Sky Love Me

Sky Love Me
episode 44



Mentari mulai menampakkan diri. Sinarnya menerobos ke arah dua lawan jenis tersebut. Baitu merasa terganggu dan eranjak menuju jendela untuk menutup gorden. Kemudian, dia kembali lagi ke ranjang.


Baitu melihat Skylova yang masih tertidur. Ada rasa bahagia dan lega jadi satu. Tadi malam ternyata apa yang dia lihat bukanlah mimpi, melainkan nyata.


Baitu menghampiri Skylova dan mengelus rambut Skylova serta mengecupnya berkali-kali. Karena kecupan Baitu yang bertubi-tubi membuat tidurnya merasa terganggu. Skylova membuka matanya secara perlahan. Dia bangun dan langsung duduk.


Baitu langsung memeluk Skylova yang sedang duduk di depannya. Dia menciumi leher Skylova dan menghirup aromanya kuat-kuat.


"Apa yang paman lakukan? Sumpah, ini sangat geli paman." Skylova bergerak gelisah.


"Aku sangat rindu padamu, Lova. Maafkan aku. Aku sungguh menyesal. Aku sangat cemburu kau dekat dengan Brama," ucap Baitu.


Skylova tersenyum mendengar perkataan itu karena tidak menyangka Baitu cemburu pada Brama. Padahal, dia tidak dekat dengan Brama untuk mencari kepingan ingatannya.


"Paman mengingatkan Sky tentang Rama, Jadi, Dimana Rama sekarang? Dia masih berhutang pada Sky.


Baitu mendengus kesal. Seharusnya, dia tadi tak menyebutkan nama Brama.


"Dia sedang ke luar kota, mengurus proyekku," ucap Baitu dingin.


Skylova berbalik arah menatap Baitu untuk melihat wajah yang cemburu itu.


Cup


"Jangan marah." Mencium pipi kanan.


Cup


"Jangan cemburu." Mencium pipi kiri.


Cup


"Jangan diulangi lagi." Mencium dahi.


Baitu mematung karena seluruh wajahnya di cium. Tapi ada yang kurang, yaitu bibir.


Baitu menatap bibir pink alami milik Skylova. Jakunnya naik turun. Sepertinya sangat manis dan menggoda. Dia mendekat ke arah bibir itu. Namun di halangi tangan Skylova.


Krik


Krik


Baitu melotot kaget dan salah tingkah. Dia langsung menarik kepalanya ke belakang.


"Ha Ha Ha. Sky tahu kalau Paman mau mencuri lagi milik Sky yang berharga. Jangan harap!" Skylova turun dari ranjang dan menuju kamar mandi.


"Hais, Aku sangat malu," gumam Baitu sambil menepuk jidatnya.


Baitu keluar dari kamar karena sudak seminggu tidak menghirup udara segar. Dia menuruni tangga dan menuju kamar mandi tamu. Semua pengawal melihat tuan mereka sangat senang.


Baitu melihat wajahnya di cermin. Dia menggelengkan kepala. Sungguh kondisinya seperti pengemis jalanan. Dia membasuh wajahnya dengan kasar. Sepertinya dia harus bercukur dan mandi dengan bersih.


Baitu keluar dengan keadaan badan yang segar. Sandra tersenyum melihat sang tuan sudah kembali lagi.


"Sandra, Kemarilah!" Baitu duduk di kursi meja makan.


Sandra menghampiri tuannya dan berdiri di samping kiri.


"Terimakasih, aku tahu kau yang membawanya kembali." Baitu menatap Sandra.


"Ini sudah menjadi tugas saya, Tuan." Jawab Sandra. Tiba-tiba ada seseorang yang berteriak kencang menuju ke ruang makan.


"Paman tampan!" teriak Skylova


Baitu menoleh kearah sumber suara. Senyumnya langsung terbit saat Skylova menghampirinya.


"Wah, Kebetulan. Sky sangat lapar. Ada nasi goreng." Skylova duduk dan langsung mengambil makanan yang tersaji.


"Kau seperti tidak makan setahun." Baitu mengejek Skylova.


Skylova menghentikan aktivitas makannya dan menatap Baitu sendu.


"Paman, makanlah! Sky suapi." Skylova menggeser kursi dan menyodorkan sendok yang penuh dengan nasi goreng ke mulut Baitu.


Baitu melahap makanan itu. Dia sebenarnya tidak begitu menyukai nasi goreng. Tapi karena Skylova yang menyuapinya nasi goreng itu berasa enak.


Skylova tersenyum melihat Baitu makan dengan lahap sampai tak tersisa.


"Paman akan pergi ke kantor ya....?" Skylova bertanya sambil menyangga dagu dengan kedua tangannya.


"Aku ingin seharian bersamamu. Menikmati hari berdua. Karena aku masih merindukan mu." Baitu berbisik di telinga Skylova


Muka Skylova memanas. Wajahnya merah seperti kepiting rebus. Jantungnya menggila. Dan tubuhnya membeku. Skylova diam bagaikan batu. Dia tak berani bergerak sedikit pun.


