Sky Love Me

Sky Love Me
episode 4



Teriakan Julio menggema di seluruh ruangan. Semua orang yang ada di sana menoleh padanya. Baitu sangat kesal. Karena, Julio sangat tidak sopan. Ingin rasanya dia menyeret Julio ke penjara bawah tanahnya.


"Aduh, Sky harus apa?" gumam Skylova.


Skylova bingung. Karena sang ayah seperti singa liar. Dia kemudian menuju ke arah Baitu untuk minta pertolongan.


"Paman, pokok nya Sky harus paman lindungi." Skylova sembunyi di balik kursi milik Baitu.


"Ha Ha Ha. Aku tak jamin kau akan selamat, gadis kecil."


"Ih, paman tampan kok gini amat. Tapi nggak papa, Sky tetap cinta kok," gumam Skylova tanpa di dengar Baitu.


Dengan seribu langkah Julio dan Starlo datang menghampiri Baitu.


"Maafkan kelancangan saya, Tuan Maheswari. Saya tidak bermaksud untuk tidak sopan. Saya sengaja berteriak karena putri saya sedang berbuat kurang ajar."


"Hem. Sejujurnya, saya sedikit terkesan Tuan Mahendra dengan putri anda. Tapi, karena ketidak sopanannya itu. menghapus seluruh kesan baik saya padanya."


"Maafkan saya, saya akan menghukumnya nanti."


"Silahkan, dengan senang hati."


"Hais, paman bener-bener deh, nggak bisa di kompromi, habislah kau Sky," batin Skylova.


"Arlo, bawa adik mu keluar."


Starlo pun mengangguk, dia menghampiri adiknya.


"Maaf kan saya Tuan Maheswari, sudah lancang." Starl membungkuk dan mulai memegang tangan Skylova.


Starlo berusaha merayu Skylova agar ayahnya tidak membawa kasar Skylova. Sambil berbisik-bisik merayu Skylova supaya mau pulang.


"Dek, ayo pulang."


"Nggak bang, Sky di sini aja."


"Malu dek, apa nggak liat ayah bawa pengawal? Adek mau di jaga algojo."


"Ogah. Pokoknya, Sky mau disini bang. Sky mau perjuangin cinta Sky buat paman tampan."


Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Skylova membuat Baitu tersenyum tanpa sadar. Buru-buru dia merubah ekspresi wajahnya.


Julio merasa kalau Starlo tak bisa membujuk Skylova. Akhirnya dia memerintahkan pengawalnya.


"Satrio, bawa Skylova pulang."


"Baik rade- , maksud saya tuan."


Hampir saja Satrio keceplosan. Dia mendapat tatapan tajam dari Julio. Aduh, wasalam nih. Mulut nggak bisa di jaga.


Para pengawal mendapat isyarat dari Satrio. Mereka langsung bertindak. Starlo pun langsung berdiri. Namun, sebelum berdiri. Starlo berbisik pada Skylova.


"Tuh kan, keras kepala di pelihara," ucap Starlo sambil pergi.


Skylova di seret oleh para pengawal Mahendra. Dia berontak dan berteriak.


"Lepasin."


Tetap tak di lepasin.


"Oke, Sky nyerah. Malu kalau gini, lepasin Sky. Jangan di pegang. Sakit tangannya."


Akhirnya mereka melepaskan kedua tangan Skylova.


Skylova menoleh ke arah Baitu. Dia mengedipkan mata kirinya.


" Paman tampan, kali ini urusan kita sampai di sini, ya. Nanti kita lanjutin kalau perlu sampai ke altar pernikahan," ucap Skylova lantang dan pergi di ikuti para pengawal.


Doeng


Skylova sudah tidak punya rasa malu di wajahnya. Cinta membuat dia berani bertindak nekat. Semua orang yang ada di sana hanya melongo. Sedangkan Julio menahan malu dan menepuk jidatnya. Beda halnya dengan Baitu. Jantungnya seperti genderang bertabuh.


Dad dig dug


"Maafkan saya Tuan Maheswari. Untuk salah satu pengawal anda, saya akan bertanggung jawab membiayainya sampai sembuh."


"Tidak perlu, saya bisa mengatasinya. Anda boleh pergi."


"Saya permisi."


Brama melihat banyak orang yang keluar dari Vila Maheswari. Dia bergegas ke dalam Vila untuk memastikan kalau tuannya tidak dapat masalah.


"Tuan, anda tidak apa-apa."


"Tidak Brama, mereka sudah berangkat?"


"Sudah."


"Bawalah Sandra ke kamarnya dan panggil dokter."


Tanpa pikir panjang Brama membawa Sandra ke kamar miliknya.


Baitu sungguh jengkel, dia kesulitan menghadapi gadis kecil macam Skylova. Kini, Baitu berada di kamar. Malam ini sangat melelahkan baginya.


"Dia benar jadi setan pengganggu," gumam Baitu.


