
Skylova dan Brama masih bermain game di dalam kamar Baitu. Dia sangat lihai dalam menembak dan menjebak lawan.
"Lihat! Sebentar lagi Sky akan menang," ucap Skylova dengan bangga.
"Jangan bangga dulu, saya belum tentu kalah," sambung Brama.
Brama sangat menikmati permainannya bersama Skylova. Dia tak menyangka ternyata bermain game sangat menyenangkan. Nanti kalau ada waktu luang. Dia akan bermain game lagi. Sepertinya, Brama ketagihan.
"Yes..., Sky menang. Rama kalah." Skylova bersorak gembira.
Skylova lompat-lompat kegirangan. Akhirnya, menang. Dia akan memanfaatkan kemenangan ini untuk menggali masa lalunya.
"Rama kalah..., hu yes... Ha Ha Ha." Skylova memegangi perutnya.
Brama melongo melihat tingkah kocak Skylova. Gadis di depan nya ini memang unik bin ajaib. Dan kenapa Skylova menghilangkan huruf B pada namanya?
"Kenapa anda menghilangkan huruf B pada nama saya?" tanya Brama.
Skylova menatap Brama dan tersenyum kemudian duduk kembali.
"Bukankah kalau kau kalah, kau setuju menuruti semua permintaan Sky. Mulai hari ini sampai seminggu ke depan, kau harus menuruti permintaan Sky," ucap Skylova.
Brama hanya mengangguk. Lagi pula itu adalah konsekuensi apabila dia kalah. Brama tak tahu kalau Skylova akan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengorek informasi mengenai masa lalunya.
"Jadi, Rama. Siapa nama orang yang telah menabrak Sky?" tanya Skylova.
Brama kaget dan harus menjawab apa? Dia sadar kalau Skylova menjebaknya. Dirinya merasa di bodohi gadis itu.
Skylova melirik Brama yang sudah tahu tujuan Skylova melakukan permainan ini.
"Kau tak bisa mengelak Brama. Karena kau sudah berjanji pada Sky untuk menuruti semua keinginan Sky,"ucap Skylova mengingatkan Brama.
Brama sangat dilema. Dia tak ingin menjawab pertanyaan Skylova itu. Jika tuan tahu pasti akan marah besar padanya.
"Hais, kau mau ingkar janji."
"Bukan begitu, Nona. Tapi saya tidak mau tuan nanti marah kepada saya."
"Sekarang tuanmu adalah Sky. Jadi turuti perkataan Sky."
Brama menghela nafas halus. Apa yang dikatakan Skylova memang benar?
"Baiklah, saya akan memberi tahu anda, Nona. Namanya adalah Liza Dwoni."
Skylova tersenyum penuh kemenangan. Dia menggunakan komputernya untuk mencari siapa Liza Dwoni. Dengan gerakan lihai dan cepat Skylova menggerakkan kesepuluh jari tangannya. Brama hanya melongo melihat Skylova yang tengah serius berkutat di depan komputernya. Dia seperti menjadi orang dewasa.
"Oh..., jadi ini orangnya. Wajahnya aja kaya Tante badut. Astaga..., bajunya," gumam Skylova.
Brama menatap kembali layar komputer di depannya. Informasi pribadi terpampang jelas di sana.
Jadi, dia benar seorang hacker, batin Brama.
Skylova mencari informasi mendetail mengenai Liza Dwoni. Dia menggelengkan kepalanya dan menutup layar komputernya secara tiba-tiba.
"Sungguh kehidupannya sangat jauh dari kata indah dan nyaman," ucap Skylova.
Skylova tak ingat bila dia pernah berurusan dengan Liza Dwoni. Tapi dirinya tahu kalau Liza Dwoni pantas mendapatkan hukuman itu. Video-video yang pernah Sky kirim adalah video perbuatan yang tidak senonoh.
"Ternyata, Sky pernah menyebar videonya," gumam Skylova.
Brama mengangkat alisnya karena tak paham arah pembicaraan Skylova.
"Oh ya. Satu lagi, Ram. Kegiatan ilegal Paman tampan apa?" tanya Skylova.
Brama melotot. Bagaimana Skylova tahu masalah bisnis ilegal Baitu?
"Tidak usah kaget gitu, Ram. Sky dengernya dari Ayah," ucap Skylova.
"Saya akan menjawabnya. Tapi Nona janji, jangan beritahu tuan."
Skylova mengangguk tanda setuju. Brama menghela nafas kasar. Mau tak mau, dia harus memberi tahu Skylova.
"Bisnis pasar gelap."
Skylova tersenyum. Jadi Paman tampannya beroperasi di dalam pasar gelap. Skylova tahu seperti apa pasar gelap itu?
