
Brama masih berada di posisi canggung. Maju salah, mundur pun juga salah. Tak ada pilihan. Tapi karena terikat janji jadi dia memilih untuk menuruti Skylova. Urusan tuannya nanti belakangan.
Skylova menatap kedua orang yang ada di hadapannya. Kemudian tersenyum dan melanjutkan aksinya lagi.
"Rama, sebaiknya kita jalan-jalan. Sky sangat bosan," ucap Skylova.
Brama menatap Skylova. Sebenarnya dia sudah tak mau mengikutinya hari ini. Batinnya berteriak ingin keluar dari situasi ini. Karena tidak ada jawaban dari Brama, dia menggeret lengan Brama dan melewati Baitu dan Stralo.
"Kau harus antar Sky keliling. Soalnya Sky sangat bosan. Ram, kita ke toko Krisna yuk...!" ajak Skylova sambil berbisik.
"Kenapa tidak besuk saja, Nona. Saya mau ke kantor."
Plak
"Mau melawan."
Plak
"Au..., sakit Nona." Brama mengelus kepala belakangnya yang telah di pukul oleh Skylova.
"Baiklah, tapi setelah ini saya mau pergi ke kantor."
Skylova mendengus kesal karena kesulitan menaklukan Brama. Dia langsung masuk ke dalam mobil, begitu juga Brama.
Sementara itu, kedua orang yang masih berada di taman saling bertatapan. Mereka mengangguk, kemudian langsung pergi ke garasi dan masuk mobil. Baitu dan Starlo mengikuti Brama dan Skylova pergi.
Tidak lama kemudian, Brama dan Skylova sudah sampai di Krisna. Skylova menggandeng tangan Brama. Tiba-tiba, ada seseorang memanggil Brama mereka.
"Brama," panggil orang itu.
Brama menoleh kearah sumber suara. Dia melihat seorang gadis yang tidak dia kenal.
"Lily," gumam Brama.
Skylova ikut menoleh, dia penasaran. Siapa orang yang telah memanggil Brama?
Lily Sandres adalah teman Angel waktu di Paris. Dulu dia membenci Angel sebelum dirinya mengetahui, bahwa Brama bukan pacar Angel. Lily sangat mencintai Brama. Karena telah menolongnya.
Lily menghampiri Brama dan gadis itu.Dia penasaran siapa gadis itu? Kenapa gadis itu menggandeng mesra Brama?
"Aku sudah mencarimu selama 6 bulan di Bali. Akhirnya, kita ketemu," ucap Lily.
Brama mengernyit dahi penuh keheranan. Darimana Lily tahu kalau Brama di Bali? Jawabannya hanya satu. Pasti princes yang memberitahu keberadaannya.
"Kau sebaliknya kembali ke Paris. Untuk menyelesaikan studimu," ucap Brama.
"Wah, Kau pernah ke Paris, Ram," sela Skylova.
"Siapa dia Brama?" tanya Lily.
"Kau tak perlu tahu, Ly," jawab Brama dingin.
Lily tak menyangka, Brama masih bersikap dingin padanya. Tapi dia tak akan menyerah sebelum Brama mencintai dirinya.
"Sebaiknya kau pergi meninggalkan Brama," ucap Lily sambil melipat tangan.
"Astaga..., ini kayaknya fans berat Rama. Kalau di lihat lumayan. Sayangnya palsu akut."
"Kakak cantik, sayang palsu," ucap Skylova.
Lily melotot mendengar perkataan gadis di depannya. Ini kedua kalinya orang berkata bahwa dirinya palsu.
"Kau menghinaku." Lily menunjuk Skylova.
"Lily pergilah! Jangan buat keributan," perintah Brama.
"Aku tak terima, Brama. Dia menghinaku, seharusnya kau membelaku," ucap Lily sambil memelas.
Skylova sungguh bosan melihat tingkah gadis yang bernama Lily itu. Dia memilih untuk mundur kebelakang dan kabur. Namun belum sempat menoleh dia menabrak seseorang dan langsung memutar badannya. Dia kaget melihat Baitu dan juga Starlo yang sudah berada di hadapannya.
"Dek, mau kabur ya...," ucap Starlo.
SkakMat
Skylova ketahuan dan hanya tersenyum tak jelas. Lalu, dia menunjuk ke arah Brama dan gadis bersama Lily itu.
Lily salah tingkah di tatap oleh kedua orang tampan yang ada di dekat Skylova. Dia tersenyum manis. Brama menoleh ke belakang. Tak jauh dari sana, dia Baitu dan Starlo serta Skylova.
Pinggang Skylova di rangkul oleh Baitu dengan posesif. Dia ingin menunjukkan ke Brama kalau Skylova miliknya. Starlo hanya menggeleng melihat tingkah Baitu. Ketiganya menghampiri Brama.
"Sayang, kau membuatku kebakaran jenggot," bisik Baitu sambil berjalan ke arah Brama dan di ikuti Starlo.
