Sky Love Me

Sky Love Me
episode 49



Baitu menatap Skylova yang masih tidur di ranjang. Dia kemudian duduk di samping kanan dan membuka sedikit kaos yang ternoda itu. Terlihat jelas ada lebam bagian kiri bawah perut. Dia mengompresnya dengan hati-hati dan memberikan salep di area yang membiru.


"Ini yang aku takutkan, jika kau pergi ke sana, Sayang. Maafkan aku yang tak bisa menjagamu. Lagi-lagi aku gagal," Baitu menatap sendu Skylova.


Dia merasa bersalah karena tak bisa menjaga Skylova. Baitu ingin Skylova aman jika bersamanya. Tapi apa daya, Skylova selalu celaka. Dia sempat berpikir untuk meninggalkan Skylova demi keamanan. Namun dia tidak bisa. Dia terlalu mencintai gadis ini. Dia tak bisa hidup tanpa gadis ini. Semua yang di lakukan gadis ini membuat hati Baitu menghangat.


Skylova menggerakkan tangannya. Dia kemudian membuka kedua matanya. Skylova langsung bangun dan duduk.


"Kenapa langsung bangun? Tidurlah kembali."


Skylova menatap Baitu yang sedang berada di sampingnya. Skylova merasa bersalah karena terlalu keras kepala. Dia kemudian menunduk dan memegang kedua jari tangannya.


"Maafkan Sky, Paman. Sky tak akan mengulangi lagi."


"Sttt... sudahlah...! Aku yang salah karena tak bisa menjagamu. Jika saja aku lebih tanggap. Mungkin kau tak akan terluka."


Skylova mengangkat kepala dan menatap Baitu. Ada semburat rasa bersalah di wajah tampan itu.


"Paman, Sky janji tak akan mengulangi lagi. Sky akan menurut kepada Paman."


Baitu sangat senang mendengar perkataan Skylova. Semoga saja Skylova bisa mengontrol rasa ingin tahunya itu.


"Dengar, aku harap kau bisa menepati janji."


Skylova mengedipkan sebelah matanya. Baitu sangat gemas melihat ekspresi itu dan langsung mencium lembut pipi Skylova.


Cup


"Paman pencuri!" teriak Skylova sambil menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


Jantung Skylova berpacu. Ciuman mendadak itu mampu membuat darahnya mendidih dan wajahnya memanas.


"Jangan kau tutup! Aku ingin melihat wajahmu."


Baitu berkata sambil memegang jantungnya yang bermaraton.


"Sky malu, Paman."


Baitu membuka paksa selimut dan kemudian dia membuang ke sembarang tempat. Skylova meringkuk menutupi wajahnya dengan tangan.


Baitu berbaring di samping kiri Skylova dam perlahan membuka tangan halus itu


"Jangan malu, Lova. Bukankah sebentar lagi aku akan menjadi suamimu?"


Skylova menatap Baitu dan mengulurkan tangan dan membelai rambut Baitu.


"Apakah Paman mau menikah dengan gadis kecil seperti Sky?"


"Cinta tak memandang umur. Aku yakin kalau aku sangat mencintaimu." Baitu memegang tangan Skylova dan menciumnya.


Skylova tersenyum kemudian beranjak dari kasur. Dia ingin ke kamar mandi. Namun tangannya di pegang oleh Baitu. Baitu bangun dan memeluk Skylova dari belakang.


"Kalau boleh, aku ingin menikahimu sekarang. Aku tak bisa menundanya lagi, Lova," ucap Baitu dengan nada serak di daun telinga Skylova.


Skylova sampai merinding di buatnya. Kakinya lemas seketika. Baitu pun sedikit menahannya. Baitu membalikan tubuh Skylova agar mau berhadapan dengannya. Skylova pun menurut.


Baitu menatap bibir pink alami milik Skylova. Dia menyentuh bibir itu kemudian melumatnya.


"Paman..! Bibir Sky tambah tak suci lagi."


Baitu mengerutkan dahinya. Dia kemudian tersenyum.


"Tak usah malu, angkat kepalamu."


Baitu kembali ******* bibir Skylova sampai Skylova tak bisa bernapas dan memukul dada Baitu agar mau melepaskan ciuman itu.


"Sky tak bisa bernapas, Paman," ucap Skylova sambil terengah-engah.


"Maafkan aku. Bibirmu manis sekali."


