Sky Love Me

Sky Love Me
episode 22



Semua orang yang ada di depan ruang operasi sudah pergi. Termasuk Raymon. Setelah melihat kenyataan yang menimpa Skylova, dia bergegas pergi dengan tergesa-gesa.


Sedangkan Baitu masih menatap kosong ke arah Jenazah Skylova pergi. Sandra tidak tega melihat Baitu terpukul. Dia menghampiri dan membujuk Baitu.


"Tuan, mari kita pulang. Ini sudah larut. Besok tuan harus mengantar kepergian Nona Skylova di tempat peristirahatannya," bujuk Sandra.


Baitu hanya diam. Dia menangis tidak bersuara. Air mata menetes deras. Skylova pergi jauh dan tidak kembali. Seperti Diana yang juga pergi. Apa salahnya? Kenapa semua orang yang ada di dekat satu persatu pergi. Pertama, kakak. kedua, orang tua. Ketiga Diana dan yang terakhir gadis yang mengisi kekosongan hatinya, Skylova.


"Skylova," gumam Baitu lirih.


Sandra mendengar Baitu menyebutkan nama Skylova. Dia meneteskan air mata dalam diam dan tidak berani bicara sepatah kata pun.


"Skylova," ucap Baitu lagi


Baitu begitu terpukul atas kepergian Skylova. Dia tidak menyangka, gadis yang baru saja di kenal sudah pergi jauh.


Tidak lama kemudian, Baitu berdiri. Dia berjalan sempoyongan keluar rumah sakit dengan pikiran kosong. Sandra menuntunnya ke dalam mobil. Mereka pulang dalam keheningan.


Sampai di Vila Maheswari, Baitu langsung pergi ke kamar pribadinya untuk mengenang kebersamaan dengan Skylova. Dia menatap nanar komputer yang baru saja dibeli sebagai hadiah.


Baitu duduk di atas ranjang. Dia menghirup aroma kuat-kuat milik Skylova yang semakin memudar.


"Aku menyesal tak mengatakan rasaku padamu, Skylova. Skylova aku mencintaimu," gumam Baitu lirih.


Baitu menuju balkon melihat hujan dan menatap langit. Dia teringat kata-kata terakhir Skylova.


Paman tak pernah melihat langit ya? Kalau langit menangis, pasti hujan.


"Apa kau juga menangis melihat Skylova pergi?" tanya Baitu sambil melihat hujan.


Penyesalan pasti datang di akhir. Jika ada orang yang benar-benar mencintai dan menyayangi kita dengan tulus. Namun, tanggapan yang di berikan hanya cuek seperti tidak membutuhkan. Baru kita akan sadar apabila orang itu pergi dan tidak akan kembali.


Sementara itu, Raymon datang ke Kediaman Kyle. Dia akan membuat perhitungan dengan wanita ****** itu.


Brak


Raymon membuka pintu ruang kerja Tommy dengan kasar.


"Ray, kau selalu saja seperti ini." Tommy mengelus dada karena kaget.


"Dimana wanita itu? Jawab kak!"


"Kenapa kau mencarinya? Aku tak tahu. Mungkin dia sudah kabur," jawab Tommy santai.


"Sialan, setelah dia membunuh Skylova. Dia kabur begitu saja. Aku tak akan membiarkan dia kabur," ucap Raymon penuh emosi


Deg


Jantung Tommy seakan berhenti mendengar itu.


"Kau bohongkan, Ray?" tanya Tommy sambil menatap Raymon.


"Dengar, Kak. Andai saja Kakak tidak melakukan hal itu, pasti sekarang Skylova masih hidup. Aku marah padamu, Kak. Tapi aku tak bisa," ucap Raymon sambil meneteskan air mata.


Tommy menatap sendu Raymon. Dia sangat menyesal. Gadis seperti Skylova harus mengalami kecelakaan yang mengenaskan.


"Dokter bilang ada pembekuan di kepala yang mengakhibatkan pendarahan hebat. Sehingga dia tak selamat, Kak," tangis Raymon tidak henti.


Tommy tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya membisu. Apakah Maheswari merasa terpukul atas kepergian gadis itu? Pertanyaan itu terngiang di dalam pikiran Tommy.


Tidak ada rasa senang sedikit pun dari lubuk hati Tommy. Dia awalnya berambisi untuk membuat Maheswari menderita. Tapi sekarang keinginannya pudar seketika. Hanya satu kata yang terucap.


"Skylova, maaf," gumam Tommy


Raymon mendengar perkataan Tommy. Dia menoleh, Apa kakaknya benar-benar jatuh cinta pada Skylova? Mana mungkin Playboy seperti Tommy bisa jatuh cinta?