Skylova hanya tersenyum sebab Baitu melakukan hal ini padanya.
"Sepertinya kau harus ke kantor, Brama," titah Baitu.
"Astaga..., anda Baitu Maheswari," ucap Lily sambil menutup mulutnya.
Baitu mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Dia tak suka gadis di depannya.
"Apakah kau tak ingin pergi, Brama?"
"Baik, Tuan." Brama mengangguk pergi meninggalkan mereka.
Skylova menatap Brama.
"Ram--"
Dengan sigap Baitu menutup mulut Skylova agar tak memanggil Brama karena tak mau Brama terlalu dekat dengan Skylova.
Skylova melepaskan tangan Baitu dengan paksa.
"Apa yang paman lakukan?" Sky masih butuh rama."
Lily yang melihat interaksi mereka sangat kaget. Gadis di depannya sungguh berani sekali. Seingat Lily, Tuan Maheswari tak punya sanak saudara. Jangan-jangan, dia sugar dady gadis itu.
Lily kemudian melirik Starlo. Starlo sangat tampan. Pesonanya memikat diri Lily. Starlo sangat berkarisma tik. Lily memberanikan diri menghampiri pria itu.
Starlo merasakan alarm tanda bahaya. Hari ini dia tak membawa persiapan apapun. Tapi dia punya satu cara untuk membuat gadis yang akan mendekatinya pergi.
Sebelum gadis itu sampai, Starlo lebih dulu menghampiri. Ketika mereka berpapasan, Starlo dengan sengaja menyenggol bahu Lily dan menginjak tangannya.
Kretek
Bunyi tulang yang patah membuat Lily berteriak kesakitan. Baitu dan Skylova menoleh kearah sumber suara. Semua orang yang ada di area parkir menghampiri sumber suara.
"Kau mau mendekatiku, jangan harap," ucap Starlo sambil meninggalkan gadis itu.
Lily langsung berdiri dan menangis tersedu-sedu. Dia meninggalkan karena malu. Banyak orang yang melihat dan berbisik-bisik tentang Lily. Karena suara Starlo yang begitu keras. Pikiran negatif semua orang menyeruak ke arahnya
"Kalian semua bisa bubar! Ini bukan tontonan." teriak Starlo.
Semua orang disana langsung pergi. Lagi pula di sana ada Tuan Maheswari. Mereka tak mau membuat masalah dengannya.
"Bang, kau sangat keren dan luar biasa." Skylova mengacungkan jempol ke arah Starlo.
"Apanya yang luar biasa? Itu namanya keterlaluan," sambung Baitu.
Skylova menatap tajam dan meninggalkan Baitu sambil menyeret tangan Starlo.
Starlo menoleh ke arahnya dengan senyuman mengejek. Baitu hanya melongo melihat Skylova yang pergi begitu saja. Kemudian dia mengejar kakak beradik itu.
Kring
Kring ( Bunyi ponsel Starlo)
"Halo."
.......
"Kau tak bisa mengurusnya."
.......
"Baiklah aku kesana."
Tut
"Dek, Abang ke kantor Ayah dulu. Ada hal penting. Adek pulang sama dia aja," ucap Starlo.
"Tapi Bang. Abang nggak bisa anterin Sky dulu."
"Maaf, Dek. Jarak toko Krisna sama kantor kan dekat. Lagi pula ini mendesak, Dek. Nggak bisa di tunda." Starlo membujuk dan mengelus puncak kepala Skylova.
Skylova mengangguk dan menyetujui permintaan kakaknya. Starlo langsung pergi ke Kantor Mahendra.
Baitu melihat Skylova sendirian dari jauh, kemudian menghampirinya.
"Sayang, kemana kakakmu pergi?" tanya Baitu.
"Bukan urusanmu," jawab Skylova dingin
Baitu menghela nafas kasar melihat Skylova marah padanya. Mulutnya memang tak pernah bisa di kontrol.
"Sayang...! jangan merajuk, ya...? Hem...!" Baitu memegang pipi Skylova.
Hais..., bisa terbang ke langit tujuh nih Sky! Tuhan..., tolong Sky untuk menetralkan jantung Sky. Astaga..., sampai bunyi keras gini. Dag dig dug..! Sky nggak kuat.
Karena mendapatkan perlakuan manis, wajah Skylova menjadi semerah tomat. Sama halnya dengan Baitu. Dia pintar menyembunyikan ekspresi wajah tenang tapi memanas. Kalau di lihat dengan seksama, telinga Baitu memerah dan tangannya sedikit bergetar.
Aku sungguh tak bisa mengontrol diriku. Ayolah Baitu. Bahkan tangan ku saja bergetar menyentuhnya. Sungguh dia sangat menggemaskan. Lihat wajahnya yang merah itu. Seperti mengundangku untuk mencium nya. Astaga..., jantung ini berhentilah berdetak kencang. Dan buang pikiran mu yang mesum itu, Baitu.