
Damian sudah berada di Bali. Ia meninggalkan Haiden dan juga Tommy di Paris. Tentu dirinya tak ingin rencana yang sudah disusun tidak berjalan dengan lancar. Meski Haiden satu-satunya orang yang sangat setia, namun tak dapat dipungkiri bahwa kesalahan yang dilakukannya berakhibat fatal.
Demi menjalankan aksinya, Damian membawa Mattew ikut bersamanya. Mereka menggunakan pesawat biasa untuk mengurangi kecurigaan Haiden. Bahkan melakukan penyamaran sebagai turis biasa.
"Kau sudah yakin. Dia tak akan mengikutimu," ucap Mattew sedikit khawatir.
Damian mengangguk, "Aku sudah merencanakan ini."
Mattew bernafas lega, "Lebih baik kita segera meninggalkan bandara ini. Bukankah kau sudah membeli tempat dekat Vila Maheswari?"
Damian memberi rumah sederhana yang tak jauh dari lokasi tempat Baitu tinggal. Tempat itu akan menjadi markas untuknya. Tanpa berkata sepatah kata satu pun, ia pergi mendahului Mattew.
Dari ke jahuan, Haiden dan Tommy melihat mereka pergi meninggalkan bandara. "Apa kau sudah menyelidiki tempat tinggal mereka?" tanya Tommy.
Haiden menggeleng, "Aku tahu rencana Tuan. Tapi, aku tidak tahu di mana dia tinggal."
Tommy menghela nafas panjang, "Kita pulang ke rumahku. Aku akan bicara dengan Raymon. Pasti dia mau membantu."
Haiden hanya mengangguk pasrah. Bekerja sama dengan Tommy adalah satu-satunya cara agar bisa menggagalkan rencana Damian.
Vila Maheswari
Sudah dua hari, Skylova mengurung diri di kamar. Bahkan, Starlo tak di ijinkan masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu hanya akan keluar jika dirinya lapar dan haus. Entah rencana apa yang telah disusun sampai tak ada seorangpun boleh mengganggunya.
Baitu sampai kalang kabut di buatnya. Ia sangat rindu dengan Skylova. Bahkan, dirinya sampai bermimpi fantasi liar dengannya. Hidup perjaka tua yang selama ini menyandang di dalam dirinya ingin beronta keluar.
Seperti saat ini, Baitu menatap pintu kamar Skylova selama beberapa jam. Ia tak beranjak sedikitpun dari kursi. Starlo tersenyum melihat tingkah konyol Baitu.
"Kau gila, Bai," ucap Starlo sambil melipat tangan.
"Setidaknya aku punya pasangan," jawab Baitu dingin.
Starlo mengepalkan tangannya kuat, "Aku tak akan merestuimu dengan adikku."
"Cih… rupanya ingin ingkar janji," ucap Baitu sambil melotot.
Keduanya saling menatap tajam. Tatapan itu seperti mengandung listrik. Orang yang melihatnya pasti akan bergidik ngeri ketakutan. Tiba-tiba, Skylova keluar kamar. Ia melihat kedua orang yang selalu bersitegang melakukan tatapan tajam yang mematikan.
Plak
Plak
Skylova memukul kepala mereka. Keduanya menoleh seketika. Mereka bahkan melongo kaget.
"Mata kalian hampir keluar tuh…," ucap Skylova tanpa dosa.
Baitu langsung memeluk Skylova, "Sayang… aku rindu."
Skylova tersenyum, "Benarkah…! Lepasin, sesak Paman." Skylova meronta ingin lepas. Namun, Baitu masih memeluknya dengan erat.
Starlo melepas paksa keduanya dan memeluk Skylova. "Abang juga rindu, Dek," ucap Starlo manja.
Baitu cemburu dibuatnya. Ia kemudian memisahkan mereka. "Dia itu milikku. Bukan milikkmu," ucap Baitu penuh amarah.
Starlo tak mau kalah, "Dia adikku. Kau belum menikah dengannya. Kapan dia jadi milikmu?"
