
Baitu sudah berada di kediaman Mahendra. Monica yang berada di rumah kaget melihat kedatangan Skylova bersama Tuan Maheswari.
Julio mendengar kabar bahwa Tuan Maheswari berkunjung di rumahnya. Dia bergegas pulang.
Starlo hanya menatap tajam kepada Baitu. Dia tak akan membiarkan pria itu berdekatan dengan Skylova.
Situasi macam apa ini? Tuhan bawa aku lari dari sini....! pikiran Sandra berteriak keras.
"Kenapa semuanya hanya diam saja?" tanya Skylova sambil menatap semua orang.
"Kenapa Adek mengajaknya kerumah kita?" tanya Starlo.
"Paman mau minta restu buat nikahin Sky"
Krik
Krik
Semua orang yang ada di sana melongo. Baitu hanya tersenyum manis mendengar perkataan Skylova. Sejujurnya, dia datang untuk menanyakan perihal Skylova. Walaupun Sandra sudah memberitahu kebenarannya. Tapi dia bersikeras untuk mendengar dari Julio.
"Abang nggak setuju, Dek," ucap Starlo.
"Kenapa Bang? Sky menyukai Paman tampan. Lagian, Paman nggak keberatan." Skylova menoleh ke arah Baitu.
"Lova, kamu pasti yang ambil keputusan sepihak. Tuan Maheswari tidak akan berkata seperti itu," ujar Julio.
"Saya tidak akan keberatan untuk menikahi nya."
Semua orang melongo mendengar perkataan Baitu Maheswari. Menikah dengan Skylova yang umurnya berjarak dua puluh tahun. Cinta tak memandang Usia.
Starlo mengepalkan tangan dan menahan emosi. Baitu terlalu tua jika bersanding dengan Skylova. Batinnya berteriak keras.
"Tidak! Aku tak akan merestui kalian," teriak Starlo.
"ADIMAS STARLO MAHENDRA," teriak Julio. "Jaga sikapmu."
Starlo kaget karena Julio memanggil nama lengkapnya. Pasti, Julio sangat marah.
Starlo langsung diam menutup mulutnya rapat. Monica menghela nafas kasar karena melihat Julio terlalu berlebihan.
"Sudahlah, Sayang. Jangan membentak Starlo. Ada Tuan Maheswari. Tak baik," bujuk Monica.
"Kita harus menuntaskan ini, Sayang. Aku tak mau Starlo bertindak di luar kendalinya."
"Maafkan kejadian tadi, Tuan Maheswari. Saya harap anda tak memasukkannya dalam hati."
Baitu hanya tersenyum karena tidak tertarik untuk berdebat. Lagi pula dirinya sedang berbahagia.
"Ehem... anda bisa menjelaskan. Kenapa anda bisa merahasiakan ini dari saya?"
"Ini demi kebaikan Skylova karena dia butuh perlindungan. Saya tidak mau dia terlibat begitu jauh kalau berada di sekitar anda, Tuan Maheswari." ucap Julio dengan jujur.
Skylova bingung dan menatap satu persatu orang yang ada di sana. Dia sangat yakin kalau yang mereka bicarakan adalah kecelakaan empat bulan lalu.
"Sky bingung nih! Kalian pada ngomongin kecelakaan itu kan..." tanya Skylova. "Apa Sky sebenarnya udah kenal sama Paman tampan."
"Iya, kau sudah pernah bertemu dengan Tuan Maheswari, Lova. jawab Julio singkat.
"Yes, berarti bisa langsung nikah dong..., ingatan bisa di gali. Lagi pula walaupun Sky hilang ingatan. Cinta Skylova tetap pada Paman tampan." Mata Sky berbinar-binar menunjukkan kebahagian.
"Lova, jaga sikap mu!" ucap Julio. "Maaf tuan Maheswari, Skylova sangat ceplas ceplos."
"Tidak apa-apa. Saya menyukainya," jawab Baitu dengan jujur.
Baitu tak akan menyembunyikan perasaan nya. Dia bertekad akan menikahi Skylova agar tidak kehilangan untuk kedua kalinya.
"Apa anda benar-benar menyukai Skylova?" tanya Monica.
"Tentu. Skylova sangat berharga untuk saya," jawab Baitu mantap.
Julio dan Monica saling menoleh. Mereka mengangguk. Sedangkan Starlo hanya diam. Dia masih menaruh dendam dengan Baitu.
"Tuan Maheswari, apabila anda serius dengan Skylova. Ada beberapa syarat yang harus anda penuhi."
Baitu berpikir keras mengenai syarat yang di ajukan Julio. Demi Skylova, dia akan berusaha memenuhinya.
"Syarat pertama, anda punya waktu dua bulan untuk membuat ingatan Skylova kembali. Jika dalam waktu 2 bulan ingatan putri saya tak kembali, pernikahan tidak akan terjadi. Syarat kedua, anda harus meninggalkan bisnis ilegal anda. Saya tak mau putri saya celaka lagi," Jelas Julio.
Sandra kaget mendengar hal itu. Meninggalkan bisnis ilegal. Berarti menyerahkan pasar gelap kepada orang lain. Padahal Baitu sudah lama merintisnya. Pilihan itu terlalu sulit.
"Ayah... Walaupun ingatan Sky tak kembali. Sky akan tetap menikah dengan Paman tampan." Skylova memegang tangan Baitu.
"Saya akan melakukannya," jawab Baitu mantap.
