
Skylova menatap Baitu tanpa henti. Dia tersenyum penuh kebahagian.
"Paman, kenapa hati Sky bisa berlabuh di paman sih? Paman tampan bisa buat hati Sky tak karuan." Skylova memandangi Baitu.
Tiba-tiba, Starlo datang dan berkata, "Dek... Apa nggak bosen menatapnya terus? Abang aja bosen lihatnya." Starlo melirik Baitu dengan sinis
Baitu hanya diam saja karena tidak ingin membuang tenaganya sia-sia.
"Nggak, Bang. Sky tak bisa jauh dari Paman tampan."
Batin Baitu pun berteriak kesenangan ketika mendengar perkataan Skylova.
"Paman, Sky antar ke kamar yuk....! Skylova menyeret tangan Baitu.
Baitu hanya menurut saja karena tidak rugi bisa berduaan dengan Skylova. Sedangkan Starlo mendengus kesal sambil menatap kepergian mereka.
Mereka sudah memasuki kamar tamu. Baitu duduk di sofa merah. Dia menatap Skylova yang sedang merapikan ranjang.
"Kau ternyata pandai bersih-bersih."
" Apakah Paman mengejekku?"
Baitu salah bicara. Kenapa dia tak bisa bersikap romantis pada gadis di depannya?
"Aku tak bermaksud begitu. Aku hanya memujimu?" ucap Baitu.
Astaga! Skylova terbang ke langit. Hatinya berbunga-bunga.
"Paman, jangan memujiku. Sky tak kuasa nih...." Skylova menutup wajahnya karena malu.
"Hei, Kau sakit." Baitu menghampiri Skylova.
"Sepertinya Sky demam, Paman. Coba sentuh." Meraih tangan Baitu ke dahinya. "Demam cinta." Skylova berbisik di telinga Baitu.
Deg
Deg
Jantung Baitu berdetak kencang seperti mau keluar dari tempat. Skylova menyentuh dada bidang Baitu.
Baitu kaget dengan sentuhan Skylova yang membuatnya seperti tersengat listrik. Darah mendidih. Jantung ikut memompa keras.
"Apakah Paman sakit? Kenapa jantung paman berbunyi sangat keras?. Astaga... Dug Dug..." Skylova menempelkan telinganya ke dada bidang milik Baitu.
Baitu salah tingkah dan mendorong Skylova ke ranjang samapai mendarat dengan posisi duduk.
"Ya Lord...! Sky kaget, Paman. Jangan mendorong Sky."
"Maaf, aku tak sengaja," Baitu mendekat kearah Skylova terutama bagian wajahnya.
Skylova menutup mata menunggu Baitu menciumnya. Tapi tak kunjung di cium. Akhir nya dia membuka matanya.
"Kenapa kau menutup matamu? jangan berpikir aneh-aneh." Baitu menyentil dahi Skylova.
Skylova sangat malu. Pikiran mesumnya itu harus dia buang jauh-jauh. Dia segera menggelengkan kepalanya agar otaknya kembali sadar.
Baitu tersenyum melihat tingkah Skylova. Bersama dengan gadis itu, hidupnya menjadi berwarna. Mungkin ini yang dinamakan cinta.
Tiba-tiba, Baitu memeluk Skylova erat. Dia masih belum yakin 100% bahwa gadis di depan nya adalah Skylova. Dia tak ingin bangun dari mimpi panjang itu.
"Aku tak mau bangun dari mimpi indah ini. Aku tak ingin kau pergi lagi. Aku tak ingin jauh darimu. Aku sangat rindu padamu, Lova," ujar Baitu.
"Ini bukan mimpi, Paman. Sky nyata. Ingatan Sky yang hilang mudah-mudahan bisa kembali lagi. Kalaupun tak kembali. Kita bisa merajut kenangan baru lagi," ucap Skylova.
Kruyuk
Perut Skylova berbunyi keras sampai terdengar jelas oleh Baitu.
"Ha Ha Ha Ha. Kau lapar ternyata."
"Huh, dasar perut tak bisa diajak kompromi," gumam Skylova sambil cemberut.
"Sudahlah, lebih baik isi perutmu. Lagi pula dari tadi kau belum makan. Begitu juga aku," ucap Baitu. "Bagaimana kalau kita makan di luar?" ajak Baitu.
"Berdua." Skylova mengacungkan dua jarinya.
"Iya, anggap kita kencan."
"Yang bener, Paman."
"Kau tak mau? Kalau begitu, kita batalkan saja."
"Jangan di batalkan! Sky mau. Ayo berangkat." Skylova berjalan mendahului Baitu dengan gembira. Dia menuruni tangga dan lari ke dapur.
"Ma, Jangan masak banyak! Sky mau pergi sama Paman tampan," teriak Skylova menggema di daput.
Starlo langsung menuju sumber suara dan berkata, "Mau kemana? Nggak boleh."
"Sky tanya Mama, Kenapa Bang Arlo yang dateng?"