Tanpa mereka sadari, kegiatan mereka di lihat oleh Vino. Karena Vino tak tahan, dia menyela keduanya dan menghampiri perlahan kedua sejoli yang tengah di mabuk asmara.


Baitu dan Skylova menoleh ke arah sumber suara. Keduanya memekik kaget.


"Sejak kapan kau berada disana?" tanya Baitu.


"Tentu saja sejak tadi. Sejak kau menyatakan cinta kepadanya."


Skylova sangat malu. Itu berarti Vino melihat adegan ciuman yang dilakukannya. Dia langsung lari menuju kamar mandi.


Ha Ha Ha


Suara tawa Vino menggema di seluruh ruangan. Dia sampai memegangi perutnya sendiri.


"Jika kau terus tertawa lagi, aku akan mengirimmu ke Afrika."


Vino langsung diam seketika. Dia tak mau di kirim ke Afrika. Di sana tak ada gadis cantik. Hidupnya pasti bosan kalau sampai dia kesana.


"Sepertinya kau takut ku kirim kesana."


"Ya... Ancamanmu mampu membuatku tunduk. Jadi...Kau tak pernah mencium Diana. Bukankah kau mencintainya."


Baitu menggeleng. Mungkin dulu dia tak bisa membedakan mana cinta dan rasa kagum. Bahkan Baitu tak pernah merasakan jantungnya berdetak kencang saat melihat Diana. Beda halnya jika bertatapan dengan Skylova. Jantung Baitu berasa ingin keluar dari tempatnya.


"Aku mungkin hanya kagum dengan Diana. Tapi tidak dengan Skylova. Aku sangat mencintainya. Jantungku selalu berdetak bila melihat Skylova."


Vino menatap Baitu dengan penuh selidik untuk mencari kebohongan dimata Baitu. Tapi Vino tak melihat kebohongan itu.


"Aku bahkan tak pernah mencium Diana. Aku hanya memegang tangannya saja, Vin."


Vino kaget mendengar perkataan Baitu. Bisa dipastikan bahwa Baitu sangat mencintai gadis yang bernama Skylova itu.


Skylova mendengar percakapan antara Baitu dan Vino. Dia kaget mendengat perkataan Baitu. Skylova tak menyangka rasa cinta Baitu begitu besar terhadapanya.


"Kau tahu Vin. Skylova hanya gadis berusia 18 tahun. Dia mampu membuat hidupku berwarna. Dia cinta pertamaku, Vin."


"Apa?" teriak Vino.


Skylova menutup mulutnya karena menyangka kalau dirinya cinta pertama Baitu.


"Apa kau tidak bohong? Kau tak pernah pacaran? Aku tak percaya ini!" ucap Vino sambil menggelengkan kepalanya.


Skylova berjalan keluar kamar mandi. Dia ingin memeluk Baitu. Skylova langsung berlari memeluk Baitu. Baitu kaget ketika Skylova memeluknya secara tiba-tiba.


"Terimakasih, Paman." Skylova berjinjit dan mencium pipi kanan Baitu.


"Apakah kau mendengar semuanya?"


Skylova mengangguk tanda menjawab iya. Sedangkan Baitu menahan malu dan langsung melepaskan pelukan Skylova dan membalikan badannya.


"Apakah paman malu? Pria cantik, Paman sepertinya malu."


Vino sangat kesal mendengar perkataan Skylova karena selalu menyebutnya pria cantik.


"Sudah kubilang. Jangan menyebutku pria cantik!" ucap Vino pergi meninggalkan Baitu dan Skylova sambil menutup pintu dengan kasar.


Brak


"Dasar pemarah. Pintunya bisa-bisa rusak kalau di banting keras," ucap Skylova.


Skylova langsung memeluk Baitu dari belakang. Dia sangat gembira mendengar perkataan Baitu tadi.


"Sky senang mendengarnya."


"Anggap kau tak dengar."


Skylova melepaskan pelukannya dan berpindah tempat agar bisa berhadapan dengan Baitu yang sedang memalingkan muka karena tak mau melihat Skylova.


Wajah Baitu sangat merah. Bahkan sampai ke telinganya. Skylova tambah senang di buatnya.


"Paman semakin tampan kalau wajah Paman merah. Sungguh menggemaskan." Skylova mencubit hidung Baitu dengan gemas.