Sky Love Me

Sky Love Me
episode 34



Skylova mulai membuka mata perlahan. Dia mengedarkan seluruh pandangan ke penjuru kamar. Penglihatan tertuju pada satu unit komputer karena merasa familiar melihatnya. Tanpa dia sadari, Skylova menghampiri komputer itu. Ada kilasan ingatan lagi yang muncul pada otaknya. Kali ini bukan terpotong-potong. Melainkan sangat jelas. Skylova mengingat betul kalau dia sedang main game dengan Sandra.


"Sandra," gumam Skylova lirih.


Tiba-tiba, pintu kamar di buka. Skylova menoleh. Ternyata kakaknya yang membuka pintu.


"Dek, kamu nggak papa, apanya yang sakit?" tanya Starlo.


Skylova menggeleng lemah dan menatap Starlo.


"Bang, bisa panggilin Sandra nggak?" pinta Skylova.


"Kan udah ada Abang. Kenapa mesti cari Sandra?"


"Jadi, Abang nggak mau panggilin Sandra." Skylova melipat tangannya.


Starlo menghela napas lembut karena tak bisa menolak permintaan adiknya.


"Iya. Abang panggilkan," ucap Starlo sambil keluar pintu.


Skylova tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan Starlo berjalan gontai mencari Sandra.


Starlo sudah menyusuri seluruh vila, tapi hasilnya nihil. Sandra tak ada di mana pun. Akhirnya, dia dan melihat Sandra berbicara dengan seorang pria. Dia ingin bersikap acuh, tapi tak bisa. Batinnya terus berteriak untuk mendekat dan mencari tahu pria itu.


"Maaf, aku mengganggu kalian. Adikku membutuhkan Sandra," ucap Starlo.


Brama menatap tajam Starlo karena tahu siapa pria di depannya? Starlo yang merasa di tatap, juga menatap tajam Brama. Keduanya seperti memendam rasa kebencian yang dalam.


Sandra bingung melihat keduanya. Dia menyenggol Brama sampai menoleh. Sandra pun memberi isyarat kepada Brama untuk memperkenalkan diri. Dengan lantang Brama menolaknya.


"Aku tak mau, San. Lagi pula, dia hanya pengganggu. Dia memukuli tuan kita," ucap Brama.


Starlo yang mendengar perkataan Brama mengepalkan tangan kuat. Emosinya memuncak. Wajahnya merah padam. Menahan amarah.


"Ck... Kau menilaiku sungguh buruk. Padahal belum mengenalku," ucap Starlo sinis.


"Itu kenyataan. Aku tak habis pikir kepada tuan. Kenapa dia menyukai adikmu yang sangat kekanakan-kanakan itu."


Sandra melotot mendengar perkataan Brama. Dia tak menyangka Brama berani berkata demikian. Jika Baitu mendengar pasti akan di hukum.


"Jaga ucapanmu, Brama," bisik Sandra.


Starlo sangat marah karena pria di depannya menghina Skylova.


"Sepertinya, mulutmu itu perlu dijahit agar tidak sembarangan bicara. Dengar, jangan pernah menghina adikku. Jika bukan karena adikku. Aku tak mau merestui hubungannya dengan tuanmu." Ucap Starlo.


"Bukannya adikmu yang mengejar-ngejar tuanku. Dia sangat murahan," ucap Brama.


"Brama, cukup!" teriak Sandra.


Brama menatap tajam Sandra. Kenapa Sandra berteriak padanya? Bukankah yang dikatakannya benar.


"Dengar Sandra, bilang pada Baitu. Hari ini aku dan Skylova akan pergi ke Vila Mahendra. Aku tak mau melihat orang rendahan yang menghina adikku," ucap Starlo sambil pergi.


Sandra menatap Starlo pergi. Jika Skylova pergi, bagaimana dengan Baitu? Ini semua salah Brama. Dia langsung menatap tajam Brama.


"Seharusnya, kau menyaring perkataanmu. Jika tuan tahu, pasti dia akan marah padamu. Nona Skylova tidak seperti yang kau pikirkan. Jangan bandingkan Nona Skylova dengan Nona Angel, Brama!" Sandra meninggalkan Brama begitu saja


Sandra harus mencegah Starlo pergi dari vila ini karena tidak mau Baitu terpuruk lagi.


Starlo berjalan cepat menuju kamar Skylova dan masuk tanpa permisi. Dia melihat adiknya sedang bermain game.


"Kita harus pergi dari sini, Dek." ucap Starlo mendadak.


"Kita akan pergi kemana Bang?" tanya Skylova sambil bermain game.


"Dengerin Abang. Sekarang, matikan game itu! Kita pindah ke Vila keluarga kita."


"Tapi Bang, Sky masih ingin di sini," ucap Skylova.


"Abang mohon, Dek. Kita pergi ya...." Starlo mematikan game yang dimainkan Skylova.


"Bang, kok dimatiin sih...! Kan masih belum menang."


