
Setelah pembicaraannya dengan Starlo, Baitu memutuskan untuk menemui Skylova di kamarnya. Ia mengetuk pintu berulang. Namun, tak ada jawaban. Akhirnya, ia masuk begitu saja. Kamar Skylova terlihat sangat sepi seperti tak berpenghuni.
Dua hari yang lalu, Skylova meminta ruangan kusus untuknya. Sebenarnya, Baitu berat hati mengizinkan permintaan gadis itu. Namun, karena pesona yang melekat padanya. Dirinya luluh seketika.
Baitu memanggil nama Skylova berulang kali. Namun, tidak ada jawaban. Lalu, ia mencari ke kamar mandi.
Deg
Baitu melihat Skylova yang tengah berendam di bathup sambil memejamkam mata. Dengan gerakan perlahan, ia langsung menutup pintu kamar mandi.
"Aku bisa gila," gumam Baitu frustasi.
Wajah Baitu memanas. Bahkan, jantungnya berdetak kencang seperti ingin meronta keluar. Ia berjalam mondar-mandir gelisah sendiri. "Sialan," gumam Baitu.
Dengan gerakan kasar, Baitu mengusap wajahnya. Seharusnya, ia tak lancang membuka pintu kamar mandi. Untung saja, Skylova tengah tertidur. "Sepertinya ada yang salah," gumam Baitu.
Baitu kemudian berdiri di depan pintu kamar mandi. "Sayang," panggil Baitu sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban dari Skylova. Karena khawatir, Baitu langsung masuk begitu saja. Dengan tangan gemetar seperti menahan sesuatu, ia menghampiri Skylova.
"Sayang," panggil Baitu.
Skylova hanya diam tidak menjawab. Akhirnya, Baitu memberanikan diri mendekati gadis itu. Semakin ia mendekat, dirinya mendengar suara dengkuran halus. Ada rasa lega yang bersarang di hatinya.
Dengan gerakan pelan, Baitu mengelus pipi Skylova. "Rupanya, kau lelah," gumam Baitu lirih.
Skylova langsung membuka matanya lebar. Ia kaget dan langsung memeluk tubuhnya sendiri. Baitu langsung mundur dan salah tingkah.
"Apa yang Paman lakukakan disini?" teriak Skylova. "Keluar….!"
Baitu langsung keluar dan menetralkan detak jantungnya. "Sialan. Bagaimana aku menghadapinya nanti?" gumam Baitu sambil mengacak rambutnya frustasi.
Sementara itu, Skylova masih berdiam diri di dalam kamar mandi. Ia malu kalau harus berhadapan dengan Baitu. "Muka Sky mau di taruh dimana, nih…?" gumam Skylova sambil menggigit kuku jarinya. "Bodoh, kenapa ketiduran segala?" Imbuhnya sambil menepuk jidat.
Skylova berjalan menuju pintu dan membuka secara perlahan. Ia lega karena Baitu tak ada di kamarnya. Dengan santai, dirinya keluar. Namun, tiba-tiba ada yang menyeret tangannya.
Skylova memekik kaget, "Astaga…." Baitu memeluk erat Skylova.
"Kau lama sekali. Aku sangat merindukanmu," ucap Baitu sambil mencium aroma tubuh Skylova.
Skylova tak berani mengeluarkan suara sedikitpun. Ia sangat malu mengingat kejadian tadi. Wajahnya sungguh merah seperti tomat. Baitu bingung karena gadis itu tak menanggapi kata-katanya.
"Kenapa diam?" tanya Baitu sambil melepas pelukannya perlahan.
Skylova menunduk dan menutup kedua matanya. Ia sungguh tak ingin melihat wajah Baitu saat ini.
"Bukalah matamu, Sayang," perintah Baitu.
Skylova menggelengkan kepalanya dan memilih melirik Baitu. Pria itu langsung tersenyum sambil menaruh tangannya di mulut. "Apakah kau malu?"
Skylova terkesiap, "Sky tidak malu."
Baitu memegang dagu Skylova. "Buka matamu," ucapnya sambil meniup Skylova.
Gadis itu langsung membuka kedua bola mata yang telah di pejamkan. Wajahnya merah dan langsung memeluk Baitu untuk menyembunyikan rasa malunya itu. "Paman, jangan lihat aku," ucap Skylova sambil menggosokkan wajahnya ke dada bidang Baitu.
"Sepertinya, kita harus melakukan malam pertama sekarang," ucap Baitu tanpa sadar.
Skylova langsung melepas pelukannya, "Apa Paman gila? Sky tak mau." Skylova melipat kedua tangannya, "Nikah aja belum mau malam pertama."
Baitu menutup mulutnya yang keluar tanpa aba-aba. Sepertinya, sisi liar itu mulai keluar. Ia harus jaga jarak dengan gadis di depannya. Apakah dirinya bisa melakukannya? Memikirkannya saja membuat sulit. Sehari tak bertemu dengannya membuat hati gundah gulana. Bahkan, dirinya menggila karena rindu.
"Mulai besok, jangan kemana-mana. Mengerti!" ucap Baitu kepada Skylova.
Pria itu khawatir jika Skylova tak mematuhi perintahnya. Mengingat gadis itu sering melanggar peraturan yang ada.
"Sky udah gedhe, Paman," ucap Skylova polos.
Deg
Jantung oh jantung. Kenapa berdetak kencang seperti ini? Baitu menyentuh dadanya yang kian meronta-ronta. Kakinya sedikit lemas. Karena tak tahan, dirinya memutuskan untuk keluar kamar Skylova. "Tidurlah dengan nyenyak. Aku ada urusan," pamit Baitu sambil mencium kening Skylova dan pergi meninggalkan kamar itu.
