Sky Love Me

Sky Love Me
episode 17



Tommy keluar dari pasar gelap dan langsung menuju mobil. Karena tidak sabar untuk menyusun rencana. Tidak berapa lama kemudian, dia sudah sampai di Kediaman Kyle. Disana sudah ada Liza Dwoni duduk disofa menunggu kedatanganTommy sambil membaca majalah.


"Kenapa kau kemari?" tanya Tommy.


"Kau sudah sampai. Aku ingin kau melakukan sesuatu." Liza menaruh majalah di meja.


"Aku malas meladenimu. pergilah! Lagi pula beritamu sudah menyebar. Tak ada yang bisa aku lakukan untukmu. Bahkan jika aku menyuruh adikku, pasti tak bisa."


"Aku hanya ingin balas dendam, Tom."


Tommy mengeryitkan dahinya. Balas dendam dengan siapa? Orang yang telah menyebarkan berita itu ke publik.


"Ini orangnya." Liza menyerahkan foto kepada Tommy.


"Kau yakin ini orangnya?" tanya Tommy.


"Dia Skylova Mahendra. Anak kedua Mahendra," ucap Liza.


"Aku baru dengar nama keluarga itu." jawab Tommy


"Dia anak Monica Balwin," tambah Liza


Tommy kaget mendengarnya. Siapa yang tidak kenal Monica Balwin? Orang Jenius di Jerman. Dia semakin menyukai Skylova yang mendapatkan gen dari Monica.


"Baiklah, tapi aku tak ingin melukainya. Karena aku menginginkan Skylova."


"Terimakasih, Tom. Aku hanya ingin memberinya pelajaran." Liza bergelayut manja pada lengan Tommy.


Tommy sangat risih dengan Liza. Dia menjadi jijik melihat berita di media sosial.


"Duduklah! Aku sangat risih." Tommy mendorong Liza dengan pelan.


"Kau sudah berubah, Tom."


"Itu dulu, sebelum berita menyebar. Untung saja aku tak pernah tidur denganmu. Aku membantumu karena kita berteman."


Liza mendengus kesal mendengar perkataan terus terang Tommy. Tapi tak apa. Yang penting dia bisa membalas dendam kepada Skylova


Tiba-tiba, Raymon masuk tanpa ijin.


"Kau siapa?" tanya Raymon


Tommy dan Liza menoleh kepada Raymon.


"Selalu saja tak sopan. Ketuk pintu dulu sebelum masuk," ucap Tommy.


"Maaf, Kak. Aku buru-buru."


Liza menatap Raymon dan menggoda.


"Jangan menatapku seperti itu! Aku tak suka," ucap Raymon.


Liza sangat kesal. Kenapa tatapan menggodanya tak mempan? Pria di depan lumayan seksi. Tapi tidak lebih dari Starlo. Mengingat Starlo, dia jadi ingin memiliki pria itu seutuhnya.


"Pergilah Liza!" titah Tommy.


Tanpa pikir panjang, Liza langsung pergi. Lagi pula urusannya dengan Tommy sudah selesai.


Setelah Liza pergi, Raymon duduk dan menepuk sofa agar bekas wanita yang itu hilang.


"Kebiasaanmu selalu seperti itu." Tommy duduk di samping Raymon.


Raymon melihat foto yang di pegang Tommy dan merebutnya.


"Hei, itu milikku." Tommy melotot tajam.


"Jangan bilang kakak mau mencelakainya."


"Apa urusanmu? Sini! Kembalikan foto itu?" Tommy berusaha mengambil foto di tangan Raymon.


Raymon berdiri dan menatap tajam Tommy.


"Apa-apaan tatapan itu? Seperti mau keluar saja kedua bola mata mu."


"Kau akan menuruti perkataan wanita tadi," tanya Raymon.


"Duduklah! Jangan berdiri! Aku lelah kalau bicara harus mendongak keatas."


Raymon duduk. Lagi pula dia ingin minta penjelasan kepada Tommy


"Aku akan menggunakan Skylova untuk mencelakai Maheswari." Tommy mengambil foto itu kembali.


"Aku tak setuju, Kak. Dia berharga untukku," ucap Raymon.


Tommy melotot mendengar perkataan Raymon. Apa mereka saling kenal?.


"Aku janji tak akan melukainya. Lagi pula aku menaruh hati pada lnya."


Raymon mengepalkan tangan tanda marah. Tommy yang kelewat playboy itu menyukai Skylova. Tidak akan dia biarkan.


"Jangan harap! Kau saja gonta ganti pasangan. Skylova masih murni. Dia tak pernah di jamah oleh pria mana pun."


Tommy yang mendengar hal itu tersenyum bahagia. Dia memang terkenal playboy. Tapi, dia memilih wanita yang berpengalaman untuk masalah ranjang .


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Raymon


"Sialan, buang pikiran kotormu, Kak. Aku menyukainya. Jadi jangan mendekati Skylova."


