Sky Love Me

Sky Love Me
episode 46



Skylova tahu kalau Brama akan menghindarinya. Dengan sigap, dia meraih pintu mobil yang belum tertutup sepenuhnya.


"Rama, kau mau menghindari Sky. Jangan harap!"


"Nona Skylova, tolong lepaskan saya. Perjanjian kita sudah selesai. Karena sudah lebih dari seminggu."


Skylova menatap tajam wajah Brama. Baginya perjanjian itu masih berlaku. Karena kedua belah pihak belum bertemu sepenuhnya dalam waktu seminggu.


"Tidak bisa, karena kita belum bertatap muka selama seminggu."


Brama menghela napas kasar dan tak mau kalau sang tuan marah besar padanya lagi.


Skylova tahu kalau Brama sangat cemas mengenai Baitu.


"Rama, kau tak usah khawatir. Sky janji Paman tampan tak akan cemburu. Lagi pula, kita bisa beraktivitas di belakangnya."


Brama kaget karena tidak mau bermain api dengan tuannya. Keinginan Skylova harus dia hentikan.


"Lebih baik Nona jujur. pasti tuan akan mengijinkan," bujuk Brama kepada Skyova.


Skylova berpikir mengenai tawaran Brama. Dia kemudian menoleh ke arah Baitu. Raut wajahnya tak bisa di baca. Skylova menelan ludahnya kasar.


"Sepertinya, Sky setuju dengan perkataanmu, Rama."


Brama bernapas lega mendengar perkataan Skylova dan keluar mobil.


"Nona, sebaiknya kita menghampiri tuan."


Skylova mengangguk tanda setuju. Mereka berdua berjalan menuju Baitu yang menatap tajam ke arah Brama. Dia mengepalkan tangannya kuat. Tanda emosinya memuncak.


Tommy ingin sekali memukul Brama saat ini juga. Dia sungguh tak tahan melihatnya dekat dengan Skylova.


"Aku sangat ingin memukul pengawalmu itu," ucap Tommy dengan nada penuh emosi.


"Pukul saja dia, aku mengijinkanmu," jawab Baitu sambil mengepalkan tangannya.


Skylova berlari menuju Baitu karena tahu api cemburu mulai berkobar.


"Paman!" teriak Skylova dengan penuh semangat.


Baitu tak menyahut sedikit pun dan memalingkan muka ke arah lain. Skylova berhenti mendadak melihat Baitu yang tak menanggapinya. Dia beralih haluan menuju Starkk


Starlo tersenyum melihat adiknya berlari kearahnya.


"Bang, masuk yuk...?" ajak Skylova sambil menggeret paksa Starlo.


Starlo mengikuti ajakan Skylova. Lagi pula dia sangat rindu dengan Skylova. Kedua adik kakak itu melewati Baitu dan Tommy.


Baitu dan Tommy tak menghiraukan kepergian dua kakak beradik itu. Mereka masih menatap Brama yang sedang berjalan santai ke arah mereka.


Aku kali ini pasti tak selamat, batin Brama dengan tersenyum ke arah Baitu.


"Bagaiman kabar anda, Tuan?" sapa Brama dengan berjalan ke arah Baitu.


"Kau pengawal tak tahu diri. Beraninya berdekatan dengan Skylova." Tommy menghadang langkah Brama.


"Ini salah paham tuan. Saya tak ada niatan berdekatan dengan nona Skylova. Kami terikat perjanjian. Tuan percayalah!"


Baitu maju ke depan. Dia berdampingan dengan Tommy. Sandra hanya bisa mengamatinya dari jauh dan tak berani ikut campur.


"Pulanglah, Tom. Kau merusak mataku."


Tommy mendengus kesal dan tak ingin pulang sebelum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Raymon menghampiri Tommy dan menggeretnya secara paksa.


"Apa yang kau lakukan, Ray? Lepaskan aku!" Tommy berteriak keras mencoba melepaskan diri.


Dengan sigap, Raymon langsung memukul leher Tommy sampai pingsan. Baitu hanya diam saja dan tidak mau ikut campur urusan mereka.


Raymon membawa pergi Tommy yang sedang pingsan dan menaruhnya kasar di kursi belakang.


"Dasar merepotkan. Kalau aku tidak memukulmu. Pasti kau akan membuat keributan," ucap Raymon sambil masuk mobil dan pergi meninggalkan Vila Maheswari.


Kini, tinggal Baitu dan Brama yang masih berada di tempat.


