Sky Love Me

Sky Love Me
episode 36



Baitu berjalan menuju vila. Sampai di ruang tamu, Baitu berpapasan dengan Brama yang menunduk hormat. Dia berhenti tanpa menoleh sedikit pun.


"Seharusnya, kau jaga batasanmu, Brama," ucap Baitu. "Pergilah ke ruangan kerjaku.Tunggu aku disana," perintah Baitu.


Brama hanya mengangguk dan mengikuti perintah Baitu.


Aku akan di hukum oleh tuan.


Baitu telah sampai di kamar dan menaruh perlahan tubuh Skylova di atas ranjang. Baitu mengamati setiap inci wajah Skylova.


"Kau sangat cantik, Lova. Kau sudah membuat diriku menjadi gila. Gila karena mencintaimu. Mencintai gadis pengganggu sepertimu," gumam Baitu sambil mengecup kening Skylova.


Baitu kemudian meninggalkan kamar itu, dia akan memberi perhitungan dengan Brama. Baitu masuk ke dalam ruang kerjanya. Di sana sudah Brama sedang berdiri di samping meja kerjanya. Langsung saja menghampiri dan memukulnya.


Bug


Bug


Sudut bibir Brama berdarah. Dia hanya pasrah menerima pukulan dari Baitu.


"Atas dasar apa kau berkata demikian, Brama?" tanya Baitu. "Kau terlalu mencampuri kehidupan pribadiku. Lova adalah pilihanku. Kau tak pantas menghinanya," ucap Baitu." Satu hal lagi, besok minta maaflah pada Starlo dan juga Lova." Baitu pergi meninggalkan Brama.


Baitu tak mau bertindak jauh karena Brama sudah menjadi bagian keluarga Maheswaru. Dia kembali ke kamar tempat di mana Skylova tidur. Dia membuka kamar itu dan melihat Skylova yang sedang tertidur pulas.


Baitu melepas jas kebesarannya. Malam ini, dia akan tidur dengan Skylova. Baitu duduk di tepi ranjang dan mengelus surai rambut hitam milik gadisnya.


"Karena dirimu, aku bisa melakukan apa pun, Lova! Aku berharap besok kau tak pergi meninggalkanku." Baitu mulai berbaring di samping tubuh Skylova dan memeluknya.


Baitu menghirup aroma tubuh Skylova yang tak pernah dia lupakan. Aroma tubuh yang seperti bayi membuat Baitu nyaman. Selama Skylova tak disampingnya Baitu sering gelisah dalam tidurnya. Kini Skylova sudah disampingnya. Malam ini pasti tidurnya akan nyenyak dan nyaman.


"Selamat malam, Sayang. Semoga mimpi indah." Baitu mencium pipi Skylova.


Sementara itu, Sandra sudah berada di kamar Starlo. Dia mendorong kasar tubuh Starlo di ranjang.


"Menyebalkan, kenapa dia selalu saja menyusahkanku? Dasar." Sandra melepas sepatu milik Starlo dan meninggalkan nya begitu saja.


Sandra masuk keruangan kerja Baitu. Di sana sudah ada Brama yang sedang duduk dilantai.


"Apa yang terjadi, Brama?" tanya Sandra sambil menghampiri Brama.


Brama menoleh dan menatap Sandra dengan tatapan kosong.


"Tuan tak menghukumku, Sandra. Kenapa tuan tak menghukumku?" tanya Brama.


Sandra menghela napas lembut dan memapah Brama ke sofa.


"Duduklah! Aku akan mengobati lukamu," ucap Sandra.


Sandra kemudian mencari kota obat dan mengobati sudut bibir Brama yang berdarah.


"Tuan tak akan menghukum kau dan aku, Brama! Kau tahu kenapa? Karena tuan menganggap kita adalah keluarga. Termasuk Dokter Vino Lee juga. Kita mengabdi sebagai pengawal karena kebaikan tuan kepada kita. Sedangkan Dokter Vino Lee juga mengabdi kepada tuan dengan menjadi dokter pribadinya. Tanpa kita sadari, kita sudah menjadi bagian dari keluarga Maheswari Brama," ucap Sandra panjang lebar.


Brama hanya menunduk karena tidak menyangka bahwa Baitu menganggapnya keluarga. Seperti Angel menganggapnya sebagai saudaranya. Besok, dia akan minta maaf langsung kepada kakak beradik itu.


-------


Pagi sudah tiba, suara burung menyambut mentari yang menghiasi langit bagian timur. Kedua orang berjenis kelamin berbeda itu masih menikmati tidurnya.


Mata Skylova mulai terbuka. Ada yang aneh dengan posisi tidurnya. Dia melihat kebawah, ternyata ada tangan kekar yang memeluknya.


"Kenapa abang bisa tidur di sini, nggak biasanya dia memeluk Sky," gumam Skylova.


