
Skylova duduk di sofa dengan lemas sekali. Starlo menatapnya. Dia sungguh khawatir dengan keadaan Skylova.
"Dek... udah mendingan."
Skylova hanya mengangguk saja.
"Dek... ngomong dong! Abang sedih lihat Adek gitu," bujuk Starlo.
"Sky lelah, Bang. Mama lebih percaya Tante Rombeng itu dari pada Sky. Sky sakit hati, Bang. Semua yang Sky lakuin ini, demi Mama dan Ayah."
Tidak ada tangisan di mata Skylova. Dia sebisa mungkin tegar di depan Starlo.
"Mungkin, Mama punya alasan, Dek. Jangan berburuk sangka."
"Setahu Sky, Mama tak punya hubungan dengan Tante Rombeng itu. Pasti Tante itu menjelek-jelek kan Sky di depan Mama," ujar Skylova.
Tiba-tiba saja, alaram tanda berbahaya berbunyi di ponsel Skylova. Buru-buru dia membuka ponselnya. Dia melihat posisi Baitu saat ini. Posisinya berada di area berbahaya. Skylova pun langsung berdiri.
"Bang... Sky ke kamar dulu."
Starlo mengangguk tanda mengiyakan.
Sampai di kamar, Skylova berganti pakaian. Dia memakai celana jins dan kaos putih lengan pendek. Tidak lupa jeket hoodie dan juga wignya. Serta kaca mata hitam dan sepatu sneakernya.
Skylova kemudian turun melewati Starlo. Starlo pun langsung berdiri.
"Dek... Mau kemana?"
"Bang... pinjam motornya." Skylova berteriak sambil berlari menuju garasi.
Starlo pun berlari menghampiri Skylova. Dia harus memastikan kemana Skylova pergi.
"Dek, tunggu... mau kemana?"
"Sky buru-buru, Bang. Nanti aja ceritanya." Skylova memakai helm dan melenggang pergi meninggalkan Starlo.
Skylova mengendarai motor milik Starlo dengan lihai. Dia berhenti di pinggir jalan. Dia membuka ponselnya. Posisi Baitu tidak jauh dari tempat dia berada.
Skylova pun melajukan motornya perlahan. Dia melihat gedung tua di dekat pinggir hutan.
"Apa ini tempatnya?" gumam Skylova
Skylova pun menghampiri tempat tersebut. Banyak kendaraan di sana. Dan juga pengawal yang menjaga tempat itu.
Skylova ingin masuk ke gedung itu. Namun dihadang oleh para pengawal.
"Mana kartunya?" tanya salah satu pengawal.
Kartu apa an sih. Sky nggak tahu yang mereka maksud, batin Skylova.
Skylova berpikir keras. Dia harus bisa masuk ke tempat ity.
"Sky kesini atas perintah Paman Baitu Maheswari." Ucap Skylova dengan lantang.
Para pengawal pun menoleh dan menganggukkan kepala nya.
"Maaf Nona. Kami tak tahu kalau Anda berhubungan dengan Tuan Maheswari. Silahkan masuk!"
Skylova masuk ke gedung itu. Alasan sederhana yang dia buat ternyata berhasil. Dia memakai kaca mata hitamnya dan juga masker untuk menutupi wajahnya. Tidak lupa, jaket hoodie untuk menutupi kepalanya.
Skylova mengedarkan seluruh pandangan nya ke penjuru ruangan. Semakin dalam ruangannya semakin bercabang. Banyak lorong-lorong disana. Tidak ada CCTV dan sinyal ponsel.
"Sial... kemana aku harus mencarinya? Ruangan ini seperti labirin saja," gumam Skylova.
Tiba-tiba saja, ada seseorang yang membekap mulutnya. Skylova meronta-ronta. Dia menendang kakinya mengarah kebelakang. Tapi di tepis oleh orang asing itu. Skylova tidak kehabisan akal. Dia memutar badannya dan berhasil melepaskan diri. Namun dengan sigap, orang itu mencerengkam kuat kedua tangannya.
"Lepasin." Skylova meronta.
"Tak akan." Orang itu menghimpit badan Skylova dengan badannya.
"Ikut aku! Orang itu mengunci kedua tangan Skylova di belakang badannya.
Skylova hanya menuruti nya saja. Dia tidak mau membuat masalah dengan pria bertopeng tidak jelas itu. Tibalah di ruangan yang mewah dan bagus. Skylova melongo di buatnya.
Dengan kasar orang itu mendorong tubuh Skylova.
Skylova pun duduk di sofa berbulu milik orang asing itu.
"Aku tahu. Kau baru pertama masuk sini. Mengingat penampilan mu yang mencurigakan," sambil menghampiri Skylova.
