
Kediaman Tommy Kyle
Tommy sangat cemas. Dia ingin mendengar kabar kecelakaan Baitu Maheswari. Namun, tiba-tiba Liza datang dengan tergopoh-gopoh.
"Ada apa? Kenapa kau terlihat cemas?" tanya Tommy.
"Dengar, kau harus membantuku lagi." Liza menggigit jari dan mengeluarkan keringat dingin."
"Katakan."
"Aku menabraknya."
"Kau menabrak siapa?" Tommy menggoyangkan bahu Liza.
"Aku menabraknya. Ya... aku menabraknya."
"Jangan bilang kau menabrak Skylova," tanya Tommy penasaran.
"Benar sekali, Tom. Liza memandang kosong ke arah Tommy.
"Apa kau sudah gila? Kenapa kau menabrak nya? hah...." Tommy mengacak rambut frustasi.
"Dia tak cedera sedikit pun. Aku tak punya pilihan lain selain menabraknya."
"Jika dia mati bagaimana? Kau jadi pembunuh, Liza."
"Tidak! Aku bukan pembunuh. Dia pasti selamat. Dia tak mungkin mati."
Tiba-tiba, Raymon datang menyela pembicaraan mereka.
"Siapa yang kau bunuh? dan siapa yang mati?" tanya Raymon.
Kedua orang itu menoleh seketika. Tommy menatap sendu Raymon.
"Katakan, Kak. Jangan bilang Skylova." Raymon terduduk lemas tidak berdaya.
"Berita ini belum pasti. Tenanglah, Ray." Tommy menghampiri Raymon.
"Jika terjadi sesuatu dengan Sky. Aku tak akan memaafkanmu kak."
"Dengar, aku tak ada niatan untuk melukainya, Ray. Dia tak apa-apa."
"Lalu siapa yang melakukan nya? Jangan bilang kau." Raymon menatap Liza tajam.
"Dia tak luka sedikit pun. Aku tak terima. Jadi aku menabraknya." Liza menundukkan kepala takut.
Raymon langsung berdiri seketika. Dia menghampiri Liza dan menamparnya.
Plak
Plak
"Kalau sampai dia kenapa-napa, kau akan ku bunuh. Dasar ******!"
Liza memegangi kedua pipi yang memerah dan menangis tersedu-sedu.
"Aku tak mau di penjara. Tolong aku, Tom."
"Dengar, Kakakku tak sudi menolongmu. Lebih baik, ENYAH DARI HADAPANKU," Teriak Raymon.
"Tom, kumohon. Setelah ini, pasti Baitu akan menangkapku. Kirim aku ke Jerman." Liza menghampiri Tommy dan bersujud di kaki nya.
"Maaf, Liza. Aku tak bisa. Perbuatanmu itu harus kau tanggung sendiri akhibatnya. Aku sudah bilang padamu. Aku tak ada niatan untuk melukainya," jelas Tommy sambil membuang muka.
Raymon berdiri karena harus pergi ke rumah sakit. Dia membuka ponsel dan melacak keberadaan Skylova.
"Ingat ******! Kalau sampai terjadi sesuatu padanya. Aku tak akan pernah memaafkan mu." Ancam Raymon sambil melenggang pergi.
Kini, hanya tinggal mereka berdua. Liza menangis meratapi nasib selanjutnya. Sedangkan Tommy, tidak berhenti menyalahkan perbuatan terkutuk itu. Andai saja dia tidak merencanakan kecelakaan kecil itu, mungkin Skylova masih bisa berdiri dengan tubuh yang segar.
--------
Julio dan Starlo berjalan tergesa-gesa menuju rumah sakit tempat Skylova di rawat. Mereka sangat cemas. Mendengar berita itu, Julio sempat tidak bisa berdiri. Dari kejahuan, mereka melihat Baitu yang sedang berdiri di depan ruang operasi. Penampilan Baitu sangat tidak layak. Baju bersimbah darah. Rambut acak-acak kan dan juga muka yang pucat.
Starlo langsung lari dan menghampiri Baitu.
Bug
Bug
"Brengse*, kalau adek gua sampai kenapa-napa. Lu orang pertama yang gua pukulin sampai mati." Starlo memukul wajah Baitu berkali-kali. Demi Skylova ketakutannya kepada Maheswari menghilang.
Sandra melihat itu dari kejahuan langsung lari melerai keduanya.
"Hentikan, Tuan Starlo. Tuan sepenuhnya tidak bersalah."
Baitu mengangkat tangan. Sandra paham maksudnya. Dia tidak di perbolehkan untuk ikut campur.
"Diam lu! Jangan ikut campur!" teriak Starlo pada Sandra.
"Dengar, sampai kapanpun gua nggak akan maafin lu." Ancam Starlo sambil memegang kerak baju Baitu.
Baitu hanya diam. Dia memang salah karena membuat Skylova kecelakaan.
Julio datang melerai mereka.
"Tapi Ayah, dia yang buat adek kecelakaan. Kalau sampai adek kenapa-napa gimana?" jawab Starlo lemas.
Julio menghampiri Baitu.
"Tuan Maheswari. Lebih baik anda pulang," usir Julio pada Baitu dengan halus.
"Tidak, Tuan Mahendra. Saya akan menunggunya. Ijinkan saya di sini. Saya mohon." Baitu menatap sendu Julio agar mengabulkan keinginannya.
Tiba-tiba para perawat berlarian keluar ruang operasi. Semua orang yang ada di sana bingung. Dokter kelur dengan raut wajah yang tidak bisa di baca. Julio menatap dokter tersebut.
