Sky Love Me

Sky Love Me
episode 64



Skylova keluar ruangan untuk menghirup udara segar. Dia menuju ke taman dan duduk di bangku berwarna putih. Pikirannya kalut dan bingung. Banyak teka teki mengenai kehidupan Baitu, Damian, dan Linda.


"Apa yang harus Sky lakukan, Tuhan....?


Skylova menatap matahari yang mulai tenggelam. Baitu melihat dari kejahuan dan menghampirinya.


"Sebentar lagi malam. Lebih baik masuk, Sayang."


Skylova menoleh dan tersenyum kepada Baitu. Dia tidak beranjak sedikitpun dari duduknya.


Baitu menghela nafas panjang dan duduk di samping Skylova. Dia memegang tangan Skylova.


"Jangan memikirkan masa lalu, Sayang," bujuk Baitu.


"Paman tidak pernah cerita mengenai Linda, Damian, bahkan Diana. Sky seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa." Skylova menundukkan kepalanya.


"Mereka adalah masa laluku. Aku tidak mau mengingat orang yang sudah mati."


Skylova mendengus kesal dan pergi begitu saja meninggalkan Baitu.


Kenapa sulit sekali membuat Paman bercerita mengenai kehidupannya? Apakah Sky harus mencari tahu?


Baitu menatap nanar kepergian Skylova. Jujur, dia tidak mau mengorek masa lalu yang sudah dia kubur lama. Rasa bersalah yang telah bersarang bertahun-tahun membuat Baitu semakin menderita. Dia memang tidak bisa mencintai Linda karena sudah menganggapnya sebagai saudara. Dia lebih memilih Diana karena rasa nyaman bersarang di hatinya.


Apakah kau mau memaafkanku, Linda?


Baitu menatap langit yang mulai nampak bintang. Dia mencari jawaban atas masalah yang menimpanya. Jawaban yang dia dapat adalah satu.


"Starlo," gumam Baitu.


Baitu bergegas menuju kamar Starlo dengan berlari. Dia masuk tanpa permisi sehingga membuat Starlo berjingkat kaget.


"Ketuk pintu dulu sebelum masuk," ucap Starlo sambil mengelus dadanya.


Baitu langsung menghampiri Starlo dan memegang kedua bahunya erat.


"Sakit, Bai. Apa yang kau lakukan?" Lepaskan!"


"Kau harus membantuku."


Starlo melepas kedua tangan Baitu dengan kasar. Dia mengambil berkas dan menyerahkannya kepada Baitu.


"Aku tidak mau adikku celaka dan terlibat lagi. Kita harus segera menemuinya," ucap Starlo mantap.


Baitu mengangguk tanda setuju. Dia harus menyelesaikan masalah ini dengan cepat.


Skylova menatap ponsel dan meretas CCTV yang ada di kamar Starlo. Dia mendengar dan melihat jelas perkataan mereka.


"Sky akan bertindak dahulu," gumam Skylova.


Skylova berjalan menuju keluar kamar dan mendatangi Starlo yang tengah berbicara dengan Baitu.


Skylova membuka pintu dengan kasar dan berteriak, "Bang...."


Kedua orang yang ada di dalam kaget dan menoleh ke sumber suara.


"Dek... bisa ketuk pintu dulu sebelum masuk."


"Maaf, Bang. "Sky kan biasanya gitu."


Baitu menghampiri Skylova dan tersenyum manis ke arahnya. Dia menepis jarak untuk memeluk Skylova yang tengah berada di depan pintu.


Mau peluk Sky. No... Sky harus menghindar.


Skylova memilih lari menuju ranjang dan melihat Vino yang masih pingsan.


"Pria cantik, bangun dong....!" Skylova menggoyangkan tubuh Vino agar bangun.


Vino langsung membuka mata lebar-lebar dan berdiri seketika.


"Dimana kebakarannya? Kita mesti lari."


Doeng


Ha Ha Ha Ha


Suara tawa menggema di seluruh ruangan. Skylova menghampiri Vino yang masih kebingungan dan menepuk bahunya pelan.


"Ini sudah malam. Bukankah pria cantik ada kencan dengan seorang wanita?"


Deg


Vino menoleh menatap Skylova yang tengah tersenyum devil kepadanya. Kenapa Skylova bisa tahu kalau dia ada kencan dengan seseorang?


"Wah... kau mau kencan ternyata. Dimana kau akan berkencan? Aku akan ke sana dengan Lova," sambung Baitu.


Jangan harap bisa kencan dengan Sky. Sky tak mau kencan dengan Paman. Sky tak mau kembali ke kencan yang kurang romantis itu.


Semua orang yang ada di sana belum mengetahui kalau ingatan Skylova sudah pulih. Dia sengaja menyembunyikan untuk menyelesaikan masalah Damian dan Baitu.


"Lebih baik aku pergi," ucap Vino.


"Kau masih berhutang padaku, Vino." Starlo menatap tajam Vino dengan menusuk.


Pasien menyebalkan! Kalau bukan karena dirinya. Aku pasti bisa bersenang-senang dengan Kelly.


Vino mendengus kesal dan pergi begitu saja. Dia hanya jengkel kepada Starlo yang kelewat lebay mengenai tubuhnya.


"Ingat!" teriak Starlo


"Udahlah, Bang. Kan Abang udah balas dendam. Masak! Masih aja marah."


Baitu mendekati Skylova dan ingin memeluknya lagi. Namun di hadang oleh Starlo.


"Apakah matamu buta, Bai? Adikku masih kesal padamu. Kau seperti pria kurang belaian."


Baitu menatap tajam Starlo. Emosinya memburu. Tatapannya mampu membuat orang tertusuk ribuan jarum. Tangan mengepal. Wajah merah padam. Ekspresi ini tidak pernah di lihat oleh Skylova dan Starlo.


Starlo hanya diam bukan berarti takut. Melainkan mengamati setiap perubahan Baitu yang tidak bisa mengontrol emosinya.


Skylova memilih keluar perlahan dari ruangan. Dia menuju kamar dan tidur di atas ranjang.


"Linda Sasendri, apakah waktu Sky tidak banyak?" gumam Skylova.


Sementara itu, Damian sedang bersiap menuju ke Bali. Dia membawa foto besar milik Linda. Tommy menghampiri Damian dan merebut foto itu.


"Tommy! Jaga batassanmu!" teriak Damian.


"Aku akan membakar foto ini. Tolong pikirkan kembali rencanamu itu, Damian."


Damian mengepalkan tangan kuat dan merebut paksa foto itu.


"Aku tidak akan berhenti sebelum Baitu merasa kehilangan seperti diriku."


"Dia sudah kehilangan Diana, Damian."


Tommy mencoba membujuk Damian agar membatalkan rencananya. Dia tidak mau membuat Skylova terluka. Meski cintanya tidak terbalas, setidaknya Skylova bisa hidup bahagia dengan Baitu.


Cinta tidak harus memiliki karena mencintai adalah seni yang harus di jaga. Skylova adalah pencerah semua orang. Termasuk Tommy. Mungkin, Damian juga merasakan hal yang sama. Tapi karena kabut amarah yang mendarah daging, dia menjadi terobsesi dengan Skylova.


Tommy tidak akan membiarkan itu terjadi. Satu-satunya cara adalah menghubungi Raymon untuk meminta bantuan.


Aku harus meminta bantuan Raymon. Dia harus tahu semuanya. Damian adalah orang kejam dan berbahaya. Dia lebih kejam dari singa yang mengamuk.