-------


Vila Mahendra


Skylova hanya pasrah duduk di ruang tamu menunggu ayahnya. Ingin dia segera lari ke kamarnya dan mengunci dirinya rapat-rapat. Namun, para pengawal itu mengawasinya. Starlo hanya bermain ponsel dari tadi. Skylova pun geram di buatnya.


"Abang kan yang ngadu kalau Sky disana?"


"Enggak tuh."


"Jangan bohong bang, Sky tahu kok kalau abang nggak suka Sky dekat dengan paman tampan."


"Dek, abang cuma takut kalau adek nggak balik kesini."


"Bagus apanya?" sela Julio


Skylova langsung tak mengeluarkan suara lagi. Sedangkan Starlo mengawasi ayah dan anak itu.


Julio menghampiri putrinya. Dia menjewer telinga putrinya itu.


"Sakit, ayah..." ringis Skylova.


Karena tak tega. Akhirnya, Julio melepaskan telinga Skylova.


"Ayah nggak habis pikir, kenapa kau bikin ulah lagi?" Julio duduk di sofa dan memijat pelipisnya.


"Sky kesana, buat paman tampan, ayah."


"Lova, dengar! Jangan pernah kesana lagi!" bentak Julio.


Skylova langsung diam. Dia paling takut jika di bentak. Seketika dia menundukkan kepalanya.


"Semua barang-barang mu akan ayah sita sampai mama pulang, termasuk rocky."


Oh tidak. Rocky nya yang berharga. Tanpa rocky hidupnya sangat lurus. Big no.


"Tapi ayah...." Skylova mendongak keatas.


"Tak ada tapi-tapian."


"Huft... my rocky. Iam Sorry." Skylova meneteskan air mata.


"Satrio, bawa semua unit komputer milik Lova! Dan jangan lupa laptop sama ponselnya!"


"Baik raden."


"Ulangi lagi, kau harus terbiasa. Aku tak mau identitasku terbongkar."


"Maaf, baik tuan."


Satrio segera menjalankan tugasnya. Tidak lama kemudian, dia turun membawa kunci.


"Maaf tuan, ponselnya tidak ada."


"Lova, mana punselmu?" tanya Julio.


"Ayah, ponselnya jangan ya..."


"Berikan." julio mengulurkan tangan.


Skylova memberikan ponselnya dengan berat hatu. Sempat terjadi tarik menarik antara Skylova dan Julio. Namun, karena Julio menantap Skylova dengan tajam, akhirnya Skylova mengalah. Julio pun pergi meninggalkan Skylova dan Starlo.


"Bang, ayo ke kamar abang!"


"Tapi dek, abang lagi ada urusan nih..." elak Starlo.


Starlo tahu, jika Skylova akan menagih janjinya. Sebisa mungkin dia mencari alasan agar terbebas dari tagihan.


"Abang mau ingkar janji."


"Nggak, ini penting dek."


"Mau aku sebarin di internet," ancam Skylova.


"Bagaimana cara nyebarinnya.? Wong semua fasilitas adek diambil ayah."


"Kan ada fotonya, bang," ucap Skylova tersenyum devil.


Starlo tak menyangka, kalau adiknya punya rencana cadangan.


"Lagian, Sky juga bisa tuh langsung bawa ayah ke kamar abang. Walaupun pakek kode rahasia. Sky bisa pecahin."


Krik


Krik


Starlo diam mematung. Adik nya punya seribu cara, untuk membuat dirinya bertekuk lutut.


"Ya udah, abang pinjamin. Tapi besuk aja. Sekarang ngantuk. Mau tidur." Starlo berdiri menuju kamar atas milik Starlo


"Yey, tadi katanya ada urusan. Bilang aja tadi mau ingkar janji. hu...." Skylova berlari mengikuti Starlo.


Mereka masuk ke kamar masing-masing. Sylova ingin tidur secepatnya. Supaya besok, dia dapat tenaga lagi untuk mengejar paman tampannya.


"I Love You, paman Bai," gumam Skylova.


---------


Pagi sudah tiba, Skylova masih tidur di dalam kamarnya. Dia tidak menyadari kedatangan kakaknya.


"Dek, bangun...! Cepetan." Starlo menggoyangkan badan Skylova.


"Sky masih ngantuk, bang."


"Hot News, dek."


"Kalau nggak penting awas," ancam Skylova.


"Nih, nanti abang di kira bohong." Starlo menyerahkan ponselnya kepada Skylova.


Skylova melihat ponsel milik Starlo. Dia mengucek-ngucek matanya tanda memastikan berita tersebut. Akhirnya, dia sadar 100% dan melotot tanda terkejut.


"Berita apa an ini? Dasar tante badut." Maki Skylova sambil melemparkan kembali ponsel Starlo ke arahnya.


"Benerkan, udah dek. Lebih baik nyerah ngejar Tuan Maheswarinya," bujuk Starlo.


"Bang, tuh tante badut, harus di kasih tahu kalau paman tampan cuma buat Sky doang."


Starlo menepuk jidatnya. Bukannya adiknya menyerah, malah tambah semangat saja.