Sky Love Me

Sky Love Me
episode 18



Baitu berada di ruangan kebesarannya. Dia menatap layar monitor dengan serius. Segala pembicaran Julio dan Skylova di dengar. Tanpa sadar, Baitu mengepalkan tangan.


Sandra memantau reaksi Baitu dan memilih diam tidak bersuara.


Hening sekali. Kenapa Tuan tak kunjung bicara?


Tiba-tiba, Baitu berdiri.


"Sandra, pergi ke ruang tamu sekarang? Cegah kemungkinan yang terjadi." titah Baitu.


Sandra langsung menuju ke ruang tamu. Dari kejahuan, dia melihat Julio menyeret paksa Skylova. Namun, berhasil melepaskan diri. Dengan sigap, dia menghadang aksi kejaran itu.


"Sebaiknya, Tuan pulang."


"Aku harus membawa Skylova pulang."


"Nona butuh waktu, Tuan Mahendra. Jangan memaksanya. Lagi pula ini bukan kediaman, Anda. Jaga kesopanan, Anda."


"Tahu apa kau? Dia putriku. Aku berhak atas dirinya."


"Tuan Maheswari pasti tak senang melihat perilaku, Tuan Mahendra."


Julio berpikir. Apa yang di katakan pengawal Baitu memang benar?


"Baiklah, Aku akan pulang. Aku akan memberi ruang pada putriku," jawab Julio lesu.


Julio langsung pergi meninggalkan Vila Maheswari. Lagi pula dia juga tidak Skylova membencinya.


Sementara itu, Skylova berada di kamar milik Baitu. Dia duduk dilantai dan menangis tersedu-sedu.


"Hiks...Hiks.. Ayah tak sayang lagi dengan Sky. Sky benci ayah," gumam Skylova.


Baitu membuka pintu kamar perlahan. Dia melihat Skylova duduk dan menangis. Dadanya sangat sakit dan nyeri. Tanpa sadar, telah meremas dadanya.


"Jangan menangis!" Baitu memeluk Skylova dari belakang.


Bukannya berhenti, Skylova semakin menangis histeris. Dia membalikan badan dan memeluk erat Baitu.


Baitu menepuk pelan pundak Skylova. Karena kelelahan menangis akhirnya tertidur. Dia menggendong menuju ranjang dan menaruh dengan lembut.


"Kenapa jika kau menangis dada ku terasa sakit? Atau mungkin aku menaruh hati pada mu," gumam Baitu sambil menyeka bekas air mata Skylova.


Baitu membaringkan tubuhnya disamping Skylova. Dia menatap wajah Skylova sambil mengambil ponsel untuk menghubungi Sandra.


"Halo."


"Sandra, besok pagi siapkan satu unit komputer pengeluaran terbaru dan juga wig model pria yang bagus. Taruh di kamar sebelum dia bangun."


Tut


Tut


Seperti biasa, Baitu menutup panggilan sepihak. Dia menaruh ponselnya di atas meja samping ranjang. Kemudian miring ke kanan dan memeluk Skylova posesif. Tanpa sadar, dirinya tenggelam dalam aroma tubuh Skylova sampai tertidur.


-------


Pagi sudah tiba, Baitu bangun terlebih dahulu. Hari ini, dia akan pergi ke kantor lebih awal. Sebelum bersiap, menyempatkan diri menatap wajah Skylova. Baitu tersenyum hangat. Skylova benar-benar membuat hatinya tidak karuan. Dengan hanya melihat saja. Jantungnya berdetak keras.


Baitu berpikir, mungkin dia sakit jantung atau kurang olahraga.


"Jika aku terus memikirkan ini, pasti tak selesai. Lebih baik aku cepat pergi ke kantor."


Baitu lansung menuju kamar mandi melakukan aktivitas paginya.


Satu jam kemudian, dia sudah bersiap. Baitu melirik Skylova yang masih berada di alam mimpi. Dia mendekati dan mencium kening Skylova.


"Aku benar-benar sudah gila." Baitu mengacak rambut frustasi.


Baitu meninggalkan kamar itu dan pergi menuju kantor. Kali ini, dia ke kantor bersama Brama. Baitu menugaskan Sandra untuk manjaga Skylova.


-------


Vila Mahendra


Julio berjalan menuruni tangga untuk bergegas pergi ke kantor. Dia melihat Starlo yang sedang duduk santai dan membaca koran.


"Kau tidak ke kantor?" tanya Julio.


"Malas, Yah," ucap Starlo.


"Kenapa? Apa ada masalah di kantor?"


"Tidak, aku menunggu Lova pulang."


Julio menghela nafas kasar. Sejujurnya, dia berharap Skylova mau pulang.


"Kerjalah! Nanti dia pasti pulang."


