Sky Love Me

Sky Love Me
episode 53



Skylova berjalan keluar kamar dan mencari keberadaan Baitu. Dia sangat kesal karena Baitu sangat lama.


Baitu melihat Skylova yang berjalan tanpa arah dan berhenti. Dia kemudian menghampirinya.


"Menungguku, Sayang," ucap Baitu sambil berbisik di telinga Skylova.


Skylova sedikit tersentak dan berbalik arah menatap Baitu yang sedang tersenyum padanya.


"Kenapa Paman lama sekali?" Sky jamuran tau," ucap Skylova seraya berkacak pinggang.


"Aku tadi menemui Brama dan Sandra sayang." Baitu mencubit gemas hidung Skylova.


"Rama ada di sini? Sky akan mencarinya."


Skylova pergi, tapi langsung di hadang oleh Baitu yang memasang senyum paksa kepada Skylova.


"Jangan mencarinya, Sayang. Aku cemburu." Baitu memberi penekanan terhadap setiap perkataannya.


Skylova menelan gugup salivanya. Dia harus membuat rasa cemburu Baitu menghilang.


"Hais, Paman. Sky cuma bercanda," ucap Skylova sambil tersenyum canggung.


Skylova terpaksa tersenyum karena takut melihat amarah Baitu.


Baitu menatap lembut Skylova sambil berkata, "Baiklah..., sekarang kita jalan-jalan ke pantai."


Baitu menggandeng tangan Skylova menuju pantai. Sampai di pantai mereka duduk di hamparan pasir dan menatap langit yang cerah.


"Langitnya cerah, seperti dirimu."


Baitu sedikit menggoda Skylova sampai berwajah merah. Dia malu di goda oleh Baitu.


"Kenapa wajahmu merah? Kau malu, Sayang."


Skylova menunduk dan tak mau menatap wajah Baitu.


"Jangan pernah meninggalkan diriku, Sayang." ucap Baitu sambil bersandar di bahu Skylova.


Skylova bingung dengan perkataan Baitu. Sudah dua kali dia mengatakan hal demikian.


"Sepertinya kita harus kembali, Paman. Cuacanya semakin panas."


Skylova berdiri, namun dia berhenti seketika. Ada kilasan memori tentang dirinya di pantai ini.


"Sayang, kau baik-baik saja."


"Sky sepertinya pernah kesini dengan Bang Arlo dan Raymon. Satu lagi, apa Sky pernah mengobati tangan Paman?"


Baitu mengangguk dan tersenyum karena sangat senang Skylova mengingat sedikit kenangan tentang mereka.


Tiba-tiba, Skylova langsung lari begitu saja meninggalkannya. Baitu mengejar Skylova yang tengah mempercepat larinya.


"Yang benar saja, Paman pernah berkata kasar kepada Sky. Dasar menyebalkan!" gerutu Skylova sepanjang perjalanan larinya.


Baitu kehilangan Skylova. Dia bingung harus mencarinya kemana. Dia memutuskan untuk kembali ke resort. Sampai di resort Baitu mencari Brama dan Sandra.


Brak


Baitu membuka kasar pintu ruang kerjanya. Dia melihat Sandra yang tengah menganalisis sesuatu.


"Tuan, anda membuat saya kaget."


"Cari Skylova sekarang. Kerahkan semua orang," ucap Baitu sambil mengatur nafasnya.


Sementara itu, Skylova berjalan tanpa arah. Dia sudah keluar dari resort sedari tadi dan kebingungan mau pergi kemana. Dia bahkan tak membawa apapun.


"Dasar Sky bodoh. Kenapa tak membawa ponsel dan dompet?" Skylova menepuk jidatnya.


Skylova terus berjalan di sepanjang jalan. Dia kemudian berhenti di pinggir jalan.


"Tak ada angkot dan taksi. Kenapa hidup Sky sangat menderita hari ini?" teriak Skylova.


Hari semakin sore. Skylova masih berada di pinggir jalan yang tergolong sepi.


Kruyuk


"Sky laper. Paman mana sih..., apa dia nggak nyadar Sky ngilang. Kalau laper nggak bisa mikir. Aduh... Gimana ya?"


Tiba-tiba, ada mobil berhenti di depan Skylova. Skylova menatap mobil itu. Seorang pria yang tak menghampirinya.


Damian sengaja mencari keberadaan Skylova. Dia menaruh mata-mata di sekitar kediaman Baitu.


"Nona butuh tumpangan."


"Ni orang nawarin ya...!" gumam Skylova yang di dengar oleh Damian.


"Iya, saya menawarkan tumpangan buat Nona."


Skylova menatap pria itu penuh selidik. Pria di depannya sangat tampan. Tapi menurutnya lebih tampan Baitu.


"Levelnya di bawah paman," ucap Skylova tanpa sadar.


Kruyuk


"Maaf, suaranya terdengar ya... ini perut memang nggak bisa di ajak kompromi."


Damian tersenyum mendengar perkataan Skylova. Gadis di depannya selain cantik dan polos, ternyata suka bersikap jujur.


"Masuklah, Nona! Saya akan mengajak anda makan. Sepertinya, anda lapar."


"Kau bukan penculikkan? Kau seperti Beltran. Sky takut," ucap Sky bergidik ngeri.


