
Skylova merebahkan tubuhnya diatas kasur barunya. Dirinya sangat lelah. Tanpa laptop dan ponselnya, hidupnya jadi tak hidup. Lama sekali seperti siput. Waktu yang biasa begitu cepat kini berubah jadi lambat. Ah.... sungguh bosan.
Skylova berguling-guling tak jelas sampai kasurnya berantakan. Dia melayangkan kakinya ke udara berkali-kali untuk mengusir kebosanan.
"Kalau gini terus, jadi mati kebosanaan, coba lihat pemandangan di balkon aja ah.." Skylova menuju balkon.
"Buset, ada pasangan sedang bermesrak an tuh, kayaknya menyenangkan." Skylova mengambil teropong di tasnya.
Skylova mengamati dua sejoli yang berada di taman vila depan vila nya. Dia melihat interaksi keduanya pun ikut senyum. Tiba-tiba saja sang lelaki menoleh kearahnya. Tanpa sadar Skylova menjatuhkan teropongnya.
"Astaga, teropong Sky. Sial! Pakai jatuh segala lagi, gara-gara tuh orang sih...!
Skylova menengok kebawah dan kembali melihat dua sejoli. Karena takut, Skylova akhirnya masuk ke kamarnya.
"Ganteng sih, tapi nyeremin, masak kaya punya mata di belakang. Habis itu tatapannya bikin merinding pula. Nih orang harus wajib Sky hindarin. pokoknya nggak boleh ketemu," gerutu Skylova.
Tok
Tok
"Va, barang mu udah nyampek tuh."
"Iya ma!" teriak Skylova.
Dengan semangat Skylova menuruni tangga, dia tak sabar ingin bergelut dengan anak kesayangannya. Sepertinya dia harus cari tahu laki-laki tadi.
"Pak, bawanya hati-hati dong, jangan sampek jatuh," ucap Skylova sambil berdiri mengamati.
"Mana kamarnya nona?"
"Follow me." Skylovamelangkah ke depan.
Para pengantar barang menata barang-barang milik Skylova sesuai anjurannya. Semua harus perfek. Skylova mempunyai tiga ruangan dalam satu kamar. Terdiri dari kamar tidur, kamar mandi dan juga kamar ganti. Namun kamar ganti dia gabung jadi kamar anak-anak kesayangannya.
"Oh, anak-anak Sky sayang, yang betah disini ya..." ucap Skylova mengelus dua unit komputer kesayangannya.
Komputer ini adalah komputer bisnis. Dan tidak selalu di gunakan oleh Skylova. Dia hanya menggunakan laptopnya saja untuk melakukan kegiatan rutinnya. Karena sang laptop belum kembali, terpaksa dia menggunakan anak kesayangannya itu.
"Ah, jadi gatal. Skyharus cari tahu siapa dia."
Dengan gerakan tangan yang lihai, dia meretas sisi TV di area vila tersebut. Tak butuh waktu lama dia sudah menemukan informasinya.
"Lumayan ganteng. Aha! ini istrinya. Ternyata baru menikah. Sayang, suaminya ganteng-ganteng menyeramkan.
Skylova mengamati semua adegan-adegan romantis mereka lewat rekaman sisi TV yang dia retas. Tanpa di sadari, pipi Skylova bersemu merah.
"Astaga, mereka ciuman tak mengenal tempat. Ya lord, ternyat, istrinya sangat cantik. Aku tak tahan, ku tutup saja." Skylova menscreen shoot gambar Kaylo.
"Waktunya beraksi."
Kode demi kode dia masukkan ke dalam layar komputernya. Tak lama kemudian muncul lah data pribadi orang yang di cari.
Kaylo Fendaz Beltran
Skylova mengerutkan kening, kalau di lihat Kaylo tak pernah masuk dalam media sosial. Tak ada skandal apa pun.
"Nih orang hidupnya lurus amat,"gerutu Skylova.
Karena sudah mendapatkan informasi Skylova menutup komputernya. Dia lapar sekali, ingin makan. Cacingnya sudah protes sejak tadi.
"Yah, mama akan ke Jerman, profesor meminta mama meneliti sebuah batu meteor," ujar Monica.
"Kenapa mendadak sekali? bukankah kita baru sampai di Bali."
"Cuma dua bulan yah."
Mendengar mamanya akan ke Jerman selama dua bulan membuat hati Skylova terbang diatas awan. Tak ada omelan, tak ada jeweran dan tak ada hukuman. Skylova berputar-putar menari kesana kemari sampai menabrak pintu dapur.
"Au, sakit sekali. Dasar pintu, ngapain juga pakek di sini segala, benjol nih kepala," gerutu Skylova.
"Nona butuh sesuatu," tanya salah satu maidnya.
"Lapar nih, siapin makanan ya," titah Skylova.