Mereka saling menatap tajam lagi. Tak ada yang mau mengalah di antaranya. Skylova pun jengah dan meninggalkan keduanya. Ia sangat lapar karena bekerja. Perutnya sekarang lebih penting.
Skylova berjalan perlahan meninggalkan Baitu dan Starlo yang masih setia bertatapan.
"Sky laper… mending makan dulu. Biarlah mereka bertatap sampai puas," ucap Skylova sambil meninggalkan mereka.
Sampai di dapur, ia melihat Vino yang tengah membuat makanan. Skylova tak menyangka, bahwa pria seperti Vino bisa memasak juga. Gelarnya sebagai pria cantik ternyata sesuai dengannya.
"Hai, Pria cantik," sapa Skylova.
Vino menoleh sekilas dan melanjutkan masaknya.
Skylova pun menghampirinya, "Masak apa? Sky mau, kelihatannya enak," ucap Skylova sambil mengulurkan tangan berniat untuk mengambil makanan yang sudah ada di piring.
Plak
"Sakit sekali…!" Skylova mengaduh sambil mengelus tangannya.
"Ini bukan untukmu," ucap Vino dingin. "Kelly akan berkunjung kemari. Jadi, aku menyiapkan untuknya," imbuhnya sambil tersenyum.
"Kelly," gumam Skylova.
Vino mengangguk dan tersenyum.
Kruyuk
Kruyuk
Suara perut Skylova terdengar jelas oleh Vino. Ia kemudian tertawa keras. "Kau kelaparan. Tapi sayangnya, ini untuk Kelly," ucap Vino sambil menaruh semua makanan di meja dan pergi meninggalkan Skylova sendirian.
"Sky laper," gumam Skylova. "Nggak bisa masak," imbuhnya.
Skylova duduk lemas tak berdaya. Salah satu maid pun menghampirinya, "Nona mau makan apa?" tanya maid itu.
Skylova menoleh dan tersenyum, "Mau makan itu," ucap Skylova sambil menunjuk makanan yang sudah di tata di meja dengan lemas.
Maid itu hanya menunduk, "Saya tak berani mengambilnya."
Skylova menghela nafas panjang. "Oke, Sky akan makan di sana. Biarin kalau Pria cantik marah. Makanan… Sky dateng..." ucap Skylova sambil berlari ke arah meja.
"Sumpah, enak banget..., ni orang seharusnya jadi koki. Nggak pantes jadi dokter," gumam Skylova lirih.
Tiba-tiba, Vino masuk dapur bersama seorang wanita. Ia melotot kaget ketika Skylova hampir menghabiskan semua makanan yang telah dibuatnya.
"Skylova!" teriak Vino menggema di seluruh ruangan.
Skylova langsung menjatuhkan sendoknya. Sedangkan Baitu dan Starlo langsung menuju ke arah sumber suara.
"Apa yang terjadi?" tanya Baitu dan Starlo bersamaan.
Wanita yang bersama Vino langsung menoleh dan tersenyum manis ke arah Baitu. Wanita itu menatap takjub pada Baitu dan pria di sampingnya.
Astaga …! Tampan sekali, batin wanita itu.
Wanita itu adalah teman kencan Vino. Kelly Andita (25 tahun) adalah wanita yang bekerja di Bar.
Kelly terpesona dengan wajah pria yang bersama Baitu. Ia kemudian berbisik kepada Vino, "Siapa dia?"
Vino melotot kaget, "Jangan tertarik dengan pria lain."
Kelly mendengus kesal karena dirinya dan Vino hanya teman biasa. Tak ada lebih dari itu.
Baitu menatap tajam Vino, "Kau membawa orang yang tak kukenal kemari." Vino menghela nafas panjang, "Aku kenal dia."
Tontonan yang menarik, nih….!
Batin Skylova sambil menikmati acara makannya. Ia akan menghabiskan semua makanan yang ada di atas meja.
Sedangkan Starlo hanya acuh dan melewati mereka bertiga. Ia memilih duduk dengan Skylova. "Dek, suapin Abang," pinta Starlo manja.
