Sky Love Me

Sky Love Me
episode 59



Haiden menghampiri Damian yang sedang menahan sakit di tangannya. Dia memegang tangan Damian dengan sedikit kasar.


"Kau mau membunuhku, Haiden," ucap Damian sambil menahan rasa sakit."


"Maaf tuan, lurus kan tangan anda. Saya akan membuka aliran darah anda."


Damian meluruskan tangannya. Haiden pun membuka aliran darah Damian.


"Saya tak menyangka, Nona Skylova bisa melakukan tehnik ini. Dia benar-benar jenius tuan. Di umurnya yang masih muda. Ada bakat yang sudah melekat padanya."


Damian mendengus kesal. Dia merapikan jasnya kembali dan berdiri.


"Jangan memujinya, aku tak suka. Hanya aku yang boleh memujinya," ucap Damian dingin.


Haiden hanya bisa menghela nafas kasar. Damian tak pernah bersikap seperti ini, ketika dengan Linda Sasendri. Haiden yakin, Damian hanya terobsesi dengan Skylova. 


"Berapa lama kau akan berdiri disana? Kita harus mengejar mereka."


Haiden langsung mengikuti Damian. Dia kemudian mengatur seluruh pengawal Damian untuk mengejar kedua kakak beradik itu.


Sementara itu, Skylova dan Starlo sudah menaiki mobil. Namun, mobil mereka berhenti seketika.


"Bang, mobilnya mogok kayaknya."


"Abang cek dulu, dek."


Starlo turun mobil, dia mengecek keadaan mobil. Mobilnya tidak rusak. Dia kemudian kembali masuk ke dalam mobil dan melihat bahwa bahan bakarnya habis.


"Kita harus jalan dek, bahan bakar nya habis."


"Tapi, inikan masih jauh dari pemukiman, bang?"


"Mau gimana lagi, ayo, cepatlah turun!"


Skylova turun dari mobil. Dia mengikuti Starlo yang sudah berjalan duluan. 


Hari semakin panas, Skylova merasa kehausan. Dia kemudian berhenti terlebih dahulu.


"Kangen paman tampan, dia lagi ngapain ya? Sky lagi susah nih, paman," gumam Skylova.


Starlo menoleh ke belakang. Dia melihat Skylova yang tengah duduk di bebatuan. Starlo menghampiri Skylova.


"Ada apa dek?"


Skylova mendongak ke atas. Dia menatap Starlo dengan sendu. Starlo kemudian memeluk Skylova.


l


"Kita pasti pulang. Abang, sudah menghubungi Baitu." 


Skylova langsung berdiri. Energinya terisi kembali. 


"Ayo bang! Kita jalan lagi," ucap Skylova penuh semangat.


Starlo melepaskan pelukannya. Nama Baitu ternyata berguna juga di saat seperti ini. Hanya mendengar namanya saja, Skylova langsung semangat lagi.


------


Haiden menyebar seluruh pengawal Damian ke hutan. Dia juga ikut mencari kedua kakak beradik itu. Dari kejauhan, Haiden melihat mobil yang tengah terparkir di tengah jalan. Dia kemudian berhenti tepat di belakang mobil itu.


"Kenapa berhenti?"


"Ada mobil tuan. Kemungkinan, mobil itu adalah milik Tuan Starlo."


Damian turun dari mobil. Dia menghampiri mobil itu. Mesin mobil itu masih hangat. Berarti keberadaan mereka tak jauh dari sini. 


"Kita masuk hutan. Kerahkan semua orang." 


Damian masuk ke hutan dan mengamati jejak yang ditinggalkan oleh adik kakak itu. Damian tersenyum devil. Dia yakin, kedua saudara itu tak akan bisa keluar dari hutan ini.


Tak jauh dari lokasi keberadaannya,  Damian melihat Starlo dan Skylova. Dia dan Haiden perlahan mendekati keduanya.


l


"Sepertinya, kalian tersesat," ucap Damian.


Skylova dan starlo kaget. Keduanya langsung berdiri. Mereka tak sadar, dari tadi memutari hutan ini. 


"Hutan ini, seperti hutan ilusi. Kalian tak sadar, jika kalian hanya berputar saja."


"Anggap saja olahraga," jawab Skylova dingin.


Starlo juga ikut berdiri memegang tangan Skylova. Dia tahu, kunci bisa keluar dari hutan ini. 


"Dek, kita harus lari. Abang sudah tahu jalan keluarnya."


Skylova mengangguk setuju. Tanpa aba-aba mereka lari begitu saja. Damian dan Haiden langsung mengejar mereka. 