"Siap Nona."
Keluarga Mahendra tak mau repot mencari lagi para maid. Mereka memilih untuk memboyong semua para maidnya termasuk pengawal pribadinya ke Bali.
"Mama mau ke Jerman?"
"Lova, tak baik menguping."
"Kan cuma tak sengaja dengar ma, mana laptop sama ponsel Sky? Lagi butuh nih...."
"Jangan bandel kalau mama tinggal, awas saja kalau bandel."
"Tak jamin ma." Skylova menerima benda yang di berikan oleh Monica.
Mereka yang melihat Skylova pergi hanya menggelengkan kepala. Siapa sebenarnya yang di turun oleh Skylova. Kenapa sikapnya begitu. Untung saja putranya masih bisa di andalkan. Mereka tidak tahu kalau putranya otak ku akut.
Skylova makan dengan lahab. Dia tak mau menyia-nyiakan makanan di depannya. Semua yang tersaji dia habiskan. Memang dasar dia badol. Makan banyak tapi tak juga tambah gemuk.
"Terimakasih makanannya, Sky ke kamar dulu." Skylova menuju kamar miliknya.
Sebelum tidur dia menghubungi abangnya terlebih dahulu.
..........
"Bener bang."
..........
"Besuk."
.......
"Iya, mungkin berangkat pagi. Kan biasanya gitu. Ayah ke kantor juga pagi. Makannya, besuk abang datang setelah mereka pergi."
........
"Oke bang."
Tut
Tut
"Dasar, Sky yang hubungin. Eh, dianya yang tutup. Dasar abang, tak tahu terimakasih." Skylova meletakkan ponselnya.
Skylova merebahkan tubuhnya di kasur, dia ingin tidur, pasalnya dia mengantuk. Efek kekeyangan itu ma...!
---------
Vila Maheswari
Baitu sedang duduk di singga sanannya. Dia sangat marah hari ini. Sepanjang sore dia uring-uringan tak jelas. Sandra hanya menghela napas kasar.
"Bagaimana mungkin sistem keamanan kita ada yang menerobos?" teriak Baitu.
"Saya akan cari tahu tuan."
"Aku sudah menyuruhmu mencari tahu dari tadi tapi tak ketemu."
"Saya akan berusaha lebih keras lagi tuan."
"Panggil Brama kemari."
"Baik tuan."
Sandra pun pergi menuruti perintah tuannya. Sandra tak ingin berlama-lama berada dalam satu ruangan dengan tuannya. Bisa mati berdiri dia.
Tok
Tok
"Masuk."
"Ada apa tuan."
"Kau, jaga ketat Angel dan Beltran, jangan sampai ada orang yang melukai mereka, paham."
"Siap tuan."
Brama meninggalkan Baitu sendirian di ruangannya. Baitu memikirkan kenapa ada orang yang ingin mengetahui identitas Beltran, apa karena saingan bisnisnya. Atau jangan-jangan si Beltran itu punya musuh. Dasar memang Beltran merepotkan.
--------
Vila Mahendra
Mentari sedang menyinari gadis berumur 18 belas tahun. Suara jam beker pun di hiraukannya. Ketukan demi ketukan pun dia tak dengar. Pantas tak dengar. Karena telingnya di sumpal dengan kapas.
Setengah jam kemudian Skylova bangun. Dia melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 9. Dengan langkah gontai dia menuju kamar mandi melakukan ritual mandinya.
Tak lama kemudian dia turun menuju ruang makan. Skylova melihat kakaknya sudah duduk manis di Sofa.
"Eh, abang. datang tak bilang," sapa Skylova
"Kan tadi malam udah bilang, dek." Starlo menyerahkan kartu kredit dan juga surat.
Tanpa pikir panjang Skylova membaca surat itu.
Mama tidak mau tahu, pokoknya Lova harus nurut sama ayah, dan juga jangan banyak bertingkah. Jika banyak tingkah semua benda kesayanganmu mama ambil. Termasuk Rocky.
Oh tidak! My rocky kesayangannya akan diambil. Moge seperjuangannya tidak boleh menghilang. Dia melipat kasar kertasnya dan memasukkan ke dalam tasnya.
"Ha ...ha... Rasain tuh, makannya jangan bandel," ejek Starlo.
Plak
"Au, sakit dek.."
"Ha...ha... rasain tu, makannya jangan mengejek orang." Skylova keluar pintu utama menuju motor kesayangannya.
"Dek, jangan keluar. Masak pakai baju kaos ma celana sobek-sobek. Jelek dek!" teriak Starlo.
"Terserah, mau ke kantornya ayah."
Starlo hanya melongo. Skylova benar-benar aneh. Kekantor ayahnya pakai baju santai seperti preman. Starlo hanya geleng-geleng kepala.