
Baitu sedang meetting bersama para karyawan dengan raut wajah yang tidak bisa di baca. Semua karyawan hanya menunduk.
"Kenapa desain rumahnya jadi seperti ini?Apa kalian tak becus kerja?"
Tidak ada yang berani menjawab. Semua ketakutan melihat amarah Baitu.
"Kerjakan ulang!" teriak Baitu sambil melempar berkas tersebut.
Tiba-tiba, ponselnya berbunyi. Dia tersenyum melihat isi pesan tersebut. Semua karyawan yang berada di tempat itu keheranan.
Brama langsung mendekati Baitu.
"Tuan, semua orang melihat anda," bisik Brama.
Baitu langsung merubah ekspresi wajahnya.
"Kalian semua keluar dari ruangan ini!" teriak Baitu.
Sontak semua karyawan yang berada di ruangan itu menuju ke arah pintu keluar.
"Brama kemarilah! Aku akan menunjukkan sesuatu." Baitu menyodorkan ponsel ke arah Brama.
Brama langsung melihat ponsel itu dan membelalakkan matanya.
"Tuan, misi selesai. Nona sangat bahagia. Dia tak henti-hentinya tersenyum. Sebentar lagi nona pasti akan menghubungi anda."
Astaga... hanya sebuah pesan dari Sandra membuat tuan tersenyum
Kring
Kring
"Ini pasti dia. Lihat, benarkan Brama!"
Brama hanya mengangguk. Baitu sangat aneh karena tidak pernah bersikap seperti ini. Seperti di mabuk cinta dengan Skylova. Padahal, jarak umur mereka sangat jauh.
"Halo paman tampan."
"Ehem... ada apa?" tanya Baitu sambil tersenyum.
"Paman... Terimakasih. Sky suka hadiahnya. Paman tampan memang yang terbaik. Sky jadi tak bisa berpaling dari paman tampan."
Baitu tersenyum mendengar perkataan Skylova.
"Dengar, Itu tidak gratis. Kau harus membayar nya," ucap Baitu.
"Sky tak punya uang, Paman. bagaimana Sky membayarnya?Sky kembalikan saja barang nya."
Baitu menutup mulut karena salah bicara. Kenapa mulut ini tidak bisa di kontrol?
"Aku sibuk. Kita bahas nanti."
Tut
Tut
Baitu mengacak rambutnya frustasi. Sebenarnya, dia tidak ingin bicara seperti itu.
"Hais...kKau bodoh, Baitu," gumam Baitu
Brama hanya menggelengkan kepala. Dia tidak menyangka kehadiran Skylova membawa perubahan besar pada Baitu.
Sementara itu di Vila Maheswari, Skylova menatap ponsel dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Apa aku salah bicara ya? Kenapa di tutup?" gumam Skylova.
"Mungkin tuan sibuk, Nona," Jawab Sandra asal.
"Ah... jangan bahas itu lagi. Sekarang kita main game. Sandra, ayo main game denganku!" ajak Skylova.
"Tapi Nona. Nanti kalau tuan tahu, tuan bisa marah."
"Hei, Jangan kaku gitu. Lagi pula, kau di sini bersamaku. Ini waktunya bersantai. Paman tampan tak akan tahu. Hidup itu jangan terlalu lurus, Sandra." Skylova menyalakan komputer dan mencari permainan yang bagus.
Apa yang di katakan Nona benar juga? Sekali-kali aku harus merefreskan otak sejenak. Lagi pula, aku jarang bersantai. Ini kesempatan ku untuk menikmati hidup ku dengan santai. Nona benar-benar membuat semua orang yang ada di sekitar nya bahagia.
Sandra tersenyum dengan tingkah Skylova. Dia jarang sekali menunjukkan senyumnya.
"Wah! ... kau cantik bila tersenyum. Ayo kita mulai!" ajak Skylova
Sandra hanya diam karena malu di puji seperti itu.
Mereka tidak henti-hentinya tertawa. Skylova benar-benar membawa warna dalam hidup Sandra. Tidak ada perbedaan antara pengawal dan majikan. Status mereka sama.
"Sky sangat senang bisa bermain denganmu, Sandra. Ingat! Kau tak boleh melupakannya. Kita akan bermain game lagi nanti."
"Pasti Nona. Saya juga merasa sangat puas. Walaupun kalah. Anda sangat hebat."
"Sky tak sehebat itu kok. Astaga... sudah waktunya jam makan siang. Sky ada janji sama Bang Arlo nih...." Skylova meraih ponsel dan jaket.
"Nona mau keluar? Biar saya antar," tawar Sandra.
"Benarkah! Apa tidak merepotkan mu? Sky bisa berangkat sendiri, San."
"Ini sudah menjadi tugas saya, Nona."
"Yaudah lah. Ngirit ongkos. Ayo berangkat!"
Mereka berangkat menggunakan salah satu mobil milik Baitu.
Starlo sudah menunggu di kafe. Semua kaum hawa menatapnya. Baju santai yang dia kenakan menambah aura ketampanan. Padahal hanya memakai kaos oblong putih, celana bawah lutut dan sandal jepit
Penampilan sederhana itu mampu membuat kaum hawa meleleh. Memang kesan nya sederhana. Tapi baju yang dia pakai tentu nya berharga fantasi.
Dari kejauhan, Starlo melihat Skylova dengan seseorang. Dia mengernyitkan dahinya. Skylova berlari menuju ke arah Starlo.