Skylova mendengus kesal, "Udah gedhe minta di suapin. Mending Abang cari bini. Noh… kayaknya wanita itu suka Abang." Skylova menatap Kelly dengan tersenyum.
Kelly hanya diam ketika gadis itu tersenyum padanya. Rasa cemburu menyeruak masuk ke dalam tubuhnya. Seharusnya, ia yang ada di sana bersama pria tampan itu.
Baitu mengamati setiap gerak gerik wanita yang di bawa Vino. Ia kemudian tersenyum, "Sepertinya, wanitamu tertarik dengan Starlo."
Deg
Vino dan Kelly melotot kaget menatap Baitu yang tengah tersenyum.
"Apa benar kau tertarik padanya?" tanya Vino.
Kelly mengangguk, "Aku tak akan bohong. Aku memang tertarik padanya."
Vino mengepalkan tangannya kuat. Ia pikir, Kelly mencintai dirinya, Namun, semua yang ada di benaknya salah. "Aku mengira, kau menyukaiku. Ternyata aku salah," ucap Vino dingin.
Deg
Kelly menatap wajah Vino sendu. Ada rasa bersalah yang bersarang di hatinya. Sejujurnya, ia hanya menganggap Vino sebagai teman saja. "Maafkan aku," ucap Kelly sambil menunduk.
Vino menghela nafas panjang, "Pulanglah…! Dan jangan kemari lagi. Kau tak akan bisa mendapatkan dia." Vino berkata sambil menunjuk Starlo.
Starlo melotot ke arah Vino karena munujuk seenaknya saja. "Singkirkan tanganmu itu," perintah Starlo dingin.
Wuih… perang badai
Skylova membatin dan ingin menonton kelanjutan drama yang menghibur itu.
Vino menurunkan tangannya, "Starlo, apakah kau menyukai wanita di sampingku?"
Ingin rasanya Starlo tertawa karena mendengar pertanyaan Vino. "Kau gila! Kenapa aku harus menyukai wanita seperti dia?"
Ingin rasanya Kelly menangis mendengar perkataan pedas Starlo. Apa yang salah dengan dirinya? Ia cantik dan seksi.
"Kenapa kau tak menyukaiku?" tanya Kelly tanpa sadar. "Vino saja menyukaiku," imbuhnya.
Baitu menyela pembicaraan, "Hargai orang yang menyukaimu. Kau membuang emas, Kelly.
Deg
Kelly berpikir sejenak, menghargai orang yang menyukainya. Ia kemudian menatap Vino dan Starlo bergantian. Tatapan Starlo sangat jijik kepadanya. Berbeda dengan tatapan Vino yang penuh cinta. Akhirnya, Kelly sadar. Bahwa, ada orang yang mencintainya dengan tulus. Ia tentu tak akan melirik pria lain lagi.
"Maafkan aku, Vino," ucap Kelly sambil memeluk Vino.
Skylova langsung berdiri dan tepuk tangan, "Bang, lihat… pria cantik punya pasangan." Skylova bahkan bersiul. "Wao… romantis sekali...."
Vino dan Kelly tersipu malu dan langsung melepas pelukannya.
Baitu menghampiri Skylova, "Sayang, kau juga mau di peluk."
Skylova langsung duduk, "Peluk aja Bang Arlo. Dia siap tuh…!"
Starlo mendengus kesal dan memilih pergi meninggalkan mereka semua. Sedangkan Vino dan Kelly menghampiri Skylova. "Karena aku senang. Aku tak akan marah kau menghabiskan semua," ucap Vino sambil tersenyum. "Sayang, ayo kita kencan," ajak Vino kepada Kelly.
Keduanya langsung pergi meninggalkan ruangan. Kini, tinggal Baitu dan Skylova. Baitu kemudian duduk di samping gadisnya. Ia tersenyum, "Aku rindu."
Skylova hanya acuh saja. Ia tak akan mempan dengan bujuk rayuan Baitu. Dirinya harus fokus melawan Damian. Karena, pria itu sudah selangkah di depannya dengan membawa senjata yang merepotkan.