"Dia tak akan pulang kalau Ayah bersikeras tetap mengirimnya ke Solo." Ucap Starlo.


"Ini demi kebaikannya. Dia harus sekolah adat di sana. Kita bukan orang biasa, ingat itu!"


"Ayah berlebihan. Pantas saja Lova membelot kepada Ayah. Asal Ayah tau, Liza Dwoni pantas mendapatkan hukuman itu."


"Cukup Arlo! Jangan buat ayah tambah pusing."


"Perilaku Liza sangat tak sopan. Dengan terang-terangan dia menggoda Arlo. Apa pantas wanita itu di bela?"


"Ini permintaan Mamamu. Mamamu tak mau Lova dapat masalah gara-gara ulahnya."


Starlo hanya diam. Dia tidak suka dengan keputusan mutlak Monica.


"Ayah jangan menyesal nantinya. Jika Lova benar-benar tak mau kembali lagi ke keluarga kita. Dan Arlo akan jadi orang pertama yang akan membantu Lova. Sampai kapan pun, Arlo akan tetap berada di pihak Lova," ujar Starlo lalu pergi meninggalkan Julio.


Starlo sangat menyanyangi Skylova karena tempatnya bersinar. Dunia Skylova penuh dengan dunia Starlo.


Starlo berada di kamar Skylova. Dia sangat merindukannya. Jika dia datang ke Vila Maheswari, pasti Baitu tidak akan mengijinkan. Karena pernah mengolok di telepon. Jujur, dia tidak tahu kalau Baitu berada di dekat Skylova. Mengingat itu, membuat kepalanya pusing.


Starlo mengeluarkan ponselnya. Masih ada cara untuk menghubungi Skylova.


"Kenapa tak diangkat?" gumam Starlo.


Dia mencoba menghubungi lagi dan diangkat oleh Skylova.


"Halo, Bang." Suara kas orang bangun tidur.


"Dek, Masih molor ya...."


"Emm...."


"Jawabnya singkat amat. Dek, Abang kangen. pulang ya...?"


"Maaf, Bang. Sky belum bisa pulang. Sky masih marah sama Ayah."


"Apa ayah kasar, dek?"


"Tidak juga," jawab bohong Skylova.


"Dek, Apa pun yang terjadi. Abang selalu dukung adek. Kita ketemuan, yuk! Abang kangen banget!"


"Abang kaya anak kecil aja. Kan kemarin udah ketemu Sky."


"Ini pertama kali adek menjauh dari abang."


"Jangan lebay, Bang. Waktu di Jerman kan Sky juga jauh dari Abang."


"Yang ini beda, Dek. Waktu itu kan Adek lanjut Study. La ini... karena masalah. Abang pengen selalu temani Adek."


"Oke, ketemu di kafe biasa. Waktu jam makan siang. Jangan terlambat. Sky mau mandi dulu."


Tut


Skylova memutuskan panggilan sepihak dengan Starlo. Dia harus semangat buat hari ini. Lagi pula ada yang masih sayang padanya.


Skylova turun dari kasur. Baitu sudah tidak ada. Pasti sudah berangkat kerja. Tunggu dulu, Apa mata nya tidak salah? Ada benda bling-bling yang menyilaukan mata.


"Astaga... Apa Sky mimpi?" Skylova mencubit keras pipinya.


Skylova mengaduh kesakitan. Ternyata bukan mimpi. Komputer yang ada di depan itu nyata. Dia langsung saja berlari menghampiri barang itu.


"Oh my lord... ini pengeluaran terbaru. Paman Tampan memang top. Tambah kece aja. Kalau gini mah, Sky pasti tambah jatuh cinta." Skylova lompat kegirangan.


Tok


Tok


"Masuk!"


"Nona sudah bangun."


"Sandra." Skylov berlari memeluk Sandra.


"Apa Paman Tampan yang memberikan ini semua?" tanya Skylova penuh penasaran.


Gara-gara benda ini aku jadi kebingungan semalam. Mana waktu istirahatku berkurang, Batin Sandra.


"Sandra, Halo... kok diam." Skylova melepas pelukannya.


"Nona dapat menggunakan komputer ini sepuasnya," ucap Sandra.


"Benarkah, Astaga... aku tak percaya ini. Apa isi kotak itu?" Skylova menunjuk ke arah kotak yang ada di atas meja.


"Nona bisa membukanya sendiri."


Skylova menghampiri dan membuka kotak tersebut. Dia sangat senang sampai tidak berhenti tersenyum.


"Aku akan mandi. Bawa makanan ke kamar, San!" titah Skylova


Sandra hanya mengangguk. Dia berjalan keluar pintu dan menulis pesan di ponsel untuk dikirim ke seseorang.