"Tebakanmu benar." Skylova menatap tajam pria di depannya.
Dengan gerakan cepat orang tersebut membuka semua atribut yang ada di wajah Skylova. Tanpa sengaja wignya juga ikut kebuang.
"Hei, Apa yang kau lakukan?" Skylova menyibakkan rambutnya.
Orang itu seketika terpesona melihat kecantikan alami Skylova. Skylova hanya mendengus kesal.
Orang itu kemudian membuka topengnya. Dia sangatlah tampan. Rahangnya yang kokoh. Bentuk tubuh sempurna. Rambut yang sedikit acak-acakan menambah kesan maskulin pada ya. Semua yang melihat itu pasti terpesona. Tapi tidak dengan Skylova. Baginya, tetap Baitu yang lebih mempesona.
"Ternyata di balik penyamaranmu, kau seorang gadis yang lugu. Tak pantas kau berada di sini. Ini bukan tempat gadis sepertimu."
"Hais, jangan ikut campur urusan Sky dong! Sky kesini mau cari seseorang."
"Lebih baik pulanglah. Dengan senang hati aku akan mengantarmu."
"Ogah, Sky bisa pulang sendiri," Jawab Sky dengan ketus.
Baru kali ini ada gadis yang menolak seorang Tommy Kyle. Gadis di depan nya sungguh unik dan menarik sekali. Gadis itu harus menjadi miliknya.
Tommy Kyle adalah salah satu pengusaha terkenal di Jerman. Dia kakak kandung Raymon Kyle.
"Ha Ha Ha. Kau menolak ku."
"Dengar! Sky tak tertarik dengan kakak. So... lepasin Sky. Sky buru-buru nih...."
"Tak semudah itu. Kau sudah berada di ruangan pribadiku. Seharusnya, kau senang berada di dekat Tommy Kyle," ucap Tommy sombong
"Tommy Kyle," beo Skylova
Jangan-jangan dia kakak Raymon. Raymon selalu saja menceritakan tentang kakaknya yang bergonta ganti pasangan.
Skylova tidak ingin bersama pria itu. Dia harus menjaga kehormatannya untuk Baitu.
"Kak, lepasin Sky ya! Lihat, Sky masih kecil. Body tak punya. Dada masih rata," bujuk Skylova sambil berputar badan
Tommy menatap Skylova penuh selidik. Memang benar dia masih sangat muda. Tapi bodinya sudah mengundang birahi. Tidak hanya itu, bau tubuhnya sangat menggoda. Dia lebih mirip seperti bayi dewasa. Warna bibir alami. Wajah tanpa polesan make up. Dan juga rambut sehalus sutra. Tidak lupa, mata bening yang mampu menghipnotis kaum adam di luar sana.
"Kau mengundang birahiku, Syang." Tommy menghampiri Skylova untuk menepis jarak keduanya.
Skylova langsung mundur kebelakang Sampai mentok di dinding. Dia berhenti.
Sial.. Tak ada jalan keluar.
"Wah... sepertinya kau sudah siap." Tommy menaruh kedua tangannya di tembok untuk menahan beban badannya.
Skylova berpikir. Dia harus mencari cara. Cara satu-satunya adalah menendang.
"Kakak... Maaf! Tapi Sky harus pergi." Skylova menendang aset berharga milik Tommy.
Tommy langsung mengaduh kesakitan. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Skylova. Dia langsung lari menuju pintu.
Skylova terengah-engah. Untung dia selamat. Dasar pria cabul mesum. Lain kali kalau ketemu lagi, pasti akan dia kuliti hidup-hidup.
Tiba-tiba, dia menabrak seseorang. Dia adalah Baitu. Baitu mengernyitkan dahi penuh keheranan. Kenapa setan pengganggu ada di sini? Bagaimana dia bisa masuk? Banyak pertanyaan yang ingin di tanyakannya pada Skylova.
"Kau sedang apa di sini?"
"Paman sendiri kenapa di sini?"
"Aku ada urusan penting. Ikut aku," titah Baitu
Skylova hanya mengangguk pasrah. Sandra mengikutinya dari belakang. Sebenarnya, dia kaget. Kenapa Nona Skylova bisa ada di tempat seperti ini?
Kenapa Nona Skylova bisa berada di sini? Dia sangat pintar. Apa nona Skylova memasang alat pelacak di tubuh Tuan? Semoga saja Nona Skylova tak membuat masalah."
Dari kejahuan, Tommy memandangi interaksi antara Skylova dan Baitu. Dia tersenyum penuh misterius. Akhirnya, dia bisa balas dendam.