
Baitu sampai tak berkedip melihat Skylova jalan menuruni tangga.
"Paman, ayo berangkat. Sky sudah siap."
Baitu masih bengong menatap Skylova. Nyawanya belum terkumpul jadi satu dengan badannya.
"Paman Tampan, ayo... Paman terpesona ya lihat Sky," tanya Sky percaya diri.
"Lova... jaga bicaramu. Ayah tak pernah mengajarimu seperti itu."
"Lihatlah ayah, Paman Tampan masih bengong," ucap Skylova sambil menunjuk ke arah Baitu.
"Ehem... Tuan, putri saya sudah siap."
Baitu pun kaget. Dirinya langsung berdiri dan menuju pintu keluar. Sebenarnya, Baitu sangat malu. Karena ketahuan menatap Skylova.
Astaga...mukaku mau di taruh dimana? Bisa-bisanya aku jadi seperti ini," batin Baitu sambil menggelengkan kepala.
"Ayah, Sky berangkat dulu ya...Da Ayah...." Skylov melambaikan tangan.
Skylova berlari kecil mengikuti Baitu. Baitu pun masuk ke dalam mobil. Malam ini, dia menyetir mobil sendiri. Baitu meminta pengawalnya untuk mengikuti dari jauh.
Skylova kini sudah duduk di samping Baitu. Dia sangat senang. Karena kencan pertamanya akan berjalan. Dia berharap kencan nya berjalan lancar.
Baitu melirik Skylova. Seperti ada yang kurang. Tapi apa? Kenapa wig sialan itu masih di pakai oleh Skylova. Dengan gerakan cepat, tangan Baitu meraih wig yang berada di kepala Skylova dan membuangnya ke belakang.
Karena wig di lepas, rambut Skylova berkibar bebas. Rambut yang lembut dan panjang menambah kecantikan alaminya.
"Apa yang Paman lakukan?" ucap Skylova sambil memegang rambutnya.
"Jangan pakai wig itu. Atau kita batal pergi."
Skylova hanya mendengus kesal. Dia mengomel tidak jelas. Baitu pun tersenyum melihat Skylova.
"Sudah...jangan kau rusak acara ini dengan bibirmu yang bagai panta* ayam."
"Bibir seksi gini di bilang panta* ayam. Paman buta ya...."
"Kau mengolokku."
"Hei, itu kenyataannya. Mana yang seperti panta* ayam? Coba jelaskan."
Baitu menatap lekat wajah Skylova. Kalau di lihat, bibirnya berwarna pink alami. Pasti terasa manis bila di resapi. Astaga, pikiran kotornya mulai mengganggu. Gadis di depannya benar-benar menjadi setan pengganggu.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang. Jangan bertingkah. Diamlah."
Skylova semakin cemberut. Dia sangat kesal sekali.
Baitu melajukan mobilnya dengan kecepatan. Sesekali dia melirik Skylova. Kemana suara gadis itu? Kenapa diam. Astaga, bukankah dia yang menyuruh diam. Tidak lama kemudian, sampailah dia di resort miliknya.
"Turunlah. Kita sudah sampai."
Tanpa suara, Skylova turun dari mobil. Dia tidak mau berdebat dengan paman tampannya.
Baitu hanya mengikuti Skylova di belakang. Dia akan menuruti apa mau Skylova. Mengingat dia tadi di bantu olehnya.
Skylova terus menelusuri jalan. Tanpa sadar, dia sudah berada di pantai. Dia duduk di bibir pantai memandangi bulan dan bintang. Baitu pun menghampirinya.
"Ini kencan terburuk yang pernah ada."
ding dong ding
Baitu melotot. Dia tak suka pernyataan Skylova. Apa Skylova pernah berkencan sebelumnya?
"Kau pernah kencan sebelumnya."
"Pernah, dengan Ray," jawab Skylova singkat.
Kenapa dia lagi? Bikin emosiku naik, batin Baitu.
"Kau membandingkanku dengannya."
"Sky cuma jujur, Paman."
"Sudah untung aku mengajakmu ke resort milikku. Tapi, kau malah pilih ke pantai."
"Buat apa ke resort? Makan. Sky sudah kenyang."
"Paman, kau tau. Kenapa aku terpikat oleh mu?"
Itulah yang ada di benak Baitu. Kenapa gadis di sampingnya begitu ingin mengejarnya?
"Karena Paman keren. Tatapan Paman sangat menusuk hati Sky. Sampai hati Sky tak bisa berpaling. Hanya satu kalimat, Paman. I love you." Skylova menatap Baitu.
