
Sandra langsung lari setelah lepas dari Starlo. Dia pergi karena masih ada hal penting menyangkut tuannya. Urusan masalah sang tuan lebih penting dari Starlo. Damian Corner adalah ancaman terbesar Baitu.
Starlo tersenyum melihat Sandra yang lari meninggalkan dirinya. Bagi Starlo, Sandra terlihat imut ketika melihatny seperti itu.
Starlo berjalan masuk vila. Dia ingin bertemu Skylova. Sampai di ruang tamu, dia melihat adiknya berjalan menuruni tangga. Dia langsung menghampiri dengan menaruh kedua tangannya di belakang sambil bernyanyi senang.
"Hai, Adek Abang yang cantik.
Skylova segera turun menuju Starlo.
"Abang aneh, Lagi bucin ya Bang?"
Starlo memeluk Skylova erat dan sedikit menggendongnya ke atas.
"Astaga, Bang. turunin Sky!"
Starlo menurunkannya dan memeluk Skylova lagi.
"Abang kangen sama Adek. Rindu memang berat, Dek."
"Gombal, mana ada rindu? Abang aja nggak hubungin Sky sama sekali." Skylova meronta melepaskan pelukanya dari Starlo.
Skylova berjalan menuju sofa dan duduk dengan wajah cemberut. Starlo menghampirinya dan memeluk dari samping. Kepala Starlo dia sandarkan di bahu Skylova.
"Jangan ngambek, Abang udah putusin nggak akan ke Jepang lagi buat lihat pameran. Demi Adek, abang mau berubah. Oleh-olehnya ada di kamar Adek."
Raut wajah Skylova berubah seketika. Dia tersenyum senang mendengar perkataan Starlo.
"Bener nih..., nanti kepincut lagi. Kan Abang mudah kepincut. Hadiahnya di simpan aja Bang."
"Enggak lah, Dek. Abang nggak akan kepincut lagi. Terserah Adek aja, udah aman di sana."
Baitu menuruni tangga. Dia melihat Starlo yang sedang bermanja ria dengan Skylova. Hatinya memanas, rasa cemburunya bangkit. Walaupun mereka berdua adalah adik kakak. Tapi kedekatan mereka bagaikan pasangan kekasih.
Baitu langsung mendekati keduanya. Dan memasang wajah dingin kepada kakak beradik itu. Starlo hanya cuek saja. Sedangkan Skylova menatap Baitu penuh keheranan.
Keheningan terjadi diantara ketiganya. Starlo masih bergelayut manja pada Skylova. Dan Skylova menatap Baitu yang sedang cemburu padanya.
"Dasar tidak peka," gumam Baitu lirih.
"Kau iri kan?" ejek Starlo.
Skylova sadar kalau Baitu cemburu. Dia langsung menghampiri Baitu dan duduk di sampingnya.
"Nanti tambah tua, sayang," goda Skylova.
Amarah Baitu menghilang ketika Skylova menyebutnya dengan kata sayang. Dia menatap Skylova dengan tersenyum.
"Kau jangan dekat dengannya. Kau itu milikku," ucap Baitu penuh penekanan.
Starlo mendengus kesal. Dia menatap tajam Baitu. Mereka belum menikah, jadi Skylova masih milik Starlo.
"Hei, kau belum menikah dengannya. Jangan mengklaim adikku sebagai milikmu."
"Tapi dia sudah menjadi kekasihku."
Skylova sangat jengkel mendengar pertengkaran mereka. Dia kemudian berdiri untuk menjauh dari mereka.
"Mau kemana?" teriak mereka bersamaan.
Skylova berjingkat kaget. Dia kemudian berbalik arah.
"Dari pada Sky melihat kalian bertengkar seperti kucing dan tikus. Mending Sky pergi ajah," ucap Skylova langsung pergi.
"Kembali!" teriak keduanya lagi.
Skylova berbalik arah lagi. Dia menjulurkan lidahnya ke arah Baitu dan Starlo. Kemudian langsung lari.
"Dia pasti menuju vila," ucap Starlo sambil berdiri.
"Duduklah! Aku ingin bertanya padamu."
Starlo terpaksa duduk kembali. Dia penasaran ingin mendengar pertanyaan Baitu.
"Kau yakin, tadi malam ada mobil di depan vilamu."
Starlo mengangguk. Dia malas menjawab pertanyaan yang tak berbobot seperti ini.
"Jika pertanyaanmu hanya seperti itu saja, lebih baik aku pergi."
Baitu mengacak rambutnya frustasi. Starlo tak bisa di ajak kompromi. Dia lebih suka langsung ke inti.
"Kau kenal dengan Damian Corner."
Starlo melotot kaget. Darimana Baitu bisa kenal dengan Damian? Apa Damian juga mengenalnya? Pertanyaan-pertanyaan melintas begitu saja di otak Starlo.
"Mobil yang tadi malam adalah milik Damian."
Jeder
"Jangan bilang karena Skylova," gumam Starlo lirih yang terdengar oleh Baitu.
"Tebakanmu benar Arlo. Dia ke sana karena Lova. Aku sudah bertanya pada Lova. Lova bilang, kalau dia mengenal Damian."
