
Raymon sudah mencari Liza ke seluruh Bandara. Namun tidak kunjung ketemu. Sampai pagi menjelang masih kukuh mencari wanita itu. Tiba-tiba, ponselnya berdering.
Kring
Kring
"Halo."
.........
"Kakak tak bohongkan...."
........
"Baiklah, aku akan langsung pergi ke pemakaman Skylova.
Tut
Raymon sangat lega. Walaupun dia tak berhasil balas dendam. Karena ada orang lain yang sudah mendahuluinya. Tidak di sangka, Baitu Maheswari bertindak cepat.
------
Monica lari menuju proses pemakaman putrinya. Selama perjalanan dia menangis tersedu-sedu. Monica sangat kaget mendengar kepergian Skylova yang begitu cepat.
Dari kejahuan, dia melihat Julio dan Starlo menatap tempat peristirahatan Skylova. Monica langsung menghampiri mereka.
"Kenapa kau tak menungguku? Kenapa kau menguburnya sebelum aku pulang. Aku ingin melihatnya. Hiks..Hiks.. Kumohon bongkar makamnya, Julio." tangis Monica pecah.
Julio merangkul pundak Monica. Dia tidak ingin istrinya bersedih terlalu lama.
"Maafkan aku, tapi ini yang terbaik."
"Kau jahat, Julio. Aku membencimu. Dia putriku. Aku yang melahirkannya," ucap Monica penuh kesedihan.
Baitu melihat mereka dari jauh, kemudian menangis menatap langit yang mendung.
Monica masih syok atas kepergian Skylova. Badan dan kakinya lemas. Dia merosot dan menangis histeris.
Starlo menatap Monica penuh iba. Apa ini yang terbaik untuk semua? Rasanya dia tidak tahan melihat sang mama menangis histeris.
Julio menatap Starlo dan memberikan kode agar membujuk Monica pulang.
"Ma, ayo kita pulang!" ajak Starlo.
"Aku akan menunggunya di sini."
"Ma, langit mendung. Sebentar lagi pasti hujan," bujuk Starlo lagi.
"Arlo, Mama menyesal tak percaya Skylova. Mama menyesal memarahinya. Andai saja waktu bisa di putar kembali, Mama akan percaya penuh dan menuruti semua keinginan Skylova." Monica menatap kosong makam Skylova.
Julio membantu Monica berdiri dan memapahnya keluar dari pemakaman.
Setelah keluarga Mahendra pergi, Baitu keluar dari persembunyian dan menghampiri makam Skylova.
"Kau benar-benar pergi ternyata." Baitu menatap makam Skylova.
Tiba-tiba, hujan turun. Baitu masih tetap di sana dan menatap langit. Kata-kata Skylova selalu terngiang di kepalanya. Air mata pun tak bisa di bendung lagi. Dia ambruk di depan makam Skylova dan menangis tersedu-sedu.
Sandra menghampiri Baitu dan memayunginya. Baru kali ini, dia melihat sang tuan menangis tersedu-sedu.
Nona Skylova. Kenapa kau pergi begitu cepat? Lihatlah, tuan sangat menderita. Sandra meneteskan air mata.
Raymon melihat Baitu menangis dari jauh. Dengan langkah cepat menghampiri makam Skylova. Dia tidak menyangka, sosok Maheswari yang terkenal kejam sedang menangisi seseorang yang juga berharga untuknya.
Tidak lama kemudian, Baitu berdiri. Dia mengusap kasar air matanya. Aura dingin tanpa ekspresi terlihat jelas di wajah. Tanpa bicara langsung pergi meninggalkan makam Skylova.
Baitu berpapasan dengan Raymon. Dia tak menoleh sedikit pun. Seperti robot yang tidak punya hati. Hanya tinggal tubuh saja yang hidup.
Raymon menatap sekilas Baitu yang melewatinya.
"Dia sepertinya sangat menyukai Skylova. Melebihi diriku. Aku orang yang kalah," gumam Raymon.
