
Skylova mengeluarkan motornya dari garasi mobil, dia mengelus sayang motornya itu. Tanpa pikir panjang dia memanasi motornya dan menaikinya. Tak lupa jaket hitam dan juga helmnya.
Brum
Brum
"Ah, lebih baik berangkat."
Namun tiba-tiba dia berhenti di depan Vila yang bertulis, Vila Maheswari.
"Astaga, ni Vila banyak lorong rahasianya. Masa bodoh ah lebih baik berangkat."
---------
Perusahaan Mahendra
Dua orang yang berbeda usia itu sedang berbincang-bincang mengenai kerja sama mereka. Kerja sama mereka sudah terjalin cukup lama. Siapa lagi kalau bukan Julio Mahendra dan Baitu Maheswari.
"Saya sangat senang bisa bekerja sama dengan anda lagi, Tuan Maheswari."
"Begitu juga saya, Tuan Mahendra."
Namun tiba-tiba, ada seorang gadis masuk tanpa permisi. Gadis itu menaruh tasnya di samping Baitu dan duduk di samping ayahnya. Gadis itu sibuk dengan ponselnya. Siapa lagi kalau bukan Skylova? Julio yang melihat itu hanya tersenyum canggung dan menahan malu. Ingin rasannya dia melempar gadis itu ke planet mars. Kalau saja gadis itu bukan anaknya. Tapi sayang, dia anaknya.
Baitu yang melihat gadis itu hanya diam dengan aura dingin. Gadis di depannya ini sungguh tak sopan. Pakaian tak layak, rambut seperti laki-laki dan juga dia menguyah permen karet. Ingin rasanya Baitu kuliti hidup-hidup.
"Lova, mana letak sopan santunmu?"
"Ayah, Sky sibuk. Sebentar lagi menang. oh iya, jangan panggil Lova, Sky tak suka. Ingat ayah, cuma mama yang boleh." Skylova mengangkat telunjuknya.
"Anak ini," gumam Julio.
Karena merasa tak enak Julio pun meminta maaf pada Baitu.
"Maafkan putri saya, Tuan Maheswari."
"Tidak apa-apa Tuan Mahendra, karena putri anda masih masa pertumbuhan."
Suara ini, bas dan juga serak. Suara yang sungguh nikmat untuk di dengar telinga. Suara yang membuat Skylova melayang jauh keatas dan tak turun. Tanpa sadar Skylova mendongak kan kepalanya ke atas.
"Ayah, Sky nggak mimpi kan?" tanya Skylova sambil mencubit pipi tembebnya dan menjatuhkan ponselnya.
"Maksudmu apa Lova."
"Ya ampun, astaga...." Skylova berdiri dan menunjuk ke arah Baitu.
Baitu yang di tunjuk semakin geram dan mempertajam pandangannya. Namun, yang di pandang malah mengedipkan matannya.
"Paman boleh jujur nggak?" Skylova duduk kembali dan mengambil ponselnya yang jatuh.
"Paman sangat tampan, Sky terpesona."
Doeng
Baitu mengerutkan dahinya. Baru kali ini dia mendapat perlakuan seperti ini. Sedangkan Julio menahan amarah dan malu jadi satu.
"Lova, KELUAR! teriak Julio.
"Sky masih mau disini. Paman, Sky temani ya. oke."
Julio mengepalkan tangannya tak tahan dia akhirnya menghubungi sekretarisnya.
"Bawa Lova keluar." Julio memijat pelipisnya.
Tak lama kemudian dua orang berbadan besar masuk dan menyeret Skylova. Skylova hanya pasrah. Dia tak mau melihat pujaan hatinya melihat kelakuan kasarnya.
"Maafkan putriku Tuan Maheswari, dia memang sulit diatur."
"Saya sejujurnya sangat kecewa, tapi karena kerja sama kita terjalin lama, maka saya akan memaafkan anda.Tuan Mahendra."
"Terimakasih atas kemurahan hatinya, Tuan Maheswari."
"Saya permisi dulu."
"Silahkan."
Baitu berjalan keluar ruangan milik Julio. Sebenarnya, dia sangat kesal. Ingin rasanya dia membatalkan kerja sama ini. Tapi, apa daya. Kerja sama ini sangat menguntungkan baginya.
"Sial, gadis itu membuat hariku rusak," gumam Baitu.
Kembali ke kondisi Skylova. Dia menghajar habis-habis dua pengawal yang menyeretnya keluar dari ruangan ayahnya. Tanpa sengaja Baitu melihatnya dari kejahuan.
"Huh, menyebalkan. Merusak suasana saja. Ini uang untuk kalian. Berobatlah, jangan bilang kalau Sky kabur. Awas saja ku patahkan semua kaki dan tangan kalian."
Kedua pengawal itu hanya mengangguk pasrah.
"Sial, siapa paman itu? Sky harus mencari tahu tentangnya." Skylova menaiki motor kesayangannya.