"Kenapa teriak-teriak, Sayang?" tanya Monica.
"Ma, Sky mau pergi sama Paman tampan. Boleh ya...."
"Jangan di ijinin, Ma," bujuk Starlo pada Monica.
"Ma!" teriak Starlo.
"Mama memang terbaik. Bang Arlo nyebelin." Skylova melenggang pergi begitu saja.
Starlo sangat kesal. Ini pasti ide Baitu Agar bisa pergi berdua dengan adiknya.
"Dasar Licik," gumam Starlo.
---------
Baitu dan Skylova sudah berada di restoran. yang tergolong mewah. Skylova sebenarnya tak suka berada di tempat seperti ini. Karena terlalu berlebihan. Dia lebih senang berada di kafe atau makanan pinggir jalan.
"Paman, Kenapa pesan makanan banyak sekali? Pasti ini mahal. Lihat tuh..., daging semua." Skylova menujuk makanan yang ada di atas meja.
"Bukannya kau lapar. Makanlah. Semua untukmu."
"Sky tak bisa menghabiskan ini semua. Pasti mubazir kalau di buang. Kan kasihan. Makanannya pasti menangis."
Tiba-tiba, Baitu menyuapi Skylova yang tengah asik berbicara.
"Enakkan...."
"Iya... enak." Skylova makan dengan lahap.
"Paman juga makan."
Tak lama kemudian ada seseorang yang tak diundang merusak momen mereka.
"Wah...! Ternyata benar, Skylova." Ucap Lintang.
Lintang Jenova adalah salah satu teman sekelas Skylova di SMA. Dia sangat tak menyukai Skylova. Karena selalu menjadi pusat perhatian semua orang.
Skylova menoleh dan menatap Lintang sejenak. Baitu hanya diam tak mau menanggapi. Karena tak ada respon, Lintang menghampiri Skylova.
"Kau makan di sini? Astaga... Tuan Maheswari." Lintang menutup mulut tanda terkejut.
Baitu menatap gadis itu. Dia sangat tak suka gadis yang sok kenal dengannya.
"Apakah anda makan di sini bersama Skylova? Hati-hati, dia sang penggoda." ucap Lintang.
"Jaga ucapan mu, Lintang!" teriak Skylova. "Sky bukan penggoda."
"Lalu, bagaimana kau bisa kenal dengan Tuan Maheswari? Seorang konglomerat terkenal. Dan apa kau lupa waktu SMA. Kau menggoda Rendi," ucap Lintang.
"Mulutmu perlu bersekolah. Kau merusak kegiatan Sky, Lintang." Skylova mengepalkan tangannya kuat.
"Lebih baik anda pergi, Nona."
"Tapi Tuan Maheswari. Yang saya katakan benar."
"Sialan, Sky tak tahan, Paman. Kalau nggak keluar. Kau habis." ancam Skylova sambil berdiri.
Lintang bergidik ngeri mendengar ancaman Skylova yang jago berkelahi.
"Oke, aku keluar. Kau harus datang ke reoni dan membawa pacarmu." Lintang memberikan undangan dan pergi.
"Huh, Besok malam pasti aku akan mempermalukanmu," gumam Lintang.
Skylova duduk di kursi dengan kasar. Dia melipat kedua tangannya dengan bibir cemberut dan melempar undangan itu ke meja.
Baitu meraih undangan tersebut. Dia duduk di samping Skylova.
"Dengar, besok aku akan datang bersama mu." Baitu menatap Skylova.
Skylova menoleh dan tersenyum bahagia.
"Paman janji ya..., besuk malam harus ikut Sky."
Baitu mengangguk dan mengelus surai hitam milik Skylova.
"Jangan gunakan wig lagi! Perbaiki cara berpakaianmu. Kau harus jadi elegan."
"Ini Sky. Sky tak bisa jadi orang lain."
"Kalau kau jadi istriku, aku berasa seperti ayahmu. Jika kau memperbaikinya, kita pasyi cocok jadi pasangan," bujuk Baitu.
Skylova berpikir. Jika dia menjadi istri Baitu, pasti sangat bahagia Pokoknya dia harus merubah gaya pakaian yang dikenakannya.
"Akan Sky coba. Tapi perlahan," jawab Skylova. "Ayo pulang! Mama pasti khawatir." ajak Skylova.
Tiba-tiba, Starlo datang menghampiri mereka dengan berlari.
"Dek, kok lama. Mama khawatir." Starlo melirik ke arah Baitu. "Ayo pulang!" Starlo meraih tangan Skylova.
"Tunggu, Bang. Sky merajuk nih..., lepasin nggak? Abang bisa tahu Sky disini dari siapa? Apakah dari Sandra?" tanya Skylova.
"Biar Lova pulang dengan saya," ucap Baitu.
"Tidak bisa. Lagi pula saya kakaknya. Saya berhak atasnya."
Semua orang yang ada di restoran itu menatap kearah mereka. Kedua pria tampan yang sedang memperebutkan gadis cantik.