Skylova memindahkan tangan kekar itu. Dia sedikit maju ke depan. Karena terlalu sesak baginya apabila tidur berdempetan.


Skylova masih dalam keadaan berbaring. Dia mulai mengingat kejadian tadi malam.


"Hais, Paman tampan yang membuatku pingsan," gumam Skylova.


Namun, tiba-tiba tangan kekar itu memeluknya kembali dengan erat. Skylova memekik kaget dan langsung bangun tapi tak bisa.


"Biarkan seperti ini dulu," ucap Baitu dengan suara khas dan serak.


Skylova mendengarkan suara itu dengan seksama. Suara itu bukan milik Starlo melainkan Baitu. Karena penasaran dia langsung berbalik badan.


Tubuh Skylova mendadak menjadi kaku. Dia sungguh tak percaya kalau orang di depan nya adalah Baitu. Kemudian tangannya meraba pipi Paman tampan untuk memastikan apakah ini nyata atau bukan! Karena pria di depan hanya diam saja, Skylova akhirnya mencubit pipi pria itu.


"Au... Kenapa kau mencubitku?" Baitu membuka mata dan meringis kesakitan.


Gocha


Dia nyata. Sky kau tak mimpi, batin Skylova menatap Baitu dengan melongo.


Baitu mengernyitkan dahi penuh keheranan. Apa Skylova mengira ini hanya mimpi? Maka dari itu dia mencubit pipinya.


Baitu menatap Skylova dan berbisik.


"Ini bukan mimpi, Sayang."


Skylova langsung duduk dan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kamar. Dia baru sadar kalau berada di kamar milik Baitu.


"Apakah Paman yang bawa Skylova kesini?" tanya Skylova.


Baitu hanya diam dan bangun agar berhadapan dengan Skylova.


"Kau akan pergi jika aku tak membawa paksa dirimu, Sayang," ucap Baitu.


"Sayang," gumam lirih Skylova.


Skylova sangat senang mendengar perkataan Baitu. Batinnya teriak tanda kegirangan.


Brak


Pintu di buka kasar oleh seseorang. Kedua orang yang berada di atas ranjang itu menoleh. Skylova langsung melotot saat dia tahu kalau sang kakak yang membukanya. Sedangkan Baitu hanya menatap Starlo dengan tatapan biasa.


"Dek... kau, Kalian tidur bersama?" tanya Starlo sambil menghampiri keduanya.


Starlo meminta penjelasan Baitu. Jangan-jangan dia melakukan hal buruk kepada Skylova.


"Kau tak berbuat hal-hal aneh pada adikku kan...."


Baitu tak menjawa dan langsung pergi ke kamar mandi. Starlo mendekati Skylova


"Dek, kita pergi dari sini yuk...!" ajak Starlo.


Karena Baitu belum masuk ke kamar mandi, dia mendengar perkataan Starlo pada Skylova. Baitu menoleh kearah kakak beradik itu.


"Kau dan Lova tidak akan pergi kemana pun," ucap Baitu sambil menutup pintu kamar mandi kasar.


Mereka berdua berjingkat kaget dan mengelus dada.


"Bang, sepertinya paman tampan marah," ucap Skylova.


"Biarkan saja, biar tambah tua. Kita pergi ke hotel. Abang nggak mau di sini, Dek," ucap Starlo.


Skylova hanya diam. Dia sungguh dilema dan tak tahu harus menjawab apa.


"Dek, jawab jujur. Tadi malam Adek nggak diapa-apainkan sama dia."


"Abang ngomong apa in sih...! Sky nggak paham." Skylova turun dari ranjang.


Starlo bisa bernafas lega karena tidak terjadi hal apapun pada Skylova. Starlo tersenyum melihat adiknya.


"Kita keluar dari sini." Starlo menggeret lengan Skylova.


"Bang, tunggu...! Muka Sky kusut nih....!"


Starlo hanya diam dan tak mau berlama-lama di sini. Dia ingin pergi menjauh dari keluarga Maheswari. Skylova hanya menurut saja ketika kakaknya menggeret lengannya. Sampai diruang tamu, mereka dihadang oleh pengawal. Brama dan Sandra pun muncul.


Pasti itu yang namanya Brama, kenapa sudut bibirnya sudah biru? Jangan-jangan, Paman tampan memukulnya. Padahal Sky ingin memukulnya. Hais... Sudah keduluan, mood Sky jadi hilang."


Starlo dan Skylova berhenti. Mereka berdua menatap tajam ke arah para pengawal dan langsung menunduk.


Mereka berdua seperti orang lain. Apa ini yang namanya keturunan ningrat? Tatapan mereka seperti ingin melahap mangsanya hidup-hidup. Bahkan aura kebesaran mereka keluar. Sepertinya, aku salah menilai mereka.