
Skylova sangat kesal dan mengurung diri di kamar. Kakak nya yang tengil memaksa pulang bersama. Padahal dia masih ingin berdua dengan Baitu.
Sedangkan Baitu memilih bermalam di apartemen. Sungguh menyebalkan. Seharusnya momen romantis itu berkesan. Nyatanya tidak. Ada saja pengganggu yang merusak. Dia benci kencan. Batinnya berteriak meronta. Satu-satu nya kencan yang romantis adalah dengan Raymon. Skylova jadi merindukan pria itu.
Karena hilang ingatan, Skylova tak mengingat semua kenangannya di Bali. Termasuk semua insiden yang telah melibatkannya.
Pagi menjelang. Skylova masih saja kesal dengan Starlo yang seolah bersikap tidak terjadi apa-apa. Ruang makan yang biasa di isi canda tawa kini canggung dan hening.
Julio dan Monica keheranan melihat kedua anak mereka.
"Ehem.. Kenapa hari ini ada yang beda?" tanya Julio.
Skylova dan Starlo hanya diam tak menjawab pertanyaan Julio.
"Apakah jalian bertengkar?" tanya Monica.
Skykova dan Starlo menggeleng bersamaan. Mereka tak ingin membuat orang tuanya khawatir.
"Lalu, kenapa hanya diam saja? Tak seperti biasanya," sambung Julio.
Skylova akhirnya berkata, "Sky sebel sama Abang, Yah. Masak Abang merusak momen romantis Sky dengan Paman tampan."
"Arlo cuma mengajak Sky pulang, Yah. Mama khawatir. Lagi pula sudah malam," bela Starlo.
Julio dan Monica menghela napas kasar. Permasalahan kedua saudara itu hanya sepele sampai merajuk tak jelas.
"Arlo, minta maaflah pada Adikmu!" perintah Julio.
Starlo menatap Skylova dengan rasa bersalah. Dia mengajak pulang paksa adiknya. Tapi untuk Baitu yang kembali ke apartemen, Starlo anggap bukan kesalahan. Melainkan keharusan. Dia tak mau Maheswari tinggal di rumah dan setiap hari melihat pasangan yang sedang bucin tak jelas itu.
"Oke. Abang minta maaf, Dek." Starlo menatap Skylova yang membuang muka. "Masih marah? Nanti Abang ajak ke suatu tempat deh... Abang hari ini nggak kerja kok." bujuk Starlo.
Skylova menoleh dan tersenyum manis.
"Janji, nggak akan bohong?"
Starlo mengangguk. Lagi pula dia butuh Skylova untuk menemani nya menghadiri peluncuran game terbaru perusahaan.
Starlo mempunyai pekerjaan lain. Dia mendirikan perusahan game kecil yang kini sudah besar. Sudah lima tahun Starlo merintis perusahaan dari nol. Gaji yang dia dapat dari perusahaan Julio di kumpul untuk merintis perusahaan game.
Nama perusahaan itu adalah SS Game. Tidak ada yang tahu siapa pemilik SS Game. Mereka hanya tahu pemiliknya pria yang masih muda. Namun identitasnya di tutupi. Setiap peluncuran game sang pemilik selalu memakai topeng dan juga berpakaian santai. Tidak seperti CEO pada umumnya.
Kini Skylova sudah berada di ruang kerja milik Starlo. Dia menyesal ikut karena hanya pergi ke SS Game.
"Bang, Sky pikir kita jalan-jalan. Tapi ternyata disini. Membosankan." ucap Skylova.
"Hari ini peluncuran game terbaru Abang,l. Adek temani abang ya... Abang udah siapin topeng." Strlo menunjuk topeng diatas meja.
"Ogah, Bang. Sky nggak suka acara kaya gitu. Lagian Sky nggak mau pakai topeng. Males dan ribet," jawab Sky. "Pokoknya, Sky mau pergi dari sini!" Skylova melipat kedua tangan dan menatap Starlo.
"Hais... ayolah, Dek. Abang cuma butuh Adek. Mau ya?" bujuk Starlo.
Setiap peluncuran game terbaru nya. Starlo selalu mengajak Skylova untuk mendampinginya.
"Sky males. Ujung-ujung nya, Sky selalu jadi bahan bully an. Di kira pacar Abang," ucap Skylova.
"Ya udah... gimana kalau lihat dari jauh aja. Lagian cuma ada beberapa awak media yang hadir. Nggak banyak, Dek. Sedikit tertutup kok," bujuk Starlo lagi.
Skylova menimbang permintaan Starlo. Kalau dipikir-pikir, melihat dari jauh tanpa mengenakan topeng tidak masalah.
"Oke deh. Asal nggak pakai topeng aja."