Senyum Tommy hilang seketika. Raymon menyukai Skylova. Berarti mereka suka orang yang sama. Dia tidak akan menyerah begitu saja.


"Kita bersaing untuk mendapatkan Skylova," tantang Tommy.


Raymon tidak menjawab dan memilih untuk pergi dari rumah kakaknya.


--------


Malam telah tiba, Skylova sudah berada di Vila Maheswari. Dia sedang makan di ruang makan karena kelaparan. Senyum Baitu mengembang melihat itu.


"Kau rakus sekali. Seperti tak makan berhari-hari."


"Aku lapar sekali, Paman. Dari tadi siang belum makan." Skylova mengunyah makanan sambil bicara


"Telan dulu baru bicara," ucap Baitu.


Skylova hanya diam saja. Dia tidak mau berdebat dengan Baitu. Lebih penting perut dari pada bicara membuang energi.


Tiba-tiba, Sandra muncul.


"Tuan, ada tamu. Tuan Mahendra ingin menjemput pulang Nona Skylova."


"Ayah ingin menjemputku?" tanya Skylova.


"Benar, Nona." Jawab Sandra.


Wajah Baitu tidak bisa di baca. Dia menatap dingin Sandra.


Kenapa aku yang di tatap? Apa tuan marah. Sial, aku bisa kena damprat lagi nih..., batin Sandra.


"Aku akan menemuinya. Dan kau setan pengganggu, Tunggu di sini!" Titah Baitu.


"Tapi Paman. Sky ingin bicara dengan ayah." Skylova menundukkan kepala.


Baitu menatap Skylova lembut. dan berpikir tidak ada salahnya jika Skylova bertemu dengan Tuan Mahendra.


"Baiklah, ikut denganku!"


"Terimakasih, Paman." Skylova mengikuti Baitu dari belakang.


Mereka berdua menuju ke ruang tamu. Julio sudah duduk di sofa. Dia datang sendiri. Baitu dan Skylova menghampirinya.


Ayah datang sendirian.Tidak dengan Satrio. Pasti masalah tante tadi. Sungguh menyebalkan.


"Sudah lama menunggu, Tuan Mahendra."


"Belum, Tyan Maheswari. Saya baru saja duduk," ucap Julio sambil menatap Skylova.


Baitu dan Skylova duduk berhadapan dengan Julio.


"Kedatangan saya kemari ingin bicara dengan Skylova. Saya meminta ijin untuk membawa nyapulang." Julio berbicara dengan sangat hati-hati agar tidak melukai perasaan Tuan Maheswari.


"Baiklah, Aku akan memberi kalian waktu untuk bicara." Baitu berdiri dan pergi ke ruangan pribadinya. Dia ingin mendengar dan melihat percakapan mereka melalui CCTV.


Setelah Baitu pergi, Julio mulai bicara dengan Skylova.


"Lova, Ayah sudah memutuskannya. Besok kau harus menghapus semua berita itu."


"Maaf, Ayah. Sky tak bisa."


"Jangan membantah, Lova." teriak Julio.


Skylova kaget. Baru kali ini dia di bentak oleh Julio yang selalu lembut padanya.


"Maafkan Ayah, Bukan maksud Ayah membentakmu, Lova. Ayah dan Mama tak pernah mengajarimu seperti itu. Kita harus menghormati orang lain. Ingat statusmu, Lova. Darahmu bukan darah orang biasa. Kau harus bermartabat."


"Apa pun itu. Sky tak peduli ayah. Sky hanya tak ingin menyembunyikan perasaan Sky. Sky tak ingin berpura-pura menjadi orang lain. Sky tak butuh status. Sky tak butuh martabat. Yang Sky butuhkan adalah kasih sayang dan kepercayaan Ayah dan Mama," jelas Skylova.


"Ayah dan Mama percaya, Sayang. Tapi jangan melakukan hal ini. Merusak hidup orang lain tak baik. Jika orang itu balas dendam bagaimana? Kau itu putri kami. Mengertilah!"


Skylova sejenak memikirkan penjelasan Julio. Tapi dia tetap kukuh dengan pendiriannya.


"Maaf, Ayah. Sky tak bisa melakukannya. Bagi Sky menghina orang tua Sky adalah kesalahan fatal. Lagi pula, dia minta maaf tak tulus."


"Jika kau bersikeras dengan keputusanmu lebih baik kau intropeksi diri. Pulanglah ke Solo. Ikutilah kelas adat di sana."


"Sky tak mau," teriak Skylova.


"Lova, ikuti perintah ayah!"


"Tidak!" tolak Skylova.


Julio mengacak rambut tanda frustasi. Skylova sangat keras kepala.


"Ikut Ayah!" Julio menarik tangan Skylova.


"Lepas, Yah. Sakit... Sky tak mau dipaksa."


Julio menyeret tangan Skylova dengan paksa. Namun, Skylova meronta dan memukul bahu Julio agar tangannya terlepas.


Skylova lari menuju kamar dan di ikuti Julio. Namun, Sandra menghadang tindakannya.