
Brama dan Skylova sudah berada di pasar gelap. Mereka memakai topeng untuk menyembunyikan identitas mereka. Skylova sangat senang melihat sekitar pasar gelap. Baginya ini seperti film luar negri yang di bintangi Tom Kris.
"Nona, sebaiknya kita langsung ke arena penjualan barang ilegal."
Skylova mengangguk. Dia sangat penasaran. Seperti apa arena penjualan barang ilegal tersebut.
Skylova mengamati setiap lorong jalan yang dilewatknya. Tiba-tiba kilasan ingatan muncul sampai dia berhenti.
"Nona tidak apa-apa."
"Tidak. Sky hanya ingat kalau pernah kesini."
Brama terkejut mendengar perkataan Skylova. Bagaimana bisa Skylova tahu tempat ini?
"Bagaimana anda bisa tahu tempat ini, Nona?"
"Entahlah. Sky belum mengingatnya."
Brama menghela nafas panjang. Dia kemudian mengajak Skylova masuk keruangan yang sangat besar.
Skylova melongo karena anyak orang yang ada di dalam arena tersebut. Dia menatap barang yang ada di panggung.
"Berlian Nancara."
"Betul, Nona. Berlian ini asli. Bahkan semua suratnya juga asli."
Skylova menatap tak percaya kepada Brama. Berlian itu asli. Paman tampan sangat luar biasa. Dia bisa menjalankan bisnis gelap dengan pesat.
"Mari kita turun ke bawah untuk melihat proses penawaran."
Mereka langsung menuruni tangga dan duduk di belakang untuk mengamati proses penawaran.
Sementara itu, Baitu mengedarkan seluruh pandangannya ke arena penjualan. Dia melihat Brama dari kejahuan dan menatap orang yang ada disamping Brama. Baitu yakin orang itu adalah Skylova.
"Ayo kita kebawah, Vin."
"Aku mau pulang. Aku tak suka tempat seperti ini, Bai."
"Berhentilah mengeluh." Baitu memukul pelan kepala Vino.
"Jangan memukulku!"
Baitu acuh dan langsung pergi. Sedangkan Vino hanya bisa pasrah mengikuti Baitu dari belakang.
Skylova sangat bosan melihat semua orang yang tak berhenti menawar dari tadi. Tiba-tiba saja, ada sesorang yang mendekat kearah Skylova.
"Kau sangat cantik menggunakan topeng itu."
Skylova menoleh ke sumber suara. Dia tahu siapa orang yang ada di sebelah kanannya.
"Tommy. Sky tak percaya kau bisa muncul di tempat ini." Skylova berbisik kearah Tommy.
"Tentu saja. Karena aku adalah pelanggan tetap," ucap Tommy penuh kesombongan.
Baitu menatap tajam orang yang berbicara pada Skylova. Dia penasaran siapa orang itu? Untuk membuktikannya. Baitu berbalik arah menuju ke belakang panggung.
"Hei, kau mau kemana?"
"Pulanglah terlebih dahulu. Aku ada urusan."
Vino bersorak gembira ketika mendengar perintah Baitu. Dia langsung keluar dari tempat itu.
Baitu melebarkan langkahnya. Dia tak ingin pria itu mendekati Skylova. Salah satu orang kepercayaan Baitu kaget melihatnya yang tiba-tiba muncul.
"Nyalakan lampu arena," perintah Baitu.
Pengawal itu hanya mengangguk. Kemudian melaksanakan perintah Baitu.
Tiba-tiba lampu di arena menyala, semua orang yang ada di sana kaget. Ini pertama kalinya lampu menyala. Brama keheranan dan pergi menuju belakang panggung. Sedangkan Skylova masih duduk dengan Tommy. Dia tidak tahu kalau Brama sudah pergi.
"Sebaiknya kita pergi dari sini, Lova," ucap Tommy.
Skylova menoleh ke arah kiri. Dia mencari Brama. Namun tak ada. Dia langsung berdiri dan mencari Brama di seluruh ruangan.
"Menyebalkan, aku ditinggal," gumam Skylova.
Tommy berdiri dan menggenggam jari tangan Skylova. Skylova kaget dan melepas genggaman tangan tesebut.
"Sky bukan nenek tua yang harus di tuntun, Tom."
"Aku takut kau hilang."
"Modus. Sky tak buta arah," ucap Sky meninggalkan Tommy begitu saja.
Tommy langsung mengikuti Skylova dari belakang. Tanpa di sengaja, Skylova menabrak seseorang sampai topeng itu terlepas. Semua orang menatap kecantikannya.
"Ada bidadari yang menyasar di sini," ucap orang itu.
Skylova mengambil topengnya kembali. Kemudian dia memakainya dan langsung pergi meninggalkan orang itu. Namun orang itu malah memegang tangannya.
"Tak semudah itu kau lari dariku, Cantik."