Baitu menatap Skylova sambil tersenyum. Jantungnya berdetak ingin keluar dari tempatnya. Namun, dia dapat menyembunyikan ekspresinya.


Gemas sekali. Pipinya seperti tomat. Astaga... Aku sangat ingin mencium pipi yang merah merona itu. Sial...! Aku tak bisa mengontrol diriku, batin Baitu.


Cup


Skylova makin membeku dan menunduk serta bergumam tak jelas. Baitu mengangkat sebelah alisnya. Dia kemudian menggendong Skylova ala bridal style. Skylova memekik kaget dan semakin malu sampai bersembunyi di dada bidang milik Baitu.


Baitu membawa Skylova ke taman dan mendudukkan Skylova di kursi taman tersebut.


"Jika paman berlaku manis seperti ini, Sky makin jatuh, Paman."


"Asalkankan kau jatuh cinta padaku, itu tak masalah buatku, Lova." Baitu melirik Skylova yang duduk di sampingnya.


Skylova melongo, Darimana Paman tampa mendapatkan kata-kata manis itu?


"Mulut Paman manis sekali. Paman belajar dari mana?" Skylova bertanya menatap Baitu dengan intens.


"Tentunya darimu, kau kan selalu memujiku." Baitu duduk dan melipat tangannya.


"Astaga... Paman sombong sekali." Skylova menutup mulut lnya tanda terkejut.


Skylova tidak percaya. Baitu banyak berubah selama mereka tidak bertemu selama seminggu. Dia lebih berekspresi, ketika mereka berdua.


Skylova menatap langit yang cerah. Langit hari ini mewakili hatinya yang bahagia. Mungkin Skylova akan memberi kesempatan Baitu untuk memperbaiki hubungan mereka. Lagi pula, Skylova juga tak bisa jauh dari Baitu karena terlalu mencintainya


Semoga perasaan Paman kepadaku tetap abadi.


Dari kejauhuan, Starlo melihat kedua sejoli ini duduk berdua di taman dan melihat cinta antara mereka. Dia menghela nafas lembut. Sepertinya, keputusan yang dia ambil tepat.


"Terimakasih Arlo, kau sudah memberitahuku dimana Nona Skylova berada," ucap Sandra.


Starlo menoleh ke arah sumber suara. Dia melihat Sandra yang sedang menatap Baitu.


"Apa kau menyukai tuanmu?" tanya Starlo.


Sandra menoleh dan menggelengkan kepalanya. Tuan adalah segalanya baginya. Kebahagian adalah kebahagiannya juga. Seperti halnya Starlo pada Skylov.


"Sampai kapanpun, aku akan berada disisi tuan, Arlo. Meski aku sudah menikah. Aku akan tetap menjadi pengawalnya," ucap Sandra.


"Jika aku menikah denganmu, aku tak akan membiarkan kau menjadi pengawalnya lagi," sambung Starlo.


Sandra menoleh ke arahnya. Apa dia tak salah dengar? Pasti ini jebakan. Starlo pindah ke depan tubuh Sandra dan memegang tangan Sandra dan menaruh ke dadanya.


Deg


Deg


Deg


Jantung Starlo terus berdetak, bahkan lebih cepat dari biasanya. Sandra melotot, dia merasakan jantung Starlo yang berdetak kencang.


"Kau tanpa sadar telah menyihirku, Sandra. aku tak pernah merasakan perasaan seperti ini ketika dengan gadis lain. Sepertinya, aku menyukaimu."


Deg


Sandra kaget dan langsung melepas tangannya dari dada Starlo. Dia tak menyangka pria itu akan bicara mengenai perasaannya. Muka Sandra memerah, wajahnya menunduk. Ada sedikit rasa senang di hatinya. Tapi dia tepis. Lagi pula status dia tak lebih dari pengawal. Dia tak mungkin bersanding dengan Starlo yang keturunan ningrat itu.


"Buang jauh-jauh rasa sukamu itu, Arlo. Aku tak pantas untukmu. Aku gadis biasa. Kehidupanku juga biasa," ucap Sandra merendah.


Starlo menatap tajam Sandra karena tak suka cara pola pikitnya. Dia memegang bahu erat Sandra sampai meringis kesakitan.


"Dengar, kau milikku. Aku tak akan membiarkanmu lari dariku." Starlo berucap dan menatap Sandra.


Sandra menepis kasar kedua tangan Starlo. Dia tak mengerti jalan pikiran pria di depannya. Kenapa orang seperti Starlo sulit sekali di tebak? Sama halnya dengan Nona Skylova.


"Aku bukan barang, Arlo. Aku bebas memilih hidupku. Kau tak berhak mengaturku," ucap Sandra sembari pergi.


Ada rasa sakit di hati Sandra ketika mengatakan perkataan itu. Kalau boleh jujur Sandra memang mempunyai sedikit rasa untuk Starlo.


"Kau tidak bisa membohongiku, Sandra. Aku tahu kau juga menyukaiku. Aku tak akan menyerah." Starlo bergumam dan menatap kepergian Sandra.