Raymon langsung menuju makam Skylova.
"Sky, kau benar-benar pergi," gumam Raymon.
Raymon terus berdiri di depan makam Skylova sampai hujan berhenti.
Tommy menghampiri Raymon yang sedang berdiri.
"Dia seperti malaikat," gumam Tommy.
Raymon menoleh dan tersenyum kepada Tommy
"Semoga kau tenang di sana. Maafkan aku, Skylova. Aku tak bermaksud menyakitimu. Jika waktu bisa berputar kembali, aku tak akan menyia-nyiakan dirimu," ucap Tommy.
"Kau sungguh jatuh cinta padanya?" tanya Raymon.
"Sepertinya iya, aku akan berubah. Aku sudah memutuskan semua hubunganku dengan para wanita di luar sana."
"Aku tak percaya dirimu." Raymon pergi meninggalkan Tommy sendirian di makam Skylova
"Aku janji akan menghargai orang seperti dirimu, Lova," gumam Tommy sambil meneteskan air mata.
Tommy pergi meninggalkan makam Skylova. Dia akan menata hidupnya kembali.
-----------
6 Bulan Kemudian
Baitu duduk di pinggir pantai. Dia menatap langit. Setiap malam, selalu pergi ke pantai untuk melihat langit.
Sehari setelah pemakaman Skylova. Keluarga Mahendra pindah. Baitu hanya diam saja. Dia tak mau mengusik keluarga itu. Kerja sama mereka tetap terjalin sesuai kontrak.
Wajah Baitu tidak bisa di baca. Selama enam bulan terakhir, dia tidak menunjukkan senyum nya sama sekali. Senyumnya akan terbit saat Angel menghubunginya.
"Skylova. Kenapa aku tak bisa melupakan mu?" gumam Baitu.
Baitu selalu mengingat kencan konyolnya. Dia masih ingat betul perkataan Skylova.
"Lihatlah paman, langit yang hitam itu di hiasi bintang. Bintang di langit itu Abang Arlo. Sedangkan bulan itu Paman Tampan. Dunia Sky milik Bang Arlo dan Paman Tampan."
Tiba-tiba, Sandra datang dengan tergesa-gesa.
"Tuan, kita harus terbang ke Jakarta. Stevara kabur."
Baitu kaget mendengar perkataan Sandra. Kalau Stevara kabur, pasti dia akan menyakiti Angel.
"Kenapa dia bisa kabur?" Baitu berdiri menatap tajam Sandra.
"Saya masih mencari tahu, Tuan."
"Kau kerja tak becus, Sandra."
Sandra hanya diam. Dia tak berani menatap tuan nya. Semenjak Skylova pergi, Baitu jadi berubah. Ekspresi wajahnya semakin dingin, emosinya tidak stabil. Dan setiap hari menghabiskan waktunya dengan bekerja tanpa henti.
Malam itu juga, Baitu terbang ke Jakarta dengan menggunakan jet pribadinya. Sampai di Jakarta, dia bergegas menuju Mension miliknya.
"Kalian benar-benar tidak bisa diandalkan. Cepat cari wanita itu! Atau aku akan menghukum kalian semua!" teriak Baitu menggema di seluruh ruangan.
Tidak lama kemudian, salah satu pengawalnya memberitahu keberadaan Stevara.
"Tuan, kami sudah menemukan target. Tapi...."
"Katakan."
"Target menculik Nona Angel, Tuan."
Deg
Jantung Baitu seakan berhenti berdetak. Stevara menculik Angel yang sedang hamil. Kekhawatiran nya menjadi ketika dia mendengar kabar itu.
"Sandra!" teriak Baitu.
"Iya, Tuan." Sandra menghampiri Baitu.
"Kita ke lokasi sekarang."
"Baik, Tuan."
"Hubungi polisi. Aku tak mau Angel dan bayi nya kenapa-napa."