"Aku akan membantumu, Ray. Kemungkinan Liza pergi ke Jerman. Dia akan bersembunyi di sana," ucap Tommy.


Tanpa pikir panjang, Raymon langsung ke bandara. Dia ingin memberi pelajaran pada wanita itu.


Liza mondar mandir tidak jelas di depan rumahnya. Malam ini, dia memesan taksi untuk pergi ke bandara dan langsung ke Jerman. Tidak lama kemudian, taksi itu datang. Liza langsung masuk.


"Ke bandara, sekarang! perintah Liza kepada sang sopir.


Sopir itu membawa Liza ke Vila Maheswari. Dia membopong Liza di pundaknya dan menelusuri lorong demi lorong. Dia membuka sel yang ada tempat tidurnya dan menaruh kasar tubuh Liza diatas ranjang.


"Menyusahkan." Sambil membuka topi hitam nya.


Brama menyelesaikan tugasnya dengan sangat cepat. Dia juga mengumpulkan semua bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Liza bersalah.


"Sepertinya, aku harus memberitahu Sandra."


Brama mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Sandra.


------


Sandra menatap Baitu dari belakang. Sudah hampir pagi, masih tetap menatap langit. Hujan sudah berhenti. Tapi tidak ada pergerakan dari Baitu.


Tring


Sandra membuka ponselnya. Dia mendapat pesan dari Brama dan langsung menghampiri Baitu.


"Tuan, pelaku sudah di temukan. Brama sudah menyelesaikan tugasnya. Sekarang pelaku itu sudah berada di ruang bawah tanah," ucap Sandra.


Baitu menoleh. Dia tidak menjawab perkataan Sandra. Wajahnya berubah jadi dingin. Sandra hanya menunduk takut.


Tanpa berbicara, Baitu langsung menuju ruang bawah tanah. Sandra mengikutinya dari belakang.


Brama menunggu Baitu muncul dan menatap Liza penuh kebencian.


"Dasar wanita ******," gumam Brama.


Tidak lama kemudian, Baitu masuk ke dalam sel. Dia menatap Liza penuh kebencian. Brama dan Sandra hanya diam. Mereka tidak berani mengganggunya.


Baitu mengambil air dan menyiram tubuh Liza


Byur


Liza berjingkat kaget. Dia menoleh ke sana kemari dan melihat seseorang. Rasa takut dalam dirinya muncul. Liza menundukkan kepala karena tidak berani menatap Baitu yang ingin memakannya hidup-hidup.


"Brama, Ambilkan belatung di ruang penyimpanan!" teriak Baitu.


Brama melakukan perintah Baitu dengan cepat dan kembali membawa satu timba belatung.


Liza hanya menggelengkan kepala dan menangis terisak. Ingin rasanya lari, tapi tidak bisa.


"Ikat dia di atas ranjang!" titah Baitu


Brama dan Sandra langsung melakukan tugas yang di perintahkan Baitu. Dengan sigap, mereka mengikat Liza terlentang di atas ranjang.


Liza meronta-ronta. Tapi tenaganya kalah dengan Brama dan Sandra. Dia memohon kepada Baitu.


"Lepaskan aku, Bai, kumohon!" Liza menangis dan menatap Baitu sendu.


Baitu hanya diam dengan wajah dingin dan menatap tajam Liza.


"Aku mohon, Bai Aku bersalah. Ampuni aku."


Tidak ada jawaban. Baitu mulai mendekat.


"Kau marah padaku karena gadis itu. Gadis itu pantas mendapatkannya. Aku melakukannya karena dia merusak hidupku. Bahkan dia juga merebutmu dariku." Liza tertawa seperti orang tidak waras.


Baitu mengepalkan tangannya kuat tanda emosi memuncak. Dengan gerakan cepat, mencerengkam kuat dagu Liza.


"Lepaskan! Kau menyakitiku, Bai."


Baitu memberi tanda pada Brama untuk menaburkan belatung ke tubuh Liza.


"Kumohon jangan!, a...aa....a singkirkan dariku." Liza meronta ronta.


Baitu menyaksikan penyiksaan itu sampai pagi. Liza sudah sangat lelah berteriak. Dia hanya pasrah. Tenaganya terkuras habis.


"Bawa dia ke penjara. Pastikan dia di penjara seumur hidup. Serahkan semua bukti ke polisi," titah Baitu.


Baitu langsung pergi meninggalkan penjara bawah tanah itu. Dia tidak mau berlama-lama di sana.