitu dan adiknya di kamar.


"Kenapa kau lakukan ini? Kau bukan siapa-siapa? Jangan buat keputusan sepihak. Dia itu adikku."


"Dengar, Arlo. Ini rumahku, dan kau tamuku. Kalau kau membawa Lova ke rumah sakit, itu terlalu lama. Jarak rumah sakit dari sini cukup jauh. Mengertilah! Sebentar lagi Vino datang.


Tidak lama kemudian Vino datang. Dia langsung masuk kamar.


"Siapa yang sakit?" tanya Vino.


Baitu dan Starlo menoleh. Mereka memberi jalan kepada Vino untuk memeriksa Skylova.


"Astaga... ada putri tidur." ucap Vino.


Baitu dan Starlo menatap tajam Vino yang sedang melihat Skylova.


"Jangan menatapku seperti itu. Kalian seperti mau memakanku saja," Jawab santai Vino.


Vino mulai memeriksa gadis cantik yang ada di depannya. Dia menghela nafas lembut.


"Dia hanya pingsan. Tak usah panik. Sepertinya dia pernah kecelakaan. Mungkin memorinya mulai kembali," jelas Vino.


Baitu dan Starlo saling menatap. Mereka merasa lega mendengar penjelasan Vino.


"Aku pulang dulu. Kau mengganggu kencanku hari ini, Bai. Jangan lupa transfer uangnya dan juga kompensasi waktu kencanku." ucap Vino. "Satu lagi, dia sangat cantik. Sepertinya aku menyukainya," sambung Vino.


"Jangan mimpi!" teriak Baitu dan Starlo bersamaan.


Ha Ha Ha


"Kalian kompak sekali. Sungguh manis." Vino pergi meninggalkan mereka berdua.


Baitu sangat menyukai kinerja Vino Lee. Tapi satu yang dia tidak sukai. Sifat playboy yang melekat padanya.


Vino Lee adalah dokter pribadi Baitu Maheswari. Mereka bertemu ketika Baitu sedang berziarah ke makam Diana. Vino Lee hanya orang biasa. Dia tak punya siapa-siapa. Dia baru saja kehilangan kedua orang tuanya.


Baitu pernah berada dalam posisi yang sama seperti Vino Lee. Maka dari itu, Baitu menawarkan diri kepada Vino agar mau menjadi bagian dari keluarga Maheswari. Vino mengangguk tanda setuju. Tapi dengan syarat, nama belakangnya tak bisa di ganti. Baitu pun menyetujui permintaan Vino. Sejak saat itu, kebutuhan Vino di penuhi oleh Baitu. Segala sesuatu yang Vino inginkan pasti di kabulkan oleh Baitu. Termasuk menjadi dokter.


Vino berpikir, jika dia menjadi dokter. Dia akan mengabdi sepenuhnya kepada Baitu. Rasa terimakasihnya tak akan pernah tersampaikan jika dia tidak bisa berguna oleh Baitu.