Starlo tahu, kalau Damian orang yang sangat berbahaya. Walaupun mereka melakukan transaksi jual beli, Starlo selalu bersikap hati-hati kepada Damian.
Sementar itu, Skylova berjalan menuju Vila Mahendra. Saat menyebrang jalan, dia di hadang oleh mobil hitam. Skylova langsung berhenti seketika.
Damian keluar dari mobilnya. Dia menghampiri Skylova. Skylova melotot melihat Damian berada di depannya. Dia ingin lari, tapi kakinya tak bisa di gerakkan. Skylova ingin teriak keras, namun suaranya tak bisa keluar.
"Kita bertemu lagi Lova." sapa Damian.
Skylova hanya diam. Dia menunduk takut.
Damian menghampiri Skylova dan menyentuh dagunya. Dia mengangkat dagu Skylova. Skylova langsung memejamkan matanya.
"Kau takut padaku."
Skylova bingung harus menjawab apa? Dia akhirnya memilih diam.
Damian memeluk erat Skylova. Dia sangat rindu dengan gadis ini. Sedangkan Skylova tak bisa berkutik. Tubuhnya sangat kaku.
"Maafkan aku,"ucap Damian sambil menyuntikkan jarum keleher Skylova.
Skylova langsung pingsan. Dia kemudian membawa tubuh Skylova masuk ke dalam mobil.
"Kita langsung ke Paris."
Haiden mengangguk, dia langsung melajukan mobilnya dengan cepat.
Sandra melihat Damian membawa Skylova pergi. Dia langsung lari menuju tuannya.
"Tuan!" teriak Sandra menggema di seluruh ruangan.
Baitu dan Starlo menoleh ke arah Sandra. Sandra lari dengan tergesa-gesa.
"Nona Skylova di bawa oleh Tuan Corner."
Deg
Jantung keduanya berhenti seketika. Baitu mengepalkan tangannya kuat. Sedangkan Starlo langsung berlari keluar vila.
"Kenapa kau tidak mengejarnya? Malah kesini!" teriak Baitu tanda amarahnya memuncak.
"Maafkan saya tuan. Tapi saya sudah menghafal nomor platnya," Ucap Sandra sambil menunduk.
Kalau Sandra mengejar Damian, pasti dia tak bisa menyusulnya. Karena dia tahu, Haiden adalah mantan pembalap.
"Kerahkan semua orang untuk mencarinya." teriak Baitu penuh frustasi.
Baitu sangat takut kehilangan Skylova. Dia tak mau kejadian itu berulang untuk kedua kalinya. Kehilangan Skylova sama saja kehilangan jiwanya.
Starlo langsung menuju Vila Mahendra. Dia mengemasi semua barang-barangnya. Dia berencana untuk pergi mencari Skylova ke Belanda dan juga Paris. Starlo yakin, Damian membawa Skylova ke salah satu negara itu.
Damian menatap wajah cantik Skylova yang masih tertidur karena di bius. Dia mengelus surai hitam milik Skylova.
"Aku tak akan mengembalikanmu. Kau milikku Lova," ucap Damian sambil mencium kening Skylova.
Haiden berdiri di balik pintu. Dia mendengar perkataan tuannya. Yang di takutkan Haiden terjadi juga, sang tuan menaruh hati kepada Nona Skylova.
Haiden kemudian pergi dari tempat itu. Dia menuju ruangan tersembunyi di bagian pesawat Damian.
Haiden menatap Tommy yang sedang tertidur. Dia kemudian menghampirinya.
"Bangun Tom."
Tommy membuka matanya perlahan. Dia menatap Haiden penuh kebencian. Haiden menghela napas panjang. Tatapan Tommy mengingatkan pada seseorang.
"Berhenti menatapku seperti itu, kita akan ke Paris. Tuan Damian membawa Nona Skylova untuk ikut dengannya."
Tommy langsung bangkit, dia kaget mendengar perkataan Haiden.
"Dia bertindak secepat itu. Kau jangan bohong padaku, " teriak Tommy.
Haiden meninggalkan Tommy yang sedang berteriak memanggil namanya. Namun Haiden hanaya acuh saja.
Kediaman Vila Maheswari
Kondisi Baitu sangat memperhatikan. Kehilangan Skylova adalah pukulan berat baginya. Semua anak buah sudah di kerahkan untuk mencari Skylova. Tapi nihil hasilnya. Skylova hilang bagai di telan bumi.
Sandra mencari Skylova sampai ke berbagai negara. Semua pengawal dia sebar ke beberapa negara. Termasuk Belanda dan Jerman.
Vino yang mendengar kabar bahwa gadis itu menghilang, dia langsung bergegas menuju ke Vila Maheswari. Dia khawatir dengan keadaan Baitu. Dugaan Vino benar, Baitu seperti mayat hidup. Baru dua hari Skylova menghilang, dia sudah frustasi berat.
"Apa kau tak akan bangkit? Kau mau seperti ini terus. Ayolah Bai, ini bukan dirimu," ucap Vino sambil menghampiri Baitu.
Pandangan Baitu kosong memegang foto Skylova. Cinta Baitu kepada Skylova begitu besar. Otaknya tak mampu menahan rasa kehilangan.