
Starlo sedang duduk di sofa yang ada di dalam kamarnya dan masih membayangkan wajah Sandra.
"Enyahlah dari pikiranku, hus..hus." Starlo mengibaskan tangan.
Tiba-tiba, Starlo tersenyum.
"Astaga! Ada apa dengan diriku? Ayolah, Arlo! Jangan memikirkan gadis jadi-jadian itu," gumam Starlo.
Monica mengetuk pintu kamar Starlo. Tapi tak ada jawaban. Dia langsung masuk dan melihat tingkah Starlo yang senyum-senyum dan berbicara sendiri.
"Arlo! Mama udah ketuk pintu beberapa kali. Ternyata kamu cuma senyum-senyum nggak jelas gitu," ucap Monica.
"Eh... Mama. Arlo cuma lagi latihan senyum aja kok." Starlo tersenyum canggung dan menggaruk tekuknya yang tak gatal.
"Udah sana! Temani Sandra. Kasihan tuh... dia sendirian di teras. Tadi, mama udah suruh dia masuk. Tapi nggak mau."
Starlo langsung berdiri karena senang mendengar perkataan Monica. Dia bergegas pergi menuju tempat Sandra berada.
"Astaga..., bikin kaget Mama aja. Kenapa tiba-tiba berdiri gitu?" Monica mengelus dada nya lembut.
Starlo hanya diam tidak mendengar perkataan Monica
"Dasar anak ini. Mamanya belum selesai ngomong malah langsung pergi gitu aja." Monica menatap Starlo pergi.
Sandra duduk di kursi dengan bermain ponsel untuk menghilangkan rasa jenuhnya.
"Sungguh menyebalkan," gumam Sandra.
Tiba-tiba, Starlo sudah berada di depan pintu. Dia berbisik ke telinga Sandra.
"Ternyata, kau di buang oleh tuanmu."
Sandra kaget dan langsung berdiri. Dia menoleh ke arah Starlo.
"Kenapa kau berada disini? Jauh-jauh dariku." Sandra mengibaskan tangan untuk mengusir Starlo.
"Ini rumahku. Wajar bila aku berada di sini. Lagi pula kau tamu. Tak sepatutnya bersikap seperti itu," jawab Starlo.
Sandra mati kutu tak menjawab Starlo. Dia memang hanya seorang tamu.
"Sudahlah! Aku tak mau berdebat." Sandra duduk kembali dan mulai bermain dengan ponselnya
Starlo ikut duduk di samping Sandra. Dia melirik sesekali ke arah Sandra. Lagi pula Sandra tak mau berurusan dengan Starlo. Dia tak mau tenaganya terkuras habis hanya untuk berdebat tidak jelas.
Starlo tidak menyadari bahwa dia mulai menyukai Sandra. Karena sikap dingin dan cueknya kepada seseorang selain keluarganya. Cinta kadang datang secara tiba-tiba tanpa kita menyadarinya. Kita harus menghargai keberadaan seseorang yang ada di sekitar kita.
Starlo menganggap dunianya hanya ada adiknya. Rasa sayang kepada adiknya sangat besar. Dia tak rela jika sang adik mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan adiknya. Contohnya saja adiknya menyukai Baitu Maheswari yang lebih pantas menjadi pamannya. Bahkan Baitu Maheswari tidak keberatan. Malah dia berencana akan menikahi adiknya.
Starlo kadang berpikir untuk merusak hubungan mereka. Tapi dia urungkan. Karena melihat adiknya bahagia adalah suatu kebahagian juga buat Starlo. Akhirnya, Starlo memutuskan untuk merestui mereka
"Aku akan merestui mereka," ucap Starlo tiba-tiba.
Sandra kaget dan menoleh ke arah Starlo.
"Jadi, kau akan merestui mereka?" ucap Sandra dengan senang.
"Tidak ada salah ya jika aku memberi lampu hijau pada Maheswari. Demi Skylova, aku akan minta maaf atas perlakuan kasar yang selama ini aku lakukan. Termasuk insiden yang ada di rumah sakit waktu itu," ucap Starlo.
Sandra melongo menatap Starlo. Dia cepat sekali berubah pikiran. Tak lama kemudian dia tersenyum.
"Tuan ku pasti akan sangat bahagia mendengarnya. Kau tahu, semenjak kehilangan Nona Skylova. Dia sangat terpuruk. Setiap malam dia pergi ke pantai menatap langit. Dia selalu menyebut nama Nona Skylova. Dulu waktu tuan belum menyadari rasa cintanya kepada Nona Skylova. Dia tak pernah menganggap Nona Skylova ada." Sandra menatap Starlo.
"Sepertinya. Maheswari sangat menyukai adik ku. Aku berharap dia bisa membuatnya bahagia," Sambung Starlo.
"Selama aku bersama tuan. Baru kali ini tuan ku menangis. Tuan menangis karena kehilangan Nona Skylova. Sekarang, dia berusaha untuk membuat Nona Skylova berada disampingnya. Terimakasih sudah memberi restu pada tuanku."
"Aku tidak memberi restu, cuma memberi lampu hijau saja," sanggah Starlo sambil membuang muka.
"Hei, itu sama saja. Kau tak mau mengakui nya. Dasar plin plan," ejek Sandra.
