Sky Love Me

Sky Love Me
Episode 67



Skylova melepas pelukan Damian dan berhenti menangis. Ia lega karena pria di depan itu tidak jadi memotong tangannya. "Syukurlah…," ucap Skylova sambil tersenyum lembut dan mengusap air matanya.


Deg 


Jantung Damian memompa sangat keras sehingga darahnya mendidih dan menjalar ke seluruh tubuh. Senyum manis yang menghiasi wajah ayu Skylova mampu membuatnya terhipnotis. 


"Sky mencarimu."


Damian langsung tersenyum ketika mendengar perkataan Skylova. Ia kemudian menarik gadis itu untuk duduk di sofa. "Apakah kau rindu padaku?" tanya Damian.


Rindu. Yang benar saja. Dia gila ya …


Batin Skylova sambil menyentuh kening Damian. 


"Tidak panas." 


Damian mematung dan tak bergerak sedikitpun karena di sentuh oleh Skylova.


"Damian aneh."


Damian langsung sadar saat Skylova menyebutnya aneh. "Aku tidak aneh. Aku jatuh cinta padamu, Lova."


Apa???Lelucon apa lagi ini!!


Skylova berpikir bahwa Damian hanya melawak saja. "Jangan bercanda."


Damian menggeleng, "Aku serius."


Deg


Skylova bingung harus berbuat apa. Baru kali ini ada seseorang yang menyukainya terlebih dahulu. Bahkan, menyatakan cinta kepadanya. 


"Tapi, Sky tak bisa menerimamu," ucap Skylova sambi menunduk. 


"Cinta bisa di pupuk, Lova. Aku yakin, kau akan mencintaiku. Lagi pula, Baitu tak pantas untukmu. Dia tak becus menjagamu. Berkali-kali, kau hampir celaka."


Skylova hanya menunduk saja. Selama ini, memang benar kalau ia tak aman berada di dekat Baitu. Bahkan, ia hampir mati karena bersamanya. 


"Aku bukan seperti dia yang tak bertindak tegas," ucap Damian sombong.


Hati Skylova mulai goyah. Di sisi lain, ia sangat menyukai Baitu. Namun, jika kehidupan yang di jalaninya tak tenang. Apakah dia akan bahagia?


"Menikahlah denganku." Damian memegang tangan Skylova dan tersenyum lembut. 


Skylova sangat dilema. Ia bingung harus menjawab apa. Baru kali ini, ada orang yang melamarnya. Bahkan, Baitu tak pernah bilang seperti itu. Pria itu terlalu cuek mengenai perasaannya.


"Sky bingung. Sky kesini untuk menghentikan Damian. Linda datang menemui Sky. Dia berkata untuk mencegah Damian berbuat buruk kepada paman," ucap Skylova sambil menunduk.


Damian melotot kaget dan tak percaya bahwa arwah Linda mendatangi Skylova. "Jangan mengada-ada, Lova. Selama ini, dia tak pernah datang padaku."


Skylova menghela nafas panjang. "Merelakan adalah pilihan terbaik. Jangan menyesal."


Deg


Perkataan Skylova sama persis dengan Linda. Itu berarti, gadis di depannya tidak berbohong. 


"Damian, Sky sangat berterimakasih bisa mendapatkan ungkapan cinta. Tapi, apakah itu benar dari dalam lubuk hatimu? Atau kau hanya terobsesi menggunakan Sky untuk balas dendam dengan paman?"


Pertanyaan Skylova tak bisa di jawab oleh Damian. Awalnya, ia berencana demikian. Tapi mulai hari ini, semua akan berubah. 


"Jika hanya untuk balas dendam, maka Sky akan berdiri di depan untuk menghadang," ucap Skylova mantap.


Damian menatap Skylova dengan lembut. Gadis di depannya sangat polos sekali. Ia tak menyangka akan jatuh hati padanya. Meskipun begitu, balas dendam adalah tujuan utama saat ini. 


"Jika kau bersamaku. Aku akan membiarkan Baitu hidup," ucap Damian dusta. 


Skylova menatap manik biru pria di depannya. Ia mencari ketulusan di mata Damian. Gadis itu menghela nafas kasar, "Balas dendam akan membuatmu sengsara, Damian. Sky tahu, kau berbohong. Mungkin bila Linda masih ada, dia akan bertindak seperti Sky. Jika kau bersikeras, kau akan melawanku tentunya."


Damian menatap Skylova lekat-lekat mencari kesungguhan hatinya. Dalam mata gadis itu, terdapat keteguhan hati untuk melawan dirinya. 


"Sepertinya,aku tak punya pilihan lain," ucap Damian sambil tersenyum.


Damian bergerak cepat berada di depan Skylova. Ia memberi pil pelumpuh agar gadis itu tak bisa lari darinya. 


"Apa yang kau berikan pada Sky?" teriak Skylova sambil merosot ke lantai karena kakinya lemas. 