Skylova menghela nafas kasar. Ia menyentuh keningnya lembut. "Sky nggak langgar peraturan," gumam Skylova.
Dengan langkah perlahan, Skylova mencari jalur tersembunyi yang sudah di buatnya selama dua hari. Bahkan, ia juga menghindari CCTV agar kegiatannya tidak terekam.
Skylova berhenti di antara semak-semak. Ia langsung merangkak menuju semak itu. Di sana, terdapat lorong yang menghubungkan dengan jalan raya. "Akhirnya, berhasil keluar juga," gumam Skylova sambil berdiri membersihkan seluruh tubuhnya.
Rumah Damian
Damian duduk di kursi kebesarannya sambil memegang foto Skylova. Beberapa hari tak bertemu dengan gadis itu, membuatnya rindu. Hatinya menghangat ketika mengingat pertemuan pertama mereka. Senyum polos miliknya, mampu membuat pria seperti dirinya terhipnotis.
"Kau seperti magnet, Lova," gumam Damian.
Mattew mendengar perkataan Damian. Ia mengerutkan dahi. Jangan-jangan, Damian menyukai Skylova. Ia menggelengkan kepalanya kuat. Bagaimana bisa? Tidak mungkin. Pikirannya terus menolak hal itu. Namun, hatinya tak bisa di bohongi. "Kau menyukainya?" tanya Mattew.
Damian tersenyum, "Sepertinya iya."
Mattew melotot kaget, "Bagaimana bisa kau menyukainya, Tuan?"
Damian berdiri di dekat jendela. "Aku tak tahu, kenapa aku bisa menyukainya? Dia berbeda, Mat."
Mattew mengepalkan tangan kuat. Kenapa orang sesadis Damian menyukai gadis sepolos Skylova? Ia mau bergabung dengan pria itu karena ingin bertemu dengan Skylova. Ada sedikit rindu yang ada di hatinya. Walaupun mereka rival, tapi kebersamaan adalah nomor satu.
"Aku pikir, kau hanya balas dendam dengan Baitu," ucap Mattew dingin.
Damian bersemirik, "Tentu, aku akan balas dendam padanya. Dengan membuat Skylova berada di sampingku. Itu sudah cukup membuatnya menderita."
Tiba-tiba, alaram tanda bahaya berbunyi. Damian dan Mattew segera lari menuju ruang monotor. Mata mereka terbelalak kaget melihat Skylova yang tengah berada di ruangan itu. "Hai," sapa Skylova.
Usaha Skylova menerobos keamanan benteng mereka ada hasilnya juga. Ia dengan mudah bisa masuk ke ruang monitor tanpa di sadari.
"Beberapa hari tidak bertemu. Pelindungmu semakin lemah. Buktinya, Sky mudah masuk," ucap Skylova sombong.
"Aku memang kalah telak darimu, Sky," ucap Mattew sambil melipat tangan.
Damian mendekati Skylova, "Aku tak menyangka, tanpa di undang kau masuk sendiri."
Skylova mendengus kesal dan memalingkan wajahnya. "Sky kesini karena ingin bicara.
Damian tertawa keras. Gadis di depannya terlalu polos. Apakah dia tidak takut di terkam singa liar? Skylova menatap heran Damian. Kenapa dia tertawa? Ada yang salah? Apakah dirinya seperti badut?
Terkadang otak jenius Skylova membuatnya berpikir sederhana. Ia kadang tidak berpikir kritis. Kepolosan yang ada padanya adalah kelemahan terbesar yang di miliki.
"Ikut aku. Aku yakin kau lapar," ajak Damian sambil pergi.
Tanpa curiga sedikitpun Skylova mengikuti Damian dari belakang. Baginya, makan adalah nomor satu. Karena perutnya minta di isi.
Mattew menatap heran kepada Skylova. Apa dia tak tahu kalau dalam kondisi berbahaya? Dia bahkan seperti tak kenal takut. Dengan sigap, ia meraih tangan Skylova. "Pergilah dari sini!" perintah Mattew.
Skylova menoleh dan melepaskan tangan Mattew. "Kenapa Sky harus pergi? Laper… mau makan," ucap Skylova polos.
Mattew menepuk jidatnya, "Pulanglah, aku akan mentraktirmu nanti."
Skylova menatap dengan mata berbinar. "Benarkah…?" tanyanya tak percaya.
Deg
Mattew mengangguk dan tersenyum. Ia sangat senang melihat Skylova seperti ini. Mode lemot kelaparan yang dimiliki gadis itu memang melekat padanya. Ia tak akan bisa membaca situasi kalau perutnya kosong. Otak jeniusnya seperti menghilang begitu saja.
"Kalian tak akan pergi," sela Damian tiba-tiba.
Mattew melotot kaget, sedangkan Skylova tersenyum lembut. "Dia akan mentraktirku," ucapnya polos.
Mati aku.
Batin Mattew sambil tersenyum canggung. Ia kemudian menatap takut Damian. Aura hitam langsung menyeruak keluar dan menyebar. Suasana yang semula hangat kini berubah menjadi suram dan dingin.
Kruyuk
Kruyuk
Doeng
Damian langsung tertawa mendengar suara perut Skylova yang keras. Gadis itu hanya menunduk malu. "Maaf, minta di isi," ucap Skylova sambil menggigit jari.