Starlo hanya tersenyum mendengar ejekan Sandra. Kini keduanya sudah akur. Tapi keakuran mereka bertahan lama atau tidak hanya mereka yang tahu. Semoga saja kedua nya muncul benih-benih cinta untuk mengisi hati mereka yang kosong.
--------
Baitu dan Skylova sudah berada di depan salon mewah. Skylova menatap Baitu heran. Dia tak mengerti, kenapa di bawa kemari?
Baitu menggeleng. "Sebelum berangkat, kau harus merubah penampilanmu terlebih dahulu," ucap Baitu.
Skylova harus merubah penampilan. Memangnya, kenapa dengan penampilannya? Bukankah baik-baik saja. Tak ada yang aneh.
"Kau tidak lupakan dengan janjimu tadi malam."
Skylova melongo mengingat janji tadi malam. Apakah janji untuk merubah gaya pakaian nya? Agar terlihat dewasa. Skylova lupa kalau pernah berjanji seperti itu. Batinnya berteriak, dia menyesal.
"Tapi Paman. Sky bilang kan perlahan. Dan nggak harus sekarang juga. Lagian Sky nggak mau di rubah jadi badut. Ayolah paman! Sky dandan begini aja," bujuk Skylova.
"No...Lova, kau harus menepati janjimu."
"Nggak sekarang, Paman."
Baitu tiba-tiba saja keluar mobil. Dia membuka pintu dan menarik paksa Skylova keluar.
"Paman, jangan sekarang. Sky mohon." Skylova memohon dan memasang wajah melas.
Baitu menatap Skylova. Sejenak dia iba dengan tapi segera dia tepis. Ayolah Baitu, Jangan terpengaruh. Kau harus kuat.
"Maafkan aku. Tapi aku harus melakukannya." Baitu menggendong Skylova di pundak seperti karung beras.
"Apa yang Paman lakukan? Turunkan Sky. Sky sangat malu, Paman!" teriak Skylova sambil meront.a
Baitu hanya diam dan berjalan masuk ke dalam salon. Semua orang yang ada di sana menyambutnya.
"Turunin nggak? Ayolah, Paman!Jangan paksa Sky."
"Diamlah, sayang." Baitu memukul bokon* Skylova dengan sedikit keras.
Plak
Skylova kaget dan diam menahan malu. Baitu menurunkannya perlahan. Skylova langsung memeluk Baitu dan menyembunyikan wajahnya.
"Hei, Kau kenapa?" tanya Baitu.
"Paman, Sky mohon kita pergi dari sini. Sky sangat malu. Kenapa paman menampar bokon* Sky?" Skyliva berbisik.
Sungguh manis, batin Baitu.
"Kau kemari! Dandani dia! jangan lama-lama. Aku tak suka menunggu."
"Baik Tuan. Silahkan tunggu di sofa sebelah sana." Sambil menunjukkan sofa.
"Mari, Nona ikut saya."
"Enggak! Sky nggak mau jadi badut. Paman...Sky mohon. Jangan jadiin Sky badut." Skylova memegang tangan Baitu.
Baitu pura-pura tidak mendengar Skylova. Dia melepas tangan Skylova dan berjalan menuju sofa yang telah di tunjuk oleh petugas salon tadi.
Skylova di seret oleh dua orang wanita sambil berteriak-teriak tak jelas.
"Jangan pegang Sky, Sky nggak mau."
"Nona, make up nya tidak tebal. Saya akan buat senatural mungkin. Tolong kerjasama nya,kami tak ingin Tuan Maheswari marah."
Skylova memikirkan perkataan salah satu pegawai salon itu. Dia akhirnya pasrah menerimanya.
Hari sudah malam. Undangan reoni SMA Skylova sekitar pukul tujuh Dan sekarang sudah pukul setengah tujuh
Baitu sangat lelah menunggu. Dia tak sabar ingin melihat perubahan Skylova dan menatap ruangan itu tanpa henti. Tiba-tiba Skylova sudah berada di depan pintu.
Skylova menggunakan dres selutut warna putih lengan pendek. Rambut panjang nya di kepang longgar dan ditaruh diatas bahu kanan. Hiasan rambut menambah keindahan rambut yang sudah tertata sedemikian rupa. Ditambah dengan make up natural yang menambah kecantikan alaminya. Tak lupa sepatu flat putih polos menghiasi kaki jenjangnya.
Baitu melihat penampilan Skylova dari atas sampai bawah. Matanya tak berkedip sedikit pun. Gadis di depan nya seperti malaikat. Sangat cantik dan elegan sesuai dengan keturunan ningrat yang melekat padanya.
Skylova tersenyum manis ke arah Baitu. sampai membuat hati meleleh tak karuan. Detak jantung ya berirama, Darah yang mendidih menjalar ke seluruh tubuh. Bisa di pastikan Baitu Maheswari menyukai gadis yang dianggapnya pengganggu itu.
Pengganggu yang merubah hidup seorang konglomerat yang tak berwarna menjadi berwarna. Pengganggu yang dapat membalik kan hatinya dengan cepat. Pengganggu yang selalu memberikan cinta yang tulus kepada nya.
Skylova, aku tak akan berpikir dua kali lagi. Akanku pastikan, aku akan menikahimu. Meski jarak umur kita sangat jauh. Hal itu tidak akan merubah rasa cintaku padamu. Semoga kau juga merasakan hal yang sama.