"Abang udah lama?" Tanya Skylova sambil duduk.
"Belum, Dek."
Starlo hanya tersenyum karena lupa pesan makanan.
"Jangan bilang Abang lupa. Dari tadi duduk cuma buat pajangan hidup aja dong...."
" Abang keasikan nungguin kamu, d
Dek. lagian pelayannya juga salah. Abang tak di hampiri. Kan abang juga pelanggan." Starlo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kebiasaan, Sandra... Sini!" Skylova melambaikan tangan kearah Sandra.
Starlo hanya diam. Dia tidak mau melihat Sandra karena tidak mengenalnya
Sandra hanya menurut. Dia duduk di samping Skylova. Mata Sandra melotot melihat Starlo. Jadi ini, kakak Skylova yang sangat tampan. Mereka juga terlihat mirip dan pantas menjadi sepasang kekasih.
"Pelayan," teriak Skylova sambil mengangkat tangan.
"Pesan ini sama ini, dobel 3 ya... cepetan! jangan lama-lama," ucap Skylova.
Pelayan itu hanya mengangguk. Sekilas dia melirik Starlo sampai terbengong.
"Mbak, kok malah berdiri kaya patung sih... cepetan dong!"
"Maaf, saya cuma kagum aja sama masnya," jawab pelayan jujur.
Starlo menoleh ke arah pelayan tersebut. Pelayan itu jadi salah tingkah sehingga langsung pergi mengambil pesanan.
"Sumpah, pesona Abang luar biasa." Skylov mengacungkan jempol jempol ke arah Starlo.
Starlo hanya diam dan berdiri menggeser tempat duduk di samping Skylova. Tiba-tiba, Starlo mencubit gemas hidung sang adik.
"Sakit, Bang... lepasin nggak?"
"Gemes lihatnya, Dek," Starlo melepas cubitan di pipi Skylova.
Sandra terbengong melihat interaksi kedua nya. Mereka lebih mirip sepasang kekasih. Bukan sebagai saudara kandung. Semua orang yang ada di dalam kafe itu menatap iri.
Tidak lama kemudian, makanan mereka datang. Skylova sangat senang karena dia sangat lapar. Sandra tersenyum canggung. sebab baru kali ini makan bersama dengan seseorang.
"Kenapa diam, San?" tanya Skylova.
"Saya tak bisa makan ini." Sandra menundukkan kepala.
"Tak suka, atau jangan-jangan alergi."
"Bukan seperti itu, Nona. Saya merasa tak pantas saja."
"Astaga... hei, Sandra! Kau teman Sky. Bukan maid. Mengerti!"
Starlo melihat interaksi keduanya. Gadis yang bernama Sandra ini pasti pengawal kepercayaan Baitu. Mengingat tingkah yang kaku persis seperti hidup orang itu.
Sandra makan dengan tenang. Dia tidak menyangka, statusnya di depan Skylova adalah teman. Baru kali ini, mendapat perlakuan seperti itu
"Dek.. suapi Abang dong...."
"Malu, Bang. Lagian udah gedhe. Masak minta di suapi."
"Ayo dong Dek...." Starlo bergelayut manja di tangan sang adik tercinta.
"Iya, sini!"
Mereka berdua berhadapan. Skylova menyuapi kakaknya. Sandra melongo di buatnya.
Setelah menghabiskan makanan, mereka berbincang-bincang.
"Dek, pulang ya...! titah Starlo.
"Sky belum bisa, Bang."
"Abang akan bujuk ayah. Tenang saja. Abang akan bantu Adek."
"Bang... mungkin Sky butuh waktu untuk berpikir. Sky sejujurnya nggak mau balik ke Solo dan sekolah adat di sana," ujar Skylova
"Iya, Abang tahu." Starlo memeluk erat Skylova.
"Malu, Bang. Orang-orang pada lihat kita, Iya kan San?"
Haduh... kenapa Nona bawa-bawa aku sih. Aku di sini pura-pura tak lihat, Nona.
Sandra hanya tersenyum canggung.
"Ya udah Bang. Nanti Sky hubungin lagi kalau mau ketemu. Abang kalau kangen langsung aja ke Vila Maheswari."
"Abang nggak mau, Dek. Belum siap ketemu Tuan Maheswari."
"Gara-gara kejadian itu ya..., maka nya kalau ngomong disaring, Bang."
"Abang nggak tahu kalau ponselnya di kerasin suaranya."
"Ah... Sky jadi pengen ketemu paman tampan."
"Dek.. Abang masih kangen nih...!" Starlo merajuk agar Skylova tidak pergi.
"Astaga Bang... kan udah ketemu. Lagian udah jam dua tuh... dua jam kita bersama. Abang nggak bosen?"
"Enggak tuh..., malah kurang," ucap Starlo.
"Udah ah.. Jangan lupa bayar. Ayo San kita ke kantor paman tampan."
Skylova pun berdiri, begitu juga Sandra. Namun tangan Skylova di pegang oleh Starlo.
"Jaga diri baik-baik ya...."
"Bang, Sky nggak akan pergi jauh kok. Kalau pun pergi pasti tetap di hati Abang." Skylova tersenyum manis ke arah Starlo.
Starlo merasa khawatir dengan Skylova. Dia ingin mencegah adiknya pergi. Melihat senyum manis, Starlo mengurungkan niatnya.
"Kenapa perasaanku tak enak gini?" gumam Starlo sambil melihat Skylova pergi.