"Menarik," gumam Baitu sambil menyeringai
Baitu masuk mobil dan meninggalkan perusahaan Mahendra.
"Halo."
"Cari tahu semua tentang keluarga Mahendra, dan serahkan padaku hari ini juga.
Tut..
"Jika kau berbahaya, jangan harap kau bisa menikmati hidup, gadis kecil.," gumam Baitu.
---------
Vila Mahendra
Starlo sedang menonton tokoh animasi kesukaannya. Hari ini dia tak masuk kerja. Lantaran baru saja tiba di Bali. Starlo memanfaatkan waktu luangnya untuk bersantai ria.
Namun tiba-tiba, pintu di buka kasar
"Astaga." Starlo berjingkat.
"Maaf, buru-buru." Skylova duduk dan merebut snack milik Starlo
"Dek, kalau pulang yang sopan napa? nanti pintunnya rusak."
"Biarin, nih..." Skylova memberikan snack dan mengeluarkan laptopnya.
Tanpa pikir panjang dia mengotak atik laptopnya mencari informasi mengenai Baitu Maheswari. Skylova masih ingat jelas nama keluarganya.
"Sial, kenapa sulit gini sih? Sky nggak akan nyerah."
"Ada apa sih dek?"
"Diam dulu bang, Sky sibuk nih."
Starlo hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dia sudah tahu sifat Skylova. Skylova memang tak bisa di ganggu kalau sedang fokus.
"Ha Ha. Akhirnya, Sky menemukannya termasuk nomer ponselnya. Dan ternyata, rumahnya ada di depan rumah kita bang."
"Maksud lo apa dek, abang nggak ngerti."
"Abang kenal dengan keluarga Maheswari?"
"Kenal."
"Kenapa nggak bilang?"
"Kan adek nggak nanya, lagi pula kenapa tanya keluarga Maheswari segala?"
"Orangnya ganteng bang, Sky suka."
"Apa?" Starlo berdiri tegak
"Ih, abang berlebihan."
"Bukan gitu dek, Baitu Maheswari terkenal kejam, dan umurnya sudah 38 tahun. Sedangkan lo kan masih 18 tahun."
"Cinta tak memandang umur bang, yang penting cinta. Toh Sky tulus cinta ama dia. Sky akan kejar paman itu pokoknya.
"Dek, carilah yang umurnya tidak jauh dari lo. Lo mungkin terobsesi sama dia." Rayu Starlo
"Abang diam deh, wong Sky cinta kok dihalang-halangi."
"Bukan gitu Skylova sayang."
"Nih, pasti mulai merayu kalau udah panggil itu. Pokoknya Sky akan tetap kejar tu paman. Dan satu lagi jangan panggil Sky dengan sebutan lo. Karena Sky punya nama," celoteh Skylova panjang lebar.
"Oke, tapi urungkan ya, kejar Tuan Maheswarinya, jangan bandel gitu dong.?"
"BOMAT." Skylova lari menuju kamar.
Skylova sangat kesal pada abangnya. Kenapa dia tak di dukung. Malah disuruh berhenti mengejar. Kan belum di kejar.
Skylova meletak kan tasnya diatas tempat tidur. Dia merebahkan tubuhnya diatas kasur. Dia mengingat jelas wajah tampan Baitu. Tanpa Skylova sadari dia tersenyum. Andai Skylova bisa menyentuhnya. Pasti sangat menyenangkan. Lebih baik menghubungi paman tercintanya.
Tut
Tut
Tak ada jawaban
"Sekali lagi," gumam Skylova
Sampai ke lima panggilan baru diangkat.
"Halo, siapa ini? Awas kalau tak penting."
Astaga, meleleh Skylova di buatnya. Suaranya memang membuat hati senang. Buru-buru dia menjawab.
"Paman, ini Sky. Simpan nomerku ya."
"Gadis pengganggu."
Tut
Tut
Baitu meletakkan kasar ponselnya. Dari mana gadis itu tahu nomernya. Sial, gadis itu harus cepat di bereskan. Mengganggu saja.
"Tuan, ini berkas yang anda minta." Sandra menyerahkan berkas itu.
"Sepertinya sopan santunmu semakin berkurang, Sandra."
"Maaf tuan, saya sudah mengetuk pintu beberapa kali, tapi tak ada jawaban."
"Pergilah."
"Saya ingin melaporkan sesuatu, tuan."
"Katakan."
"Data anda di pemerintahan bocor. Pemerintah sedang mencari tahu siapa yang meretas data anda."
"Apa? bagaimana bisa?"
"Maafkan saya tuan, kemungkinan orang yang meretas data anda adalah orang yang sama," tutur Sandra sambil menundukkan kepala.
"Cari sampai ketemu!" teriak Baitu.
Sontak Sandra langsung pergi karena takut dengan kemarahan Baitu.
Dengan wajah yang penuh emosi, Baitu membuka berkas keluarga Mahendra. Tak ada yang spesial dari keluarga itu.
"Sial, sepertinya ada yang menutup data pribadi mereka," gumam Baitu.