Doeng
Baitu hanya diam membatu. Alasan yang tidak masuk akal menurutnya.
"Apa kau sehat? Kau sudah gila."
"Iya, gila karena Paman."
"Hais, jangan bahas itu. Aku tak suka."
"Tapi, Sky suka paman. Paman suka Sky?"
"Tidak," jawab Baitu cepat
"Tak apa. Sky tak akan menyerah agar Paman suka dengan Sky."
Setan pengganggu itu sungguh keras kepala. Baitu pusing di buatnya.
"Sky ingin Paman tahu. Jika Sky tak ada, Paman jangan menangis."
Bicara apa gadis itu? Kenapa jadi melo gini? Baitu hanya cuek mendengarnya. Kalau Skylova pergi, tidak akan berpengaruh terhadapnya.
"Lihatlah paman! Langit yang hitam itu di hiasa bintang. Bintang di langit itu Abang Arlo. Sedangkan bulan itu adalah Paman. Dunia Sky adalah milik Bang Arlo dan Paman Tampan," papar Skylova panjang lebar.
"Kau terlalu berlebihan."
"Kita pulang, Paman. Setelah ini, Sky tak akan mengajak Paman kencan lagi." Skylova berdiri.
Cup
Sky mencium pipi Baitu. Baitu hanya mematung kaku seperti mayat hidup. Skylova pergi menjauh. Dia tak ingin berdua dengan dengan paman tampannya. Dia ingin memberi ruang paman tampannya. Dia akhirnya pergi meninggalkan Baitu sendirian.
Di pantai, Baitu masih membeku. Jantung nya berpacu cepat. Tangannya gemetar tidak karuan. Tubuhnya lemas tak berdaya. Sampai Sandra menghampirinya.
" Tuan, bangunlah. Nona Skylova sudah pergi."
Tak ada jawaban.
Astaga ...Tuan seperti mayat hidup saja. Cuma cium pipi pengaruhnya besar sekali.
"Tuan...." Sandra memegang bahu Baitu.
Baitu pun kaget di buatnya.
"Astaga... jantungku masih di tempat."
"Tuan...ayo kita kembali!"
"Kembali, tunggu...! Kemana setan pengganggu itu?"
"Maksud Anda Nona Skylova."
"Iya, Siapa lagi?"
"Nona sudah pulang menggunakan jasa ojek."
"Apa? Bagaiman bisa?Apa kau tidak mengejarnya? Kerja kalian semakin lama semakin tak becus." Baitu berdiri menuju resort.
"Hais... salah lagi. Kenapa aku selalu jadi kambing hitam? Sandra, nikmati saja.
-------
Skylova kini sudah berada di kamarnya. Mulai besok, dia akan memberikan ruang kepada Baitu. Istilah nya adalah tarik ulur. Jika dia mengejar terus. Pasti Paman Tampannya akan bosan kepadanya. Mengingat kejadian di Pantai tadi, dia sangat malu sekali.
"Paman bener-bener buat Sky tak bisa berkutik. Ah... Sky sangat suka," gumam Sky.
Tiba-tiba, ada tamu tidak diundang masuk merusak suasana.
"Suka apa, Dek?
"Abang ngapain ke kamar Sky?"
"Pengin lihat Adek pulang utuh ndak?"
"Abang nggak lihat. Tak ada yang kurang dari Sky."
"Iya ... Abang tahu. Besok ke Pantai yuk, Dek."
"Jangan besok, Bang. Sky males."
"Ayolah... kan tadi udah kencan sama Tuan Maheswari."
"Kencan apanya? Wong Pamannya dingin kaya es. Nggak ada romantisnya."
"Ha Ha Ha. Abang dah bilang. Kalau Adek jangan sama Tuan Maheswari."
"Biarin... Sky tetap usaha.
" Udah ah... terserah. Ke pantai ya besuk."
"Bukan nya abang kerja."
"Abang akan bilang sama ayah. Kalau abang temani adek ke Pantai."
"Abang cari tameng ya."
"Kok adek tahu."
"Males ah... kalau ke Pantai boleh ndak ajak teman."
"Jangan bilang mau ajak bocah tadi."
"Iya, masih kangen sama Ray. Kan Abang tadi nganggu acara kita."
"Iya boleh."
"Bener ya Bang."
"Pokonya cuma dia doang."
"Siap."
"Abang mau tidur. Sana, Adek juga tidur."
Skylova hanya diam saja. Dia melihat Starlo pergi meninggalkan kamarnya.
"Besok pagi saja Sky kabari Ray. Sky ngantuk mau tidur," gumam Skylova.