Starlo mengangguk senang karena Skylova mau menemaninya, meski dari jauh.
Ketika kakaknya masuk ke area panggung, para awak media langsung memotret dan mensyutingnya. Starlo menjelaskan secara terperinci jenis game yang di luncurkan kali ini. Berbagai pertanyaan bermunculan. Dengan mudah dia menjawabnya.
Skylova merasa bangga melihat keberhasilan Starlo karena bisa sesukses ini. Ingin rasa nya Skylova berteriak kalau yang diatas panggung itu adalah kakaknya. Tanpa sengaja salah satu kameramen menangkap wajah Skylova.
Baitu yang melihat acara itu melotot dengan tajam. Kenapa Skylova ada di sana? Di tempat peluncuran game terbaru Perusahaan SS Game. Kalau di amati, pemimpin SS Game seperti Starlo. Walaupun wajahnya tertutup, dia bisa mengenali seseorang lewat gaya dan cara bicaranya.
"Sandra, kau cari siapa pemilik Perusahaan SS Game," titah Baitu. "Waktumu satu jam, Sandra."
"Baik, Tuan." Sandra bergegas pergi ke luar apartemen untuk mencari informasi pemilik Perusahaan SS Game.
Baitu menebak kalau pria itu adalah Starlo. Pasti Starlo jenius seperti Monica. Kakak adik itu memiliki gen dari ibunya. Dia berfikir kalau orang jenius cenderung memiliki kelemahan. Kelemahan Skylova adalah ceplas ceplos dan tidak elegan sedikit pun. Sedangkan Starlo, apa kelemahan nya?
"Aku yakin, dia adalah Starlo. Kemarin aku mendengar Skylova berbicara tentang perusahaan. Pasti perusahaan ini yang di maksud," gumam Baitu.
Satu jam telah berlalu. Sandra menemui Baitu dengan keadaan lesu.
"Kenapa mukamu seperti itu? kau tak berhasil."
Sandra menunduk dan bingung harus berkata apa.
"Maafkan saya, Tuan. Saya sudah berusaha mencari tahu. Bahkan saya juga menyewa hacker untuk menerobos perusahaan mereka. Tapi gagal. Kata hacker tersebut, perusahan itu di lindungi oleh hacker K, Tuan," jelas Sandra.
"Hacker K," gumam Baitu sambil tersenyum.
Dia tahu siapa hacker K? Bisa di pastikan bahwa pemilik perusahaan SS Game adalah Adimas Starlo Mahendra Diningrat. Sekarang tinggal bagaimana mencari tahu kelemahan Starlo? Satu-satunya cara adalah bertanya kepada Skylovam
Baitu melirik jam yang sudah menunjukkan pukul dua siang. Dia ada janji dengan Skylova. Lagi pula, dia juga rindu dengan gadis itu.
"Sandra, kita pergi ke kediamaan keluarga Mahendra, sekarang! Aku ada janji dengannya nanti malam," ucap Baitu.
Sandra hanya mengangguk dan mengikuti Baitu dari belakang.
Bilang saja rindu dengan nlNona Skylova. Pakai alasan segala. Tuan benar-benar bucin level tingkat dewa.
---------
Skylova dan Starlo baru saja pulang. Jujur mereka berdua sangatlah lelah karena acara tadi. Sekarang mereka sedang duduk di teras menikmati udara bebas AC.
"Game Abang yang baru ini sangat bagus. Sky suka." Skylova memainkan ponselnya.
"Abang seneng kalau Adek suka." Starlo tersenyum penuh kebahagiaan.
Tujuan Starlo membuat game adalah untuk menyenangkan Skylova yang sangat menyukai game online.
"Abang kapan jujur sama Ayah? Kalau jujur, pasti Ayah nggak akan marah. Lagian, Abang kan udah sukses," ucap Skylova.
"Belum Abang pikirin," jawab singkat Starlo.
"Terus... Abang masih koleksi miniatur, poster dan juga kerabatnya? Mending berhenti, Bang. Masak seorang CEO jadi otakku akut."
"Dek... Jangan keras-keras ngomongnya." Starlo menutup mulut Skylova.
Skylova menepis tangan Starlo dan berkata, "Bang... Sky nggak bisa nafas."
"Maafin Abang, Dek. Adek pakek acara ngomongin itu segala. Nanti kalau Mama denger gimana?" ucap Starlo. "Udah ah..., jangan bahas itu lagi. Bahasnya di kamar aja.
Tiba-tiba, ada mobil datang menuju rumah mereka. Starlo bisa menebak siapa orang yang ada di dalam mobil itu.
"Kenapa dia selalu muncul. Bikin orang kesel aja!. Oke, Arlo... lu harus bisa usir dia.