"Maafkan aku. Tapi, kau hanya milikku."


Deg


Skylova tak mengerti apa maksud dari perkataan Damian. Ia kemudian menatap tajam Damian untuk menebak jalan pikirannya. Namun, orang di depannya sangat sulit untuk dimengerti.


Persiapan Skylova kurang matang. Ia pikir kalau negosasi dengan Damian dari hati ke hati akan berakhir baik. Kenyataannya, malah sebaliknya. 


Skylova membuang muka karena tak mau menatap Damian. 


"Kau marah padaku?" tanya Damian lembut. 


Skylova marah karena Damian memberikan obat itu padanya. Ia jadi tidak bebas bergerak dan bergantung pada orang lain. Bahkan, tak bisa kabur darinya. 


Apa yang harus dilakukannya? Apakah harus menggunakan cara itu? Skylova menggelengkan kepalanya kuat - kuat.


Merayunya… tidak mungkin


Damian tersenyum melihat Skylova yang masih berperang dengan pikirannya. Ia kemudian menggendongnya keluar ruangan dan membawa ke kamar miliknya. 


Gadis itu masih tak sadar ketika Damian meletakkannya di ranjang. Ia masih saja sibuk berkelahi dengan batinnya. 


Tak ada cara lain. Paman…, aku harap, kau tak marah. 


Damian menyalakan televisi besar yang ada di kamar itu. Ia melihat Baitu dan Starlo sudah berada di depan rumahnya. 


"Lihatlah, Lova. Dia sudah datang," ucap Damian.


"Dia," beo Skylova.


Deg


Skylova menyadarkan pikirannya, "Paman."


Skylova panik melihat Baitu dan Starlo berada di sana. "Jangan sakiti mereka!" teriak Skylova.


Damian tersenyum, "Itu gampang. Asal, kau menikah denganku."


Dia gila… bagaimana bisa aku menikah dengannya?


Damian mendekat ke arah Skylova dan duduk di sampingnya. "Aku akan menjagamu. Memberi kasih sayang dan juga harta padamu," bujuk Damian sambil mengelus rambut Skylova. 


Skylova membuang muka, "Sky enggak mau."


Damian berdiri dan memilih pergi meninggalkan Skylova. Ia akan bermain bersama Baitu dan Starlo. 


Selangkah lagi, ia akan membalas dendam kepada Baitu. Dengan cara menikahi Skylova, pasti sudah membuatnya tersiksa. 


Damian masuk ke ruangan kontrol dan menghampiri Mattew. "Biarkan mereka masuk!" perintahnya.


Mattew hanya mengangguk dan melakukan apa yang diminta Damian. Setelah pintu gerbang di buka, lelaki itu berjalan keluar ruangan. "Setting seolah - olah Lova terancam."


Setelah memberi perintah, Damian menuju ruang tamu untuk menyambut Baitu dan Starlo. 


BRAKK!!!


Keduanya membuka pintu dengan kasar. Sedangakan Damian hanya menyambutnya dengan santai. "Jangan terburu - buru," ucapnya sambil duduk. 


"Kembalikan dia padaku," ucap Baitu penuh emosi. 


Damian melipat kedua tangannya. "Aku tak akan melakukannya."


Starlo geram, "Dia adikku. Kembalikan padaku. Atau kau kuhajar."


Damian mengayunkan tangannya untuk memerintahkan pengawal mengelilingi kedua pria di depannya. "Kalian sudah terkempung."


"Kita bisa bicarakan ini baik - baik, Damian." Jujur saja, Baitu tak ingin bermusuhan dengan Damian. Karena bagaimanapun mereka pernah berteman. 


Pria itu hanya tersenyum. "Setelah semuanya. Kau bilang seperti itu. Cih, jika bukan karena dia mencintaimu. Dia tak akan menderita. Aku ingin kau merasakan apa yang kurasakan."


Damian memegang remot dan menyalakan TV. Kedua pria yang terpojok oleh pengawal itu terkejut seketika. Mereka melihat Skylova tidur di ranjang dengan lilitan bom di tubuhnya. 


"Kau biada*, Damian. Lepaskan Skylova!!!" teriak Baitu berapi - api. Tubuhnya gemetar melihat Skylova tak berdaya seperti itu. Ia lemah lunglai merosot di lantai dengan pandangan kosong.


"Kau gila, Damian!!" teriak Starlo sambil berjalan menuju pria itu. Namun, di cegah oleh para pengawal. 


"Berani mendekat, maka akan meledak. Aku tak sabar melihat tubuhnya hancur," ucap Damian sambil menyeringai. 


Deg


Jantung mereka seakan berhenti sesaat. Keduanya saling memandang satu sama lain. 


"Apa yang kau inginkan?" tanya Starlo.


Damian mendekat ke arah mereka. "Aku tak butuh apapun darimu, Arlo. Yang aku butuhkan hanya Baitu."


Deg