Sandra mengangguk, mengiyakan perintah Baitu. Merekamenuju lokasi di mana Stevara menculik Angel.
Sampai di depan gedung tua dekat hutan, mereka berdua turun dari mobil. Disana sudah ada polisi. Baitu melihat mobil milik Beltran. Ada kelegaan di dalam hatinya.
Salah satu polisi menghampiri Baitu
"Tuan, kami akan ikut masuk. Bila ada sesuatu yang tak terduga, kami akan melakukan tindakan cepat."
Tidak ada jawaban dari Baitu. Dia hanya mengangguk. Batinnya was-was ingin segera bertemu dengan Angel.
"Semoga kau baik-baik saja, Angel," gumam Baitu
Mereka masuk ke dalam gedung tua tersebut. Dari kejahuan, mendengar suara samar-samar. Langsung saja mereka melihat ke arah sumber suara.
Di sana, Stevara sedang memegang pisau. Dia berteriak kepada Kaylo dan Angel.
"Kalau saja ommu tak membuat hidupku jadi seperti ini, pasti aku bisa menikah dengan Kaylo. Kaulah perusak hidupku, Angel. Aku akan mengeluarkan paksa anak yang ada di dalam perutmu."
Angel kaget. Kenapa Baitu bisa terlibat? Mengenai anaknya. Tidak? Dia tidak akan membiarkan anak yang di kandungnya mati sebelum di lahirkan.
"Kenapa kau lakukan ini? Apa salahku?" tanya Angel.
"Salahmu adalah kau menikah dengan Kaylo. Dan o mu itu mengurungku. Bahkan menyiksaku dengan sangat kejam. Walaupun fisikku tak sakit. Tapi jiwa ku sangat sakit, Angel. Kau tahu, setiap malam aku selalu bermimpi buruk. Seperti orang gila. Ha Ha Ha," tawa Stevara yang menggema di seluruh ruangan.
Kaylo menatap Stevara penuh kebencian.
"Aku tak akan membiarkanmu melakukan itu pada istriku," ucap lantang Kaylo.
"Jika aku tak mendapat kanmu, maka kau harus mati di tanganku Kaylo." Stevara menuju dan mengarahkan pisau ke arah Kaylo
Dor
Tiba-tiba suara tembakan menggema. Pisau yang di pegang Stevara terlepas. Tangan Stevara tertembak. Tapi, Stevara berusaha mengambil pisau itu dengan tangan kirinya. Dia tidak akan menyerah. Polisi tidak ada pilihan lain selain menembak Stevara lagi.
Dor
Seketika Stevara ambruk bersimbah darah. Angel menangis histeris. Kaylo menenangkannya.
"Untung kami tak terlambat," ucap salah satu polisi itu.
"Kalian tak apa-apa?" tanya Baitu.
Angel menatap tajam Baitu karena tidak memberitahunya.
"Kenapa Om melakukan ini?" yanya Angel.
Baitu menatap sendu Angel.
"Tolong lihat dia! Apakah masih hidup atau tidak!" perintah Baitu.
Salah satu polisi menghampiri tubuh Stevara yang sudah tidak bernyawa. Tembakan pas mengenai dada kirinya. Polisi itu menatap ke arah Baitu dan menggelengkan kepala.
Angel menangis histeris. Stevara meninggal karena kesalahannya
"Tenang, Sayang. Ini bukan salahmu."
"Ini semua karenaku, sayang. Kalau saja om tidak melakukan itu, pasti Stevara masih hidup," ucap Angel sambil menatap Baitu sendu.
Baitu juga menatap Angel dengan tatapan sendu.
"Angel benci Om. Om pergi dari sini?" teriak Angel.
"Sayang... jangan berkata seperti itu. Maheswari adalah keluargamu."
"pergi!" teriak Angel.
Baitu tidak bisa berkata apa-apa dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.
"Urus jenazahnya. Aku akan pergi," perintah Baitu.