
Starlo langsung menuju Vila Mahendra. Dia mengemasi semua barang-barangnya. Dia berencana untuk pergi mencari Skylova ke Belanda dan juga Paris. Starlo yakin, Damian membawa Skylova ke salah satu negara itu.
Damian menatap wajah cantik Skylova yang masih tertidur karena di bius. Dia mengelus surai hitam milik Skylova.
"Aku tak akan mengembalikanmu. Kau milikku, Lova." ucap Damian sambil mencium kening Skylova.
Haiden berdiri di balik pintu. Dia mendengar perkataan tuannya. Yang di takutkan Haiden terjadi juga, sang tuan menaruh hati kepada Nona Skylova.
Haiden kemudian pergi dari tempat itu. Dia menuju ruangan tersembunyi di bagian pesawat Damian.
Haiden menatap Tommy yang sedang tertidur. Dia kemudian menghampirinya.
"Bangun Tom."
Tommy membuka matanya perlahan. Dia menatap Haiden penuh kebencian. Haiden menghela napas panjang. Tatapan Tommy mengingatkan pada seseorang.
"Berhenti menatapku seperti itu, kita akan ke Paris. Tuan Damian membawa Nona Skylova, untuk ikut dengannya."
Tommy langsung bangkit, dia kaget mendengar perkataan Haiden.
"Dia bertindak secepat itu. Kau jangan bohong padaku," teriak Tommy.
Haiden meninggalkan Tommy yang sedang berteriak memanggil namanya. Namun Haiden hanaya acuh saja.
Vila Maheswari
Kondisi Baitu sangat memperhatikan. Kehilangan Skylova adalah pukulan berat baginya. Semua anak buah sudah di kerahkan untuk mencari Skylova. Tapi nihil hasilnya. Skylova hilang bagai di telan bumi.
Sandra mencari Skylova sampai ke berbagai negara. Semua pengawal dia sebar ke beberapa negara. Termasuk Belanda dan Jerman.
Vino yang mendengar kabar bahwa gadis itu menghilang, dia langsung bergegas menuju ke Vila Maheswari. Dia khawatir dengan keadaan Baitu. Dugaan Vino benar, Baitu seperti mayat hidup. Baru dua hari Skylova menghilang, dia sudah frustasi berat.
"Apa kau tak akan bangkit? Kau mau seperti ini terus. Ayolah Bai, Ini bukan dirimu." ucap Vino sambil menghampiri Baitu.
Pandangan Baitu kosong memegang foto Skylova. Cinta Baitu kepada Skylova begitu besar. Otaknya tak mampu menahan rasa kehilangan.
"Dia tak akan senang, jika kau seperti ini."
Baitu hanya menoleh sebentar, lalu dia kembali menatap foto Skylova.
"Aku sangat mencintainya. Aku tak mau berpisah dengannya. Di tinggal olehnya membuatku jiwaku mati, Vin…"
Vino duduk di samping Baitu. Dia mengambil paksa foto Skylova. Dan kemudian merobeknya.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Baitu.
"Aku tak menyangka perjuangan cintamu hanya segini. Kau tak pantas untuknya. Anggap saja, foto itu adalah memorimu yang harus kau sobek."
Baitu menundukkan kepala. Apa yang dikatakan oleh Vino benar adanya. Dia tak berjuang sama sekali. Sepertinya dia harus bangkit.
Baitu langsung berdiri dan menuju kamar mandi. Vino senang melihat hal itu. Dia kemudian keluar kamar Baitu.
Dua hari telah berlalu, tak ada kabar tentang Skylova. Baitu masih tetap mencari keberadaannya.
Sementara itu, Skylova masih betah dari tidurnya. Obat bius yang digunakan oleh Damian berdosis tinggi. Sehingga membuat Skylova tak kunjung bangun.
Damian menunggu Skylova di sofa dekat ranjang. Pandangannya tak lepas dari Skylova. Skylova mulai membuka matanya. Dia menatap langit kamar, dan mengingat kejadian sebelum dia pingsan. Skylova langsung berdiri di atas ranjang.
"Tubuh Sky masih utuh kan…,?" ucap Skylova sambil memegangi tubuhnya.
Sylova bernapas lega. Dia kemudian langsung duduk.
"Kok aneh, kayaknya udara di sini beda."