Sandra menatap Baitu yang lebih memilih Skylova. Dia tidak menyangka, persyaratan sebesar itu langsung di sanggupi oleh Baitu.
"Bagus... ada satu lagi yang harus saya beritahu. Saya tak bisa menutupi lagi. Kami adalah keluarga bangsawan. Kami keturunan ningrat," ucap Julio.
Baitu dan Sandra melotot kaget. Keluarga Mahendra keturunan ningrat. Pantas saja tak ada informasi mengenai keluarga karena menutup identitasnya.
"Saya akan memperkenalkan keluarga saya kepada Tuan Maheswari. Nama saya Adicokro Julio Mahendra Diningrat. Istri saya Monica Balwin dan sekarang menjadi Monica Mahendra Diningrat. Dan putra saya Adimas Starlo Mahendra Diningrat . Yang terakhir putri saya, Ajeng Skylova Mahendra Diningrat."
"Monica Balwin," gumam Baitu lirih.
"Apakah benar anda Monica Balwin?" tanya Baitu pada Monica untuk memastikannya lagi.
"Benar, Tuan Maheswari. Saya Monica Balwin," jawab Monica.
Ini sungguh di luar dugaan. Baitu pernah mendengar nama Monica Balwin adalah orang yang terkenal jenius di Jerman. Walaupun wajahnya tak terekspos oleh media. Tapi namanya menyebar luas di Jerman.
Pantas saja Skylova juga jenius. Ternyata, kepintaran itu menurun pada ibunya. Baitu melirik Starlo. Lalu apa yang di miliki Starlo? Apa dia juga jenius seperti Skylova?
Starlo merasa dirinya ditatap. Tentu dia menatap sang penatap. Dia mengangkat alis nya tanda berpikir.
Sepertinya Maheswari membandingkan kepintaranku dengan adek.
"Karena pembicaraan sudah selesai. Lebih baik kalian istirahat. Saya harus kembali ke kantor." Ucap Julio. "Dan kau, Sayang. Jamu tamu kita." Julio menatap Monica dan pergi.
"Mari, Tuan Maheswari. Saya antar ke kamar tamu." ajak Monica.
"No, Ma. Paman tampan tetap di sini. Mama masak sana! Skylova mengusir Monica dengan terang-terangan.
Astaga, anak ini benar-benar tak bisa menjaga gelar bangsawannya. Monica hanya menggelengkan kepala
"Maafkan kelakuan putri saya. Kalau begitu saya permisi."
Sekarang tinggal mereka berempat. Baitu, Skylova, Starlo dan Sandra.
Starlo menatap tajam Baitu. Tak ada rasa takut sejak kejadian enam bulan lalu.
"Bang... Kalau Abang tatap terus Paman tampan. Rahasia abang Sky sebarin," ancam Skylova.
"Dek, Nggak ada hubungannya dengan itu."
"Ada lah, Kan abang nggak restuin Sky sama Paman tampan. Satu lagi rahasia Abang, tentang perusahaan itu. Kalau Ayah tahu, pasti Abang di kirim ke Arab." Skylova mengangkat alis dan menatap tajam Starlo.
"Oke, Adek menang," ucap pasrah Starlo. "Dan kau ikut dengan ku." Starlo menunjuk Sandra.
Sandra tak mau mengikuti perintah Starlo. Lagi pula, dia bukan tuannya. Namun, Baitu memberi isyarat untuk mengiyakan ajakan pria yang tak lain adalah kakak Skylova.
"Ayo ikut!" perintah Starlo.
Dengan langkah gontai, Sandra mengikuti Starlo. Mereka duduk di gazebo taman depan.
"Pasti semua karena ulahmu." Starlo menatap Sandra tajam.
"Kau menuduhku tanpa alasan. Lagi pula, mereka bertemu tanpa di sengaja." Sandra melipat tangannya
"Sial, Aku tak menyukainya."
"Atas dasar apa kau tak menyukai tuanku."
"Dia terlalu tua buat Skylova. Lagi pula, aku tak menyukaimu juga." Starlo membuang muka.
"Ha Ha Ha. Aku sangat senang bila kau membenciku."
Starlo menatap tajam Sandra. Dia sangat jengkel pada gadis di depannya. Kalau di pandang Sandra sedikit berubah. Wajahnya terlihat sangat cantik. hanya saja dandanannya seperti pria. Jika orang melihat nya pertama kali, Starlo yakin orang itu akan menganggap Sandra pria.
"Kau gadis jadi-jadian. Tak heran sikap dan sifat mu hampir sama dengan Baitu"
Perkataan Starlo sangat pedas.
"Dengar brengse*! Jangan menilai orang dari sampulnya. AKu akui kau cukup tampan. Tapi sayang, kau bukan tipeku." Sandra memegang kerah leher Starlo. "Dan satu lagi, lihatlah,l Nona Skylova, kebahagian satu-satu nya adalah tuanku. Apakah kau tega membuatnya jauh dari orang yang di cintai?." Sandra melepas kerah Starlo dan langsung pergi begitu saja.
Starlo mengepalkan tangan tanda emosi memuncak. Sandra bilang dia bukan tipenya. Baru kali ini ada gadis yang tak tertarik dengan dirinya.
Starlo melirik sekilas tuan Baitu dan Skylova Dia melihat mata kebahagian adiknya terpancar saat dekat dengan pria menyebalkan itu.
"Sepertinya, gadis jadi-jadian itu berkata benar. Cih... Apa aku harus memberi lampu hijau pada Maheswari?"