
Cinta dan obsesi sangat berbeda jauh. mencintai dengan tulus adalah sebuah anugrah. Namun, jika obsesi akan menimbulkan petaka.
Damian bukan mencintai Skylova, melainkan terobsesi padanya. Ia merasa tidak adil jika Baitu memiliki cinta untuk gadis itu. Sedangkan dirinya menderita.
Ayolah, cinta itu tidak bisa di paksakan. Dan jika ingin memperjuangkannya, butuh kekuatan lebih. Seperti Skylova saat ini, Meskipun ia terkena obat, gadis itu masih berjuang dengan keras.
"Sialan... Damian benar-benar terkutuk." Skylova menatap lurus ke depan sambil melihat ke arah televisi. Obat pelumpuh yang sialnya mujarab berhasil membuatnya lemah.
Dengan upaya yang keras, Skylova berusaha untuk melukai dirinya dengan menggigit bibir sampai berdarah. Efek obat akan hilang jika ia merasakan rasa sakit.
"Ssssssttttttt...," ringis Skylova terus mencoba menggerakkan tangannya untuk menyeka darah yang keluar dari bibir. Ia tak punya banyak waktu lagi sekarang.
Tubuh gadis itu kemudian jatuh ke lantai karena masih berusaha untuk bergerak. Ia mencoba berdiri dengan perlahan.
"Awas saja... Sky enggak akan biarin Damian lakuin hal aneh." Sikap pantang menyerah Skylova patut di acungi jempol. Gadis itu kemudian bangkit dengan sekuat tenaga lalu berjalan tertatih.
Sementara Damian, ia merasa senang karena bisa menguasai musuh bebuyutannya, yaitu Baitu Maheswari. Pria itu merasa di atas awan sekarang.
"Aku hanya ingin kau merasakan penderitaan yang sama, Baitu." Damian tertawa menggelar, "Bagaimana rasanya? sakit bukan....!"
Baitu diam tak menjawab perkataan Damian. Jika ia tak mengontrol emosinya, yang ada Skylova pasti dalam bahaya.
"Dia adikku... jangan libatkan Skylova dalam urusan pribadi kalian." Starlo mencoba untuk mendinginkan keduanya, berharap Damian mau melepaskan gadis tersebut.
Damian berjalan mendekat, menepis jarak diantara mereka, "Dengar... kau akan menjadi kakak ipar ku."
"Tapi, sayangnya Sky tak mau tuh menikah denganmu," celetuk seorang gadis yang berada di ujung pintu ruangan.
Semua mata mengarah padanya. Rasa bahagia terpancar jelas dari mata Baitu dan Starlo. Para anak buah Damian pun langsung mendekat, hendak meringkus Skylova.
Melihat reaksi cepat para anak buah Damien, Baitu dan Starlo memberi isyarat satu sama lain. Mereka berdua mengambil pistol dan langsung menembak Damian tepat di dadanya.
Kedua peluru itu bersarang manis di dada Damian. Para pengawal terkejut dan langsung menembak ke arah Skylova.
Gadis tersebut menutup pintu ruangan dengan keras karena baku hantam peluru yang menggema di ruang tamu. Ia kemudian berjalan tertatih menuju jendela.
Tepat di bawa ruangan itu, ada Raymon yang sedang berdiri menatap ke arah Skylova. "Turun... aku akan menangkapmu!" teriaknya dengan keras.
Skylova melirik ke kanan dan ke kiri. Ia melihat para penjaga sudah tergeletak di tanah. Dari jauh, gadis itu melihat Haiden dan Tommy berlari masuk ke dalam rumah.
Tanpa pikir panjang, Skylova terjun langsung lewat jendela. Ia langsung di tangkap oleh Raymon
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Raymon dengan lembut, tapi dihadiahi pelototan oleh Skylova.
"Turunkan Sky," geram Skylova sambil membuang muka. Bukannya ia tidak mau berterimakasih, hanya saja jika Baitu tahu apa yang dilakukannya pasti dia akan mengamuk bagaikan singa yang hilang kendali.
Setelah Raymon menurunkan Skylova, para anak buah Baitu datang dan langsung masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian, mereka keluar. Gadis itu melihat Baitu dan Starlo yang terlihat lelah.
Skylova pun memutuskan untuk menghampiri mereka. "Apakah kalian baik-baik saja?" tanyanya dengan sedikit rasa takut.
