
Skylova pergi ke kamar Starlo dan langsung masuk begitu saja. Dia kaget karena Starlo sedang berkemas.
"Bang, mau kemana?"
Starlo menoleh dan tersenyum menatap Skylova.
"Abang mau ke Jepang. Ada pameran di sana. Jadi Abang mau kesana!"
Skylova mendengus kesal. Setiap ada pameran Starlo selalu ke Jepang. Dia juga ingin ikut ke Jepang. Negeri sakura yang indah itu.
"Abang nggak ajak Sky. Sky pengen kesana, Bang!"
Starlo menggeleng karena tak mau Skylova ikut ke Jepang. Kalau Skylova ikut, yang ada Starlo tak bisa menikmati pameran itu.
"Abang cuma seminggu, Dek. Lagi pula kalau Adek ikut. Apa adek nggak kangen dengan paman tampanmu itu?"
"Bener juga ya Bang. Sky nggak usah ikut aja. Abang berangkat pukul berapa? Sky antar ya Bang!"
Starlo menggelengkan kepala lagi. Dia tak mau diantar oleh Skylova. Bisa ketahuan kalau dia pergi bersama teman-temannya seperjuangan. Teman sesama otakku. Karena Skylova tak menyukai teman Starlo.
"Adek di sini saja. Nggak udah nganter. Nanti kalau Mama atau Ayah menghubungi Adek. Bilang kalau Abang lagi ngurusi kerjaan alias sibuk."
Skylova malas kalau harus berbohong. Semoga saja orang tuanya tidak menghubungi dirinya.
"Terserah Abang ajah! Pergi sana! Nggak usah pamit," ucap Skylova sambil mengerucutkan bibirnya.
Starlo tertawa melihat tingkah lucu Skylova.
"Jangan marah, nanti Abang bawakan drone dari sana," bujuk Starlo sambil mencium kening Skylova. "Abang berangkat dulu, Dek. Jaga diri, kalau ada apa-apa hubungi Abang."
Skylova menatap kepergian Starlo. Tak ada rasa senang sedikit pun ketika Kakaknya pergi.
"Menyebalkan...!" gumam Skylova.
Starlo menuruni tangga dengan langkah cepat karena tidak mau ketinggalan pesawat. Baitu melihat Starlo membawa tas di pundaknya. Di langsung berdiri dan menghadang Starlo.
"Mau kemana?"
"Minggir! Aku sudah telat, Bai."
"Jawab dulu, baru aku minggir."
"Abang mau ke Jepang. Lihat pameran," sela Skylova dengan nada dingin.
Starlo menoleh ke arah Skylova. Sepertinya adiknya marah padanya. Gara-gara dia pergi ke Jepang tak mengajaknya. Baitu menatap heran kakak adik itu. Tak biasanya mereka berdua bersitegang.
"Dek, Jangan marah! Ini terakhir kali kok."
"Sayang, Apakah kau mau pergi ke Jepang?" tanya Baitu melangkah ke arah Skylova.
Skylova menggeleng. Walaupun sebenarnya dia ingin ke Jepang. Tapi dia tak mau memberitahu Baitu.
"Biarkan Arlo pergi. Nanti kalau kita sudah menikah. Kita akan berbulan madu ke Jepang."
"Apakah Paman tidak berbohong?"
"Tentu saja." Baitu menjawab dengan mantab
"Abang boleh pergi."
Starlo menatap Wajah Skylova sudah berubah cerah. Hal itu menandakan kemarahannya menghilang. Starlo pamit kepada Baitu dan Skylova. Kemudian dia bergegas menuju Bandara.
Vino menghampiri Baitu yang sedang berbicara dengan Skylova.
"Hai, kita bertemu lagi," sapa Vino.
Skylova menoleh dan ingat pria di depannya adalah pria yang memberikan kotak obat padanya.
Baitu mendengus kesal. Dia tak ingin Skylova dekat dengan playboy seperti Vino.
"Kau cantik. Pantas Bai menyukaimu."
Skylova menghampiri Vino sambil melipat tangannya dan bertatapan dengan Vino.
Vino tersenyum di tatap oleh Skylova. Gadis cantik di depannya sungguh berbeda dengan gadis atau wanita lainnya. Gadis lain yang bertemu dengan Vino akan langsung menatapnya dengan tatapan memuja. Tapi berbeda dengan gadis di depannya. Dia menatapnya dengan tatapan menyelidik.
"Dia pria cantik, Paman. Sky tak suka," ucap Skylova polos.
Krik
Krik
Doeng
Vino melongo. Dia pria tulen, gagah dan juga perkasa. Bukan pria cantik. Baitu ingin tertawa mendengar perkataan Skylova yang kelewat polos itu.