"Masuk!" perintah Baitu dingin.


Baitu berjalan menuju Vila. Dia harus bicara dengan Brama.


Sementara itu, kakak beradik itu sedang bercanda ria di ruang tamu.


"Bang, Lihat! Sky menang lagi tuh!" ucap Skylova sambil memainkan ponsel.


"Udah, Bang. Astaga bang..., Sky dapet hadiah.


Skylova berdiri sambil menutup mulutnya. Dia tak menyangka kalau akan dapat hadiah sebesar ini.


"Yey, makasih ya Bang," ucap Skylova sambil duduk dan memeluk Starlo.


Starlo sangat senang melihat Skylova bahagia. Game yang dia luncurkan tak sia-sia rupannya. Tanpa mereka sadari, Baitu sudah duduk di sofa dan melihat kebersamaan kakak beradik itu.


"Ehem."


Baitu mencairkan suasana agar mereka menyadari kehadirannya. Dia tersenyum ke arah Skylova. Namun tak di tanggapinya.


Apakah dia marah? Hais... Ini salahku, batin Baitu.


"Apakah kau tidak ingin mengatakan sesuatu kepadaku, Sayang?"


Skylova menatap Baitu. Apa ini saatnya dia jujur dengan Baitu.


"Sky akan jujur, tapi kalian jangan marah ya? Karena Rama kalah, jadi Sky meminta Rama untuk mengikuti semua keinginan Sky," ucap Skylova dengan menundukkan kepala.


Baitu bernapas lega. Ternyata Brama dan Skylova tak memiliki hubungan kusus.


Akhirnya..., aku selamat. Terimakasih tuhan, batin Brama.


"Ternyata hanya itu. Tentu saja Brama harus melakukan semua perintahmu. Karena dia sudah kalah. Tapi, kau tak boleh terlalu dekat dengannya."


"Terimakasih, Laman. Paman memang yang terbaik. Sky semakin suka sama Paman." Skylova berkata sembari mengedipkan sebelah matanya.


Starlo hanya menggelengkan kepala karena adiknya kelewat centil. Dia tak menyangka Skylova akan bersikap seperti itu.


Sedangkan Baitu, langsung berdiri menuju kearah tempat duduk mereka. Dia memilih duduk di tengah keduanya.


"Menyingkirlah!"


Baitu sedikit mendorong bahu Starlo. Dia memilih pergi dan mendengus kesal.


"Paman, kau membuat Bang Arlo marah."


Baitu memeluk manja Skylova. Dia ingin sekali menghirup aroma tubuh yang harum itu.


"Paman, Sky risih."


Skylova langsung berdiri. Namun Baitu menarik Skylova agar duduk dipangkuannya.


Deg


Jantung keduanya berpacu. Muka Skylova memerah. Posisi ini sungguh tak nyaman.


"Kau merasakannyakan...? Dia menginginkanmu, Sayang." Baitu berbisik sengan suara yang serak seperti menahan sesuatu.


Skylova membeku mendengar perkataan ambigu itu. Dia tak berani bergerak sedikit pun. Baitu melingkarkan tangannya sangat erat di perut Skylova.


"Kau harum, Sayang," ucap Baitu menggoda Skylova.


Skylova semakin salah tingkah dan menginjak kaki Baitu.


"Paman, maafkan Sky." Skylova berdiri sambil berlari menuju kamarnya.


Baitu meringis kesakitan. Dia sangat senang bisa menggoda Skylova. Dia tak menyadari jika Brama tersenyum melihat semua kejadian itu. Tiba-tiba Vino datang merusak kenyamanan Brama.


"Kau seperti orang gila senyum-senyum sendiri."


Brama menoleh dan menghela nafas kasar. Dia malas mendengar ocehan Vino dan langsung pergi begitu saja. Vino hanya mengedikkan bahu, lalu menghampiri Baitu.


"Kau bahagia." Vino bersender di tiang rumah.


Baitu menoleh dan tersenyum.


"Ya..., begitulah."


Vino duduk di sofa dan menyilangkan kakinya.


"Dia gadis yang hebat bisa membuatmu seperti ini."


"Kau benar. Gadis yang bisa membuat hatiku bergetar."


"Bai, sepertinya kau banyak berubah semenjak mengenal Skylova. Aku turut senang melihatnya."


Baitu menatap Vino dengan penuh senyuman. Apa yang dikatakan Vino memang benar? Baitu Maheswari sudah berubah berkat Skylova Mahendra.