Damian tersenyum kepada Skylova. Dia tak menyangka Skylova kenal dengan Beltran. Pasti yang dia maksud adalah Kaylo. Damian juga tahu kalau Kaylo Fendas Beltran menikah dengan Angel yang merupakan keponakannya.


"Tak usah takut, aku tak akan berbuat apa-apa padamu. Aku murni ingin membantumu."


Skylova berpikir panjang. Dia sangat lapar. Badannya juga lemas sekali karena kelelahan juga. Tidak ada salahnya kalau dia ikut pria di depannya.


"Baiklah, Sky mau. Lagi pula dapet makanan gratis. Kan lumayan. Oh iya, nama Sky adalah Skylova Mahendra. Panggil Sky," ucap Sky sambil mengulurkan tangan.


"Damian Corner." Damian menerima uluran tangan Skylova.


Damian menatap Skylova yang masih menjabat tangannya. Dia kemudian menuntun tangan Skylova untuk masuk ke dalam mobilnya.


Aku pastikan kau merasa kehilangan, Baitu.


Damian melajukan mobilnya ke arah kafe terdekat. Sampai di Kafe, Skylova langsung turun. Begitu juga Damian. Dia masuk bersama Skylova dan memesankan makanan.


Tak lama kemudian pesanan datang. Skylova langsung melahabnya sampai habis tak tersisa.


"Maaf, Sky rakus." Skylova tersenyum canggung ke arah Damian.


"Aku mengerti."


"Nanti kalau kita bertemu lagi, Sky akan ganti."


"Anggap saja sebagai perayaan perkenalan kita."


"Wah.. Damian memang baik," ucap Skylova sambil mengangkat jempol kanannya.


Deg


Jantung Damian berdetak sangat keras. Di mata Damian, Skylova sangat polos dan juga seperti bayi tanpa dosa. Dia merasa ada yang salah dengan dirinya. Pantas saja Baitu dan Tommy memperebutkan gadis ini. Ternyata, gadis ini memang unik. Dia seperti membawa energi positif pada lawan jenisnya.


Aura yang di miliki Skylova mampu membuat Damian jatuh. Hati yang semula mati bisa hidup kembali. Dia tak pernah merasakan hal seperti ini. Bahkan dengan Linda sekalipun.


Damian menggelengkan kepala untuk membuat otaknya bekerja kembali. Tapi, ternyata sangat sulit.


Skylova menatap Damian dengan penuh keheranan. Sepertinya, Damian sedang memikirkan sesuatu


"Damian, apa yang sedang kau pikirkan?"


Damian tersentak kaget. Dia kalut dengan pikirannya, sampai dia lupa kalau Skylova masih berada di depannya.


Skylove melotot kaget ke arah pintu kafe. Dia segera mengambil buku menu untuk menutup wajahnya.


Damian sedikit merunduk dan berbisik.


"Apa yang sedang kau lakukan?"


"Paman tampan di sini. Sepertinya dia mencari Sky."


Damian melirik ke arah pintu masuk kafe. Dia melihat Baitu yang sedang mengedarkan seluruh pandangannya untuk mencari seseorang.


Sepertinya, aku harus segera pergi dari sini."


Damian pura-pura melihat jam. Dia kemudian berpamitan kepada Skylova dengan alasan ada pekerjaan penting. Skylova mengangguk dan mengucapkan terimakasih kepadanya. Damian langsung pergi meninggalkan Skylova yang masih menutup wajahnya dengan buku menu.


"Semoga Paman tidak melihatku. Kenapa tak mencari dari tadi sih? Kalau dari tadi ketemu, pasti Sky nggak akan kelaperan," gumam Skylova lirih.


Baitu melihat Skylova yang sedang menutup wajahnya dengan buku menu. Meski wajahnya tertutupi, dia tahu kalau itu adalah Skylova.


"Sayang!" teriak Baitu menggema di seluruh ruangan.


Tanpa rasa malu, Baitu berteriak kepada Skylova. Semua orang melihat ke arahnya Skylova hanya bisa menahan rasa malunya.


"Jika kau tak menyahut. Maka aku akan terus berteriak."


"Hais, malunya..., kenapa Paman tampan tak tau malu sih...!" gumam Skylova sambil menurunkan buku menu dan tersenyum ke arah Baitu.


"Sayang!" teriak Baitu lagi.


Skylova langsung bangkit dan berlari menuju sumber suara. Dia segera menutup mulut Baitu dan tersenyum canggung ke arah para pelanggan yang sedang melihat momen langka tersebut.


"Maaf, ini adalah iklan kecil. Silahkan di lanjutkan makannya."


Semua orang kembali melanjutkan acara makannya. Lagi pula, mereka tak mau mengusik Baitu Maheswari.


Skylova menyeret tangan Baitu untuk keluar Kafe. Mereka berdua berhenti di parkiran mobil.


"Paman tak tau malu." ucap Skylova spontan sambil berkacak pinggang.


Baitu memeluk erat Skylova. Dia sangat takut kehilangan Skylova untuk kedua kalinya. Dia tak mau itu semua terjadi lagi. Bagi Baitu, Skylova adalah cahaya hidupnya.