"Hei, Aku pria tulen. Bukan pria cantik."
Vino menatap Skylova tak berkedip saat tangannya di colek oleh Skylova yang menatap polos ke arah Vino.
Pantas Baitu sangat mencintai gadis ini. Astaga...! Dia seperti kelinci tanpa dosa atau bisa di bilang bayi.
"Aku bukan sabun colek. Kenapa kau mencolekku?"
"Kulitmu sangat halus. Seperti wanita. Terbukti kau pria cantik."
"Ehem...."
Baitu berdehem mengeluarkan suara agar suasana dapat mencair. Lagi pula dia juga tak tahan kalau Skylova dekat dengan Vino.
Vino kaget mendengar suara Baitu dan langsung sadar dan mundur satu langkah.
"Kau menghinaku, gadis kecil."
"Sky tak menghina. Itu kenyataan, pria cantik."
"Sial...! aku bukan pria cantik."
"Bai, Sepertinya kau harus menutup mulut gadismu ini. Sungguh perkataannya membuatku jengkel." Vino mengangkat alis dan menatap Baitu.
"Pria cantik ini sepertinya dia kesakitan kalau di pukul."
Tiba-tiba Skylova bergerak maju dan memukul perut Vino dengan keras dam tersungkur ke belakang.
"Tuh kan..., lembek," ejek Skylova.
Baru kali ini tubuh yang penuh dengan rawatan di pukul keras oleh seorang gadis. Pukulan gadis di depannya sungguh kuat. Vino sampai merasakan sakit di area perutnya.
"Hais, perutku sakit sekali. Tubuhku yang suci ternodai. Bai, tolong! Kenapa hanya diam saja?"
Baitu memalingkan muka. Dia ingin tertawa keras. Vino memang tak pandai bela diri. Maka dari itu, tubuhnya kurang terlatih.
"Dasar pria cantik pengadu."
Skylova pergi begitu saja meninggalkan Vino yang masih belum beranjak dari lantai.
"Ha Ha Ha," tawa Baitu keluar begitu saja setelah Skylova pergi.
Vino langsung berdiri dan menghampiri Baitu.
"Cih! Kau tertawa diatas penderitaanku."
"Sebaiknya kau berlatih. Agar kau bisa melindungi diri mu sendiri."
Vino hanya diam. Ada alasan kenapa dia tak mau berlatih bela diri. Dia ingin hidup normal tanpa musuh. Hidup tenang bersama anak dan istrinya nanti. Hidup menjadi dokter biasa dan melayani Baitu sampai keturunan Baitu kelak.
Tiba-tiba Skylova datang kembali. Dia berlari menuju Baitu.
"Paman," ucap Skylova manja.
"Ada apa, Sayang."
"Sky boleh ke pasar gelap dengan Rama."
Deg
Baitu melotot mendengar perkataan Skylova. Dia tak akan membiarkan Skylova ke tempat berbahaya seperti itu.
"Sayang, aku akan menuruti semua keinginanmu. Tapi jangan kesana."
"Nggak mau." Skylova menatap Baitu dengan tatapan manja
Shit! Jangan menatapku seperti itu, Sayang. Aku tak kuasa.
"Sky ingin kesana. Paman harus menyetujuinya."
Baitu ingin berteriak keras menolak permintaan itu. Kalau Skylova kesana. Pasti para pria akan melihatnya. Meski dia memakai topeng sekalipun. Seandainya Baitu yang mengantar, pasti orang yang ada di sana curiga. Tak ada pilihan untuknya. Jika Dia menolak, Skylova akan marah padanya. Dengan berat hati, Baitu menyetujui permintaan itu.
Skylova sangat senang mendengar permintaannya di setujui dan langsung pergi menemui Brama. Setelah Skylova pergi, Baitu mengacak rambutnya frustasi.
Vino diam-diam pergi meninggalkan Baitu. Dia tahu pasti Baitu akan mengajaknya untuk mengikuti Skylova. Baitu berbalik arah dan melihat Vino yang sedang berjalan menjauhinya.
"Kau harus ikut denganku." Baitu menghampiri Vino dan menyeret paksa kerah Vino dari belakang.
"Hei, kau bisa membunuhku jika seperti ini. Leherku berasa tercekik. Lepaskan dulu!"
Baitu melepaskan kerah Vino. Dengan sigap dia langsung melarikan diri. Namun, kerahnya kembali di tarik oleh Baitu.
"Oke! Aku akan ikut."
Baitu tersenyum penuh kemenangan. Mereka langsung pergi untuk mengikuti Skylova ke pasar gelap.