"Siapa keluarga pasien?"
"Saya Ayahnya, bagaimana kondisi anak saya?"
Dokter itu menggeleng.
"Saya sudah berusaha. Sebentar lagi dokter Stevano akan datang. Saya sudah meminta perawat untuk memanggilnya."
Tidak lama kemudian, dokter yang di sebut itu datang dengan tergesa-gesa.
"Dokter, kita lanjutkan operasinya," ajak Dokter Stevano.
Kedua dokter itu masuk kedalam operasi. Satu Jam berlalu. Dokter Stevano keluar dengan wajah tidak bisa di baca. Semua orang yang ada di sana menunggu dengan cemas.
Dokter Stevano menghampiri Julio.
"Maaf, anda harus tabah. Kami sudah berusaha sekuat tenaga. Tapi pendarahan terus mengalir tak henti. Putri anda tidak selamat," ucap Dokter Stevano.
Deg
Julio menangis tanpa mengeluarkan air mata. Starlo duduk lemas tidak bertenaga. Baitu menatap kosong ke pintu operasi. Sandra terus mengusap air mata yang sedari tadi dia tahan. Tiba-tiba ,dari jauh ada orang yang berteriak.
"Tidak! Kalian semua pasti bohong!" teriak Raymon sambil menghampiri pintu operasi.
"Tenanglah, ini adalah kenyataan," ucap dokter Stevano sambil menghampiri Raymon.
"Ku mohon selamatkan dia. Sky tak mungkin meninggalkanku." Raymon bersujud di depan Dokter Stevano.
"Kami sudah berusaha. Tolong keluarga pasien mengurus jenazahnya."
Starlo berdiri dan berusaha tegar menghadapi kenyataan ini. Padahal baru tadi siang dia bercanda dengan Skylova. Kenapa begitu cepat kepergian adiknya?
Starlo sangat menyayangi Skylova. Kini, kehidupan runtuh tidak tersisa karena dunianya menghilang. Dia berusaha untuk tetap tegar. Tapi pada kenyataannya tidak bisa. Jiwanya perlahan menghilang separuh.
Starlo menatap tajam Baitu yang tertuduk lesu. Semua karena Maheswari. Akar dari pokok masalahnya adalah dia. Tangan Starlo mengepal kuat. Raut wajah yang tak bisa di baca. Timbul niat menghajar habis-habisan orang itu. Melihat raut murka Starlo, Julio memilih masuk ke dalam ruangan itu. Dia tidak mau emosi Starlo menjadi-jadi ketikan melihat kondisi Skylova.
"Biar Ayah saja, Arlo. Tunggulah di luar."
Baitu berdiri dengan tatapan kosong.
"Ijinkan saya melihatnya, Tuan Mahendra."
"Jangan harap! Pergi dari sini! Gua akan urus lu nanti," ucap Starlo sambil mendorong tubuh Baitu.
"Saya mohon, saya mohon. Untuk terakhir kalinya."
Julio hanya diam. Dia hanya mendengarkan permohonan Baitu dan langsung masuk ke ruang operasi.
Tidak lama kemudian, Julio keluar bersama perawat dan jenazah Skylova yang tertutup kain putih.
Baitu langsung menghampiri tubuh Skylova yang sudah tidak bernyawa. Tapi di cegah oleh Starlo.
"Tolong, ijinkan saya melihatnya untuk terakhir kalinya." Baitu meronta-ronta.
"Gua nggak akan biarin lu deketin adek gua. Lu liat adek gua. Semua gara-gara lu. Seharusnya,adek gua masih bersama gua dan ayah. Tapi sekarang apa? dengar Maheswari gua nggak akan maafin lu." Ancam Starlo
Sandra hanya bisa melihat dari jauh.
Nona... saya tak percaya anda pergi begitu saja. Anda orang yang kuat, Nona.
"Arlo, lepaskan Tuan Maheswari. Biarkan dia melihat Lova untuk terakhir kalinya."
"Tapi Ayah."
"Arlo... ini perintah!"
Dengan berat hati, Starlo melepasnya begitu saja. Baitu yang mendapat lampu hijau langsung menuju ke ranjang dan membuka kain penutup untuk melihat wajah Skylova
Baitu membeku. Dia terus menatap wajah pucat Skylova. Dirinya tidak kuasa menahan segala kesedihan. Akhirnya, tubuhnya merosot tidak berdaya.
Raymon juga ikut serta memastikan semua. Dia tidak percaya Skylova pergi meninggalkan dirinya.
Raymon menghampiri tubuh Skylova. Dia terkejut tidak bisa berkata apa-apa. Dia mengepalkan tangannya kuat-kuat untuk emosi. Karena tidak kuasa tetesan air mata keluar begitu saja.
"Sky, Jangan seperti ini. Kau harus bangun Jika kau bangun. Akanku pastikan dia mencelakaimu membayar semuanya," ucap Raymon penuh kesediahan.
"Saya akan mengurus jenazahnya. Saya harap kalian menyingkir. Ayo Arlo!" ucap Julio.
Dengan berat hati, Raymon mengikuti perintah Julio. Dia melihat Skylova di bawa menjauh dari ruang operasi. Sedangkan Baitu menatap kepergian Skylova dengan tatapan kosong.
Maafkan saya, Tuan Maheswari. Ini yang terbaik." Julio menoleh ke arah Baitu dan menatapnya sendu.