"Ah... Sky sangat senang. Ayo kita keluar. Nanti Sky akan tanya lagi." Skylova menggeret lengan Brama.
Skylova menggeret lengan Brama dan perjalan menuju pintu. Skylova membuka pintu.
Cklik
Brama dan Skylova melihat Baitu dan Starlo sedang adu mulut. Mereka berdua berebut tempat. Keduanya tak sadar jika orang yang mereka tunggu sudah keluar.
"Wah..., mau bertanding ya...! Sky ingin lihat."
Baitu dan Starlo menoleh kearah sumber suara. Keduanya kaget melihat Skylova keluar karena menggandeng lengn Brama. Baitu menatap tajam Brama karena ingin meminta jawaban atas tindakan Brama yang lancang. Brama hanya menatap Baitu dan tersenyum canggung.
Saya tak punya pilihan tuan. Jangan marah. Maafkan saya," batin Brama.
"Kenapa kalian menatap Rama begitu? Lihat! mata kalian seperti mau copot," ucap Skylova.
Baitu dan Starlo bertatapan. Mereka mengangguk. Jika diartikan, ayo kita kerja sama untuk menyelidiki mereka.
"Sayang, kenapa kau menggandeng tangan Brama?" tanya Baitu.
"Tentu saja karena Sky menang. Setelah ini kamanapun Sky pergi. Maka Rama harus ada."
"Rama," Teriak Baitu, Starlo dan Sandra bersama.
"Yuk... Ram kita pergi! Jangan urusi mereka," ucap Skylova sambil melenggang pergi.
Brama hanya menurut kerena tak punya pilihan. Skylova berteriak kegirangan di dalam hatinya.
"Kalau jadinya begini, aku menyesal menyetujuinya tadi," ucap Baitu.
"Kau benar, seharusnya kita tadi mencegahnya. Kau lihat mereka dekat sekali," sambung Starlo.
"Aku tak tahan, Arlo. Sepertinya aku harus menyuruh Brama untuk pergi mengurusi salah satu proyekku."
"Aku setuju, itu lebih baik," sambung Arlo.
Keduanya saling berbicara tanpa menyadari keberadaan Sandra.
"Tuan-tuan. Sampai kapan kita akan ada di sini? Lihat..., Nona Skylova sudah turun ke lantai bawah."
Sontak keduanya kaget dan langsung lari ke lantai bawah untuk mencari Skylova. Namun, nihil. Mereka lari keluar vila. Dari kejauhuan mereka melihat Brama dan Skylova duduk di bangku taman. Mereka langsung menghampiri Brama dan Skylova.
"Dek, kok di sini. Masuk yuk!" Ajak Starlo.
"Males Bang. Ntar aja deh. Masih mau ngomong sama Rama."
Starlo menyenggol bahu Baitu. Tanda dia harus melancarkan aksinya.
"Brama. Pergilah ke perusahaan. Urus salah satu proyekku yang sudah berjalan," perintah Baitu.
Tuan sepertinya cemburu. Tapi ada untungnya kalau aku melakukan tugas ini, batin Brama.
Brama akan menjawab perintah Skylova. Namun, Skylova mencubit Brama dengan sangat keras sampai memekik kesakitan.
"Kenapa Brama? Kau setujukan...."
"Maaf, Tuan.sepertinya ,saya tidak bisa. Karena saya terikat janji dengan Nona Skylova."
Hais, terpaksa bilang gitu. Tuan pasti marah. Nona sungguh menyusahkan ku."
"Dek, jangan bilang Adek yang memaksa Brama."
Skylova tersenyum sambil mengangguk.
"Hehe, selama seminggu kedepan. Sky yang akan jadi majikan Rama," ucap polos Skylova.
Baitu tak terima dan menatap tajam Brama. Brama yang merasa di tatap tuannya langsung menunduk. Sedangkan Starlo menatap Skylova penuh tanda tanya.
" Adek tak merencanakan sesuatu, kan....?
Kakaknya sungguh peka. Dia mampu membaca dan memahami Skylova. Skylova hanya menatap dan tersenyum manis kepada kakaknya. Senyum manis itu berarti menandakan iya.
Starlo menghela nafas perlahan. Sepertinya dia tak perlu khawatir. Tapi bagaimana dengan Baitu yang seperti kebakaran jenggot. Baitu tak ingin Skylova dekat dengan pria lain, selain dirinya.
Aku sangat ingin memukul Brama. Sialan...! Kenapa aku harus merasakan perasaan ini. Gadis ini sangat pintar sekali mempermainkan hatiku, batin Baitu.
Syukurin tuh..! Pasti cemburu. Itu hukuman Paman tampan. Karena tadi malam membius Sky. Hehe... Sky senang. Amat senang," batin Skylova.