Gadis itu tahu bahwa tindakannya salah dan ceroboh. Ia sekarang hanya menunduk tanpa menatap kedua pria yang sudah muram dan murka.
"Kedepannya, jangan bersikap seperti ini, Dek," kata Starlo menepis jarak diantara mereka. Ia takut kalau Skylova berada dalam bahaya. Cukup sudah semua yang di alami gadis itu.
"Kita kembali ke Yogyakarta," kata Starlo final. Baitu dan Skylova tersentak kaget.
"Tapi, Bang...," sanggah Skylova. "Sky masih ingin tinggal disini," rengeknya menatap penuh harap.
"Bisakah kau memberiku kesempatan," sambung Baitu. Jika Skylova benar-benar di bawa pergi, bagaimana dengan hidupnya? Rasanya sakit dan tak sanggup apabila harus kehilangan lagi. Bukan perkara mudah baginya menghadapi kenyataan itu.
"Jika adek tak menurut..., Abang akan kirim ke luar negeri." Starlo pergi meninggalkan Skylova yang masih berdiam diri menatap pria itu. Ia tak menyangka bahwa keputusan kakaknya sudah final.
"Alro!" teriak Baitu dengan keras. Ia jelas kesal dengan tingkah Starlo yang mengambil keputusan sepihak. Merasa diabaikan, pria itu mendekat ke arah Skylova.
"Aku akan bicara padanya, Lova." Baitu meraih tangan Skylova lalu mengecupnya perlahan.
Raymon yang melihat itu hanya diam mematung. Kesempatan untuk bertemu dengan Skylova memang sudah ada. Namun, kesempatan untuk meraih hatinya tak ada peluang lagi.
"Tuan," sapa Sandra dengan lembut. Pria itu menoleh, "Gunakan segala cara untuknya," jawab Baitu dengan wajah menggelap.
Sandra yang tidak tahu apa-apa harus menjadi korban. Padahal, ia ingin melaporkan sesuatu mengenai Damian.
"Bukan itu, Tuan," sanggah Sandra dengan sopan membuat rona wajah Baitu menghitam.
Skylova hanya terkekeh geli, "Ayolah... Paman Tampan, kau kekanakan sekali....!" Gadis itu mencolek pipi Baitu lalu masuk ke dalam mobil dengan berlari.
Tindakan barusan membuat jantung Baitu berdemo dengan melompat-lompat seperti kanguru. Rona wajah yang semula menghitam kini menjadi cerah.
Cinta memang membuat perubahan besar
Sandra membatin sambil tersenyum tipis. Ia tidak menyangka, orang sekaku Baitu bisa berubah hanya dengan tindakan kecil dari gadis berusia tujuh belas tahun. Keajaiban cinta memang luar biasa.
Baitu pun berjalan mengikuti Skylova yang masuk mobil. Pikirannya melayang ke nirwana berkat colekan dari Skylova.
"Aku kurang puas," kata Baitu sambil masuk mobil. Skylova menoleh dengan cepat. "Maksudnya....?" Ia terlalu polos untuk adegan nano-nano.
"Bisakah kau memberikanku sekarang, Sayang..." bisik Baitu dengan nada serak nan menggoda membuat Skylova merindiring kepayahan.
"Paman... perkataanmu terlalu ambigu." Wajah polos Skylova membuat Baitu tersenyum lebar. Ia kemudian mengelus rambut gadis itu.
"Kau bisa jalan, Sandra," perintah Baitu. Pria itu menutup pembatas jog depan dan belakang.
"Kenapa di tutup?" tanya Skylova dengan cepat. Sepertinya, alarm bahaya mulai muncul diradarnya.
"Aku hanya ingin berdua dan tak ingin di ganggu." Baitu mendekat ke wajah Skylova. Gadis itu pun refleks mundur ke belakang hingga terpojok menempel di pintu mobil.
"Mesum!" teriak Skylova dengan keras. Baitu langsung menutup mulut gadis itu dengan bibirnya. Ia candu dengan rasa manis bibir gadis tersebut.
Bola mata Skylova membulat sempurna. Ia kemudian memejamkan mata, menikmati sensasi demi sensasi dari bibir Baitu.
Kedua sejoli itu saling bertautan sama lain, seperti tak ada hari esok. Mereka saling mengekspresikan rasa cintanya dengan sebuah ciuman yang menggairahkan.