Sampai akhirnya, mereka berdiri di tepi jurang. Tak ada jalan keluar lagi bagi kedua kakak beradik itu.


"Menyerah saja." 


"Menyerah, itu hanya dalam mimpimu!" teriak Skylova.


Starlo menatap Skylova. Begitu juga Skylova. Dia juga menatap Starlo. Keduanya mendongak keatas. 


"Langitnya indah bukan," ucap Skylova.


"Bener dek, kita harus melakukannya. Sepertinya tak dalam. Lagi pula ada air."


"Takut, soale nggak bisa berenang." 


Starlo menggenggam tangan Skylova. Mereka berdua memutuskan untuk terjun ke bawah. Sedangkan Damian, berteriak keras memanggil nama Skylova.


Damian juga ingin terjun ke bawah sana. Namun, dia dihadang oleh Haiden.


"Kita cari di sungai ujung hutan, tuan. Anda tak perlu terjun ke bawah."


Kedua kaki Damian lemas. Dia tak mampu berdiri. Damian masih mengingat Skylova yang terjun ke bawah bersama Starlo.


Haiden memapah Damian menuju hutan bagian bawah. Dia menyebar pengawal Damian untuk mencari kakak beradik itu di sepanjang aliran sungai yang ada di hutan.


Sementara itu, Skylova dan Starlo pingsan di pinggir sungai dekat bebatuan. Dua orang yang tak dikenal telah menemukan mereka. Kedua orang itu, langsung mengangkat tubuh Skylova dan Starlo.


Damian mencari keberadaan Skylova dan Starlo sampai malam. Tak ada hasil dari pencariannya. Damian marah besar. Semua anak buahnya jadi sasaran. Sedangkan Haiden hanya diam saja.


"Ini yang terbaik tuan. Anda, tak boleh jatuh cinta dengan Nona Skylova. Karena dia bisa jadi bumerang buat anda," batin Haiden.


Damian menatap tajam Haiden. Dia tahu, Haiden selalu ikut campur dengan urusannya. Termasuk urusan Damian dengan Linda dulu.


"Kau tidak merencanakan sesuatu de belakangku kan?" tanya Damian penuh dengan selidik.


Haiden menelan saliva nya kasar. Damian sangat peka sekali. Haiden berusaha menutupi ekspresi wajahnya.


"Tidak tuan, saya tidak berani."


Damian tidak percaya dengan Haiden. Dia harus mencari Skylova secara diam-diam.


------


Dua hari telah berlalu. Skylova masih betah dengan mimpi panjangnya. Baitu selalu berada di dekat Skylova. Dia tak beranjak sedikitpun dari tempat itu.


"Bangunlah sayang, aku rindu semua yang ada padamu," gumam Baitu.


Baitu menatap Skylova yang masih tertidur. Dia mengingat kejadian dua hari yang lalu. 


Setelah Starlo menghubunginya, ada nomor yang tak dikenal menghubunginya. Dia adalah Haiden. Haiden sengaja melakukan itu, agar Damian tak terjerat dengan Skylova. 


Haiden juga yang telah menyewa dua orang untuk membawa Skylova dan Starlo pergi setelah ditemukan. Semua rencana Haiden berjalan dengan lancar. Bahkan, Damian tidak mengetahuinya sama sekali.


Setelah sampai di sebuah gubuk dalam hutan. Baitu langsung bergegas masuk. Di sana ada dua orang asing dan juga Starlo. Starlo sudah sadar terlebih dahulu. Starlo tahu, bahwa Haidenlah yang telah menolong mereka.


Baitu sangat bersyukur, dia bisa dipertemukan kembali dengan Skylova. Setelah mengingat kejadian dua hari lalu. Baitu menggenggam tangan Skylova.


"Apa kau tak merindukanku, sayang?" 


Skylova mendengar perkataan Baitu. Namun, matanya sulit untuk di buka. Dia hanya menggerakkan jarinya. Baitu langsung terkejut setelah melihat pergerakan tangan Skylova. Dia berteriak memanggil Vino.


Vino langsung masuk dan memeriksa Skylova.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Baitu.


"Kemungkinan, sebentar lagi dia sadar. Aku yakin, Skylova mendengar perkataanmu. Teruslah mengajaknya berbicara," ucap Vino.


Vino langsung pergi ke luar kamar. Dia harus memeriksa Starlo. Setelah kejadian itu, Starlo jadi sulit tidur. Karena, dia merasa bersalah terhadap Skylova. Dia tak berani mendekati Skylova. Bahkan kegiatannya, dihabiskan dengan membuat game baru.