Skylova mengedarkan seluruh pandangannya kepenjuru kamar. Dia memekik kaget ketika Damian sedang duduk di sofa tak jauh dari tanjangnya. Skylova langsung mengambil selimut untuk menutui seluruh tubuhnya.
"Sky tak liat, dia cuma hantu. Tenanglah Sky, jangan gemetar," gumam Skylova lirih.
Damian menghampiri Skylova yang tengah meringkuk dalam selimut. Dia tersenyum lembut dan membuka selimut yang menutupi tubuh Skylova.
"Jangan di buka! Sky takut."
Damian mengelus rambut Skylova. Dia tak ingin Skylova takut padanya. Di depan Skylova, dia harus bersikap lembut.
"Jangan takut, aku tak akan menyakitimu. Bukalah matamu, Lova," ucap Damian selembut mungkin.
"Kau menculik Sky, Damian."
Damian duduk di samping Skylova. Dia menatap Skylova. Skylova hanya menunduk.
Kruyuk
Krik Krik
Skylova memegangi perutnya. Dia mengelus perutnya yang lapar.
"Laper banget, ada makanan nggak?" ucap Skylova polos.
Ha Ha Ha
Tawa Damian menggelegar di seluruh ruangan. Skylova langsung menutup mulut Damian agar berhenti.
Deg
Deg
Jantung Damian berdetak kencang sekali. Dia tanpa sadar mengecup tangan Skylova. Sedangkan Skylova langsung menarik tangannya.
"Sky malu kalau di dengar orang," jawab Sky sambil menunduk.
"Kamar ini kedap suara. Jadi, kau bisa tenang, Lova."
Skylova menghela napas kasar. Dia bisa malu kalau Damian tertawa keras seperti itu.
Damian beranjak dari tempat duduknya. Dia keluar kamar untuk mengambil makanan. Skylova langsung berdiri dan berlari menuju jendela.
"Rumah besar, pohon semua, tak ada rumah di sekitarnya. Ini namanya penjara mewah. Astaga, Sky di penjara," ucap Skylova sambil menutup mulut.
Skylova mondar mandir memikirkan cara untuk kabur dari rumah uang seperti istana ini. Dia kemudian menatap seluruh ruangan itu, untuk mencari petunjuk.
Skylova melihat laptop milik Damian. Dia langsung mengambil laptop itu dan membukanya dengan tergesa-gesa.
"Kode yang menyebalkan," ucap Skylova sambil memainkan jarinya.
Gocha
Skylova berhasil masuk ke dalam laptop itu. Dia meretas CCTV yang ada di seluruh rumah itu.
"Ini adalah Mansion. Damian benar-benar kaya."
Skylova terus menelusuri akses jaringan agar bisa menghubungi seseorang yang ada di Indonesia. Satu-satunya orang yang jenius dalam bidang IT adalah Raymon. Raymon pasti mau membantunya.
"Semoga pesan Sky bisa diterima."
Namun, tiba-tiba laptop eror. Padahal pesannya belum terkirim. Skylova berteriak frustasi.
"Bandit Belanda menyebalkan!" teriak Skylova menggema di seluruh ruangan.
Sementara itu, Damian berada di ruang tamu bersama hacker dari Belanda. Dia adalah Mattew Hilson. Mattew Hilson adalah salah satu rival Skylova dan Raymon di kampus. Mereka selalu bersaing ketat.
Mattew tersenyum, ketika dia berhasil menggagalkan rencana Skylova. Dia mengangkat jempolnya dan menatap Damian.
Skylova langsung keluar kamar dengan berlari. Dia tahu Mattew pasti ada di dalam mansion ini. Benar saja, skylova melihat Damian dan Mattew duduk bersama di sofa.
"Dasar bandit menyebalkan," ucap Skylova sambil mengatur napasnya karena dia berlari.
"Hai Sky, lama tak bertemu," sapa Mattew.
Skylova menghampiri Mattew yang tengah duduk di sofa dengan santai. Dia kemudian memukul kepala Mattew.
Plak
Mattew berteriak kesakitan. Dia menatap Skylova tajam. Sedangkan Damian menghampiri Skylova yang tengah menahan amarahnya.
"Nikmati ajah pukulan Sky, lagi pula itu tak sebanding dari yang tadi. Gara-gara kau, Sky jadi gagal kirim pesan," ucap Sky sambil mengepalkan tangan.
"Aku yang menyuruhnya, agar kau tak bisa kabur."
Skylova menoleh ke arah Damian. Dia menatap Damian penuh rasa benci.