Skylova langsung mundur satu langkah dan membanting tubuh orang itu. Para pengawal langsung bergegas menuju sumber keributan. Sedangkan Tommy berusaha menerobos kerumunan orang. Namun gagal.
"Nona. Jangan buat keributan. Sebaiknya anda keluar!"
Skylova mendengus kesal dan tak mau mengalah begitu saja.
"Ringkus dia!" perintah salah satu pengawal. "Semua keluar! Biar kami yang menangani."
Skylova di kelilingi oleh puluhan orang. Satu persatu Skylova menghajar semua orang.
Bug
Bug
Brak
Semua orang tepar tak berdaya. Kini tinggal pemimpinnya. Tommy melongo melihat adegan itu, Dia tak menyangka Skylova jago bela diri.
Nafas Skylova terengah-engah karena kehabisan tenaga.
"Sepertinya aku perlu olahraga untuk mengatur Staminaku," gumam Skylova sambil mengusap keringatnya.
Pengawal itu langsung menyerang Skylova tanpa henti. Karena kehabisan tenaga Skylova lengah dan terkena pukulan diarea perut. Tubuhnya mundur ke belakang menatap tembok.
"Sial, sakit sekali."
"Berhenti?" teriak Baitu menggema di seluruh ruangan.
Pengawal itu pun langsung berhenti. Baitu langsung menghampirinya.
Bug
"Dasar bodoh. Kau melukainya."
Pengawal itu tersungkur ke lantai. Sedangkan Tommy hanya bisa diam. Dia ingin menghampiri Skylova. Namun, tiba-tiba seseorang menggeretnya dari belakang. Orang itu adalah Brama.
"Lepaskan!" ucap Tommy kasar.
"Lebih baik anda pergi. Jangan mengganggu urusan tuanku."
"Cih... dasar ******. Kau terlalu setia." Tommy berucap sambil pergi begitu saja. Dia sangat kesal sekali karena tak bisa membantu Skylova.
Baitu menghampiri Skylova yang masih menaha rasa sakit di area perutnya.
"Sayang,kKau baik-baik saja. Mana yang sakit?" tanya Baitu sambil memegang tubuh Skylova.
Semua pengawal yang ada disana kaget. Mereka tak menyangka tuannya mengenal gadis itu. Apalagi sang tuan memanggilnya dengan sebutan sayang. Kali ini mereka pasti akan mendapat hukuman.
"Uh..., perut Sky sakit, Paman. Pasti biru." Skylova membuka kaosnya. Namun di cegah oleh Baitu.
"Jangan di sini! Kita pulang."
"Tapi Sky ingin lihat."
Baitu hanya diam. Dia tak mau semua orang yang ada di sana melihat tubuh Skylova.
"Brama, urus semua yang ada di sini. Beri mereka hukuman karena telah melukai Skylova!" teriak Baitu menggema di seluruh ruangan.
Skylova langsung menutup telingannya. Matanya tiba-tiba buram. Dia menggelengkan kepalanya untuk menetralkan penglihatannya.
Bug
Skylova ambruk di lantai. Baitu kaget melihatnya pingsan. Dia langsung menggendong Skylova keluar dari pasar gelap.
Baitu sangat cemas dan langsung menghubungi Sandra untuk menjemputnya. Sampai di Vila, dia melihat Vino yang sedang duduk di sofa.
"Periksa Skylova!" perintah Baitu sambil menggendong Skylova ke kamar.
Vino langsung pergi mengambil alat medisnya. Dia bergegas menuju kamar Baitu untuk memeriksa Skylova.
"Dia hanya pingsan karena kelelahan." Vino bergerak membuka kaos Skylova.
"Apa yang kau lakukan? Jangan sentuh!"
"Aku dokter. Tentu aku memeriksanya. Ada bekas noda di bajunya. Aku yakin pasti dia di pukul atau di tendang."
Baitu mendengus kesal dan mendorong Vino keluar kamarnya.
"Hei, Bai. Aku belum selesai memeriksanya."
"Ambil air hangat dan taruh di depan pintu."
Baitu menghampiri Skylova yang terbaring di atas ranjang. Dia membuka kaos Skylova. Baitu kaget ada noda memar di perut sebelah kanan.
"Sialan, aku harus menghukum dia yang telah membuat Skylova seperti ini," ucap Baitu penuh emosi.
Tok
Tok
Baitu menghampiri pintu dan membukanya. Vino tersenyum lebar ketika Baitu membuka pintu tersebut.
"Berikan salep ini padanya," ucap Vino sambil memberikan ember berisi air dan juga salep kepada Baitu.
Brak
Baitu menutup kasar pintu tersebut.
"Sabar Vin, kau harus sabar menghadapi perjaka tua seperti Baitu Maheswari," gumam Vino pergi meninggalkan tempat itu.