"Abang, jangan paksa Sky dong...!" ucap Skylova.


Starlo berhenti dan menoleh ke arah Skylova kemudian memegang bahu adiknya.


"Abang sangat sayang pada Adek. Abang nggak mau Adek di hina dan di cap murahan, Dek. Abang sakit hati. Abang nggak rela kalau ada yang hina Adek. Asal Adek tahu, bawahan Maheswari tak menyukai Adek. Dek... kita pulang aja ke Vila. Adek nggak usah lagi ngejar Maheswari. Sudah cukup penderitaan yang Adek dapat karena berurusan dengan nya. Abang mohon sekali sama Adek," tutur Starlo panjang lebar.


Starlo meneteskan air mata karena menyanyangi Skylova. Dia tak mau adiknya sakit hati mendengar perkataan pria itu.


Skylova keget karena melihat Starlo meneteskan air mata. Dia juga ikut bersedih Dia tak menyangka, kakaknya sangat menyanyangi nya. Tanpa sadar Skylova menghapus air mata kakaknya.


"Udah Bang, jangan nangis. Sky akan nurut kok sama Abang. Sky sayang Abang. Abang segalanya bagi kehidupan Sky," ucap Skylova sambil menenangkan Starlo.


Starlo tersenyum mendengar perkataan Skylova. Mereka keluar kamar bersama dan menuju kearah tangga.


Dari kejahuan tampak Sandra yang tengah berlari kearah mereka.


"Apakah aku terlambat?" gumam Sandra.


Starlo dan Skylova berjalan perlahan menuruni tangga. Mereka akan pamit kepada Sandra.


"Eh, Sandra," sapa Skylova. "Sandra, Sky sudah ingat kalau kita pernah main game bersama."


"Jadi, Nona sudah mengingat semua."


Skylova menggelengkan kepala. Sandra menghela nafas kasar karena Skylova masih belum mengingat semua memori yang hilang.


"Sandra. Bilang sama Paman tampan, kalau Sky akan pulang ke Vila Mahendra," ucap Skylova.


"Nona, saya mohon. Jangan meninggalkan tempat ini. Tunggu sampai tuan selesai dengan pekerjaannya."


"Maaf Sandra. Ini sudah menjadi keputusan Sky," ucap Skylova dan menatap Starlo.


Starlo dan Skylova pergi meninggalkan Vila Maheswari. Sandra berteriak menyebut nama mereka, agar menimbang keputusannya. Tapi mereka tak bergeming sedikit pun. Para penjaga pun berlarian menuju sumber suara. Mereka ingin mencegah kakak beradik itu pergi. Namun dihadiahi tatapan tajam Starlo.


Starlo sungguh menyeramkan. Tatapan tajamnya mampu menembus tulang sang penatap. Tak hanya itu, mereka yang melihatnya merasa terintimidasi dan langsung tunduk.


Sandra menatap kakak adik itu sampai benar-benar menghilang.


"Aku harus bicara apa kepada tuan nanti? Brama benar-benar menyusahkanku," gumam Sandra.


Tidak lama kemudian, Baitu datang membawa beberapa makanan untuk Skylova. Dia tahu, gadisnya akan lapar setelah bangun nanti. Baitu senyum tanpa henti sampai pengawal kaget melihat perubahan itu.


Brama dan Sandra sedang berada di ruang tamu sambil membicarakan kejadian tadi.


"Brama, kau harus tanggung jawab. Karena kau mereka pergi. Bagaimana dengan tuan? Kau tahu sendiri kalau tuan sangat mencintainya. Kenapa kau membuatnya pergi?"


Namun, tiba-tiba suara yang mereka kenal menyela pembicaraan.


"Siapa yang pergi?" tanya Baitu sambil menatap tajam mereka.


Tidak ada jawaban


"Siapa yang pergi, sandra!" teriak Baitu.


"Maaf tuan. Nona Skylova dan kakaknya pergi dari Vila ini. Mereka memilih tinggal di Vila Mahendra," ucap Sandra sambil menunduk.


Brama hanya diam dan ikut menunduk. Sedangkan Baitu yang mendengar itu langsung menjatuhkan semua makanan yang dia beli.


"Apakah kalian bodoh?" Baitu marah dan melempar semua barang yang ada di dekatnya.


Prang


Suara guci pecah membuat para pengawal menghampiri sumber suara.


"Kalian semua bodoh. Banyak pengawal kenapa tak melarangnya? Pasti ada alasan kenapa mereka pergi!" teriak Baitu menggema di seluruh ruangan.


Mereka semua hanya diam. Brama merasa bersalah karena tidak menyangka Baitu akan marah besar-besaran.


"Awas saja. Kalau sampai dia tak kembali. Kalian semua akanku hukum. Dasar *******!" teriak Baitu sambil lari menuju ke Vila Mahendra.


Baitu tidak mau berpisah lagi dengan Skylova. Dia sangat mencintainya.